
Hari pernikahan antara Putra dan Risma pun sudah ditentukan, terhitung hanya tinggal satu pekan lagi, pernikahan ini dilakukan secara tertutup, tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
Aini terlihat biasa, ia tidak ingin membuat Risma merasa menang, jika dirinya tampak sedih dan terpuruk, maka nanti Risma akan merasa mangga dengan pencapaiannya saat ini.
Bahkan saat acara ijab qabul antara Risma dan suaminya, Aini hadir, ia memberi ijin suaminya untuk menikahi Risma, jelas saja ini menjatuhkan Risma.
Karena tidak ada halangan apa pun, acaranya berjalan cepat . Risma dan Putra sudah resmi menjadi suami istri.
Aini tampak sudah menata semua barang-barangnya, dan semua perlengkapan baby Kendra ke dalam koper, hari ini juga akan keluar dari rumah suaminya, dan untuk sementara akan tinggal di Desa.
"Sayang..., Mamih sangat menyesal dengan semua ini, ini sungguh bukan keinginan kami", Bu Hellen menatap lekat Aini.
"Sudahlah Mih..., Aini tidak apa-apa kok, hanya saja Aini tidak bisa hidup berdampingan dengan Risma, karena hati ini hanya satu, akan terasa sakit jika harus mendengar dan melihat mereka bersama", tunduk Aini.
"Mamih malu sekali sama keluargamu di sana?", kini Bu Hellen yang menunduk.
"Mamih tidak usah bicara masalah ini pada mereka, biarkan mereka lebih baik tidak tahu, Aini akan bilang kalau Mas Putra sedang ada dinas ke luar Kota",
"Kalau begitu, biar Papih saja yang mengantar kalian pulang", Pak Handoko menghampiri Aini.
"Boleh Pih, kalau itu tidak merepotkan", senyum Aini.
__ADS_1
"Tidak, justru Papih merasa sangat bersalah, tidak bisa membuat kalian tetap di sini",
Semua terdiam, sampai Putra datang menghampiri mereka. "Kamu jadi pergi?", tatap Putra.
"Iya..., ini rasa yang terbaik buat kita , aku memang mengijinkan kalian menikah, tapi kalau harus melihat dia bersamamu tiap hari, aku tidak akan mampu", Aini kembali tertunduk.
"Aku sungguh minta maaf dengan semua ini, tapi untuk terakhir kali aku bicara, kalau ini semua bukan salah aku", jelas Putra.
"Sudahlah Mas, ini sudah jalan-Nya, kita tidak bisa menolak dan menawar -nawar. Kita jalani saja, endingnya bagaimana?, itu masih rahasia.
"Aku akan sangat merindukan kalian, Aini tak bisakah kamu pikirkan kembali keputusanmu ini?", tatap Putra.
"Iya, nanti Papih yang antar",
"Lho kok Papih?, aku juga bisa kan?", sambar Aditya.
"Kamu ini kan baru akad, masa langsung pergi?", tatap Pak Robani.
"Tapi Aini lebih penting Pih",
"Iya biar aku diantar sampai Papih saja, karena aku akan bilang kalau Mas sedang ada urusan di luar Kota",
__ADS_1
"Saat ini, Risma yang lebih membutuhkan kehadiranmu",
"Tapi Aini....",
"Mas ..., ini sudah mau gelap, biarkan aku pulang di antar Papih saja", tegas Aini.
"Kalau Mas ngeyel terus, Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek bisa mengetahui semua ini, itu yang aku hindari, mungkin aku bisa menerimanya, tapi mereka belum tentu",
"Kalau sampai mereka mengetahui hal ini, bisa-bisa Aku akan di ambil kembali oleh mereka, dan diminta untuk meninggalkanmu selamanya, itu maumu?", tatap Aini.
Putra jadi mati kutu, ia terdiam, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Ayo kita berangkat sekarang, kasihan baby Kendra, jika kemalaman di jalan", ajak Pak Handoko.
"Iya...Pih", Aini menurut, ia mengikuti langkah Ayah Mertuanya, barang -barangnya sudah lebih dulu dibawa oleh Bi Surti dan di tata di dalam bagasi mobil.
Setelah berpamitan, Aini dan Pak Handoko pun segera meninggalkan rumah, meninggalkan pesta rahasia yang baru saja usai.
Putra hanya bisa mengantar kepergian orang yang sangat ia cintai dengan tatapan sedihnya, ia sudah membuat Aini pergi dari rumahnya, wanita mana, yang sanggup melihat kebersamaan suaminya dengan madunya.
"Ini gara-gara kamu Risma, aku akan cari bukti kalau Khansa itu bukan darah dagingku", feram Putra.
__ADS_1