Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Pulang Kampung


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Aini hanya diam, ia lebih banyak menikmati keindahan alam pedesaan yang dilaluinya.


Hamparan kebun dan pesawahan yang membentang sejauh mata memandang membuat hati dan pikirannya sedikit tenang.


Sesekali Putra yang sedang mengendalikan kemudi melirik ke arah Aini, hati Putra terenyuh, melihat Aini . Ia paham apa yang sedang Aini pikirkan.


Sesekali tangan kirinya mengusap pundak Aini.


Sementara Bu Hellen, ia asik bermain ponsel, jeprat-jepret mengabadikan keindahan yang ia lihat di sepanjang jalan.


Sudah hampir lima bulan mereka tidak berkunjung ke kampung halaman Aini, banyak perubahan yang terjadi di sepanjang jalan menuju ke desanya Aini.


Kini, sudah banyak kavling perumahan yang akan di bangun. Sepertinya sudah banyak investor yang mulai melirik dan tertarik mengembangkan desa itu .


"Hhmm..., boleh juga ikut inves di sini, bisa berbisnis sambil berkunjung ke besan", senyum Bu Hellen.


"Nah...tuh lihat!, sepertinya sudah mulai rame di sini , Mamih jadi tertarik ingin ikut inves juga di sini ", Bu Hellen terus mengarahkan kamera ponselnya ke luar .

__ADS_1


"Nah...stop dulu!, sebentar", Bu Hellen keluar dari mobil, ia memandangi lahan kosong di depannya.


"Nah, ini sepertinya cocok, Mamih ingin inves di sini, kita beli tanah ini, dan di jual kembali dalam bentuk kavling-kavling, biar Papih nanti yang urus. Jadi, Papih tidak usah pergi -pergi ke luar kota lagi, dia punya kerjaan juga di sini", senyum Bu Hellen. Ia melirik Putra dan Aini.


"Bagaimana..., ide Mamih oke kan?", Bu Hellen tersenyum sambil memandangi hamparan lahan di depannya.


"Wah....hebat Mamih, melihat lahan strategis seperti ini , langsung terpikir untuk berbisnis", senyum Aini, ia mengagumi ide Mamah Mertuanya itu.


"Bagus Mih..., jadi bisa dekat dengan rumah kita, dan rumah Aini juga", senyum Putra.


Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya. Kembali suasana hening terjadi, mereka kembali dengan lamunan dan angan-angannya sendiri.


Tak lama, mobil pun memasuki sebuah pekarangan , dsn berhenti di sana.


"Alhamdulillah sampai", Putra mematikan mesin mobilnya. Ia melirik Aini yang memasang wajah datar.


"Alhamdulillah sudah datang, Abah...Abah...Aini sudah datang!", teriak Nek Husna yang terlihat membuka pintu depan rumahnya.

__ADS_1


Ia nenyambut dengan senyuman merekah, dan bergegas menghampiri mobil yang ditumpangi Aini.


Aini diam mematung untuk beberapa saat, ada pertentangan rasa di dalam dadanya, ada rasa bahagia, dan ada juga rasa sedih.


Perlahan Aini membuka pintu mobil, dengan mengumpulkan segenap kekuatannya agar ia tidak sampai menangis di hadapan keluarganya.


Aini langsung memeluk Nek Husna, ia menumpahkan semua kerinduannya kepada Neneknya itu.


Namun tanpa ia sadari, buliran bening itu pun mendesak keluar dari kedua kelopak matanya, dan jatuh membasahi pundak Nek Husna.


"Lho..., Aini...?, kok menangus?, kamu baik-baik saja kan?", Nek Husna memegangi kedua pundak Aini dan memandangi wajah ayu cucunya itu.


"Aini terharu saja Nek, Aini bahagia bisa pulang lagi ke sini", senyum Aini. Ia berusaha menyembunyikan keresahan dihatinya dengan senyuman.


Aini saja merasa sedih dengan berita yang di bawa Risma, apalagi keluarganya .


Aini harus bisa menyembunyikan hal ini dari Nek Husna Dan Bu Hana. Putra menghampiri dan langsung menyalami Nek Husna, sebelum mereka semua masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2