Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Kamu Harus Bisa


__ADS_3

Di sebuah rumah yang sangat besar, berlantai dua, dengan halaman yang tidak kalah luasnya, terlihat kendaraan roda dua dan roda empat berjejer di sana, sudah seperti show room saja.


Yang punya rumah terlihat sedang berkumpul di meja makan, mereka baru akan makan malam, terlihat di sana duduk seorang Ibu yang masih muda, berpenampilan menarik, cantik dengan tatanan make up tipis yang menawan, ia adalah Ibu Mona, seorang Sekretaris dari Perusahaan milik suaminya.


Di sampingnya duduk seorang laki-laki muda, sudah berumur, tetapi masih terlihat gagah dan berwibawa, dia adalah Pak Purnawan, pemilik rumah, dia seorang Pengusaha real estate .


Di depan mereka duduk seorang gadis remaja, kecantikannya menurun dari ibunya, berkulit putih, rambutnya yang panjang sebahu, dibiarkan tergerai. Dan dialah Mirna, teman sekelasnya Aini yang naksir berat kepada Putra .


Di samping Mirna, duduk seorang anak laki-laki usia sepuluh tahun, dia lagi fokus memegang ponselnya, benda itu selalu ia bawa kemana pun, susah sekali untuk melepaskan benda itu darinya. Dia sedang asik main game kesukaannya. Dia adalah Murano, adiknya Mirna yang masih duduk di kelas empat SD.


Mereka tampak sedang menikmati makanannya, dilayani seorang ART, Bi Siti. Dia yang bertugas mengurus semua keperluan dapur di rumah itu.


Mirna tampak banyak diam, pikirannya masih berkutat kepada Putra, dan ia masih merasa kesal dengan sikap Putra yang cuek kepada dirinya, padahal sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang menolak dirinya, malah sebaliknya, banyak laki-laki yang mengejar-ngejar dia.


Bu Mona dan Pak Purnawan saling tatap, mereka merasa heran melihat sikap putrinya, biasanya Mirna akan bercerita mengenai semua kegiatan hari ini kepada kedua orang tuanya.


"Makan dulu yang benar Rano, ponselnya simpan dulu!", tegur Bu Mona, saat melihat Murano menyantap makanannya sambil terus memainkan game dari ponselnya.


Dengan cemberut Murano menyimpan ponsel disampingnya, tetapi tetap tidak dimatikan, tangan kanan menyuapkan nasi, sementara tangan kirinya masih tetap memainkan ponselnya.


Bu Mona hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Murano.


"Sayang, ada apa?, kok sepertinya dari tadi Mamih perhatikan kamu tidak bersemangat gitu, ada masalah di Sekolah?", Bu Mona melirik Mirna.


"Itu Mih, aku kesal, kok ada ya cowo yang cuek sama aku, baru dia kayaknya yang seperti itu", gerutu Mirna.


"Cowo yang Mana, sayang?, Aditya?", tebak Bu Mona.


"Ah, bukan Mih, kalau dia mah baru melihat aku juga sudah baper, ini mah cowo yang baru ketemu tadi pagi, keras, cuek dan dingin",gerutu Mirna sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya dan mengunyahnya cepat, seolah ingin melampiaskan kekesalannya.


"Ngomongin apa sih kalian, lagian kamu itu sekolah dulu yang benar, jangan dulu main cowo, suka boleh, tapi jangan terlalu serius, kamu ini putri Papih, jangan sembarangan memilih laki-laki, kalau perlu , nanti Papih yang akan mencarikan kamu laki-laki yang selevel dengan kita, kamu fokus saja belajar", Pak Purnawan menatap Mirna.


"Aduh Papih, nggak usah begitu juga kali, biarkan Mirna berkembang sesuai usianya, biarkan saja dia bergaul dengan teman sebayanya, lagian paling juga cinta monyet Pih, sukanya hanya sementara, nanti ketemu yang baru lagi, suka lagi", kekeh Bu Mona.


"Pokoknya, Yang nomer satu itu sekolah, yang lainnya abaikan, oke?!" , tegas Pak Purnawan, ia menatap lekat Mirna.

__ADS_1


"Ingat Mirna!, walaupun kamu perempuan, tapi kamu itu anak pertama Mamih dan Papih, yang harus menjadi contoh yang baik bagi adikmu, kamu nanti yang akan meneruskan karier Papih di Perusahaan", jelas Pak Purnawan .


"Kamu harus pintar, nilaimu harus bagus, agar nanti Papih kuliahkan di luar Negeri, ingat!, lulusan luar lebih diutamakan oleh Perusahaan-Perusahaa besar di sini", jelas Pak Purnawan.


Mirna mencibir, ia paling tidak suka di dikte, walau sama ayahnya sendiri, kini ia fokus pada makanannya walau hatinya kesal.


Sementara Murano, asik saja dengan dunia game-nya.


*****


Aditya terlihat uring-uringan, dia masih kesal dan malu gara-gara ditolak Aini ditengah orang banyak, Aini malah memilih orang lain, dan itu adalah anak atasan ayahnya, jadi ayahnya pun, Dirman, tidak bisa berkutik.


Pak Dirman sedang mondar-mandir di ruang kerjanya saat Aditya masuk, "Pah, kenapa Papah diam saja saat Aini menolak Adit?",


"Lihat dong Dit, bukannya Papah nggak mau belain, tapi ini masalah hati, tidak bisa diipaksakan, apalagi kamu juga tahu kan, ternyata Pemuda itu anaknya Handoko, mana berani Papah melawan",


"Kamu tenang saja, masih banyak gadis yang lebih cantik dari Aini, kamu tinggal pilih saja, masa anak Papah patah hati hanya gara-gara Aini, gadis Desa", Pak Dirman menepuk pundak Aditya.


"Bukan masalah patah hatinya Pah, tapi ini sudah menyangkut harga diri Adit, Aini sudah menolak Adit dihadapan banyak orang",


"Terus, sekarang apa maumu?", Pak Dirman memandang anaknya.


"Ck...ck...ck....., kamu ini memang keras kepala, tapi awas!, jangan sampai kebablasan, nanti malah kamu celaka dengan tingkahmu sendiri, Papah tidak mau kamu terkena masalah", ingatkan Pak Dirman.


"Tenang aja Pah, Adit bukan anak kecil lagi", Aditya bicara sambil meninggalkan ruangan papah nya. Dia menuju kamarnya.


Aditya ini mempunyai seorang adik perempuan, namanya Alisya, dia masih sekolah, tapi kini tinggal bersama ibunya. Setelah orang tuanya bercerai, mereka hidup terpisah.


******


"Silahkan diminum tehnya, mumpung masih hangat!", tawari Hana kepada Putra yang sedang berkunjung ke rumahnya.


"Iya Bu , terima kasih", ucap Putra.


"Maaf, Aini nya belum pulang, katanya setelah mengaji, mau ada acara sholawatan dulu di rumah guru ngajinya",

__ADS_1


"Oh, nggak apa-apa Bu, saya memang tidak bilang mau ke sini, Aini tidak tahu kalau saya mau ke sini", senyum Putra.


"Assalamu'alaikum", Arman memasuki rumahnya.


Dijawab oleh Bu Hana dan Putra.


"Eh.., ada Nak Putra , sudah lama?, mana Aini Bu?", Pak Arman melirik istrinya.


Putra tersenyum dan menyalami Pak Arman.


"Aini masih di rumah guru ngajinya, katanya ada sholawatan setelah mengaji", jelaskan Bu Hana.


"Oh..., Nak Putra sudah lama menunggu kalau begitu",


"Nggak apa-apa Pak, saya juga yang salah, tidak ngasih kabar dulu kalau mau ke sini", rengkuh Putra.


Tak lama berselang terdengar suara langkah kaki di luar. "Tuh.., sepertinya Aini pulang", Bu Hana menghampiri pintu dan membukanya.


Benar saja , itu Aini bersama temannya, Fatma dan Yulia. Kedua temannya yang berniat untuk menginap di rumah Aini, mengurungkan niatnya, saat melihat ada Putra di dalam, mereka langsung pamit pulang.


"Ini Nak Putra sudah dari tadi nungguin", Bu Hana melirik Aini yang baru saja duduk disamping Pak Arman.


"Maaf", Aini menunduk


"Nggak apa-apa Bu, saya cuma mau memberikan ini kepada Aini", Putra memberikan sebuah dus kecil kepada Aini.


"Apa?", Aini dengan ragu menerimanya.


"Buka saja!", pinta Putra sambil tetap tersenyum.


Aini pun membukanya, ternyata Putra memberikkan Aini sebuah ponsel.


"Ini hand phone?, punya siapa?", Aini melihat Putra.


"Itu untuk Aini, biar komunikasi kita bisa tetap lancar, kita jadi bisa saling memberi kabar jika ada apa pun", senyum Putra.

__ADS_1


"Tapi..., Aini tidak tahu bagaimana menggunakannya", Aini menunjuk.


"Tenang saja, nanti saya yang ajarin", senyum Putra.


__ADS_2