Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Semua Bahagia


__ADS_3

Putra menarik tangan Bondan yang memegang makanan buat Aini, hampir saja tinju Putra mendarat di pipi Bondan.


"Jangan!", teriak Aini, ia refleks memeluk Putra untuk meredakan emosinya. "Jangan, dia sudah menolong Aini", lirih Aini, ia bicara tepat di telinga Putra.


Putra mematung antara kaget dan senang, kehangatan tubuh Aini ampuh meredam rasa marahnya.


Yoseph melengos, ia tidak tahan melihat Aini memeluk Putra, hatinya terbakar, sungguh berat memang memendam rasa cinta yang pasti bertepuk sebelah tangan.


"Ayo kalian duduk dulu!", Perintah Pak Dirman.


Putra menurut, ia membawa Aini duduk di kursi di depan Pak Dirman dan ketiga body guard nya.


"Begini Nak Putra, Bapak mau meminta maaf, karena ini semua ulahnya Aditya, dia masih muda, masih labil, dia yang membawa Aini ke sini",


"Saya sudah menugaskan ketiga anak buah saya ini untuk mengawasi Aditya, saya tidak ingin Aditya celaka dengan ulah konyolnya. Dan ketika dia berencana untuk menculik Aini, saya langsung mmengirim mereka untuk mencegahnya", terang Pak Purnawan.


"Lalu, dimana Aditya sekarang?", Putra memandang Pak Dirman.


"Ada..., Aditya belum sadar, tadi saya menyuruh Bondan memasukkan obat tidur ke dalam gelas minumannya, biar dia tidak berbuat macam-macam kepada Aini", senyum Pak Dirman.


"Benar itu Aini?, mereka tidak berbuat kasar kepadamu?", Putra memandang Aini.


"Iya", jawab Aini singkat.


Hati Putra merasa lega, "Kalau begitu, sekarang saya yang minta maaf, sudah membuat keributan di sini, terima kasih sudah baik kepada Aini",


"Nggak apa-apa, ini semua saya lakukan demi Aditya, supaya usianya tidak sia-sia jika berurusan dengan hukum",


"Sekarang cepat bawa Aini pulang, sebelum Aditya sadar, biar Aditya kami yang hadapi", perintah Pak Dirman.


Putra melirik Aini, dan Aini mengangguk. Di atas terdengar Aditya memanggil Bondan, rupanya ia sudah sadar.


"Ayo cepat..., kalian pergi dari sini, kalau Aditya tahu, bisa kacau semuanya", perintah Pak Dirman, ia memberi isyarat dengan matanya kepada Bondan untuk naik ke atas menemui Aditya.


Sementara Putra segera memegang tangan Aini dan membawanya ke luar.


"Bondan...Bondan...dimana Loe?", suara Aditya terdengar lebih keras, Bondan setengah berlari menuju ruang atas.


Putra sudah berada di dalam mobil dengan Aini, ia tidak banyak pikir lagi, langsung melajukan mobilnya menjauhi Villa, ia membawa Aini pulang.


Sepanjang jalan Putra tidak melepas pegangan tangannya dari tangan Aini.


"Aku sudah panik, separuh jiwaku turut hilang bersamamu", senyum Putra.


"Maaf ya, kamu juga pasti ketakutan saat mereka menculikmu", lirik Putra.


"Iya, Alhamdulillah, semua sudah berlalu, aku berhutang nyawa sama Pak Dirman, ternyata dia itu seorang Ayah yang baik", lirih Aini.


"Aku tidak tahu ala yang akan terjadi jika Pak Dirman tidak cepat bertindak, tadi Aditya hampir saja...",

__ADS_1


"Hampir apa ?", Putra melirik Aini.


"Aditya hampir menyentuh aku", Isak Aini.


"Kurang ajar!, aku sudah bisa menebak tujuan dia menculikmu, dia ingin kita berpisah, dia merasa aku yang telah merebutmu darinya",


"Maafkan aku", Putra makin mengeratkan pegangan tangannya.


"Bapak dan Ibu pasti khawatir sekali", Aini menerawang.


"Kamu telepon saya Mamah aku, sepertinya Mamah dan Papah sudah ada di rumah kamu sekarang", senyum Putra.


"Iya ..., aku vidio call saja biar jelas", Aini segera melakukan vidio call dengan Bu Hellen.


[Assalamu'alaikum Mah], sapa Aini begitu sambungan telepon berhasil. Di layar nampak Bu Hellen tersenyum bahagia.


[Wa'alaikumsalam, sayang. Alhamdulillah kamu baik-baik saja kan?, Putra bersamamu?", tanya Bu Hellen.


"Iya Mah, Alhamdulillah Aini selamat, ini lagi bersama Kak Putra", senyum Aini, ia mengarahkan ponselnya kepada Putra yang sedang mengemudi.


Putra pun tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Mamahnya.


[Mah, apa Bapak dan Ibu ada di sana?, Aini bisa nggak bicara dengan mereka?], Aini nampak memelas.


[Tentu saja sayang, mereka ada di sini juga], Bu Hellen nampak memberikan ponselnya kepada Pak Arman yang sedang duduk di samping Bu Hana.


[Aini...., Neng..., ini Ibu, gimana kamu selamat Neng], sambar Bu Hana , ia tampak senang bisa melihat wajah Aini di layar ponsel.


[Aduh Neng, Ibu kaget sekali begitu diberi tahu kalau Neng hilang, Ibu sampai 'Soak', ]


[Iya...Neng, kenapa sampai terpisah dengan rombongan segala], nampak Pak Arman yang berbicara.


[Nanti saja Aini ceritakan kalau sudah sampai rumah, sekarang Bapak dan Ibu yang tenang, Aini tidak apa-apa, sebentar lagi sampai rumah], senyum Aini.


[Nenek dan Kakek ada Pak?], Aini beralih menanyakan Nenek dan kakeknya.


[Ada..., ini kami juga sedang berkumpul di rumah Kakek], Pak Arman memberikan ponselnya kepada Kakek Ilham.


[Mana Aini Man, ini bagaimana caranya?],


[Kakek tinggal pegang saja ini, nanti Aini ada di sana],


Aini tersenyum melihat tingkah Kakeknya.


[Assalamu'alaikum Kek, Aini di sini], senyum Aini begitu melihat wajah Kek Ilham dan Nek Husna yang nampak sedang berebut untuk memegang ponselnya.


[Sini, biar Kakek saja yang pegang ponselnya, Aini kamu selamat Nak?], nampak Nek Husna berkaca-kaca begitu melihat wajah cucu kesayangannya.


[Alhamdulillah Nek, Aini selamat, sekarang lagi menuju rumah, Nenek jangan khawatir lagi ya, sebentar lagi Aini pulang], senyum Aini.

__ADS_1


[Itu Teteh Aini ya?], terdengar suara anak kecil bertanya.


[Itu siapa Nek?],


[ Ini, di rumah lagi ada tamu dari Kota, Bu Mona dan keluarga], Kek Ilham mengarahkan ponselnya ke semua orang yang ada di rumahnya.


[Itu temannya Neng kan?], Kek Ilham mengarahkan ponselnya ke Mirna.


[Oh..., iya..., itu teman Aini, ]


[Ya sudah, kami senang mendengar Neng selamat, cepat pulang],


[Iya, Kek, Aini tutup dulu teleponnya, Assalamu'alaikum]


[Wa'alaikumsalam],


"Sudah?, nampaknya rame banget, ada siapa di rumah?", Putra melirik Aini.


"Lagi banyak orang, Mirna juga ada di sana",


"Mirna?, Mirna teman sekolahmu?",


"Ya...iya lah, emang Mirna temanku ada berapa"


"Ya...siapa tahu masih ada Mirna Mirna yang lainnya", kekeh Putra.


"Idih, satu saja sudah bikin pusing, apalagi banyak", kekeh Aini.


"Eeiit, nggak boleh begitu, pamali", senyum Putra.


"Astaghfirullah" , Aini menutup mulutnya.


"Pantesan tidak melihat Mirna waktu di lokasi Wisata, baru nyadar kalau dia tidak ikut study tour",senyum Aini.


"Jadi sejak kapan pingsannya, pantesan tidak sadar kalau ada yang menculik", lirik Putra.


"Iihhh..., apaan sih, kok malah meledek", refleks Aini mencubit pinggang Putra.


"Aww...aw..aw....sakit", Putra meliukkan badannya menghindari tangan Aini yang kembali akan mencubitnya.


"Eit....eit...eit...stop!, ini lagi mengemudi, jangan main-main", senyum Putra. Ia nampak sibuk mengendalikan mobilnya, yang nampak oleng.


"Ups...maaf.....", Aini memelas dengan mengatupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.


"Nggak apa -apa kok, aku senang dengan gerakan refleksmu, kaget tapi bikin senang, tadi apalagi, saat refleks dipeluk", senyum Putra, ia melirik Aini.


Aini terkesiap, ia baru menyadari kalau setiap gerakan refleksnya yang membuat dia bersentuhan langsung dengan Putra. Entah mencubit, memukul, bahkan memeluk.


Aini menunduk, tersipu malu menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

__ADS_1


Putra pun tersenyum melihatnya.


__ADS_2