
"Sumpah itu cowo keren abis, baru pertama lihat, sepertinya baru ke sini juga, ngapain ya dia ke sini, jangan-jangan sengaja lagi nyari calon", celoteh Sinta saat memasuki ruang kelas.
"Pastinya nyari cewe yang seperti gue kali, dia kan orang tajir, lihat saja gayanya yang elegant, bajunya bermerk semua, apalagi tumpangannya, mobilnya itu , keren", ucap Mirna dengan bangganya.
"Hey kalian lagi ngomongin apa sih, kayaknya heboh banget, ada apaan di luar", tanya Doni yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Ah loe, kepo, yang jelas ada saing8an loe tuh di luar, ada cowo super keren, baru , apa mungkin dia itu guru baru di sini?", tebak Aliya.
"Wow, keren. Bagus kalau dia guru baru di sini, bisa menambah semangat belajar, ya nggak?", Mirna tampak senang, ia menerawang ke luar kelas.
Aini yang mendengar obrolan mereka hanya senyum-senyum saja, ia sudah mengira kalau yang menjadi bahan pembicaraan teman-temannya adalah Putra.
Lelaki yang sudah menyatakan cinta kepadanya, dan sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya, bahkan Dia sudah melamarnya secara resmi.
Mereka sudah mengikat janji untuk meresmikan hubungan mereka saat lulus nanti.
Aini takut kalau Putra tergoda oleh teman-temannya, terutama Mirna. Ia terkenal sebagai siswi termodis dan tercantik disekolahnya, selain itu, Mirna juga terkenal sebagai anak dari Pengusaha tajir . Ia dikenal sebagai anak Sultan.
Mirna jelas selevel dengan Putra, berbeda dengan dirinya, yang hanya anak seorang Petani, yang hidup serba pas-pasan.
Bahkan Aini sekolah di sini juga karena nilainya yang bagus, ia masuk melalui jalur prestasi.
Rupanya Sinta melihat tingkah Aini.
"Hey, kamu kenapa senyum-senyum, jangan kegeeran ya, jangan berharap bisa memikat cowo keren di depan, mana mungkin ada cowo yang mau sama kamu, pakaian aja kaya kelelawar, lebar dan panjang, bisa-bisa nyangkut di ban itu", ejek Mirna yang langsung diikuti gelak tawa dari Aliya dan Sinta.
Untung saja Bu Maya, guru Fisika mereka terlihat memasuki kelas. Seketika keributan pun terhenti. Masing-masing siswa duduk di kursinya.
"Oke, sudah siap semua?", tanya Bu Maya.
"Sudah Bu",
"Baik, hari ini kita kedatangan seorang guru PPL, dia akan membantu mengajar di sini selama satu bulan. Semoga kalian semua bisa bekerja sama dengan baik, dan bisa mendapatkan ilmu dari beliau", jelas Bu Maya.
"Tuh kan benar tebakan gue, pasti dia orangnya", sumringah Mirna.
"Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba", senyum Aliya.
"Mana Bu orangnya?", celetuk Dodi, pasti cantik ya Bu",
__ADS_1
"Beliau seorang laki-laki", senyum Bu Maya.
"Huuuu...huuuu...., yang cantik saja maunya, dasar Dodi", ledek Mirna.
"Pasti ganteng ya Bu?", teriak Aliya.
"Iya, beliau masih muda, seorang Mahasiswa semester akhir jurusan Management Keuangan, sebentar lagi masuk kelas, sekarang masih di Kantor Kepala Sekolah",
Aini menebak-nebak', apa mungkin dia Putra, tapi dia tidak ngobrol apa-apa tadi', pikirnya.
Tak lama terdengar pintu di ketuk, terlihat Ibu Kepala Sekolah berdiri di sana, dia diikuti seseorang dibelakangnya, "Ini kelasnya, silahkan", seorang Pemuda memasuki ruangan kelas,
"Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam", terdengar jeritan dari arah Mirna ,Aliya, dan Sinta, ternyata benar yang berdiri di depan itu, cowo keren yang tadi mereka temui di depan gerbang Sekolah.
"Tuh , kan benar", Mirna tampak gembira, matanya terus menatap ke depan .
"Tolong jangan ribut ya", Bu Maya mengingatkan.
"Ini yang tadi ibu bicarakan, silahkan Pak, perkenalkan diri!", Bu Maya melihat ke arah Putra.
"Terima kasih Bu", Putra melangkah ke depan, pandangannya melihat ke arah Aini yang terlihat kaget, namun tampak tersenyum padanya.
"Assalamu'alaikum semua, perkenalkan saya Guru PPL di sini, nama saya Putra, mungkin ada yang sudah kenal sama saya, buat yang baru lihat saya , salam kenal saja, semoga kedepannya kita dapat bekerja sama",
"Iya, Pak, salam kenal lagi dari kita, kalau Bapak membutuhkan sesuatu, bisa minta tolong ke saya saja", ucap Mirna.
"Iya, terima kasih sebelumnya", ucap Putra.
"Baik, untuk hari ini kalian belajarnya bersama Pak Putra dulu, kebetulan Ibu ada rapat buat persiapan ujian ", Bu Maya berdiri dan meninggalkan kelas.
"Oke Bu, buat selamanya juga nggak apa-apa, mending belajar sama Pak Putra saja, iya nggak?", bisik Aliya kepada Sinta.
"Yoi, setuju", senyum Sinta sambil tersenyum genit memandang ke arah Putra.
Tinggallah Putra yang menggantikan Bu Maya.
"Sebentar ya, kita tunggu teman Kakak yang juga mau ikut PPL di sini", ucap Putra. Ia menuju kursi di samping papan tulis.
__ADS_1
Pandangannya tidak lepas dari Aini yang masih tertunduk, berpura-pura menulis, padahal hatinya lagi dag dig dug tidak karuan. Ia menyadari, sedari tadi Putra mencuri pandang terus ke arahnya.
"Hallo Kak, kita -kita di sini, kok melihatnya ke sana terus, ada yang aneh ya di sana?, awal di sana ada kelelawar", celoteh Mirna, yang diikuti oleh riuh tawa teman-temannya.
Putra mengernyitkan dahinya,"Kelelawar?, mana?, dimana ada kelelawar?, Kakak malah suka sama kelelawar", ucap Putra. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan Mirna.
Putra menatap Aini yang mulai duduk tegak, ia sudah berani membalas pandangan Putra.
"Dimana kelelawarnya?, mau Kakak tangkap, biar bisa dibawa pulang", senyum Putra.
Mirna merasa kesal karena sedari tadi Putra terus mencuri pandang ke arah Aini.
"Kak, asalnya dari mana sih?", celetuk Sinta.
"Saya dari Kota, baru beberapa bulan sih pindah ke sini",
"Ooh, pantesan, rasanya baru lihat", ucap Dani."
"Kak, sudah punya pacar belum?", cicit Aliya.
Putra tersenyum, pacar?, kalian sudah tahu pacar, atau mungkin sudah pada punya pacar juga?",
"Ya...iyalah Kak, kuno yang kenal pacaran mah", ucap Sinta.
"Ya jelas sudah punya ya Kak, masa belum", Tawa Dodi.
"Em..., Kakak belum punya pacar kok", ucap Putra.
"Degh, jantung Aini berdebar, 'mungkin dia malu mengakuinya' batin Aini bicara.
Putra melihat perubahan mimik muka Aini saat dirinya mengaku belum punya pacar.
"Kakak belum punya Pacar, tapi Kakak sudah mempunyai calon", senyum Putra.
"Hah, calon?, calon pacar maksudnya Kak,", Mirna penasaran.
Putra tersenyum sembari mengarahkan pandangannya kepada Aini. "Bukan, tapi calon istri", jelas Putra.
"Hah... , calon istri?", Mirna, Aliya dan Sinta melongo.
__ADS_1
"Iya, calon istri", tegas Putra.
Seketika wajah Aini memanas, ia merasa melambung tinggi, apalagi jika benar orang yang dimaksud oleh Putra itu adalah dirinya.