Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Tragedi di Jalan


__ADS_3

Putra dan Aini kembali pulang dengan di antar sopir yang waktu itu menjemputnya.


"Sudah pulang lagi Den, padahal masih ada waktu sehari lagi", ucap Pak Sopir.


"Iya Pak, ada urusan mendadak di rumah, jadi liburannya dipercepat", senyum Putra.


"Ini akhir pekan, jadi jalanan sepertinya macet, lihat di depan, kendaraan sudah mulai antri", Pak sopir memberi tahu.


"Iya, gimana lagi Pak, tidak ada akses jalan lain, ikut antri saja", ucap Putra. Ia pun melihat memang benar di depan kendaraan sudah mulai padat.


Aini sudah mulai ngantuk, ia itu tiap kali naik mobil, ya tidur, sudah kebiasaan sepertinya. Putra pun mengulum senyum, dengan sikap ia menangkap kepala Aini dan menyandarkannya di pundaknya. Tangannya melingkar di belakang punggung Aini.


Mobil yang ditumpangi Putra makin melambat, antrian makin panjang. Di belakang mobil yang ditumpangi Putra, nampak rombongan pengendara sepeda motor yang membunyikan klakson, mereka tidak sabar dengan jalanan yang padat, mereka ingin diberi celah.


"Sudah tahu macet, kok nggak sabaran gitu", gerutu Pak Sopir.


Putra menoleh ke belakang, ia pun melihat ada rombongan pesepeda motor di sana, kini mereka tepat berada di belakang mobil Putra.


Mereka itu tak lain Aditya dan teman-temannya. Ternyata mereka pulang di hari yang sama dengan Putra.


'Sepertinya itu Aditya dan teman-temannya, apa sengaja dia pulang hari ini', pikir Putra. Ia kembali menghadap ke depan berharap Aditya tidak melihatnya.


Tapi sayang, Aditya keburu menyadari keberadaan Aini dan Putra di depannya, kaca mobil yang bening, jelas memperlihatkan mereka berdua.


Aditya sengaja terus menguntit di belakang mobil, tak jarang juga ia berkendara di samping mobil yang ditumpangi Putra.


"Kenapa motor itu, di kasih jalan kok nggak mendahului kita", Pak Sopir melirik Putra.


"Ya nggak lah Pak, mereka itu lagi membuntuti kita", tegas Putra.


"Waduh..., mereka itu geng motor ?, kenapa mengikuti kita?",


"Bapak tenang saja, menyetir yang hati-hati, jangan terganggu oleh mereka", pinta Putra, ia berusaha menenangkan Pak Sopir. Padahal hatinya sendiri bingung, apa yang harus dilakukan agar Aditya tidak terus membuntutinya.


"Sepanjang jalan Aditya terus berada di belakang mobil yang ditumpangi Aini dan Putra. 'Aku tidak akan membiarkan kalian terus bahagia', pikir Aditya.


Aditya memberi kode kepada teman-temannya untuk mengepung mobil Putra, sekarang mereka berkendara di sisi kiri dan kanan mobil Aditya.


"Aduh...gimana ini Den, mereka tambah berani saja", Pak Sopir mulai resah.


"Bapak tetap di lajur yang benar saja, sebentar lagi kita akan memasuki jalur dua arah, mereka akan tahu rasa", Putra mengamati jalur di depannya.


Tak berapa lama sehabis persimpangan, mereka mulai memasuki jalur dua arah, Aditya dan teman-temannya kewalahan menghindari kendaraan di depannya, sehingga kini mereka barada jauh di belakang mobil Putra.


"****..., lagi-lagi gagal", geram Aditya, ia mengepalkan telapak tangannya, kini ia menepi, karena ada salah satu temannya yang terjatuh saat menghindari kendaraan di depannya.


"Lagi pula ngapain sih kita harus mengikuti mobil itu?", Bondan menghampiri Aditya.


"Karena di sana ada Aini dan Putra", tegas Aditya, ia melotot ke arah Bondan.


"Aduh...., Aini lagi Aini lagi, hey ..., sampai kapan kamu begini, terus mengejar bayangan semu, aoa nggak cape?, mending kejar hal yang lebih berguna, kuliah tuh yang benar", Soni teman kuliahnya Aditya mengingatkan.


"Alah..., tahu apa kamu..., ini hidup aku, nggak usah ikut campur", kesal Aditya.


"Lama-lama kamu yang bakalan hancur Dit, terbakar oleh egomu sendiri, sayang padahal, kamu masih muda, ganteng, banyak uang, coba alihkan orientasinya , jangan Aini terus!", kembali Soni berargumen.

__ADS_1


"Jangan sotoy Loe!", Aditya menepuk pundak Soni.


"Gimana, kamu tidak apa-apa kan, masih bisa lanjut?", tanya Aditya kepada Gian yang tadi terjatuh.


"Bisa, nggak apa-apa kok", jawabnya.


"Ya sudah, kita pulang!", ajak Aditya , dia kembali melajukan sepeda motornya, membelah jalanan menuju rumahnya, diikuti tdman -temannya.


Deru suara mesin kendaraannya bergema kembali.


Untung saja mobil yang ditumpangi Aini dan Putra sudah jauh . Bahkan Putra menyuruh Pak Sopir berhenti dulu di pom bensin. Selain untuk beristirahat, juga untu menghindari Aditya, motor sportya pasti bisa menyusul mobil yang ditumpanginya.


Putra dengan seksama meneliti si pengendara jalan, yang ia tunggu Aditya lewat , biar mobil yang ditumpanginya nanti berada di belakang rombongan Aditya.


'Kemana dulu mereka, kok lama, padahal pasti mereka lewat sini juga',pikir Putra di tengah pengamatannya.


"Astaghfirullah..., kok lama?", gumam Putra.


Dari kejauhan terdengar raungan deru suara kendaraan bermotor, mata Putra kembali menuju jalanan.


"Huh..., ternyata bukan mereka", gumam Putra, saat yang dilihatnya adalah rombongan pesepeda moge, alias motor gede.


"Mungkin mereka mampir ke tempat lain", gumam Putra, ia bermaksud kembali ke mobilnya.


Namun langkahnya terhenti begitu kembali mendengar suara raungan motor , dan saat lilihatnya, benar sekali itu Aditya.


Putra kembali menyelinap ke dalam Mushola, yang Aini pun ada di sana.


Dan ternyata, Aditya pun mengisi bensin di sana. Bahkan salah satu dari temannya ke toilet , namun tidak sempat melihat Aini dan Putra.


"Alhamdulillah..., akhirnya mereka pergi", Putra menghempaskan nafasnya lega, segera ia menghampiri Aini di Mushola, Aini sembunyi di balik mukena. Jadi seperti orang yang sedang shalat.


Aini bergegas melepas mukena yang dipakainya, ia menghampiri suaminya.


"Apa benar yang tadi itu Aditya?", tanyanya kepada Putra.


"Iya..., tapi sudah pergi, kita aman sekarang", senyum Putra.


"Orang itu, ngapain ngikutin kita terus", tatap Aini kepada Putra.


"Dia itu terobsesi sama kamu, jadi ya..., ngikut terus", senyum Putra.


"Kerjaan orang stres itu mah, sudah tahu tidak mau, masih diburu, sudah tahu ada yang punya, masih saja ....", Aini menggantung ucapannya, karena mulutnya keburu di kunci oleh tangan Putra.


"Stop!, sudah...sudah..., nggak usah kotori mulutmu dengan membicarakan orang seperti dia", senyum Putra. Ia menuntun Aini kembali ke dalam mobil, mereka melanjutkan perjalanan yang tertunda.


"Sepertinya Mamah dan Papah sudah berangkat, kita masih di sini, sekitar 2jam lagi baru nyampai rumah", Putra melirik Jam tangannya.


"Biarin..., yang penting kita selamat", senyum Aini.


"Sudah Pak, kita lanjutkan kembali, mereka sekarang ada di depan kita", pinta Putra kepada Pak Sopir.


"Baik Den", rengguh Pak Sopir, ia kembali melajukan mobilnya.


Sudah beberapa lama di atas jalanan, raungan deru sepeda motor kembali terdengar. Saat itu Putra dzn Aini tertidur, mereka tidak menyadari kalau kini Aditya dan teman-temannya kembalu ada di belakang mereka.

__ADS_1


Sampai di jalanan yang cukup sepi, mobil yang ditumpanginya berhenti karena akses jalan di depannya di tutup oleh dua sepeda motor milik Soni dan Aditya.


Aditya menyeringai puas di balik helmnya.


"Aduh...Den..., bagaimana ini?!", seketika Sopir panik, apalagi saat melihat Putra tertidur. Kalau Aini jangan di tanya, ia mah pasti baru beberapa meter saja naik mobil, pasti langsung tertidur.


"Aduh...Den....Den...bangun!!", kembali Pak Sopir berteriak beberapa kali, sampai akhirnya ia membunyikan klakson .


"Tiiiidd....tiiiiddd....", Aditya dan Aini kaget, mereka terperanjat dan seketika bangun.


"Ada....a...pa....?", Aditya melihat ke sekeliling mobilnya, yang kini sudah terkepung oleh sepeda motor Aditya dan temannnya.


Aini yang melihat itu, seketika meraih tangan Putra", tetap di sini!, jangan ladeni mereka", ia setengah berbisik di telinga Putra.


Aditya yang melihat itu tambah geram, ia berteriak meminta Putra untuk keluar dari mobilnya.


Tidak sampai di situ, ia pun mulai menggedor-gedor kaca mobil dengan tinjunya.


"Aduh...Den..., bisa rusak ini mobil", keluh Pak Sopir.


"Hey...penakut Loe ya, beraninya sembunyi di balik ketek Mamih", ejek Aditya.


"Ayo keluar, penakut!?", Aditya terus mengompori Putra.


"Ini tidak bisa dibiarkan, lama-lama dia bisa merusak mobil ini, kamu tunggu di sini, aku akan keluar, kita lihat, apa maunya dia", Putra berbisik kepada Aini.


"Jangan!!!, mereka banyakan, kamu tidak akan menang jika melawan mereka", cegah Aini.


"Terus, kita mau mati konyol di sini, tanpa melakukan apa-apa gitu?", Putra bicara dengan nada sedikit keras.


Aini perlahan melerai pegangan tangannya dari lengan Putra, ia menatap suaminya itu dengan khawatir, ia tidak mau terjadi hal buruk pada Putra, apalagi harus menyaksikan langsung suaminya nanti di keroyok Aditya dan teman-temannya.


"Jangan takut, berdo'alah yang terbaik untuk kita", Putra menggenggam erat tangan Aini yang sudah berkeringat dingin karena rasa takutnya, ia kecup pucuk kepala Aini, lalu dengan mengucap bismillah, ia keluar dari mobilnya.


"Apa pun yang terjadi, tetap di sini, jangan keluar!', pesan Putra kepada Aini sebelum menutup kembali pintu mobil.


Aini menatap nanar suaminya itu, sungguh, ia merasa takut, takut sekali.


"Hati-hati Den!", teriak Pak Sopir .


Putra sudah berdiri tegak tepat dihadapan Aditya. Mereka kini sudah saling pandang.


"Ha ...ha...ha...., punya nyali juga ternyata pejantan kita ini", Aditya menepukkan tangannya berkali-kali.


"Iya..., ini aku , aku berani , tidak seperti Loe yang bisanya main keroyokan", Putra menunjuk kepada teman-teman Aditya yang kini ikut turun dari sepeda motornya .


"Kalian!, mundur!, siapa yang nyuruh kalian turun, ini urusan aku, jangan ikut campur", teriak Aditya kepada teman-temannya.


Semua teman Aditya kembali mundur, mereka menuruti perintah Aditya.


"Kini tinggal kita berdua, ayo selesaikan masalah kita!", Aditya menatap Putra.


"Aku sudah tidak punya masalah dengan kamu, Aditya!, kamunya saja yang selalu cari-cari masalah", ucap Putra.


"Alah..., jangan sok alim Loe, Gue nggak akan pernah lupain kamu yang telah membuat Gue malu dan sakit hati", tegas Aditya.

__ADS_1


"Loe yang nggak nyadar, masih saja ungkit-ungkit masalah itu, Gue pikir itu sudah clear, Aini sudah sah jadi milih Gue", tegas Putra.


"Jangan banyak omong Loe", Aditya langsung melayangkan tinjunya kepada Putra, namun Putra berhasil menghindar.


__ADS_2