Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Rencana di batalkan


__ADS_3

Murano yang mengejar -ngejar hewan jangkrik terus menjauh dari tempat Mirna yang sedang asik ngobrol dengan Aditya.


Ia sesekali berlari , hal itu terlihat oleh Aini yang sudah kembali menuju rumahnya bersama Putra. Aini di suruh membeli pelet pakan ikan oleh Kakeknya di toko pakan ternak yang ada di Kampung sebelah.


"Itu anak siapa?, rasanya baru melihat", Aini melirik Putra .


"Aduh, bahaya itu, kenapa lari-lari di jalan", Sahut Putra.


"Ya Allah, itu anak malah mau turun ke sana lagi, itu kan lereng, bisa jatuh dia", Aini setengah berlari mendekati anak yang mau terjatuh ke bawah.


Hap, untung saja Aini dapat meraih tangannya sebelum benar-benar jatuh ke bawah. Putra pun ikut menolongnya. Karena kaget, anak yang di tolong Aini menangis, lagi pula tangan dan kakinya terluka kena goresan ranting kering.


"Sudah Dek, kamu selamat, hanya luka sedikit saja", Aini mengelus tangan dan kakinya yang tergores ranting.


"Hiks...hiks...hiks....sakit...., Mamih....sakit....", anak itu kembali menangis.


"Di mana Maminya Dek?", tanya Aini.


"Eh, siapa namanya Dek?, nanti Teteh bantu cari Maminya", senyum Aini.


"Rano....,hiks...hiks....hiks....", jawabnya sambil terus menangis.


"Sudah , jangan menangis ya Rano, ikut Teteh dulu, nanti di bantu membantu Maminya ya?", Aini kembali tersenyum sambil mengelus lembut pipi Rano yang basah dengan air matanya.


"Gimana?, mau gendong dia kan?" , Senyum Aini sambil menatap Putra.


"Nggak mau, nggak mau ..., "Rano merajuk.


"Apa?", Aini melirik Rano.


"Mau di gendong sama Teteh aja", seru Rano sambil memegang erat tangan Aini.


Aini dan Putra saling menatap sambil tersenyum.


"Ya sudah, sini Teteh yang gendong", Aini merengkuh tubuh Rano dan menggendongnya.


Sementara Mirna yang sedang ngobrol dengan Aditya baru menyadari pintu belakang mobilnya terbuka, ia menghampirinya dan sangat kaget begitu tahu adiknya tidak ada di sana.


"Ya, ampun, Rano!", Histeris Mirna.


"Ada apa?", Aditya menghampiri.


"Ini....ini...., adikku tidak ada, tadi dia duduk di sini,dia tadi lagi main game di ponselnya, tapi lihat! Sekarang tidak ada", Mirna mencari kesekeliling mobilnya.


"Terus ponselnya ada nggak?",


Mirna masuk ke dalam mobil dan mendapati ponsel adiknya tergeletak di atas jok dalam keadaan mati.


"Ini, ponselnya ada, tapi Rano nya kemana ya?, mana sudah mulai gelap lagi, ini tempat asing bagi dia", panik Mirna.


"Kita temui Mami dulu, mungkin saja tadi dia ik6ut mengikuti Mami , ayo cepat antar aku ke tempat Mami", pinta Mirna.

__ADS_1


"Aduh..., gimana ya", aditya bingung, ia tidak mungkin mengantar Mirna ke rumah Kakek Ilham


"Cepat...., jangan banyak mikir, ini sudah mau gelap", paksa Mirna.


"Oke...oke...sabar, nanti aku tunjukkan rumahnya, kamu bisa ke sana sendiri?",


"Iya ..cepat..., lama banget sih", gerutu Mirna. Ia berjalan lebih dulu setelah menutup kembali pintu mobilnya.


"lurus", Aditya memandu Mirna berjalan.


"Nah dari gang yang di depan, kamu belok kanan, di sana ada rumah dari kayu yang besar, itu rumahnya, Mamimu ada di sana", lanjut Aditya.


"Kenapa nggak langsung antar saja ke sana ", geram Mirna.


"Sudah, aku tunggu mobil kamu saja, nanti mobilnya yang hilang, kan tambah repot", alasan Aditya.


"Ya sudah, aku ke sana", Mirna bergegas menuju rumah yang tadi di tunjukkan oleh Aditya.


'Yang mana ya...', pikir Mirna . Ia berjalan pelan memasuki gang. Ini kali, rumah kayu...' pikir Mirna.


Dan benar saja dari luar ia bisa mengenali sandal dan sepatu Mamih dan papihnya.


Tanpa mengucap salam, Mirna langsung menerobos masuk ke dalam rumah.


"Mamih,Rano hilang Mih", teriak Mirna begitu ada di dalam rumah. Ia melihat Mamih dan papihnya ada di dalam.


Sontak semua yang ada di dalam kaget, apalagi Bu Mona, ia langsung terperanjat menghampiri Mirna.


"Sini, duduk dulu!, tenang!, coba ceritakan bagaimana bisa hilang, tadi kan lagi asik main ponsel di jok belakang", tatap Pak Purnawan.


Mirna duduk di samping Bu Mona.


"Begini Pih, Mirna tidak menyadari Rano ke luar mobil, tahu-tahu pintu belakang sudah terbuka, dan Rano sudah tidak ada di sana, tapi ponselnya ada, sudah mati daya ", jelas Mirna.


"Sudah di cari di sana juga, tapi tetap tidak ada", lanjut Mirna.


"Aduh..., gimana ini, mana di luar sudah gelap Pih, ayo cari Rano!, ini tempat asing bagi Rano, Mamih khawatir Pih", rajuk Bu Mona.


"Ya sudah, ayo kami bantu cari", Kakek Ilham berdiri.


"Jangan Pak, biar saya saja", Arman yang baru masuk ke dalam rumah bersama istrinya , melarangnya.


"Alhamdulillah Man, kamu ke sini, cepat bantu cari !",


"Ini anak sulung Kakek, dia yang akan membantu mencari anak kalian , Arman mengetahui semua daerah di sini", terang Kakek Ilham.


Arman diikuti Pak Purnawan dan Bondan pergi mencari Murano, mereka membawa obor sebagai penerangan. Mereka menyusuri kebun dan semak di sekitar mobil Bu Mona di parkir.


Aditya yang ada di sana sudah menduga kalau adiknya Mirna tidak bersama Maminya. Ia pun ikut mencari dengan mengajak Bimo dan Yoseph yang ada di tenda.


Mereka mencarinya menyusuri lereng dan ladang.

__ADS_1


Sementara Aini dan Putra sudah sampai di halaman rumah Kakek Ilham. "Wah, sepertinya ada tamu", Aini Melirik Putra .


Putra segera menuju ke samping rumah Kek Ilham untuk menyimpan pelet ikan yang baru dibelinya.


"Assalamu'alaikum ", Aini mengucap salam , Rano sudah tertidur di pangkuannya.


"Wa'alaikumsalam" , Nek Husna menjawab.


Aini masuk masih menggendong Rano.


"Mih..., itu Rano, ternyata kamu yang menculik adikku", tuduh Mirna begitu melihat adiknya ada dipangkuan Aini.


"Menculik?, siapa yang diculik?", kaget Aini, ia masih berdiri .


"Itu ..., dia adikku!, kenapa bisa bersama kamu?", selidik Mirna.


"Oh..., ini, dia tadi bertemu di jalan, hampir jatuh ke lereng, Alhamdulillah, masih selamat", terang Aini.


"Bohong!, itu kan cuma alasan kamu saja" sewot Mirna.


"Ada apa ini ribut-ribut" , Putra masuk ke dalam rumah, ia membimbing Aini untuk duduk.


"Nak Putra kenapa Aini bisa bersama anak itu?" tunjuk Kakek Ilham kepada Aini dan Rano.


"Itu anak saya", tegas Bu Mona.


"Oh... , Rano?, tadi dia kami temukan di jalan saat mau pulang, ia sepertinya mengejar sesuatu, hampir saja terjatuh ke lereng, kalau Aini tidak segera menangkap tangannya, dia hanya terluka gores ranting kering saja" , terang Putra.


"Oh..., jadi Aini yang menolong Rano?, maafkan kami sudah menuduhmu yang bukan -bukan, ayo Mirna, kamu juga harus minta maaf sama Aini", pinta Bu Mona.


Mirna cemberut, ia merasa enggan untuk meminta maaf.


"Sudahlah Bu, tidak apa-apa, ini Rano nya juga sudah selamat" , Aini memberikan Rano kepada Bu Mona. Rano mulai terbangun, ia tidak mau lepas dari pangkuan Aini.


"Rano sayang, ini Mamimu ada di sini", senyum Aini. Ia melepas pelukan Rano perlahan dan menghadapkannya dengan Bu Mona. Setelah mengenali Maminya, Rano akhirnya mau melepaskan pelukannya dari tubuh Aini.


"Alhandulillah, kamu selamat sayang, kenapa bisa keluar dari mobil?", tanyai Bu Mona


"Tadi...tadi ...ada binatang , Rano mau menangkapnya, tapi malah loncat, Rano mengejarnya Mih, Rano tadi mau jatuh ke jurang , untung Teteh ini menolong Rano" , terang Rano.


"Sekali lagi, terima kasih ya Aini", senyum Bu Mona.


"Iya Bu", Aini membalas senyuman Bu Mona.


"Mih...., Rano lapar",


"Oh...iya..., Nek makanan sudah siap kan?, kita sekalian makan malam bersama saja, tapi maaf ya, menunya seadanya", senyum Kakek Ilham.


"Aduh..., jadi merepotkan, nanti telpon Papih dulu", Bu Mona nampak menelepon Pak Purnawan , ia memberitahukan kalau Murano sudah ketemu.


Dan tak lama kemudian, Pak Purnawan dan Arman tiba di rumah. Mereka langsung makan malam di rumah Kakek Ilham. Setelah itu Bu Mona beserta keluarga pamit pulang.s

__ADS_1


__ADS_2