
"Yah, kirain masih single Kak", Mirna tampak kecewa.
"Tenang aja Mir, selama belum ada janur kuning melengkung, masih ada kesempatan", Aliya menimpali.
"Kita lihat saja nanti, seperti apa sih kategori istri pilihan Kak Putra?, pasti aku lebih baik dari dia", senyum Mirna.
"Oke, kita lanjutkan saja pelajaran Bu Maya, buka halaman selanjutnya dari pelajaran Bu Maya yang kemarin", instruksi Putra . Lalu dia kembali duduk di kursi guru.
Sebenarnya sengaja Putra mengambil tempat PPL di Sekolah Aini, biar sekalian bisa mengantar dan menjemput Aini sekolah, sebelum waktunya tiba.
Sebagaimana yang telah disepakati orang tua mereka, Putra akan menikahi Aini setelah Aini lulus nanti, dan akan membawanya ke Kota.
Sekalian Putra ingin mengetahui keseharian Aini di Sekolah.
"Oke, kalian kerjakan dulu, latihan yang ada di halaman itu, nanti akan saya nilai", ucap Putra sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.
Di sana ia melihat seorang siswa yang selalu memperhatikan Aini, 'apa ia juga menyukai Aini?', pikir Putra.
Bell istirahat berbunyi, "Yang sudah selesai, boleh kumpulkan ke depan, dan boleh istirahat", perintah Putra.
Semua mengumpulkan bukunya di meja guru di depan Putra, termasuk Aini. Ia merasa kikuk saat harus berhadapan dengan Putra, apalagi Mirna ,Aliya, dan Sinta ada dibelakangnya.
Putra tersenyum saat Aini menaruh buku dihadapannya.
"Cepat Hey, ngantri nih, ganjen", Mirna mendorong punggung Aini.
"Aduh", Aini hampir jatuh kalau tangannya tidak disambar oleh Putra.
Putra memandang Mirna yang dengan wajah tanpa dosanya melenggang meninggalkan Aini, diikuti oleh Aliya dan Sinta.
"Kamu nggak apa-apa?", tanyai Putra. Ia memandangi Aini.
"Nggak apa-apa", Aini tersenyum.
"Kok nggak bilang kalau mau PPL di sini", Aini memberanikan diri bertanya.
"Kan biar surprise", senyum Putra.
"Tapi, Aini kan malu",
"Kenapa harus malu, ini sengaja lagi, biar bisa terus bersama Aini", Putra balas tersenyum.
Di luar kelas, Mirna tampak kesal melihat keakraban Aini dan Putra.
"Iih dasar cowo, katanya sudah punya calon, tapi baru lihat si kelelawar saja sudah dekat gitu", gerutu Mirna.
"Aku tuh tambah nggak suka saja sama sikelelawar itu, gayanya so akrab, padahal dia itu kan pendiam, giliran ketemu Kak Putra, ganjennya keluar", cibir Sinta.
"Kita kerjain saja dia, biar tahu rasa, kita ke Kantin saja, atur rencana", ajak Mirna. Dia berjalan duluan diikuti Aliya dan Sinta.
__ADS_1
"Kita makan aja dulu, di sini ada makanan enak?", tanya Putra menunggu jawaban Aini.
" emm...apa yah, paling mie ayam, mie bakso, batagor, itu sih yang enak di sini", senyum Aini.
"Nah, itu boleh, aku lagi ingin makan mie ayam saja", Putra berdiri dan berjalan menuju Kantin Sekolah.
Aini mengikuti dari belakang. Sesampainya di Kantin, mereka menjadi pusat perhatian, terutama Putra, sebagian besar murid belum mengetahui kalau Putra adalah guru PPL baru di sekolah mereka.
Apalagi melihat Putra yang terlihat perhatian kepada Aini, mereka duduk di meja yang sama, Putra bahkan menyiapkan kursi untuk Aini, dan memesankan makanan.
"Idih, itu lihat si kelelawar, so cantik gitu, mentang-mentang bisa dekat dengan Kak Putra",
Cibir Mirna.
"Kesal nih, kenapa tidak memilih aku saja, padahal aku lebih keren daripada si kelelawar itu", Aliya cemberut.
"Ah..., mungkin itu karena Aini siswi pandai di kelas", tebak Sinta.
"Kita ikut gabung saja di meja mereka", tanpa menunggu persetujuan Aliya dan Sinta, Mirna sudah langsung melenggang ke meja tempat Aini dan Putra duduk.
"Kita boleh gabung di sini kan?", Mirna langsung duduk di kursi sebelah Putra.
Aini tersenyum, "Boleh,biar tambah rame",
Tak lama pesanan mereka datang, Aini dan Putra memesan mie ayam dan jus jeruk.
"Em..., aku mau spagety, jus mangga, kamu mau apa Sin, Al?", Mirna melirik temannya.
"Aku seblak campur aja ,pedasnya dua sendok sama teh manis dingin", ucap Sinta.
"Aku mie baso, tanpa toge,sama jus jeruk", timpa Aliya.
Saat semua pesanan sudah tersedia, mereka langsung menikmatinya.
"Aduh, kok ini rasanya pedas sekali, padahal tadi pesannya nggak pake pedas", keluh Aini saat baru menyicipi mie ayamnya.
"Kenapa, nggak suka pedas ya?" , tanyai Putra.
Aini mengangguk, ia menghentikan makannya. Ini tukar sama punyaku, belum dikasih pedas rasanya", tawari Putra . Ia memberikan mie ayam miliknya
"Tapi ini pedas, nanti bisa sakit perut", tolak Aini.
"Sudah, ini malan saja punya aku, sini ini biar aku yang habiskan", Putra menukar mangkok mie ayam miliknya dengan punya Aini dan langsung memakannya.
Mirna merasa geram saat melihat pemandangan itu, tadi dia memang dia sengaja menambahkan beberapa sendok sambal ke mie ayam pesanan Aini, saat dirinya memesan makanan, namun rencananya untuk mengerjai Aini gagal, kini malah Putra yang menggantikannya.
Aini sesekali melirik Putra yang terlihat kepedasan, refleks Aini memberikan jus jeruk miliknya kepada Putra yang telah menghabiskan jus jeruk miliknya lebih dulu.
Dengan senyuman Putra menerimanya"Terima kasih",
__ADS_1
Terang saja pemandangan itu membuat Mirna tambah kesal, 'ada apa dengan mereka, akrab sekali', pikirnya.
"Ehm...", Mirna berdehem.
Putra dan Aini melihatnya, mereka sadar mungkin kedekatannya membuat mereka tidak nyaman.
Mirna menghabiskan makanannya dengan kesal, ia dan kedua temannya merasa jadi nyamuk saja.
Mirna bangkit dan dengan sengaja menyandungkan kakinya ke kursi hingga dia terhuyung jatuh ke lantai.
"Aww...", teriak Mirna . Dia kesal karena ternyata Putra yang duduk disampingnya tidak menangkapnya saat terjatuh.
"Aduh,kakiku ", Mirna meringis dalam keadaan masih terduduk di lantai.
Aliya dan Sinta memburunya." Pelan-pelan Mir?, kok bisa terjatuh sih?", Sinta membantu Mirna berdiri.
"Aww..., kakiku", Mirna melirik Putra, berharap ditolongnya.
Aini melihat itu, "Tolong Mirna tuh, dia nggak bisa berjalan", pinta Aini kepada Putra.
Putra melirik Mirna yang sedang dibantu berdiri oleh dua temannya.
"Kamu masih bisa jalan kan?", Putra menghampiri.
"Kakiku sakit", dia meringis mengharap belas kasihan. Dengan desakkan Aini, akhirnya Putra membantu memapah Mirna menuju kelasnya dibantu Sinta . Aliya mengikuti dari belakang, ia mencibirkan mulutnya karena tahu Mirna sedang berpura-pura, ia hanya ingin memikat Putra saja.
Aini pun mengetahui itu, tapi dia membiarkan saja, membuat orang senang itu suatu perbuatan baik, karena Aini yakin hati Putra hanya tertuju padanya.
Aini memasuki kelas dan mendapati Mirna sedang berjingkrak-jingkrak kesenangan karena berhasil membuat Putra memapahnya.
Mirna tidak menyadari kehadiran Aini.
"Akhirnya, aku berhasil, oh Kak Putra, wangi tubuhnya masih nempel ni di sini, ternyata dia perhatian juga, sepertinya akan sangat mudah untuk mendapat dia", Mirna tersenyum penuh kemenangan.
Aini melewati Mirna yang masih berdiri tegak , ia duduk di kursinya.
"Kasihan, jangan berharap banyak sama Kak Putra, sebentar lagi dia akan jatuh hati sama aku, tadi terbukti kan, dia yang menolong aku ", Mirna bicara di samping telinga Aini.
Aini hanya tersenyum saja, ia tak sedikit pun merasa terganggu oleh ucapan Mirna. Karena ia percaya pada Putra yang telah terikat janji dengan kedua orangtuanya.
Namun sampai bell pulang berbunyi, Putra belum muncul lagi di kelas, Aini berjalan menuju gerbang, dia menunggu di dekat mobil Putra.
Hal itu terlihat oleh Mirna dan dua temannya. "Ngapain dia berdiri di situ?, ganjen ", cibir Sinta.
"Hai, jangan so cantik ya, jangan harap Kak Putra mau mengajakmu pulang bareng", Mirna menepuk pundak Aini.
Ia tidak tahu kalau Putra sedang berjalan ke arahnya. "Ayo kita pulang, maaf pasti sudah menunggu lama ya?", Putra membukakan pintu mobilnya dan mengajak Aini masuk, lalu dia pun masuk dan mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan Mirna, Sinta dan Aliya yang melongo melihatnya.
"Ada apa dengan mereka?", Mirna melotot.
__ADS_1