Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Selalu Padamu


__ADS_3

Sudah mau tiga hari Aini berada di rumah suaminya, ia sudah terbiasa dengan pekerjaan sehari-hari di sana. Tiap pagi ia pasti bangun lebih awal.


Putra juga sudah mulai kuliah lagi, disela-sela waktu luangnya ia datang ke kantor orang tuanya, untuk mulai membantu beberapa pekerjaan.


Putra tidak ingin berpangku tangan, ia ingin memiliki penghasilan dari kerjanya sendiri untuk menafkahi Aini.


Sudah sering Putra di bawa oleh Pak Handoko ke kantornya, jadi para staf kantor sudah tidak asing lagi dengannya.


"Pak Hambali ada di tempat?", tanya Putra kepada resepsionis di depan.


"Oh...iya ada, barusan beliau baru saja masuk", Risma sedikit kaget dengan kedatangan anak bosnya itu.


Tanpa menunggu lagi, Putra pun langsung menuju kantor Pak Hambali, asisten kepercayaan ayahnya.


Semua staf saling mencuri pandang kepada Putra.


"Pengantin baru itu, tidak menyangka ya, anak Bos, kok memilih gadis Desa?", bisik Risma kepada Adis.


"Ya...namanya juga cinta, mau jatuhnya ke siapa, tidak bisa di tebak", Adis menjawab tanpa menoleh, ia sedang fokus dengan pekerjaannya. Ada berkas yang harus segera ia serahkan kepada Pak Hambali untuk meeting besok pagi.


"Sayang saja gitu...anak Boss besar, anak satu-satunya lagi, coba kalau berjodoh dengan orang yang selevel , kan akan tambah kuat , dan tambah banyak kekayaannya", Risma menerawang.


"Cocoknya sama kamu gitu?", Adis melirik Risma.


"Siapa yang tidak mau jadi mantu Boss besar, kamu juga berharap kan", cicit Risma.


"Stttt....", Adis meletakkan telunjuk di atas bibirnya. Ia melihat Pak Hambali dan Putra keluar dari kantornya.


Pak Hambali nampak sedang menjelaskan alur kerja di Kantor kepada Putra.


Hari ini Putra perdana masuk Kantor, namun masih memakai setelan kuliah.


Tidak lupa ia juga memperkenalkan satu per satu staf yang ada dikantornya.


Putra menatap satu per satu dari mereka, sambil melayangkan senyuman kepada mereka. Ini akan menjadi awal baru dalam hidupnya, karena kini ia sudah berstatus sebagai seorang suami.


Sudah mulai memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarga kecilnya, harus lebih mengutamakan kewajiban dari pada hak, yang selama ini selalu ia dapat dari kedua orang tuanya.


"Mulai hari ini, selama Pak Handoko dan Bu Hellen di luar Kota, semua wewenang beliau dipegang oleh anaknya, Putra Hansjaya, beliau memang baru, jadi saya minta kerjasamanya dari semua staf di sini , agar ikut membantu beliau mengenal alur kerja di sini, semua paham ya?", Pak Hambali menatap semua stafnya.


"Baik Pak", serentak mereka.


"Dan untuk sementara, Pak Putra akan satu ruangan dengan saya", lanjut Pak Hambali.


"Adis, mulai sekarang, setiap berkas yang masuk ke saya, minta di buat dua rangkap ya, satu untuk saya, dan satu untuk Pak Putra",


"Baik Pak", Adis mengangguk.


"Baik..., terima kasih atas perhatiannya, dan silahkan kembali bekerja",

__ADS_1


Seluruh staf kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Putra ikut kembali ke ruangan Pak Hambali.


Ia belum berani memakai ruangan ayahnya, karena menyadari dirinya masih pemula, masih perlu banyak belajar, apalagi untuk mengelola Perusahaan besar seperti ini, salah mengambil keputusan saja bisa fatal.


"Nah, untuk sementara ini meja Pak Putra, dan ini berkas awal yang mungkin bisa Bapa pelajari", Pak Hambali membimbing Putra dan menunjukan meja kerjanya yang berdampingan dengan meja kerja miliknya.


"Aduh...jangan panggil Bapak, sepertinya lucu gitu Pak", senyum Putra.


"Ini kan Kantor, kita propesional saja, walau masih muda dan pemula, tapi tetap Bapak itu anak dari Boss saya, bahkan mungkin tidak lama lagi akan benar-benar menjadi Boss saya, kalau Pak Handoko berhasil memenangkan tender yang di luar Kota, beliau akan banyak tinggal di sana, dan di sini pastinya akan diteruskan oleh Pak Putra", jelas Pak Hambali.


Ia memang salah satu staf kepercayaan ayahnya, Pak Hambali yang sedari awal bersama ayahnya membantu merintis Perusahaan ini dari nol.


"Baik, kalau begitu saya akan mulai mempelajari berkas-berkas ini Pak", Putra melangkah menuju meja kerjanya.


"Oh...silahkan, selamat bekerja, semoga kita bisa klop ya Pak", senyum Pak Hambali. Ia pun sama menuju meja kerjanya kembali dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Waktu terasa begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah waktunya istirahat jam makan siang. Namun Putra masih betah duduk di meja kerjanya.


"Saya ke luar dulu, sudah waktunya makan siang, istirahat dulu saja, jangan terlalu diporsir, ini masih awal", Pak Hambali melirik Putra.


"Siap Pak, saya masih mau di sini", senyum Putra.


"Atau mau dipesankan makanan, biar nanti di antar ke sini", usul Pak Hambali.


"Oh tidak Pak terima kasih, biar nanti saya sendiri yang ke Kantin", Putra kembali tersenyum.


"Hah....", Putra menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya, ia bersandar di sana, tiba-tiba ingatannya teringat kepada Aini, pasti istrinya itu sekarang sudah memasak di rumah, ia jadi kangen masakan istrinya itu.


"Halo Pak, Bapak bisa antarkan makanan ke sini, saya lagi di Kantor Papah, tolong bilang saja ke Aini, antarkan saya makanan untuk makan siang, suruh kurir saja yang mengantarnya", pinta Putra, ia menelepon Pak Karman , penjaga rumahnya.


"Oh iya baik Den", Pak Karman segera menuju dapur dan mendapati Aini di sana.


"Maaf Non, barusan Den Putra telepon, katanya minta dikirim makanan untuk makan siang, sekarang juga, Den Putra lagi di Kantor Pak Handoko", beritahu Pak Karman kepada Aini.


"Oh...pantesan belum pulang, baik Pak, akan segera saya siapkan", Aini mengambil nasi dan lauknya, buah-buahan, keu juga jus buah ke dalam wadah, dan menyerahkannya kepada Pak Karman untuk segera di kirim ke Kantor Ayah Mertuanya.


Seorang kurir sudah siap menunggu di depan gerbang, ia yang akan segera membawa makanan itu ke Kantor di mana Putra berada.


"Maaf, ini ada kiriman buat Pak Putra dari istrinya", kurir itu menemui resepsionis di Kantor yang ditujunya.


"Oh..., iya terima kasih, nanti saya antarkan", Risma tersenyum menerima bungkusan dari kurir tadi.


"Apaan tuh", Adis penasaran menghampiri Risma.


"Ini ada kiriman buat Boss muda dari istri tercinta", cibir Risma.


"Hus..., kamu ya, itu sepertinya makan siang buat Pak Putra, ayo segera antarkan, kasihan, pasti sudah di tunggu", gertak Adis.


"Ya...salah sendiri, mau makan apa pun tersedia di sini, tinggal pesan saja, ini malah dikirim dari rumah, ada-ada saja dasar pengantin baru", Risma mendumel sambil menjinjing kiriman buat Bos Mudanya.

__ADS_1


Risma mengetuk pintu ruangan Putra. Terdengar suara Putra yang menyuruhnya masuk, ia pun membuka pintu dan masuk. Di sana ia mendapati Putra sedang bersandar di kursi kerjanya, beberapa kancing kemejanya sengaja ia buka, Putra belum terbiasa dengan pakaian itu, rasanya gerah, tidak seperti memakai kaos .


Risma sekilas meliriknya, lalu ia menunduk, dan memberikan kiriman buat Putra.


"Ini Pak ada kiriman dari rumah buat Bapak", Risma menaruh bungkusan itu di meja Putra.


"Alhamdulillah..., akhirnya datang juga, terima kasih ya", Putra segera bangkit menyongsong kiriman itu dan membawanya ke meja di ruang tunggu jika ada tamu.


Risma kembali ke luar dengan sedikit mencibirkan bibirnya. Entah kenapa ia tidak suka melihat pemandangan itu.


Putra segera membuka kiriman istrinya itu, ada nasi lengkap dengan lauk dan sayurannya, buah apel, pisang, kue, dan jus mangga kesukaannya.


"Terima kasih sayang", gumam Putra. Ia mulai menyantap makan siangnya. Ponselnya terdengar berdering, 'My Sweets wife', terlihat tulisan itu di layar ponselnya.


Dengan tersenyum ia menjawab panggilan dari Istrinya itu.


[Halo , sayang, ini kirimannya sudah aku eksekusi, terima kasih ya, sekarang tiap hari kamu akan selalu direpotkan, aku sudah mulai bekerja di Kantor Papah, dan pasti akan terus minta dikirim makan seperti ini],


[ha...ha...ha...., iya, nanti kapan-kapan di kirim langsung ya ke sini, jadi ada yang nemenin makan],


[wah....mau ada kejutan, apa itu, jadi pingin buru-buru pulang nih, iya, aku langsung pulang, karena sudah tidak sabar, ada kejutan apa sih],


Putra nampak menikmati makan siangnya sambil vidio call dengan Aini. Semua itu bisa di lihat jelas oleh Risma , karena kebetulan pintu ruangannya terbuka sedikit.


'Hm...., jadi penasaran, bagaimana penampakan dari istri Bos Muda itu, sampai segitu bucinnya', Risma bicara dalam hatinya, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Putra.


Tidak hanya Risma, tetapi semua staf yang ada pun bisa mendengar tawa Putra , mereka juga tidak kalah penasarannya, ingin melihat istri dari Bos Mudanya itu.


Selesai makan, Putra kembali ke meja kerjanya, ia ingin pulang cepat hari ini, sudah tidak sabar ingin mengetahui kejutan dari istrinya. Tidak lupa ia copy beberapa file penting agar ia juga bisa mempelajarinya di rumah.


"Wah..., hari pertama kerja, sudah mendapat kiriman", senyum Pak Hambali begitu melihat tempat makan di meja.


"Oh iya Pak, itu istri saya yang kirim, masih ada kuenya Pak, silahkan cicipi", tawari Putra.


"Oh, terima kasih, saya sudah kenyang" , tolak Pak Hambali.


Untuk beberapa jam mereka kembali menyelesaikan sisa pekerjaannya hari ini. Putra terlihat sudah membereskan mejanya. Ia juga membereskan tempat makan yang dikirim Aini tadi.


"Pak, saya pulang duluan, semua sudah beres", pamit Putra, ia menghadap meja Pak Hambali.


"Jangan kaku begitu, di sini Pak Putra atasannya, jadi boleh pulang kapan pun, tidak usah ijin saya dulu, justru kalau masih ada pekerjaan yang belum selesai, biar saya yang lanjutkan", senyum Pak Hambali.


"Hmm..., iya Pak, sudah beres semua untuk hari ini", senyum Putra .


"Silahkan kalau mau pulang", senyum Pak Hambali.


Putra keluar dari ruangannya dengan tersenyum, ia sudah tidak sabar ingin sampai rumah, ingin tahu kejutan apa yang akan diberikan Aini.


Semua staf meliriknya, sebagian mengulum senyum. "Pengantin baru, tidak tahan berpisah lama-lama, jadinya pingin pulang cepat", bisik salah satu staf kepada temannya.

__ADS_1


__ADS_2