Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Cucu Ibu


__ADS_3

Suasana pagi di Desa Mandalajati tetap mempesona, sinar mentari yang mulai menghangat bersinar membuat kilauan di antara dedaunan yang masih berembun.


Satu per satu anak Kek Ilham sudah meninggalkan rumah Kakek Ilham, mereka memulai kembali aktifitasnya masing-masing.


Yang tinggal hanya keluarga Aini dan keluarga Bu Mona. Tentu saja Risma dan Mirna pun masih ada di sana.


"Aduh..., pagi-pagi kok sudah makan buah mangga?", Nek Husna memergoki Risma yang sedang mengupas buah mangga sisa membuat rujak di acara empat bulanan Aini kemarin.


"Iya Nek...., ini rasanya mual, mungkin kalau makan mangga muda, bisa ternetralkan rasa mualnta", senyum Risma.


"Aduh..., ada-ada saja....", senyum Nek Husna. Ia melirik Risma sebelum berlalu dari hadapannya.


"Aku bawakan air teh hangat nih", Mirna datang menghampiri Risma.


"Ya..ampun Risma..., nanti sakit perut lho.....", ingatkan Mirna begitu melihat Risma sedang sarapan pake buah mangga muda.


"Nggak bakalan..., justru kalau tidak makan ini, aku bisa muntah-muntah, malu kan, kalau sampai terjadi di sini", bela Risma.


"Mendingam ini nih...., ada teh hangat dengan ubi goreng", Mirna menata makanan di atas meja di samping Risma.


"Eummhh...., dasar kamu Ya...., aneh -aneh saja",


'Kok seperti orang ngidam ya?, Bu Aini saja yang sedang hamil, tidak aneh-aneh', pikir Mirna. Ia bicara dalam hati sambil memperhatikan Risma.


"Teteh..., antar Rano beli es krim", Murano datang langsung meraih tangan Mirna dan menariknya untuk mengikutinya ke warung.


"Aduh...., tunggu Dik!, jangan di tarik!, sakit ini", Mirna melangkah cepat mengikti Murano mencari warung.


Tinggallah Risma sendiri duduk di kursi depan rumah .


"Sarapan dulu di dalam Neng!", sebuah suara mengagetkan Risma.


Bu Hellen duduk di samping Risma.


'Akhirnya yang di tunggu tiba', Risma tersenyum begitu melihat Bu Hellen.


"Ini ..., siapa yang makan mangga muda pagi-pagi ?", tanyai Bu Hellen.


"Eumh...., saya bu, ini saya yang sedang makan buah ", Risma kembali menyuapkan buah mangga ke mulutnya, tidak ada raut asam-asam dari wajahnya, seolah dia makan buah yang manis saja.


"Aduh...kok malah ibu yang merinding, itu manis memangnya?", tanyai Bu Hellen, ia penasaran dan mengambil satu potong buah mangga dan menggigitnya.


"Aduh....asam sekali ..", Bu Hellen langsung mengambil tisue dan memuntahkan kembali buah yang sudah ada dimulutnya.

__ADS_1


"Kamu menipu ibu ya?, ini adam sekali?, kok kamu seperti tidak merasa asam", kekeh Bu Hellen.


"Iya sih..Bu, ini aku kan lagi mual-mual, jadi rasa asamnya jadi hilang, tidak terasa", cicit Risma.


Sejenak Bu Hellen menatap Risma, sebagai seorang wanita , ia bisa melihat kalau ada tanda-tanda yang janggal di diri Risma , tubuhnya terlihat mekar yang tidak wajar, apalagi dia sudah makan buah mangga muda pagi-pagi, tanpa merasa masam pula.


'Sepertinya ada yang terjadi dengan anak ini', batin Bu Hellen bicara saat memandangi Risma.


'Tapi semoga saja dugaanku meleset', pikir Bu Hellen


Risma menengok ke dalam rumah, terlihat sepi, hanya dirinya dab Bu Hellen saja , yang lainnya masih sibuk dengan pekerjaan di belakang.


'Apa sekarang saja, ini waktunya aku untuk memberitahu keadaannku kepada Bu Hellen', pikir Risma.


"Ibu pasti senang ya, sebentar lagi mau menimang cucu", Risma mulai membuka pembicaraan.


"Ya...iya , Ibu senang sekali, apalagi ini cucu pertama", senyum Bu Hellen.


"Apalagi kalau cucunya dua ya?", Risma memandang ke arah Bu Hellen.


"Dua?, kembar maksudnya?, Ah....itu memang harapan itu, punya cucu kembar", senyum Bu Hellen.


"Bukan kembar, tapi....", Risma menggantung ucapannya.


"Kalau...cucunya lahir dari dua mantu ibu bagaimana?" , Risma menatap Bu Hellen.


"Hah...., dua menantu...?, aneh -aneh saja", Bu Hellen menatap Risma. Kali ini Bu Hellen tampak serius menatap Risma.


"Maksudnya apa?, dua menantu, mana ada yang begitu",


"Kalau memang ada, karena tidak sengaja, bagaimana?", Risma menunduk sambil memegangi perutnya. Ia memasang wajah sedih dihadapan Bu Hellen.


"Ibu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kamu, ada apa sebenarnya?", Bu Hellen menatap tajam ke arah Risma.


"Sebenarnya...aku juga sedang mengandung", lirih Risma,


"Apa....?, kamu ...mengandung....?, kamu belum menikah Risma, jangan main-main", tegas Bu Hellen.


"Iya, memang saya belum menikah, tapi memang ini benar, saya sedang mengandung",


Bu Hellen diam sejenak, ia kembali memandangi Risma.


"Lalu itu anak siapa?, kamu jangan bikin malu saya", Bu Hellen memegangi kedua pundak Risma.

__ADS_1


"Ini ..., ini....cucu Ibu juga", tegas Risma.


"Cu...cu...ibu?", Bu Hellen menunjuk kearah dadanya sendiri.


"I...iya...", Risma menunduk.


"Jangan mengada-ngada Risma?, anakku Putra tidak mungkin berbuat seperti itu", Bu Hellen menatap Risma.


"Tapi nyatanya...., ini semua sudah terjadi, dan tidak lama lagi perut ini akan makin membesar, dan semua orang akan mengetahuinya", Risma menunduk.


"Mana mungkin saya bohong Bu, ini aib bagi aku, tapi jika sampai semua media tahu, ini akan menjadi aib bagi ibu juga", ancam Risma.


"Tunggu!, kamu jangan banyak bicara dulu, kita bisa selesaikan ini baik-baik, tapi jangan di sini , saya tidak ingin keluarga Aini mengetahui, kita bahas ini sesudah kita pulang", tegas Bu Hellen.


"Baik Bu, saya mengerti", Risma melirik ke arah Bu Hellen, ia tersenyum evil. Hatinys bersorak karena tujuannya sudah setengah jalan berhasil.


Putra mengetahui Risma sedang bersama bicara dengan Bu Hellen. 'Awas saja kalau sampai kamu mengacaukan suasana di sini', geram Putra.


Risma yang melihat kedatangan Putra, segera pamit kepada Bu Hellen, ia beralasan ingin menyusul Mirna.


"Bicara apa dia Mih?" , Putra menatap kepergian Risma .


"Nanti saja kita bicarakan di rumah, di sini, tidak enak kalau sampai di dengar keluarga Aini", jelas Bu Hellen.


"Kamu ceroboh sekali", Bu Hellen memelototi Putra.


"Ini bukan salah Putra Mih, Putra tidak melakukan apa-apa sama dia",


"Terus..., dia bisa begitu oleh siapa?, nyamuk?, yang datang, menusuk, menghisap, dan pergi begitu saja meninggalkan bentol" ,


"Ha...ha...ha...., Mamih lucu", Putra tertawa mendengar celotehan mamihnya itu.


"Huus...., kamu ya..., ini masalah serius, apa kamu tidak pernah berfikir, kalau sampai hal ini di endus media, tamat kita, teputasi Perusahaan akan anjlok", tegas Bu Hellen.


Putra terdiam sejenak, ia sedang mencerna ucapan mamihnya. "Sial...., kenapa baru kepikiran, tapi benar Mih..., itu bukan ulah Putra, aku berani bersumpah Mih" ,


"Huus...., hati-hati !, jangan sembarangan ucapkan sumpah, ingat, istrimu sedang hamil, kita bahas ini nanti , jangan di sini", ingatkan Bu Hellen.


"Apa Aini sudah mengetahui masalah ini?", Bu Hellen setengah berbisik kepada Putra.


"Sudah..., Aini juga sudah tahu, Risma yang mendatanginya langsung", Putra menunduk.


"Kasihan Aini", gumam Bu Hellen.

__ADS_1


__ADS_2