
"Drtttt...Drttt...Drrttttt....", Ponsel Putra bergetar, di lihat di layar terlihat nama Mamahnya. Putra melirik Aini, ia bingung, kalau di jawab di dekat Aini, takut ibunya bertanya hal nyeleneh , nanti bisa menyinggung Aini.
Tapi kalau ia pamit untuk menjawab telepon dari Mamahnya, sama..., Aini bisa tersinggung, baru juga beberapa hari menikah, sudah main rahasia-rahasiaan, apalagi ini Mamahnya sendiri.
Akhirnya Putra diam , "Ehhh..., kok malah bengong, itu dijawab panggilannya, siapa tahu penting", Aini menepuk tangan kanan Putra yang ada disampingnya.
"Oh...iya..., boleh aku jawabnya di sana ya, ini kaki kok pegal", alasan Putra.
"Iya...sok aja", senyum Aini. Ia menerawang melihat hamparan kebun teh, merasakan hembusan angin yang bertiup menyejukkan.
"Assalamu'alaikum ....Putra, apa kamu di sana?", terdengar Bu Hellen bertanya dengan nada kesal karena Putra lama menjawab panggilannya.
"Wa'alaikumsalam, iya Mah..., ini Putra, maaf tadi lagi di kamar mandi", alasan Putra.
"Bagaimana sudah belum?", .
"Sudah apanya Mah?", Putra balik bertanya.
"Itu sudah belum, kamu dengan Aini?, apa dia masih suci?", Bu Hellen to the point.
"Aduh Mamah...., kok masih ngurusin itu sih?, itu kan masalah aku dan Aini", kesal Putra.
"Ya jelas, sekarang ini urusan Mamah juga, karena Mamah ingin keturunanmu tidak ternoda, ia adalah calon pewaris keluarga kita",
"Iya Mah, tapi begitu juga",
"Aduh..., kamu itu ribet sekali, tinggal jawab Saja, masih suci tidak?",
"Ya jelas masih suci Mah, semalam sampai dua putaran pun masih susah", alasan Putra, lagi-lagi ia harus berbohong.
"Benar..., kamu tidak bohong kan...?",
"Aduh Mamah, benar dong, masa aku bohong, apa perlu Mamah ikut ke kamar ?", cicit Putra.
"Ah...kamu..., iya...iya..., Mamah percaya, cepat beri mama kejutan baik ya?",
"Hati-hati kalian di sana, Mamah sudah kangen masakan Aini, oh iya ..., mana sekarang Aini?",
"Ada, Aini juga lagi mandi, kami mau jalan-jalan ke luar dulu",
"Oh..iya bagus itu, baik-baik kalian di sana ya? Sampaikan salam Mamah kepada Aini",
__ADS_1
"Iya Mah, terima kasih, Assalamu'alaikum", Putra menutup panggilan Mamahnya.
"Astaghfirullah..., hari ini banyak sekali bohongnya, tapi bagaimana lagi, kalau jujur, pasti akan membuat Mamah atau Aini tersinggung. Putra mematung untuk beberapa saat, hingga tidak menyadari kehadiran Aini disampingnya.
"Telepon dari siapa sih..., kok malah bengong", senyum Aini sambil memeluk pinggang suaminya.
"Itu tadi Mamah...", senyum Putra.
"Oh..., pasti nanyain ya?,
"Iya, katanya Mamah sudah kangen sama masakanmu, nanti pulang dari sini, kita langsung pulang ke rumah aku ya?, senyum Putra.
"Boleh..., memangnya mau berapa lama kita di sini?, tatap Aini.
"Bebas..., semau kita, sampai bosen", senyum Putra.
"Ah jangan lama-lama, di sini dingin, aku jadi malas ngapa-ngapain", kekeh Aini.
"Emang begitu..., di sini kamu tidak usah ngapa-ngapain, cukup temani dan layani aku saja", senyum Putra. Ia mengusap lembut kepala Aini.
"Besok kita pulang saja, aku teringat terus sama Bapak dan Ibu, tatap Aini.
"Boleh sayang..., apa pun terserah kamu, aku ikut saja",
"kamu itu memang gemesin", Putra akhirnya bisa juga bersikap romantis, ia kembali mencubit gemas hidung Aini, mereka kini saling berpelukan.
"Hmhm...hmhm..., aduh duh..., ini pengantin baru kita, mentang-mentang sudah halal, sudah berani ya..., pelukan di tempat terbuka ", sebuah suara mengejutkan Putra dan Aini.
Sontak mereka kaget, Putra dan Aini saling melerai pelukannya, mereka secara bersamaan menengok ke arah sumber suara.
"OOhhh...., kalian, kirain siapa", Putra menghampiri para sahabatnya di Kampus, di sana ada Dani, Iman dan teman di club futsalnya.
"Selamat Bro, semoga bahagia sampe kake nene, sorry kemaren nggak bisa datang, masih di luar kota", senyum Iman.
"Terus, ini rame-rame ada pertandingan di sini memangnya?", selidik Putra.
"Nggak, kita sih nguntit pengantin baru, siapa tahu cepat menyusul", goda Dani.
"Ya iya lah...., kita mau ada pertandingan di sini, jadi bisa sambil menyelam minum air, di sela-sela jadwal pertandingan, kita bisa jalan-jalan dulu, eh... Ketemu pengantin baru", jelas Dani.
"Kalau mau, kamu juga boleh ikut kok, biar semangat main malamnya, siang nya main futsal dulu", kekeh Iman.
__ADS_1
"Boleh juga tuh..., gimana sayang, boleh ikut kan?", Putra melirik Aini.
"Boleh..., aku juga suka permainan futsal, boleh ikut kan?, aku kan takut sendirian di hotel", rajuk Aini.
"Boleh..., ikut saja", senyum Putra.
"Cihuy..., pengantin baru mau ikutan main , bakalan seru nih, bisa dijadikan tutorial tuh, cara cepat menggolkan gawang", goda Dani.
Aini tersipu, telinga geli mendengar celotehan-celotehan dari temannya Putra.
"Oh iya jam berapa mulai mainnya?, di lapangan yang sebelah sana kan?, tunjuk Putra.
"Habis isya saja ya, biar tidak terlalu malam beresnya, kan ada yang mau lembur, menggolkan gawang yang satunya", goda Iman, ia melirik ke arah Putra.
"Aduh..., kalian ini, selalu saja pikirannya ke arah sana, makanya cepat nikah biar bisa ,.... praktek langsung sendiri", senyum Putra.
Aini menunduk, ia tersipu kupingnya panas mendengar ucapan dari teman-teman suaminya. Putra menyadari itu, ia menggenggam tangan Aini. "Ya sudah, kita bertemu di lapangan ba'da isya ya, aku ke hotel dulu", pamit Putra , mereka saling meninjukan kepalan tangannya, sebuah salam khas bagi mereka.
"Awas jangan main dulu, nanti kamu loyo Put", goda Dani.
Putra hanya melirik sambil tersenyum, ia tetap menggenggam tangan Aini "Maafkan teman-teman aku ya, jika ucapannya keterlaluan", Putra melirik Aini.
"Nggak apa-apa , nanti juga bosen sendiri", senyum Aini. Mereka langsung menuju kamarnya, sebelumnya Putra memesan dulu beberapa porsi makanan untuk di antar ke kamarnya.
"Aduh...sayang ya, Papah sudah berbaik hati menyiapkan semua ini buat kita, eehh... malah datang tamu yang tak di undang, jadi kacau kan", senyum Aini.
"Sudah..., kok malah dibahas lagi, kan aku sudah bilang, kita masih punya banyak waktu untuk itu, nanti kalau tamunya sudah pergi, aku minta dobel setiap hari, gimana?", goda Putra.
"Waduh..., harus seharian di kamar dong, terus urusan rumah siapa yang mengerjakan?", senyum Aini.
"Biarin saja, kita liburkan dulu semua urusan rumah", kekeh Putra.
Mereka menikmati pesanan makanan yang barubsaja datang, kali ini room boy nya sudah faham, ia mengetuk pintu dulu, dan menunggu sampai yang punya kamar membuka pintu kamarnya.
"Nanti kalau mau ikut, pakai setelan gamis hitam saja ya", perintah Putra.
Aini tersenyum," Kok hitam sih?", tatap Aini.
"Biarin, aku takut kamu nanti jadi pusat perhatian teman-teman aku kalau memakai gamis yang berwarna", senyum Putra.
"Apalagi nanti kebanyakan yang hadir ya laki-laki", timpa Putra.
__ADS_1
Aini merasa tersanjung dengan ucapan Putra, ternyata ia begitu menjaga kehormatan dirinya.
.