Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aku Ingin Bahagia


__ADS_3

Pak Dirman menatap Aditya yang mulai membuka matanya, ia meringis menahan sakit di bagian bawah perutnya.


Wajah ayahnya, Pak Dirman yang pertama kali ia lihat. Wajah yang mulai menampakkan garis penuaan, kini tampak khawatir memandangnya.


"Kamu sudah sadar Adit?, inilah yang Bapak takutkan, makanya Bapak selalu cerewet sama kamu"


"Hal seperti ini yang Bapak takutkan, tapi kini semuanya sudah terjadi, dan kamu sendiri yang harus menerima akibatnya",


"Ini cuma kecelakaan biasa Pak, tidak akan lama, Adit sebentar lagi juga pulih, Bapak jangan khawatir", Aditya memalingkan wajah dari pandangan Bapaknya.


"Iya..., Bapak tahu, kamu memang seperti ini, kamu sebentar lagi juga pulih, tapi akibat dari kecelakaan kemarin, akan kamu tanggung seumur hidup kamu", ucap Pak Dirman.


"Seumur hidup?, memangnya aku kenapa Pak?, lihat tubuhku masih utuh tidak ada yang hilang kan?",


"Itu memang benar, tapi ada satu hal yang terpenting , yang hilang darimu",


"Bapak jangan bercanda, lihat aku Pak!, baik-baik saja kan?", Aditya duduk di atas tempat tidur dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.


"Memang benar, kamu baik-baik saja, tapi secara batin, tidak!",


Aditya memandang Bapaknya , ia merasa tidak mengerti dengan ucapan Bapaknya.


"Sebenarnya Adit kenapa ?, bilang terus terang saja Pak, biar Adit tidak bingung",


"Akibat perbuatanmu itu, kamu di vonis tidak bisa punya keturunan", Jelas Pak Dirman.

__ADS_1


"Jadi...itu..?, bukan masalah bagi Adit itu Pak", Aditya kembali memalingkan wajah dari Bapaknya.


"Kamu ini, Bapak tidak ngerti dengan pola pikir kamu Dit", Pak Dirman menarik nafas panjang.


"Bapak ini sudah tua, ingin rasanya Bapak hidup tenang , berkumpul dengan anak cucu sambil menunggu waktu Bapak tutup usia, kamu harusnya mulai berfikir ke sana, sekarang kalau kamu begini?, wanita mana yang mau menjadi istri kamu", Pak Dirman bicara dengan suara berat, ia menahan rasa sedih yang menyesakkan dadanya.


Tiba-tiba Aditya teringat dengan perbuatannya waktu di Bogor, kalau kini dirinya di vonis tidak bisa mempunyai keturunan, mungkin wanita itu yang kini sedang mengandung benih miliknya, satu-satunya.


'Risma..., kalau benar kamu hamil, itu adalah anakku, keturunanku', batin Aditya bicara.


'Aku harus menemui wanita itu', pikir Aditya


"Pak jangan sedih begitu, Adit janji akan membuat bahagia hidup Bapak di ujung usia", Adit menatap wajah Bapaknya.


"Iya..., kamu pulihkan saja kondisimu dulu", Pak Dirman membetulkan selimut Aditya dan meninggalkannya ke luar. Tampak Pak Dirman sedang bicara dengan dua pengawalnya di depan ruangan Aditya. Dan ia pun meninggalkan Rumah Sakit.


"Assalamu'alaikum semua", Mirna memasuki ruangan


"Wa'alaikum salam", hampir semua yang ada menjawab dan menengok ke sumber suara.


"Alhamdulillah...., ini teh Neng Mirna?, lama tidak bertemu, tambah ayu saja", Nek Husna menerima jabatan tangan dari Mirna.


Begitu juga dengan Putra, ia tidak menyangka Mirna akan datang ke rumahnya juga. Dan yang lebih membuatnya tercengang yaitu adanya Risma.


'Ngapain Risma pake ikut ke sini juga, awas saja kalau dia sampai membuat kacau acara hari ini' batin Putra menggerutu.

__ADS_1


Putra mendekati Aini , ia tahu istrinya itu pasti orang yang paling tidak menginginkan kehadiran Risma di sini. Tapi untuk tidak membuat curiga keluarga mereka, Putra dan Aini bersikap biasa. Mereka tetap menyambut ramah kedatangan Mirna dan Risma.


"Kalau tahu kalian mau datang, mungkin tadi kita bisa janjian, biar berangkat bareng", senyum Aini , ia melirik ke arah Mirna dan Risma.


"Jadi , mereka ini stafnya Mas Putra, Kek, Nek", perkenalkan Aini.


"Oh..., jadi Neng ini stafnya Nak Putra?", senyum Kek Ilham.


"Ayo Neng makan dulu!, mumpung makanannya masih ada", tawari Bu Hana.


"Baik, terima kasih, tapi maaf..., kami masih kenyang tadi sempat jajan di jalan", senyum Mirna.


Semua persiapan sudah beres, tinggal menunggu kedatangan para tetangga yang akan ikut pengajian.


Risma tampak sedang mencuri-mencuri waktu untuk bisa berbicara dengan Bu Hellen. Hal itu dapat di lihat oleh Putra.


"Biarlah...., aku mengalah dulu, kali ini aku biarkan kalian merasakan bahagia untuk yang terakhir kali", gumam Risma setelah ia berkali-kali gagal untuk bisa bicara dengan Bu Hellen.


"Alhamdulillah...acaranya berjalan lancar, semoga kalian berdua tetap sehat, sehat ibu dan sehat dede bayinya", Bu Hana memeluk Aini.


Tampak kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya, ia akan segera menimang cucu.


Begitu pun dengan Nek Husna dan Kek Ilham, mereka tampak bahagia, karena masih bisa diberi usia untuk bisa menantikan cicitnya yang pertama segera lahir.


Semua anak -anaknya pun terlihat rukun. Mereka bisa memaafkan kesalahan yang pernah di perbuat tiga anak Kek Ilham yang pernah membawa uang untuk pembelian tanah Kakek waktu dulu.

__ADS_1


Benar, darah lebih kental dari air. Rasa kasih sayang diantara saudara melebihi segalanya, walau pernah berbuat salah, hal itu tidak bisa melunturkannya, tetap saja kalau ada apa-apa, saudara yang lebih dahulu membela.


__ADS_2