Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Proyek batal, Aini terancam


__ADS_3

Dengan hati yang gembira tiada tara, Putra meninggalkan rumah Pak Arman, dia menenteng kantong plastik berisi ketimus pamberian Bu Hana.


Ketimus itu makanan yang terbuat dari singkong yang diparut ,di bungkus daun pisang dan dikasih irisan gula merah ditengahnya, lalu di kukus.


Rasanya manis dan kenyal, cocok untuk teman sarapan dengan teh manis.


Putra melenggang menuju rumah Pak RW, ketiga temannya melihatnya dengan heran. "Dari mana?, ditungguin dari tadi?",tanyai Iman , kedua temannya yang lain sibuk dengan hand phone nya.


"Ada urusan sebentar, nih buat sarapan", Putra memberikan ketimus yang dibawanya kepada Iman.


"Wiiihh...., dapat dari mana nih?", Iman langsung menerima dan membukanya, tak lupa ia berikan juga kepada temannya.


"Emh...legit, manis ya?", dengan lahap Iman memakan ketimus yang di bawa Putra.


Dari dalam rumah Pak Danu, Bondan dan ketiga rekannya sedang sarapan , mereka memperhatikan gerak-gerik Putra dan teman-temannya.


Bimo yakin, orang yang sempat ia kejar malam itu adalah salah satu dari mereka. Terlihat Pak Danu membawakan sarapan untuk Putra dan teman-temannya.


"Terima kasih Pak, jadi merepotkan", rengkuh Dani.


"Nggak apa-apa, maaf sarapan seadanya?", Pak Danu menyimpan sebakul kecil nasi goreng sebagai menu sarapan mereka .


"Lho,ada ketimus?, beli di warung ya?", tanyai Pak Danu saat melihat sekantong ketimus dihadapan mereka.


"Ah..., iya, tadi Putra yang beli Pak, pulang shalat subuh", senyum Dani.


"Oohh, bagus, sudah mulai bersosialisasi ya", Pak Danu melirik ke arah Putra.


"Iya Pak", senyum Putra.


Danu kembali meninggalkan Putra dan ketiga temannya.


"Bagaimana, ada yang sudah kamu ingat?, dari keempat Mahasiswa itu, apa benar salah satu dari mereka yang sempat kau kejar malam itu?", Bondan menatap Bimo .


"Dilihat dari fosturnya, mirip yang berkaos abu-abu, siapa dia Pak?", tanya Bimo kepada Pak Danu.


"Itu...Putra", tapi sepertinya malam itu mereka semuanya ada di sini, tidak ada yang keluar", sanggah Pak Danu.


"Bisa juga yang malam itu kamu kejar mungkin penduduk asli sini, tapi entah siapa?", timpa Pak Danu.


"Iya, bisa juga begitu, tapi sampai saat ini tidak terjadi sesuatu yang membahayakan kita , jadi untuk sementara, kita aman", jelas Bondan.


"Mereka juga mau kembali ke Kota siang ini katanya", kabari Pak Danu.


"Lho, kok buru-buru?, kenapa?, saya kira mereka itu yang akan membantu Kakek Ilham untuk melawan kita, ini kok malah pulang?", Bondan tertawa.


"Selama ini kita salah kaprah, kirain mereka akan melawan kita, eh..., ternyata cuma menyapa, ha....ha.....ha.....", Wira pun ikut tertawa.


"Jadi, sekarang sudah tidak ada penghalang lagi buat kita, proyek kita di jamin gol", Ucap Bondan.

__ADS_1


Di luar tampak Putra dan ketiga temannya memberi salam,


"Wa'alaikumsalam", Pak Danu berdiri menghampiri mereka. Tampak mereka berbicara, Putra dan ketiga temannya pamit kembali ke Kota.


Tak lama Pak Danu kembali ke dalam rumah dan duduk kembali bersama Bondan.


"Beres , sudah tidak ada lagi penghalang bagi kita", seru Pak Danu. Mereka tampak kembali tertawa.


Sementara Putra sudah membagi tugas untuk ketiga temannya, Dani menelusuri di tingkat Keluraha, Iman menelusuri di tingkat Kabupaten, sedang Soleh dan Putra yang akan menelusuri proyek di Desa Mandalajati di tingkat Propinsi.


Mereka ingin mengetahui secara pasti tentang kebenaran proyek tersebut. Seperti kabar yang sudah beredar, katanya di atas tanah Kakek Ilham akan dibangun sebuah sekolah Kemiliteran.


Sepeninggal para Pemuda dari Kota, Bondan dan teman-temannya merasa lebih leluasa, mereka merasa paling berkuasa, mereka memperkerjakan warga Desa dengan seenaknya, mereka dibayar dengan upah yang murah.


Sampai saat rencana peletakkan batu pertama tiba, Bondan mendapat kabar yang mengejutkan. Pak Bos Dirman mengabarkan kalau proyeknya batal.


Hal ini sungguh di luar dugaan, sudah banyak rupiah yang Dirman gelontorkan, namun tiba-tiba pihak dari Pusat membatalkan rencana proyeknya di Desa Mandalajati, dengan alasan Desa itu akan dialih fungsikan sebagai Desa Pariwisata, dan daerah hutannya akan dijadikan daerah konservasi alam .


Dengan demikian, Desa itu harus tetap alami, sesuai dengan aslinya. Tidak boleh dijamah oleh Proyek apa pun yang akan merusak keasriannya.


"Brakk....",


Bondan menggebrak meja didepannya.


"Sial, kita sudah rugi banyak",


"Ada apa?", tanyai Wira saat melihat kemarahan Bondan.


"Terus, kelanjutan proyek ditanah Kakek Ilham bagaimana?", tanyai Bimo.


"Batal..., batal ya batal, proyek kita gagal", jelas Bondan.


Tak lama Pak Dirman datang bersama Aditya, mereka kembali menemui Kakek Ilham.


Dengan diantar Bondan, mereka kembali mendatangi rumah Kakek Ilham .


"Wa'alaikum salam, silahkan masuk, Bapak-Bapak", Kakek Ilham sedikit kaget dengan kembalinya orang-orang yang telah membeli tanahnya secara paksa.


Kebetulan Aini sedang ada di sana, ia yang menghidangkan air minum untuk mereka semua. Setelah itu Aini kembali ke dapur.


"Maaf Kakek, saya kembali lagi ke sini, mungkin ini kabar baik untuk Kakek sekeluarga", ucap Pak Dirman.


"Ada apa ya Pak?", Kakek Ilham kembali bertanya.


"Begini Kek, sepertinya rencana proyek di atas tanah Kakek, terancam batal, ada perubahan rencana dari Pusat", kabari Dirman.


"Alhamdulillah", gumam Kek Ilham.


"Jadi, karena batal, kami mau meminta kembali uang yang telah diterima Kakek Kemarin",

__ADS_1


"Soal itu, anak Kakek, Arman yang simpan uangnga, sebentar lagi dia sampai di sini", ucap Kek Ilham


"Tuh panjang umur", Kek Ilham sumringah saat melihat Arman memasuki halaman rumahnya.


Arman segera menyimpan bawaannya, ia langsung masuk ke dalam rumah, merasa khawatir saat melihat tamu yang kemarin sudah datang lagi.


"Ada apa lagi Kek?", Arman menghampiri ayahnya.


"Ini, mereka datang mengabari kalau Proyeknya di tanah Kakek batal, jadi mereka meminta kembali uangnya", jelas Kek Ilham.


"Batal?, terus bagaimana dengan tanah Kakek yang sudah di rusak?, apa akan ada konfensasinya?", tanyai Arman kepada Pak Dirman.


"konfensasi?, maksudnya apa?", Bondan nyolot.


"Iya, konfensasi untuk semua tanaman yang sudah di rusak, apa itu akan mendapat ganti rugi?", jelas Arman.


"Itu kita bicarakan lagi nanti, sekarang mana uangnya?", paksa Dirman.


"Sebentar", Arman segera menuju belakang dan kembali dengan membawa koper yang berisi uang.


"Dirman menerimanya, dan menghitungnya dibantu Bondan dan Bimo.


"Ini uangnya kurang!", teriak Dirman.


"Mana sebagian lagi?", sewot Dirman kepada Kek Ilham.


Arman baru menyadari, kalau uangnya sudah diambil oleh ketiga adiknya kemarin.


"Berapa kurangnya?", tanyai Kek Ilham.


"Ada sekitar 60 juta kurangnya", jawab Bondan.


"60 juta?", Arman terkejut.


"Iya, kami mau uang itu segera, sebelum kami kembali ke Kota, kalau tidak , gadis manis itu akan menjadi jaminannya", seringai Bondan melirik ke arah Aini.


"Deg...., Aini langsung memegangi tangan ayahnya.


"Mana bisa begitu?", tegas Arman.


"Lantas apa lagi?, mana mungkin kalian bisa mengganti uang sebanyak itu dengan cepat, gadis itu yang akan menjadi jaminannya, lagi pula anak saya Aditya menyukai anak Bapak", seringai Dirman.


"Tunggu, jangan dulu!, kami akan usahakan dulu untuk mengganti kekurangan uangnya", pinta Arman.


"Baik, kami masih berbaik hati, kami tunggu sampai besok sore, jika sampai besok uangnya tidak ada, jangan salahkan kami jika gadis manismu harus bersama kami ke Kota, sebagai jaminan", jelas Bondan.


"Jadi siapkan segera uangnya, kalau tidak mau gadismu menjadi jaminan", timpa Dirman.


Mereka meninggalkan rumah Kek Ilham dengan kepala tegak, mereka merasa berada di atas angin.

__ADS_1


Sementara Arman dan Kek Ilham merasa sangat bingung, bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu semalam.


__ADS_2