
"Mih..., aku tidak mau Aini pergi", Putra menatap nanar kepergian Anak dan istrinya.
"Kamu harus terima , buktinya sudah tidak bisa dibantah lagi, itu real hasil lab, tidak mungkin salah", tatap Bu Hellen.
"Mih...aku harus bagaimana lagi, ini semua bulan salahku!!", tegas Putra.
"Ya sudah..., kamu cari buktinya kalau kamu memang tidak bersalah, dari dulu kamu bilang tidak bersalah, tidak bersalah, tapi mana usahamu, sampai anak dan istrimu pergi, baru tahu rasa", geram Bu Hellen, ia marah dan kesal karena Putra dianggap lamban dalam bertindak.
"Iya...iya..., aku akan cari buktinya Mih, aku janji akan membawa Aini dan Kendra kembali ke rumah ini", tegas Putra.
"Sudah...sana..., temui Risma, dia sekarang istri kamu", perintah Bu Hellen. Ia langsung meninggalkan anaknya sendiri.
Sepeninggal Bu Hellen, Putra mematung di tempatnya , ia jelas tidak mau untuk menemui Risma karena memang ia tidak mencintainya.
Alih-alih menemui Risma, ia malah menuju luar , Putra diam-diam pergi meninggalkan rumahnya.
Putra mengendarai mobil dijalanan dengan tanpa tujuan.
"Itu sepertinya Mirna, sedang apa dia di cafe itu", Putra menepikan mobilnya ke cafe yang didatangi Mirna tadi.
"Ini mungkin kesempatan untuk bisa bicara dengan Mirna, semoga dia bisa menjadi titik terang dari semua masalah yang sedang membelitnya bersama Risma.
Putra mengedarkan pandangannya ke seluruh isi cafe, ia mencari keberadaan Mirna, namun tidak ditemukan, entah di mana dia.
Putra akhirnya memilih kursi di samping aquarium besar yang ada di cafe itu, berbagai warna yang dipantulkan oleh glow fish yang ada di sana, sedikit membuatnya tenang.
Sampai sebuah suara mengagetkannya.
"Mau pesan apa Pak?", tanyanya sopan.
__ADS_1
Putra menengok dan mengenali wanita yang ada didepannya. "Mirna?, kamu...",
"Pak Putra...?, Bapak lagi ada urusan dengan klient?", tanyai Mirna
"Tidak..., saya sengaja ke sini, ingin mencari angin segar saja", kekeh Putra, ia sedikit bingung, kok Mirna ada di cafe ini, dan kalau di lihat dari pakaiannya, sepertinya Mirna kerja di cafe ini.
"Oh..., mau pesan apa?, biar saya segera buatkan", senyum Mirna.
"Eum...., saya pesan minuman yang bisa menenangkan pikiran saja", senyum Putra.
"Oh..., sebentar..., apa ya...", Mirna melihat deretan menu minuman hangat yanh ada di daftar menu.
"Ya sudah..., saya buatkan yang spesial buat Bapak, tunggu sebentar, ya?", pamit Mirna.
"Sekalian buat kamu juga ya, saya perlu teman ngobrol di sini", senyum Putra.
"Baik...Pak", Mirna segera menuju belakang untuk membuatkan minuman pesanan Putra.
"Temani aku ngobrol sebentar, biar tidak terlalu suntuk, melamun di sini", perintah Putra.
"Bosmu tidak akan marah kan?, nanti kalau marah pun, aku akan bayar sewa kamu ngobrol, oke", senyum Putra.
"Ah..., santai saja Pak, Bosnya baik kok, dia teman sekolah dulu",
"Wah..., kebetulan kalau begitu", senyum Putra, ia mulai menyeruput minumannya
"Bagaimana kabar Bu Aini Pak, semoga sehat ya?",
"Alhamdulillah...mereka sehat...", tunduk Putra.
__ADS_1
"Jadi cafe ini punya teman kamu?",
"Iya...kita dulu satu sekolah, dan baru bertemu lagi awal tahun, dia sibuk bantuin Bapaknya, jadi aku yang bantu-bantu di sini",
Putra mengangguk-ngangkuk.
"Termasuk dengan Risma juga?", selidik Putra.
"Risma...., iya..., Risma juga...", terawang Mirna.
"Tapi sekarang Risma entah di mana?, dia menghilang tanpa jejak", jelas Mirna.
"Iya..., sepertinya ia menghilang untuk menyembunyikan sesuatu, betul tidak?, kamu sebagai temannya mungkin lebih tahu", tatap Putra.
"uuhuukkk", Mirna hampir tersedak. Ia menatap Putra, dan mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
"Kok Bapak bisa berpikiran ke sana", tatap Mirna.
"Ya...bisa saja dia pergi karena hamil kan?, terus dia tidak tahu siapa Bapaknya, makanya dia menghilang untuk menyembunyikan bayinya itu", celoteh Putra, ia sengaja bicara begitu untuk memancing Mirna supaya bicara jujur soal Risma.
"Iya..., memang begitu adanya..", gumam Mirna.
"Jadi benar kan Risma menghilang karena hamil ?",
Mirna mengangguk.
'Hah..., benar juga kan?, kayaknya Mirna juga tahu siapa orangnya yang sudah membuat Risma menghilang', pikir Putra.
"Pasti kamu tahu juga kan, siapa laki-laki itu?",
__ADS_1
"Emh..., kurang pasti sih..., tapi baru dugaan saja",
'Bagus..., ini dia yang aku tunggu", senyum Putra.