Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Ayah Siaga


__ADS_3

"Aku nginep di sini ya, malam ini, di rumah lagi tidak ada orang, Mamah dan Papah lagi di rumah Abah .


"Abah?, Kakek kamu?", tatap Risma.


"Bukan..., Abah itu Kakeknya Aini, istri Pak Putra", senyum Mirna.


"Adikku, Murano sangat betah kalau sudah main di sana, Mamah juga lagi berencana untuk membangun Villa di sana", terangkan Mirna.


"Jadi, selama ini kamu dekat dengan keluarga istrinya Putra?", Risma terlihat kaget, ia kira Mirna masih menyukai Putra.


"Enggak juga sih ..., hanya saja Mamah dan Papah punya cerita masa lalu dengan Abah, jadi ya..., setelah bertemu lagi, mereka mulai dekat.


"Keluarga Abah baik-baik, suasana desanya pun asri, nanti aku ajak kamu deh ke sana, dijamin betah", senyum Mirna.


"Terus...apa kamu masih suka sama Putra?", tatap Mirna.


"Aku?, ya...enggak lah Ris..., itu mah masa lalu, lagi pula Putra sudah menemukan jodohnya, itu berarti dia bukan lagi jodohku, buat apa di kejar lagi, mending mengejar impian kita saja, jodoh kita ada di depan, bukan dibelakang, kekeh Mirna.


Risma terdiam, ucapan Mirna seperti meninju ulu hatinya, ia sampai kini masih mengharapkan Putra, bahkan sampai Putra sudah beristri.


"Kok diam?", senyum Mirna.


"Nggak, mendingan kita tidur saja, besok pagi kan harus ke Kantor, kita bisa berangkat bareng", senyum Risma, ia berusaha menutupi kegalauan hatinya.


Mereka pun kini sudah terlelap, mengendapkan semua mimpi, untuk kembali dicapai besok hari.


*


*


"Astaghfirullah..., Mas kok ini perutku kram", Aini meringis sambil memegangi perutnya.


Putra yang sudah terlelap pun, terperanjat, ia segera mendekati Aini.


"Luruskan kakimu!, coba menyandar", Putra membimbing Aini untuk duduk menyandar di atas kasur, ia coba memberi Aini segelas air hangat.


"Bagaimana masih sakit?", tatap Putra, ia sangat khawatir melihat istrinya kesakitan.

__ADS_1


"Ini sudah hampir pagi, apa tidak sebaiknya kita ke Dokter saja?",


"Jangan dulu, nanti malah merepotkan orang rumah lagi, kasihan masih pada istirahat", tolak Aini.


"Terus bagaimana?, aku tidak tega melihatmu begini", Putra mengelus kepala istrinya.


"Coba Mas elus saja perutnya, bilangin sama dede bayinya, baik-baik di sana", senyum Aini.


Putra menurut, ia membaringkan tubuhnya di samping Aini yang bersandar di atas tempat tidur, tangan Putra mulai mengelus lembut perut istrinya itu sambil membaca surat-surat pendek dari Al-quran.


Benar saja, Aini mulai kelihatan nyaman, ia memejamkan matanya mencoba untuk kembali terlelap. Sentuhan tangan Putra dan alunan bacaan ayat al-quran perlahan memudarkan rasa tidak enak di perutnya.


Dan Aini pun tertidur, deru nafasnya terdengar oleh Putra.


"Maafkan aku, mungkin kamu terlalu capek, sehingga dede bayi merajuk", Putra menatap Aini.


Ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah, ini baru permulaan, bagaimana nanti saat Aini lahiran, mungkin akan lebih dari ini sakit yang istrinya rasakan.


"Besok kamu jangan dulu ke Kantor, aku salah, terlalu memaksakan, padahal kamu lebih baik di rumah saja, tadinya aku ingin kita bisa tetap bersama", kembali Putra menatap Aini yang mulai terlelap.


Beberapa minggu lagi empat bulanan usia kandungan Aini, Putra sudah merencanakan sebuah syukuran untuk Aini, tentu saja semua keluarga besarnya akan ikut di undang, terutama Abah Ilham, ia yang akan diminta untuk memimpin do'anya.


"Hari ini kamu jangan dulu ke Kantor, di rumah saja dulu, toh kamu di sini juga masih bisa memantau semua urusan kantor kan, semua file ada di sana", Putra menunjuk ke ruang kerjanya.


"Iya, tapi aku malu sama semua staf di Kantor, baru juga beberapa hari ngantor, sudah libur lagi", Aini memandang Putra.


"Ya..., nggak apa-apa, bosnya suami sendiri ini", kekeh Putra.


"Tidak begitu Mas, kalau masalah kerjaan ya harus profesional attu", senyum Aini.


"Profesional itu bagus, tapi kalau sedang sakit memaksakan untuk bekerja, itu konyol, yang ada kerjaan tidak terhandle dengan baik, tubuh pun makin menderita", senyum Putra, ia mencubit hidung bangir Aini.


"Iya..., aku nurut bagaimana kata my Boss saja", senyum Aini.


"Nah begitu dong, nurut,sekarang, kerjanya dari rumah saja dulu, masih bisa online kan", Putra mengusap kepala Aini , lalu pergi ke Kantor.


"Mana Aini?, tidak ikut ke kantor?", Bu Hellen melirik Putra yang terlihat berangkat sendiri.

__ADS_1


"Aini lagi tidak enak badan, semalam juga perutnya kram, jadi biar istirshat di rumah dulu saja",


"Oh...biar nanti Mamah bawa ke Dokter saja, biar diperiksa, sudah, kamu tenang saja, biar Mamah yang urus Aini", senyum Bu Hellen.


"Iya, terima kasih Mah, Putra berangkat, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam, hati-hati, ingat Aini dan calon bayimu menanti kepulanganmu dengan selamat", Senyum Bu Hellen.


Putra mengendarai mobilnya menuju kantor, hari ini ia terlihat santai, karena seminggu ini tidak ada rencana yang padat, hanya rutinitas biasa saja, jadwal rapat dengan klient penting masih akan dilaksanakkan beberapa minggu lagi.


"Kemana istrinya Pak Putra?, kok hari ini datang sendiri", Adis bergumam. Ia melirik ke kursi Risma pun belum datang. Padahal biasanya Risma yang selalu datang lebih awal.


"Pagi semua", sapa Putra begitu memasuki Kantornya. Ia melirik semua stafnya yang sudah ada di kursinya masing-masing.


"Pagi Pak", serentak semua.


Putra pun memasuki ruangannya, Pak Hambali pun belum terlihat di dalam.


Putra baru mengecek ponselnya, ia baru mengetahui ada beberapa pesan masuk dari Pak Hambalu, ia tidak bisa masuk kerja karena sakit.


"Semoga cepat sembuh Pak", gumam Putra. Kini dirinya sendiri di ruangan itu, Pak Hambali dan istrinya harus istirahat di rumah.


Tak lama, Risma datang bersama Mirna, ia sengaja datang paling akhir agar semua staf yang sudah datang bisa melihatnya saat dia memakai baju baru atau sepatu baru. Itulah Risma, sukanya di puji orang.


Risma langsung menuju ruangan Putra, ia bersama Mirna. Setelah ada ijin untuk masuk, ia segera memasuki ruangannya Putra.


"Assalamu'alaikum", Mirna yang mengucap salam, sedang Risma malah sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mencari keberadaan istri putra yang tidak ada di kursinya, begitu pun dengan Pak Hambali.


"Wa'alaikumsalamm?", jawab Putra, ia pun melihat ke arah Mirna.


"Pak, ini ada teman yang mau magang di sini", Risma menunjuk ke arah Mirna.


Putra menatap Mirna sekilas, lalu menerawang, ia nampak sedang mengingat sesuatu.


"Ini sepertinya saya pernah melihat kamu, dimana ya..


"Saya Mirna, teman sekolah istri Bapak?", perkenalkan Mirna.

__ADS_1


"Oh...iya saya baru tahu, kamu itu Kakak dari anak kecil yang namanya Murano?', tebak Putra.


"Iya Pak", rengkuh Mirna. Ia senang.


__ADS_2