Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aini, Penebar Cinta


__ADS_3

Malam -malam di lapangan bola pinggir jalan, terlihat dua orang duduk menghadapi sebuah api unggun yang mereka buat, mereka tampak sedang membicarakan sesuatu.


Mereka adalah Bondan dan Wira. Mereka sedang menunggu kedatangan Bimo danYoseph.


Datanglah dua temannya dengan setengah berlari dan mengendap-ngendap.


"Bagaimana, ketemu nggak orangnya?", tanya Bondan saat melihat kedatangan mereka.


"Belum, tapi hampir saja tertangkap, tapi kok dia menghilang, aku juga bingung", jawab Bimo sambil garuk-garuk kepala.


"Aahh..., alasan!, jangan sampai dia lolos, dia sudah mendengar pembicaraan kita, bisa berbahaya itu, kalau sampai proyek ini gagal, habis kita, Pak Bos akan murka", terang Bondan.


"Tapi, mungkin saja tadi itu hanya kuning, kalau orang, kenapa cepat banget hilangnya, padahal tadi kita langsung ke luar saat terdengar ranting yang patah", Yoseph membela diri.


"Iya , mungkin bukan orang, kalau yang tadi itu orang, dia pasti langsung tertangkap, ini dilapangan, bisa jelas terlihat, tidak ada tempat untuk bersembunyi", Bimo mendukung pendapat Yoseph.


"Alah...., terus ngapain kamu tadi mengikuti orang itu?", Wira ikut nimrung.


"Ya aku penasaran saja, ngapain dia malam-malam masih keluyuran", Bimo menghisap batang rokoknya dalam-dalam.


"Ya sudah, mulai sekarang, kalian harus lebih hati-hati, tadi Pak RW memberi tahu, katanya ada empat Mahasiswa dari Kota yang sengaja datang dan bertanya-tanya mengenai proyek kita ini", jelas Bondan.


"Apa mungkin yang tadi di rumah Kakek Ilham itu?, kamu lihat kan Yoseph?", tanyai Bimo.


"Nggak tuh aku nggak melihat",


"Terus dari tadi kamu di sana memperhatikan apa, kayanya matamu itu terus memperhatikan rumahnya terus", Bimo menyenggol lengan Yoseph.


"Emm, aku lagi mencari Aini", aku Yoseph.


"Ah, kamu , wanita terus yang ada di otakmu ,


"Terus rencana kita selanjutnya apa?", tanyai Bimo, ia menatap Bondan.


"Kita bujuk lagi Kakek Ilham, kal perlu bawa sekalian uangnya ke hadapan dia, orang Kampung disodori uang sekoper, pasti luluh", yakin Bondan.


"Nah, itu baru cakep, dijamin langsung di ambil", lanjut Bondan.

__ADS_1


"Ingat, Pak Bos ingin tanah itu diratakan hari jum'at besok, biar sabtu bisa langsung peletakkan batu pertama", jelas Wira.


"Kalau besok Kakek Ilham masih kekeh nolak gimana?", Bimo memandang ketiga rekannya.


"Kita paksa saja, uangnya langsung dikasihkan, dan kita mulai babad tanah itu", tegas Bondan.


"Tunggu....tunggu, itu sudah pemaksaan, bisa berbahaya, kasihan Kakek Ilhamnya", ucap Yoseph.


"Kamu ini, wanita sudah membuatmu lemah, belum tentu Aini mau sama kamu, fokus dong sama tugas kita", tegur Bondan.


"Iya kamu ini gimana, masih banyak wanita yang lebih cantik dari Aini di Kota, mereka malah terlihat lebih seksi, dari pada siapa itu, Aini?, dia terlihat kampungan sekali, bajunya saja seperti kalong gitu", kekeh Bimo.


Bondan dan Wira ikut tertawa bersama Bimo, mereka mentertawakan cara berpakaian Aini yang sekalu memakai gamis dan kerudung lebar, persis seperti kalong.


"Iya, siang hari saja dia masih pakai kaos kaki, kaya orang penyakitan, jangan-jangan dia itu memang menyembunyikan sesuatu di balik baju lebarnya, bisa saja kan dia itu korengan", cibir Bimo.


"Sudah-sudah, jaluan itu, kalau tidak suka ya nggak harus menghina juga kali", desis Yoseph.


Hatinya kesal, ketiga rekannya menghina Aini, padahal menurut dia, Aini itu gadis yang manis, matanya yang sayu mencerminkan kelembutan, tutur katanya sopan dan sikapnya kemayu, tidak seperti kebanyakan gadis Desa yang pernah ia temui, meteka tampak pecicilan saat melihat orang asing, tingkahnya so mencari perhatian.


Wira, Bimo, dan Yoseph diam.


"Belum apa-apa sudah ribut, masalah nggak penting lagi, yang penting itu ini nih, duit", Bondan mengangkat tangan kanannya dan menggesek ibu jari dengan telunjuknya.


"Kita akan untung besar jika berhasil dalam proyek ini, dengar ya, kita kurangi harga tanahnya dari harga yang diberikan oleh Pak Bos, jadi bisa untung berlipat-lipat", seringai Bondan.


Dia memang licik, ia kurangi harga beli tanahnya, biar sebagian uangnya masuk kantong pribadinya.


"Jangan lupa bagi- bagi, kita kan kerja team", ucap Wira.


"Tenang saja, itu gampang, asal kalian kerja yang benar, di sini aku yang memegang perintah", ucap Bondan.


"Siap!!", ucap Bimo dan Wira. Hanya Yoseph yang hanya diam saja, dia malah asik memainkan bara api di depannya.


Bimo menyikut Wira dan menganggukkan kepalanya ke arah Yoseph, Wira melirik Yoseph yang tampak sedang melamun.


"Aduh Neng Aini mau ke mana?", spontan Wira dengan suara agak keras.

__ADS_1


"Aini...Aini mana Aini ", gagap Yoseph, dia langsung berdiri dan melihat sekeliling.


Sontak tawa ketiga rekannya pecah, " Benar-benar kamu ini sudah kesambet sama Aini, sadar hey...!, ", Bondan melempar Yoseph dengan puntung rokoknya.


"Sudah-sudah, cepat istirahat!, besok ada tugas penting menunggu, dan buat kamu, kalau masih terus terganggu sama Aini terus, besok pulang saja!, menghambat tahu", gertak Bondan kepada Yoseph.


Yoseph hanya diam mematung.


"Makanya fokus Bro, jangan wanita terus yang ada diotakmu", ucap Wira.


"Kerja...kerja Bro, bukan wanita", timpa Bimo.


Ketiga rekannya sudah pada masuk ke tenda untuk beristirahat, hanya Yoseph yang masih berdiri di luar.


Dia memandang langit yang malam itu cerah. Bintang-bintang bertebaran kerlap-kerlip dari kejauhan, hamparan sawah dan kebun terlihat indah.


Kunang-kunang berkedipan di antara dedaunan yang meliuk-liuk tertebak angin malam.


Rasanya kok sayang ya, keaslian dan keasrian alam Pedesaan ini harus terusik oleh rencana Bos Besarnya.


Kasihan sekali para warga di sini yang nantinya harus pergi meninggalkan kampung halamannya, tempat mereka lahir dan berkumpul dengan anak cucunya.


Tapi dia bisa apa?, dia juga hanya ikut mencari nafkah untuk Ibu dan adik-adiknya. 'Apa aku harus menutup mata, diam dan menurut saja dengan semua perintah Bos Besarnya.


Ya, inilah hidup, terkadang kita harus tega, harus mengesampingkan rasa iba, karena ada orang-orang tercinta yang harus kita utamakan. Adik dan ibunya yang bergantung hidup padanya.


"Hah", Yoseph menarik nafas dalam. Dia bimbang dengan semua pertentangan dalam hatinya.


Di satu sisi dia sedang berjuang untuk kelangsungan hidup Ibu dan adiknya, tapi di sisi lain dia ingin memperjuangkan kata hatinya, untuk tidak mengusik dan membuat hidup orang lain sulit.


Apalagi ia juga ingin mmemperjuangkan hatinya yang mulai di ketuk oleh seorang gadis, Aini.


"Aini...Aini....Aini...., ada apa dengan hati ini, kenapa selalu tertuju kepadamu", gumam Yoseph. Ia meremas kasar rambutnya dan berjalan menuju tenda mengikuti ketiga rekannya",


Dia merebahkan tubuhnya di samping ketiga rekannya yang sudah pada terlelap menuju alam mimpi.


Dia pun berusaha memejamkan matanya dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk esok hari.

__ADS_1


__ADS_2