Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Rencana licik


__ADS_3

"Pah, ini anaknya Pak Dirman, orang yang menangani proyek di sini ya?", Bu Mona melirik Aditya.


"Iya, Bu", renggkuh Aditya.


"Ini kok tidak dilanjutkan, apa proyeknya batal?" , penasaran Bu Mona.


"Tidak Bu, ini menunggu instruksi selanjutnya, lagi ada sedikit masalah di Pusat nya. Jelas Aditya.


"Yang punya tanah ini siapa?", lanjut Bu Mona.


"Ada , dia warga asli sini, Pak Ilham namanya.


Sementara Aini dan Putra makin dekat dengan mereka. Putra pun kaget saat melihat sekumpulan orang di depannya, Putra masih mengingat Aditya dan rekannya, tapi yang lainnya tidak, namun pandangannya terkunci ada Mirna , 'Rasanya pernah melihatnya', batin Putra berkata.


Aini yang menunduk , tidak menyadari kehadiran Mirna, yang sedari tadi memasang mata elangnya.


Mirna benar-benar tidak suka melihat Aini dekat dengan Putra.


"Permisi", rengkuh Putra saat melewati mereka.


"Nah....kebetulan, ini ada cucu Kakek Ilham", Aditya langsung mencegat Aini, ia berdiri tepat di depan Aini.


Aini mundur beberapa langkah dan menggeser posisinya ke belakang Putra. Aditya hampir saja berteriak karena kesal, namun ia urungkan karena menyadari adanya Bu Mona dan keluarga di sana.


"Oh...yang mana cucunya Kakek Ilham?, yang ini ya?", Bu Mona menunjuk Putra.


"Ini, guru PPL di Sekolah Mirna Mih, Kak Putra", senyum Mirna, ia mendekat ke arah Putra.


"Oh..., jadi cucunya Kakek Ilham yang mana?",


"Saya Bu, saya cucunya Kakek Ilham", rengkuh Aini. Iamaju ke depanensejajarkan berdirinya dengan Putra.


"Oh..., ini too ", Bu Mona memandangi Aini.


"Jadi benar, tanah ini, punya Kakekmu?",


"Iya benar", rengkuh Aini.


"Bu, nanti saja , biar saya yang antar kalau Ibu mau bertemu dengan Kakek Ilham", tawari Bondan.


"Oh..., itu lebih baik", senyum Bu Mona.


Sementara Aini langsung pamit, ia segera meninggalkan mereka diikuti Putra.


Mirna nampak kesal melihat kepergian mereka, dia tidak menyangka Aini sudah begitu dekat dengan Putra.


Bu Mona dan Pak Purnawan menemui Kakek Ilham, mereka di antar oleh Bondan . Sementara Aditya memilih menemani Mirna dan adiknya.


Setelah beberapa langkah , Aini menoleh kembali ke belakang, ternyata Mirna masih memandangi mereka dari kejauhan.


"Sepertinya, Mirna itu naksir sama Kakak", celetuk Aini.


Putra mengulum senyum, " Kenapa memang?",


Putra melirik Aini.

__ADS_1


"Nggak boleh, Aini tidak suka Kakak dekat dengan wanita kain", tegas Aini.


"Walaupun dekat , kan belum tentu Kakak suka", senyum Putra, hatinya merasa senang, Aini terang-terangan mengakui rasa kepemilikkannya.


"Awas ya, jangan sampai suka!", tegas Aini.


Putra hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Mari Bu, saya antar menemui Kakek Ilham", ajak Bondan.


"Mau sekalian ikut Dit?", Bondan melirik Aditya.


"Nggak, males Gue, bertemu dengan mereka?" bisik Aditya kepada Bondan.


"Ayo Pah, temenin Mamah!", Bu Mona menggandeng tangan suaminya.


Sementara Mirna masih di sana bersama Aditya.


"Kenapa, sepertinya kamu tidak senang melihat mereka?",


"Siapa?", ketus Mirna.


"Aini", tegas Aditya.


"Memangnya mereka itu ada hubungan apa?", selidik Mirna, ia masih ragu , memang sudah ada kecurigaan pada dirinya, tapi ia membantahnya.


"Aini itu tunangannnya Putra", jelas Aditya.


"What...., jangan bohong kamu!", Mirna melotot tidak percaya.


"Ha....ha.. .ha....., kamu?, di tolak Aini ?", Mirna menatap Aditya.


"Kurang apa sih, kamu. Tajir..., keren, kok ditolak Aini, gadis Kampung", cibir Mirna.


"Jangan ngeledek kamu..., kamu juga kalah bersaing kan sama Aini ?, Putra lebih memilih Aini dari pada kamu ", kekeh Aditya.


"Ha.....ha....ha....., kita sama dong, sama-sama kalah ", Mirna tertawa hambar.


"Kita kerjasama saja buat misahin mereka, gimana?", usul Aditya.


"Kita?, kerja sama?", Mirna menatap Aditya


"Apa bisa?", kekeh Aini.


"Ya, kita coba aja dulu, denger ya!, Gue sakit hati ,Aini sudah mempermalukan Gue", Aditya mengepalkan telapak tangannya.


Tanpa Mereka sadari, Murano, adiknya Mirna keluar dari mobil. Ia mengejar-ngejar jangkrik yang ada di jalan. Ia terus menjauh dari tempat mobil ayahnya di Parkir.


Bu Mona dan Pak Purnawan sudah sampai di depan rumah Kakek Ilham. Dalam hati, Bu Mona mengagumi arsitektur rumah Kakek Ilham, rumah dari material kayu yang unik.


"Assalamu'alaikum", Bondan mengetuk pintu Kakek Ilham. Sudah beberapa kali di ketuk, masih tidak ada jawaban.


"Mau bertemu Kakek Ilham?", sapa seorang wanita tetangganya Kakek Ilham . Kakek sedang di balong, dai jalan itu , lurus ke kanan saja", jelaskan tetangganya Kek Ilham.


"Oh..., terima kasih", Bu Mona melihat Bondan.

__ADS_1


"Sini Bu, ikuti saya!", Bondan berjalan menuju balongnya Kek Ilham.


Kembali Bu Mona di buat takjub dengan aneka sayuran yang subur tumbuh di lahan yang ada di pinggir sawah yang padinya sedang menguning.


Airnya bening sekali. Gemericik air pancuran menambah syahdu suasana sore itu.


Dari kejauhan nampak sepasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang berada di kolam ikan. Mereka sedang memilih ikan mas di balong.


Bu Mona meraih tangan Pak Purnawan hingga menghentikan langkahnya. "Pah, Mamah suka suasananya", bisik Bu Mona.


"Iya, Papah juga suka suasananya, ini yang Papah impikan di masa tua nanti, tinggal di tempat seperti ini", jelas Pak Purnawan.


"Itu Kakek Ilham yang di sana", tunjuk Bondan . Bu Mona menghentikan langkahnya, ia berdiri di belakang mereka.


Ternyata Kakek Ilham sedang mengambil ikan mas pesanan tetangganya, Nek Hana yang menaburkan pelet agar ikannya mendekat.


"Assalamu'alaikum", Bu Mona memberi salam.


"Wa'alaikum salam", Jawab Nek Husna, ia melihat ke arah Bu Mona. Kek Ilham pun sama.


Bu Mona terkesiap, begitu melihat Kakek Ilham. Ia seperti sedang mengingat sesuatu , "Ya Allah ini Bapak?", serunya dengan menahan tangis.


Pak Purnawan dan Bondan merasa kaget. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Bu Mona.


Kakek Ilham segera membersihkan diri , begitu pula dengan Nenek Rahmi.


Mereka segera Bu Mona yang kini sedang menangis di pelukan suaminya.


"Ada apa Mih?", Pak Purnawan menepuk-nepuk pundak Bu Mona".


"Maaf..., Bapak dan Ibu ini siapa?", tanya Kek5 Ilham.


Bu Mona melepaskan diri dari pelukan suaminya, dan berbalik menghadap Kakek Ilham.


"Bapak ...., ini saya, orang yang pernah Bapak Tolong, saat di rampok dulu", jelas Bu Mona.


"Nanti saja ceritanya, kita ke rumah dulu, ini sudah mau gelap", ajak Nek Husna.


"Iya, kita kerumah saja dulu, nanti ceritakan semuanya di sana",Kakek Ilham dan Nek Husna membimbing Bu Mona menuju rumahnya.


Pak Purnawan dan Bondan mengikuti dari belakang dengan perasaan bingung.


"Mari masuk!", Nenek Husna membukakan pintu untuk mereka. Bu Mona duduk diikuti Pak Purnawan dan Bondan, sementara Nek Husna segera membuatkan minum untuk mereka, dan segera membawanya ke hadapan mereka.


"Siilahkan di minum dulu Bu, biar agak tenang!", persilahan Nek Husna.


Pak Purnawan mengambilkan minum untuk Bu Mona. Setelah minum, Bu Mona terlihat lebih tenang.


"Ada apa Mih?", Pak Purnawan kembali menanyai Bu Mona.


"Pah, ini tuh orang yang dulu Mamih tambrak ", isak Bu Mona.


"Mamih belum sempat minta maaf, karena Mamih panik sekali dan takut, waktu itu Mamih sempat melihat keluar, tapi Mamih abaikan karena Mamih takut", Bu Mona menunduk.


Kakek Ilham dan Nenek Husna saling pandang.

__ADS_1


Kakek Ilham menerawang, dulu saat dirinya sedang berjualan, ada mobil yang menyerempetnya hingga pingsan, kakinya terluka parah, hingga hampir dua bulan tidak bisa berjualan. Dan pemilik mobilnya melarikan diri.


__ADS_2