
Sesuai jadwal, hari ini Putra menemui klient di tempat yang sudah dipilih oleh mereka, di sebuah cafe.
Pertemuan itu berhasil menyepakati beberapa hal penting mengenai kerjasama di kedua belah pihak.
Pihak klient pun merasa puas dengan point-point penting yang diajukan Putra, yang sifatnya mengikat dan menguntungkan kedua belah pihak.
Bak kutu loncat, Aditya selalu mengawasi kemana pun Putra pergi.
Dalam satu kesempatan saat pertemuan sudah selesai, Aditya berhasil mengikuti Risma yang saat itu pamit untuk ke toilet. Aditya memberikan dua botol minuman yang sudah di campur sesuatu kepada Risma.
"Berikan salah satunya kepada Bosmu", ucap Aditya yang saat itu memegang tiga botol minuman, yang dua diberikannya kepada Risma.
Tanpa menaruh curiga apa pun, Risma menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas .
"Ini ada minuman Pak", ia menaruh dua botol itu di atas meja. Putra hanya meliriknya sepintas.
Ia sedang mengatur laptopnya kembali setelah di pakai presentasi tadi bersama klientnya.
"Kami duluan Pak Putra, senang bisa bertemu langsung dengan Bapak",?, salah seorang klientnya pamit.
Mereka saling berjabat tangan sebelum klient itu meninggalkan cafe.
"Alhamdulillah...lancar, sepertinya kita bisa pulang malam ini juga, jadi subuh sudah sampai kembali ke rumah", gumam Putra.
"Langsung pulang Pak?, apa Bapak tidak mau menikmati keindahan kota ini dulu, kan masih bisa pulang besok, jarang-jarang ada waktu luang seperti ini, tidak apa-apa juga kali Pak, Bapak kan pemilik perusahaannya, jadi bebas mengatur waktu sesuai keperluan Bapak", kompori Risma.
Putra diam sejenak, ia mencerna kata-kata Risma. "Iya juga sih, tapi saya nggak enak saja, kita kan cuma berdua, nanti ada fitnah kalau pergi bareng", alasan Putra.
"Masih ada Pak Mul kan ?, beliau bisa di ajak juga", keukeuh Risma.
"Ya sudah, kamu saja yang jalan-jalannya, minta diantar Pak Mul, saya ingin istirahat saja", tolak Putra.
'Lah....kok malah Pak Mul , aku itu mau jalan-jalannya sama Bapak, nggak peka ih', gerutu Risma dalam hatin
Sore itu mereka kembali ke hotel. Putra bicara dengan Pak Mul, kalau nanti Risma minta diantar, turuti saja, setelahnya Putra kembali ke kamar Hotel. Malam ini dia ingin vidio call Aini, rasanya sudah kangen sekali, padahal baru dua hari saja mereka berpisah.
__ADS_1
Di kamar sebelah , Pak Mul masih terjaga ,ia ingat pesan Puitra tadi, jika dirinya harus siap jika Risma meminta di antar .
Namun setelah ditunggu sampai tengah malam, tidak ada tanda-tanda Risma mau ke luar. Pak Mul pun akhirnya tidur.
Lain halnya dengan Risma, karena kecapean, ia lupa mengunci pintu kamarnya. Hingga saat dia sudah tertidur lelap, ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Orang itu mematikan lampu kamarnya, dan mendekati tempat tidur Risma. Dalam kegelapan Risma merasakan ada seseorang yang menggerayangi tubuhnya.
Risma hampir menjerit, namun orang itu membungkam mulutnya dan menyuruhnya untuk diam. Setengah bermimpi, Risma mengenali suara itu, dan ia juga bisa jelas mencium wangi parfum dari tubuh yang sedang mendekapnya.
Risma pasrah, menerima semua perlakuan orang itu, yang dianggapnya adalah bos mudanya, g,gkarena , sudah lama, ia mencintai ,bos mudanya yang juga adalah kakak kelasnya sewaktu SMU.
Mereka lewati malam itu layaknya sepasang pengantin baru. Sampai Risma pun terlelap tidur sampai pagi.
Saat di kamar Risma sedang memadu kasih dengan orang yang dianggapnya Putra, Putra sedang berada di luar dengan Pak Mul. Ia bermaksud mencari oleh-oleh untuk dibawanya pulang besok pagi.
Sudah ada dua keranjang oleh-oleh yang ia beli, kebanyakan adalah asinan khas Bogor dan aneka keripik. Itu semua tentu saja pesanan Aini.
"Pak Mul, kita kembali saja ke hotel, jangan lupa besok setelah subuh, kita kembali pulang", terang Putra.
"Baik Den, rengkuh Pak Mul. Mobilnya kembali melaju menuju hotel.
Putra terdiam sejenak, ia sepertinya mengenali orang itu, tapi karena sekilas, jadi kurang begitu jelas.
"Apa ada yang tertinggal Den?", tanya Pak Mul, ia heran melihat Bos mudanya mematung seperti sedang mengingat sesuatu.
"Oh tidak ada Pak, kita kembali ke kamar saja", Putra melangkah menuju lift dan memijit tombol yang menuju ruangan di mana kamarnya berada.
Ia masih tetap mengingat orang tadi, tetapi tetap tidak ada bayangan.
"Kok kamar Neng Risma gelap, apa sengaja dimatikan lampunya?", Pak Mul melirik Putra yang juga sedang memperhatikan pintu kamar Risma.
"Sengaja mungkin Pak", jawab Putra datar, ia langsung menuju kamarnya.
"Terima kasih Pak Mul, selamat beristirahat, besok pagi kita pulang", senyum Putra.
__ADS_1
"Iya Den, sama-sama", Pak Mul pun langsung menuju kamarnya.
Kumandang adzan subuh membangunkan Risma, ia merasakan tubuhnya linu, ia mengingat kejadian semalam, rasanya seperti mimpi ia bisa melewati malam bersama orang yang selama ini ia sukai, bos mudanya, Putra.
Risma tidak bisa menolak karena ia memang menginginkannya, sepulang dari cafe tadi, entah kenapa Risma merasakan berbeda dengan tubuhnya.
Tubuhnya terasa panas, jantungnya berdebar, ia menginginkan sesuatu yang tidak wajar, hingga saat ada orang yang menyentuh tubuhnya, ia pun pasrah. Dan parahnya dalam bayangan Risma orang itu adalah Putra.
Dengan tertatih Risma menuju stop kontak lampu, ia menyalakannya dan terlihatlah penampakan tempat tidurnya yang berantakan. Sebagian baju dalamnya pun masih terserak di lantai.
Risma tersenyum mengingat petistiwa indah semalam. Tetap saja ia menyangka Putra yang melakukannya.
Risma membersihkan tubuhnya dan segera berganti pakaian , ia ingin menemui bos mudanya.
Sebelumnya ia pun membereskan tempat tidurnya yang berantakan, takut pegawai hotel curiga. Walau ini bukan yang pertama baginya, dulu Risma juga pernah melakukan hal yang sama dengan pacarnya sewaktu mereka merayakan kelulusan.
Dengan wajah berseri ia menuju kamar Putra. Namun langkahnya terhenti begitu ada suara yang memanggilnya.
"Ris, mau kemana?", Putra dan Pak Mul baru pulang shalat berjamaah dari Masjid.
"Eh...Mas...eh...Pak", Risma tampak kikuk, apalagi ada Pak Mul di sana. Putra saling pandang dengan Pak Mul.
"Saya mau menemui Bapak" , senyum Risma. Senyuman yang tidak biasanya bagi Putra. Seolah mengerti, Pak Mul pamit meninggalkan mereka berdua.
"Bersiaplah..., kita pulang sekarang", kabari Putra. "Terus kita bagaimana?", Risma menatap Putra.
"Bagaimana apanya?", Putra nampak bingung.
"Setelah kejadian semalam, nasib saya bagaimana?", Risma meraih tangan Putra, namun dengan segera Putra mengibaskannya.
"Eh...kamu ini kenapa?, kok jadi aneh begini?", Putra mundur beberapa langkah karena Risma semakin mendekatinya.
"Bapak yang aneh, masa lupa semalam sudah berbuat apa?", Risma hampir memeluk Putra , namun Pak Mul keburu datang ,lengkap dengan bawaannya.
"Ayo cepat siap-siap!, kita mau pulang", kembali Putra memerintah Risma dengan suara agak keras, ia mulai kesal dengan sikap aneh Risma.
__ADS_1
Dengan menunduk Risma berlalu dari hadapan Putra dan Pak Mul. "Dasar laki-laki, sama saja", gerutu Risma.
Hal itu makin membuat Putra dan Pak Mul tambah heran.