
"Sebentar nak Putra, kenapa nak Putra bisa dikejar oleh orang berbaju loreng itu, terus Anak ini siapa, sepertinya baru di Desa ini?", tanya Arman.
"Oh iya Pak, saya Putra, saya memang baru datang kemarin sore ke sini bersama ketiga teman saya, kami dari Kota",
"Terus mana temannya?",
"Mereka menginap di rumah Pak RW, Oh iya Pak, kalau rumah Kakek Ilham dimana ya?"
Arman tersenyum, "Mau tahu rumah Kakek Ilham?",
Putra mengangguk.
"Saya ini anak sulungnya Kakek Ilham, dan ini cucunya", tunjuk Arman kepada Aini.
"Bapak ini anaknya Kakek Ilham?", senyum Putra.
"Iya, memangnya ada perlu apa dengan Kakek?",
"Begini Pak, Kami datang ke sini karena mendapat kabar kalau di sini akan ada proyek penting, nah saat tadi kami menanyakan langsung ke pak RW, katanya proyek itu akan dibangun di atas tanah Kakek Ilham, tanah yang dibawah itu ya?",
"Iya, Bapak juga baru tahu tadi, tapi anehnya proyeknya baru rencana, tapi bulldozer-bulldozer sudah dibawa ke sini", ucap Arman.
"Pak, sebenarnya tadi saya mendengar percakapan yang mencurigakan, dari orang-orang yang sedang jaga di dekat bulldozer, mereka sedang membahas proyek yang akan di bangun di sini,
"Masa atasan mereka di panggil Pak Bos , seharusnya Komandan atau apa gitu , kan mereka pakai baju Perwira, bisa saja kan atasan mereka itu seorang Kapten, atau Jendral", ucap Putra.
"Sepertinya ada pihak lain di belakang rencana ini, dan mereka mengatasnamakan Pemerintah, untuk memudahkan rencananya", lanjut Putra.
"Maksud Nak Putra, ini sebenarnya rencana perorangan, namun mengaku sebagai Pemerintah, supaya kita takut dan menurut, begitu?", jelas Arman.
"Tepat Pak, seperti itu dugaan saya",
"Sepertinya orang -orang itu yang kemarin pagi datang ke rumah Kakek, Pak?", ucap Aini.
Arman menoleh ke arah Aini, "Kemarin waktu orang-orang itu ke rumah Kakek, Aini ada di sana?",
"Iya Pak, mereka berempat, garang-garang wajahnya Pak", jelas Aini.
Putra mencuri-curi pandang kepada Aini, hatinya makin terpikat oleh Aini. 'Ternyata dari dekat lebih cantik', pikir Putra.
"Bapak harus berjaga-jaga, kalau tidak salah, katanya mereka ingin melaksanakan peletakkan batu pertamanya hari sabtu besok, bahkan kata mereka kalau tidak bisa secara baik-baik, mau dipaksa saja, saya khawatir terjadi keributan",
__ADS_1
"Lho , ya nggak bisa begitu, belum ada kesepakatan apa-apa diantara Kakek dan mereka kemarin, mereka tidak bisa berbuat seenaknya", Arman menaikkan suaranya, ia mulai marah.
"Kita juga mempunyai hak untuk menolak", tegas Arman.
"Kita tunggu saja besok, kalau bisa, Nak Putra dan teman-teman, tinggal di rumah Kakek Ilham saja", usul Arman.
"Dengan senang hati Pak, terima kasih sebelumnya", senyum Putra. Hatinya bersorak riang, kalau dia tinggal di rumah Kek Ilham, ia akan sering bertemu dengan Aini.
Putra menyukai penampilan dan sikapnya.
Aini yang berkerudung, memakai gamis, memakai kaos kaki, dan selalu menundukkan pandangan saat bertemu dengan lawan jenis namun tetap ramah dan sopan .
Tidak seperti gadis-gadis Kota yang sering ia temui, mereka berpenampilan terbuka dengan pakaian serba ketat, sikapnya pun pecicilan, tidak malu bersentuhan dengan laki-laki .
"Assalamu'alaikum, Kek, ini Arman, Kakek sudah tidur,?",Arman mengetuk pintu .
Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dan kunci pintu di buka. Kakek Ilham membuka pintu , "Ada tamu rupanya?", Kakek Ilham memandangi Putra yang tersenyum kepadanya.
"Mari masuk , kita ngobrolnya di dalam", Arman segera membawa Putra masuk dan ia menutup pintunya , lalu mengintip ke luar rumah dari balik tirai.
Terlihat olehnya setitik api di balik di samping rumpun semak di pinggir jalan. Jelas, itu bukan kunang-kunang, tapi api yang beradal dari batang rokok yang diisap
Arman yakin, rumah Bapaknya, sedang diawasi seseorang.
"Ah, nggak ada apa-apa Pak, tadi seperti melihat setitik api, setelah dilihat lagi ternyata hanya kunang-kunang," Arman mencari alasan. Ia tidak mau membuat Kek Ilham khawatir.
Lain halnya dengan Putra, ia yakin di luar sana ada apa-apa. Terlihat dari gerak-geriknya.
'Wah ini sudah kelewatan, tidak bisa dibiarkan", pikir Arman.
Mereka bertiga duduk di ruang keluarga, Nek Husna tampak ikut duduk di sana."Ada apa lagi ini Man", katanya .
"Nggak apa-apa Nek, ini ada pemuda dari Kota, mau ikut bermalam di sini", Ucap Arman.
"Iya..., Kek, saya Putra", perkenalkan Putra.
"Nak Putra kemalaman di sini?", tanya Kek Ilham.
"Iya Pak, tadi bertemu saya di jalan, nggak enak kalau tidur di rumah saya, kan ada Aini, nggak enak kalau sampai tetangga tahu" , jelas Arman.
Lagi-lagi Arman membuat alasan, ia tidak ingin Bapaknya yang begitu ia sayangi merasa khawatir.
__ADS_1
"Ya sudah, Nak Putra bisa tidur di kamar depan", ucap Nek Husna ramah.
"Terima kasih, Nek", Putra merengkuh.
"Mari ikut!, Bapak tunjukkan kamarnya", Arman berdiri dan diikuti Putra.
Arman memasuki kamar lebih dulu, ia menghidupkan lampunya dan duduk di atas ranjang.
"Sini duduk", Arman menepuk ranjang di sampingnya.
Putra menurut, ia duduk di samping Arman.
"Begini Nak, Bapak harap, Nak Putra jangan dulu bicara apa-apa dengan Kakek, kalau ada sesuatu, langsung bicara langsung sama Bapak saja", ucap Arman.
"Tadi juga Bapak melihat ada sesuatu yang mencurigakan, ada orang yang sedang mengawasi rumah Kakek di luar", Arman setengah berbisik bicara kepada Putra.
"Iya Pak, saya mengerti", Putra mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang kamu istirahat!", Arman menepuk pundak Putra dan meninggalkannya.
Sejenak Putra terdiam, ia berdiri di dekat jendela mengintip ke luar. Suasana makin gelap dan sunyi, hanya terdengar suara binatang malam.
Namun saat ia akan beranjak, ia melihat kilatan titik api, 'Apa itu?' batin Putra.
Ia makin merapatkan tubuhnya ke tembok, matanya tidak berkedip memperhatikan ke luar rumah.
Lama ia seperti itu, sampai ada sesosok tubuh hitam berdiri tepat disampingnya. Mereka hanya terhalang dengan tembok.
Putra menahan nafas, ia diam berdiri , tidak beranjak dari tempatnya semula. Terdengar suara orang bicara " Dimana dia?",
"Nggak tahu, tapi tadi saya terakhir melihatnya di sini, di Rumah Pak RW juga tidak ada",
"Lantas pergi kemana dia?, bahaya, dia sudah mendengar obrolan kita tadi",
Begitulah perbincangan yang dapat Putra dengar.
Ternyata mereka sedang mencari keberadaan dirinya.
Dari jauh terdengar orang memukul kentongan, petugas ronda sedang berkeliling rupanya.
" Cepat kembali ke Posko, jangan sampai ketahuan!, bisa berbahaya",ucap orang yang ada di luar.
__ADS_1
Mereka segera pergi meninggalkan rumah Kakek Ilham.
Putra bisa bernafas lega. Ia melorotkan tubuhnya dan duduk menyandar di sana.