
"Nah seperti itu", Putra tersenyum begitu melihat Aini menuruti keinginannya dengan berdandan memakai setelan gamis berwarna hitam. Ia pakaikan juga jaket miliknya.
"Ini malam hari, biar badan kamu tetap hangat", senyum Putra. Ia pun bersiap dengan memakai seragam futsal.
Setelah semua siap, mereka pun pergi dengan berjalan kaki ke sana. Walaupun suasana malam itu cukup ramai dan ditemani suaminya, tetapi tetap saja Aini merasa sedikit was-was.
Apalagi setelah sampai di lapangan, Aini dan Putra bertemu dengan Aditya, ternyata team Aditya lah yang akan menjadi lawan main team Putra. Sungguh pertemuan yang tidak di sangka.
Putra mendekati Dani sambil tetap menggandeng tangan Aini.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau dia yang akan menjadi lawan kita malam ini", bisik Putra.
"Mana aku tahu Putra, ini semua Iman yang atur", ucap Dani
"Santai saja..., lagi pula Aini kini sudah sah menjadi istri kamu , dia sudah bisa mengganggu gugat lagi",
"Ya..., bukan begitu, tetapi tetap saja aku malas beradu fisik dengan dia, apalagi yang waktu itu menculik Aini sepulang dari study tournya", jelas Putra.
Dani bengong mendengar penjelasan Putra itu, "Ya tapi bagaimana dong, kamu sportif saja, ini pertandingan bro, bukan lagi persaingan", ucap Dani.
Aditya menyeringai begitu melihat Putra dan Aini. "Hm..., ternyata benar, di sini rupanya kalian", gumam Aditya sambil duduk mengencangkan tali sepatunya, namun pandangannya tetap mengarah kepada Aini.
"Makin cantik saja, 'Akan kutunggu jandamu', pikir Aditya. Bondan, Yoseph dan Bimo pun ternyata ikut juga.
Putra bimbang begitu permainan akan di mulai, Aini menggenggam erat tangannya . "Ini gimana, kamu tidak apa-apa kan duduk sendiri di sini?, kalau aku tidak ikut main, team ku kurang satu pemain", Putra menatap Aini.
"Main saja, ini tempat umum, dia tidak bisa berbuat apa-apa di sini, banyak orang, Mas tenang saja, aku tetap duduk di sini sampai pertandingan selesai", senyum Aini. Ia meyakinkan Putra.
"Ya sudah kalau begitu, aku main dulu, sebentar lagi dimulai, janji!, jangan kemana-mana ya", pinta Putra.
"Iya...", senyum Aini. Ia menyembunyikan rasa was-wasnya denngan senyuman. Suara peluit terdengar di tiup oleh wasit, pertanda pertandingan akan segera di mulai.
__ADS_1
Kedua team sudah bersiap di lapangan, mereka terlihat saling bersalaman satu dengan yang lainnya.
"Tidak di sangka, bisa bertemu lagi di sini, bagaimana rasanya nih pengantin baru, sedap ya, masih rapat kan", bisik Aditya saat ia berada di belakang Putra dalam sesi foto bersama kedua team.
Wajah Putra seketika memanas, kalau tidak melihat ini dalam sebuah pertandingan, ingin rasanya ia mendaratkan bogem mentah di wajah Aditya.
Setelah mendapat pengarahan dari wasit, pertandingan pun di mulai, team Putra berada di sisi kanan Aini, dan team Aditya di sisi kirinya.
Untung saja suasana di lapangan itu mulai ramai, para penonton berdatangan mengisi kursi yang masih kosong.
Suasana tambah riuh dengan sorak sorai saat pertandingan berlangsung sengit, kedua team saling serang .
Team Aditya yang berhasil memasukan gol ke gawang team Putra, sampai babak pertama berakhir, skor masih satu-kosong.
"Aini memberikan air minum kepada Putra , "Semangat..., masih ada satu babak lagi, ayo kalahkan teamnya Aditya Mas", senyum Aini. Ia menyemangati suaminya, ia menglap keringat di wajah suaminya dan mendaratkan kecupan mesra di tangannya.
Pemandangan itu telak membuat terbakar hati Aditya, hatinya kini diliputi rasa marah dan cemburu.
Aini bersorak begitu suaminya menggolkan ke gawang team Aditya, itu ampuh memberi suntikan semangat kepada Putra.
Dan di menit-menit terakhir, Dani pun berhasil mencetak gol kedua untuk teamnya setelah mendapatkan assis dari Putra. Kedudukan ini bertahan sampai wasit meniupkan peluit pertanda pertandingan berakhir.
Aini kembali bersorak sambil berdiri, ia senang team suaminya menang. Malah Aini menjemput kedatangan Putra dan teamnya, ia refkeks memeluk Putra di hadapan teman team futsalnya.
"Hm...hm..., jangan bikin iri kita-kita yang jomblo dong, selebrasinya nanti saja di kamar", celetuk Dani.
Aini segera melerai pelukannya, ia menunduk, malu sendiri dengan sikapnya. "Biarin lagi, sudah halal ini, sini!, biar mereka tambah panas", Putra kini yang sengaja meraih kembali tubuh Aini dan memeluknya kembali.
"Iya...iya..., cepetan pulang sana, lanjutkan permainannya di kamar hotel saja", goda Iman.
Putra yang masih menggandeng pinggang Aini, pamit kepada teman-temannya, ia pulang kembali ke hotel tempatnya menginap.
__ADS_1
Aditya mengikuti kepergian mereka dengan pandangan marah dan kesal, ia merasa kalah telak, kalah dalam mendapatkan Aini dan kini kalah juga dalam pertandingan futsal. Ditambah lagi ia harus menyaksikan langsung adegan mesra Aini dan Putra.
"****..., awas ya kamu, lain kali aku yang akan berada di pisisi kamu", geram Aditya.
"Terima kasih ya, kamulah yang menyemangati aku", senyum Putra begitu mereka sampai kembali di kamar hotelnya .
"Aku mandi dulu ya, bau keringat", Putra melangkah menuju kamar mandi. Tetapi tangannya di sambar Aini.
"Ada apa?", Putra menoleh kembali kepada Aini.
"Sebentar..., aku suka aroma keringatmu", bisik Aini sambil kembali memeluk suaminya. Putra membalas pelukan Aini dan mendaratkankecupan mesra di pucuk kepala Aini.
"Sebentar ya! Mandi dulu, ini lengket, nggak enak", senyum Putra.
Aini melerai pelukannya ia membiarkan suaminya membersihkan badannya lebih dulu.
Sebagai wanita normal, Aini pun menginginkan sentuhan dari suaminya, nalurinya ingin segera mendapatkan haknya sebagai seorang istri, namun Aini harus bersabar, dua sampai tiga hari lagi siklus bulanannya baru selesai.
Aini sering mendengar jika hubungan suami istri dilakukan setelah beres siklus bulanan, maka akan mempercepat proses kehamilan. 'Semoga saja itu terjadi, jadi keinginan Mamah Hellen untuk segera mendapatkan cucu, bisa tercapai', Aini tersenyum memikirkan itu.
"Ayo...., senyum-senyum sendiri, membayangkan apa ayo?", suara Putra mengagetkan Aini yang masih terduduk di sofa.
Aini melirik suaminya, seketika ia menutup mata karena Putra hanya memakai handuk sebatas pinggang dan lututnya saja.
"Kenapa tutup mata, ini sudah halal kok", goda Putra setengah berbisik di telinga Aini. Harum semerbak body wash Putra yang maskulin membuat jantung Aini berdegup kencang.
"I...iya..., tapi kan belum biasa, pakai baju dulu ah", Aini masih menutup mata.
"Kan kita mau simulasi lagi, kenapa harus pakai baju, nanti juga dibuka lagi", bisik Putra, hal itu makin membuat darah Aini bergejolak. Jujur saja Aini pun menginginkannya.
Putra merengkuh tubuh Aini, membawanya ke atas tempat tidur, ia membaringkan Aini yang masih menutup matanya, ia ambil selimut dan berbaring di samping Aini, setelah itu , tebak sendiri mereka mau ngapain, hi...hi....hi.....
__ADS_1