Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aini Hilang ?


__ADS_3

Putra yang sedang memacu mobilnya, teringat kepada orang tua Aini, ia pinggirkan mobilnya, lalu mengambil ponsel berniat menghubungi Aini dulu, ia ingin mengecek, apa ponselnya masih aktif, benar saja, ponsel Aini masih aktif, tapi panggilannya berkali-kali di reject.


"Ada apa ini?, kok di reject terus?, ada yang mengendalikan ponsel Aini , kalau Aini yang pegang, pasti langsung dijawab", gumam Putra.


Jelas saja di reject terus , lo wong Aditya yang kini memegang ponsel Aini.


Putra mengalihkan sambungan teleponnya kepada Bu Hellen, Mamahnya. Dalam teleponnya,Putra mengabarkan kalau dirinya sedang mencari Aini yang dikabarkan hilang di tempat study tournya, dan ia menyuruh ibunya untuk menemui orang tua Aini.


["Mah, ajak Papah saja, Papah tahu tempatnya. Tolong tenangkan orang tuanya Aini, ini Putra lagi membantu mencari", ]


["Apa...perlu lapor polisi?", tawari Bu Hellen.]


["Nggak usah Mah, jangan dulu, kita lihat perkembangannya dulu, do'akan saja , Putra segera menemukan Aini", ]


["Iya, Mamah do'akan agar Aini segera ditemukan, sekarang Mamah beritahu Papah, kita langsung ke rumahnya Aini", ]


["Iya, Mah", ]Putra menutup sambungan teleponnya. Sejenak Putra menerawang, ia berpikir, kemana Aini?,


'Aku ke lokasi study tournya saja dulu, siapa tahu di sana ada petunjuk', pikirnya.


Tidak membuang waktu, ia segera memacu kembali mobilnya. Sekarang ia fokus ke lokasi awal hilangnya Aini. Sesampai di sana, benar saja masih dilakukan pencarian.


Putra pun ikut menyusuri tempat wisata tersebut.


Putra lebih banyak menyusuri hamparan kebun teh, karena ia yakin, Aini tidak akan ikut berenang di kolam air panas yang ada di sana.


'Aini, kemana kamu, Ya Allah, berilah petunjuk keberadaan Aini', pikir Putra seraya memejamkan kedua matanya.


Hatinya begitu takut, resah dan gelisah. Ia kembali menyusuri parit-parit tanaman Teh, sambil memanggil nama Aini.


Sepertinya ia sudah terlalu jauh dari lokasi utama, ia berniat untuk kembali , namun saat melangkah, ada sebuah benda yang ia injak di jalan.


Putra angkat perlahan benda tersebut, dan ternyata itu adalah sebuah pin nama dengan inisial 'B'.


"Apa ini?", rasanya aku pernah melihat benda ini, tapi dimana?", Putra nampak termenung sambil tetap memandangi benda yang kini ada ditangannya.


"Ya Allah, aku lupa", gumam Putra, ia menepuk kepalanya, seolah meminta otaknya untuk bisa mengingat lebih cepat.


****


Bu Mona dan keluarga sudah tiba di depan rumah Kakek Ilham. Mobilnya langsung diparkir di halaman rumahnya.


Nenek Husna langsung mengenalinya, begitu mobil itu datang.


"Assalamu'alaikum, Nek", Bu Mona mengucap salam, ia diikuti suami dan kedua orang anaknya.


"Wa'alaikumsalam, ada tamu dari Kota, kok nggak ngasih kabar dulu kan Nenek bisa siapkan makanan", senyum Nek Husna.


"Ini langsung dari Sekolah Nek, Mirna nggak ikut study tour, jadi main ke sini saja", senyum Bu Mona


"Oh..., ini temannya Aini ya?", terka Nek Husna.

__ADS_1


"Iya Nek", senyum Mirna.


"Ayu tenan ", puji Nek Husna


"Ayo masuk, kita di dalam ngobrolnya", persilahkan Nek Husna.


Semua masuk ke dalam, namun Murano langsung merajuk ingin ke kolam, untuk menangkap ikan.


"Ya sudah, ayo sama Kakek ke kolam, Rano mau menangkap ikan?", senyum Kek Ilham.


Murano mengangguk, ia dengan gembira mengikuti Kek Ilham ke kolam.


Sementara Bu Mona mengeluarkan oleh-oleh yang dibawanya dari Kota, dibantu Pak Purnawan.


"Aduh..., kok jadi merepotkan, kalau mau main ke sini datang saja, nggak usah repot-repot begini", Nek Husna membawa barang bawaan Bu Mona ke dapur.


"Nggak merepotkan Nek", senyum Bu Mona.


"Ini saya bawa bahan makanan , saya ingin belajar memasak dari Nenek", senyum Bu Mona.


Mereka bercengkrama sambil memasak. "Ini apa, Nenek baru melihat", Nek Husna menunjuk.


"Oh, ini sosis Nek, daging giling, yang ini kornet, sama daging giling, dan yang ini sarden, ikan laut yang diawetkan, Nenek tinggal membuka lalu memasaknya sesuai selera ", kembali Bu Mona tersenyum.


"Oh..., aneh-aneh ya makanan kota, makanan saja dipakekan baju", senyum Nek Husna.


"Neng, mau belajar membuat sambal?, cinta seorang suami akan terikat oleh cita rasa masakan istrinya", senyum Nek Husna.


Mirna hanya manyun dan tetap mantengi ponselnya, ia cuma iseng ngepoin status whash app temannya.


Mirna tertegun begitu melihat kontak Aditya, disana Aditya memajang emot tertawa dan menambahkan captions 'I'm the winner',


Mirna memanyunkan mulutnya,"Heh, pecundang, bukan pemenang", gumam Mirna.


"Apa Neng?", Bu Mona melirik.


"Ah, enggak Mah, ini teman iseng", alasan Mirna.


Di luar terdengar suara mobil. Nek Husna menengokkan kepalanya ke arah luar. Nampak ada sebuah mobil memasuki pekarangannya.


"Mobil siapa itu", Nek Husna menghampiri ke depan rumah.


Nek Husna masih mengenali Pak Hardoko ayahnya Putra.


"Assalamu'alaikum",Pak Handoko memberi salam.


"Wa'alaikum salam, silahkan masuk!, aduh mimpi apa, kedatangan tamu agung dari Kota, silahkan duduk!", Nek Husna mempersilahkan tamunya duduk.


"Sehat Nek?", Pak Handoko menyalami Nek Husna. Diikuti Bu Hellen.


"Ini istri saya Nek", perkenalkan Pak Handoko.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah bersedia berkunjung ke sini, ke kampung", senyum Nek Husna.


"Oh iya Nek, rumahnya Aini di mana?", Bu Hellen melirik suaminya.


"Itu yang di sebelah sana, rumah kayu itu, rumah orang tua Aini", terang Nek Husna.


"Mungkin orang tuanya juga sudah ada di rumah, mau Nenek antar ke sana?",


"Oh...., nggak usah Nek, biar nanti saja", tolak Bu Hellen.


"Ada tamu dari Kota ya?", Kakek Ilham memasuki ruangan, diikuti Pak Purnawan. Sementara Murano asik di teras memainkan ikan yang didapatnya tadi.


"Ini Pak Handoko?, Alhamdulillah kita bertemu di sini", Pak Purbawan menyalami Pak Handoko dan Bu Hellen.


"Saya juga membawa anak dan istri ", Pak Purnawan menengok ke dalam.


"Ada, mereka ada di dapur, sedang membantu memasak", terang Nek Husna.


"Sebentar", Nek Husna berjalan menuju dapur, lalu segera kembali diikuti oleh Bu Mona dan Mirna.


"Ini istri saya, dan anak saya", perkenalkan Pak Purnawan. Mereka saling bersalaman.


"Alhamdulillah, kita bisa bertemu di sini, sekalian saja, kita makan dulu", ajak Nek Husna.


Ketika mereka hendak makan, datang Bu Hana dan Pak Arman, Arman membawa setandan pisang yang sudah matang.


"Alhamdulillah, ini menu komplit", senyum Nek Husna.


"Man, ini orang tua Nak Putra", Kakek Ilham memperkenalkan Bu Hellen dan Pak Handoko kepada Arman.


Mereka saling bersalaman. "Pak, sebenarnya kami ke sini.....", Bu Hellen menggantung ucapannya, karena Pak Handoko memegang pundaknya.


"Nanti saja Bu, kita makan dulu", ajak Pak Handoko.


Bu Hellen mengangguk. Ia juga tidak ingin merusak suasana. Mereka menikmati hidangan yang sudah disiapkan Nek Husna. Setelah itu mereka kembali bercengkrama di ruang tengah.


Bu Hana melihat jam, sudah hampir maghrib tapi Aini belum juga pulang. "Pak, kok Aini belum pulang juga", Bu Hana setengah berbisik kepada suaminya.


"Astaghfirullah, hampir lupa", Bu Hellen memandang Pak Handoko.


Pak Handoko mengangguk, itu cukup bagi Bu Hellen untuk bicara soal Aini.


Semua pandangan mengarah kepada Bu Hellen.


"Sebelumnya saya minta maaf, karena ada hal yang ingin saya sampaikan, tadi saya dapat kabar dari Putra, kalau Aini terpisah dari rombongan, tapi jangan khawatir, sampai saat ini masih dilakukan pencarian", jelas Bu Hellen lirih.


"Astaghfirullah...., Pak..., Aini ...., gimana Aini Pak?", tangis Bu Hana, ia terlihat panik.


Semua yang ada di sana pun terlihat terkejut.


"Tenang Bu, kan tadi sudah dikatakan, Aini lagi di cari, Nak Putra juga ikut mencari, Ibu tenang ya!", Pak Arman memeluk istrinya.

__ADS_1


'Jangan-jangan ini ulah Aditya', pikir Mirna.


__ADS_2