
Putra dan ketiga temannya sudah mendapatkan kabar baik , ternyata tidak ada rencana pembangunan apa pun di Desa Mandalajati yang melibatkan Pemerintah.
Yang jelas, Proyek yang diusung oleh Pak Dirman dan Bondan adalah proyek perorangan yang bekerja sama dengan Pihak Pengembang Swasta.
Putra segera kembali ke Desa, kali ini dia membawa sebuah mobil. Di jalan dia sempat berpapasan dengan mobil Bondan dan Pak Dirman.
"Ada apa?", Dani menatap Putra saat ia menghentikan mobilnya.
"Itu seperti rombongan Bondan, mau kemana ya, kok sepertinya mereka menuju Kota", Putra membiarkan rombongan mobil mereka melewatinya.
Tanpa Putra sadari, di antara rombongan itu, ada Pak Arman, yang akan dijadikan jaminan oleh mereka.
Arman sempat melihat Putra, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia berada dalam penjagaan Bimo dan Wira. Arman ingin sekali berteriak agar Putra mendengarnya.
Tapi ia tidak berani, takut Bondan dan rekannya melawan.
"Iya, sepertinya mereka banyakan, ada apa ya, apa mereka semua pulang," Putra makin penasaran.
Ia tancap gas ingin segera sampai di rumah Kakek Ilham.
Benar saja, Putra melihat Posko yang ada di lapangan pun sudah di bongkar, kendaraan berat pun tinggal dua lagi yang madih ada di sana.
"Kalian lihat?, ini tidak seramai saat kita tinggalkan, benar nggak?",
"Iya, ada apa ini?",Putra segera mamarkir mobilnya, dan ia bergegas munuju rumah Kek Ilham.
"Assalamu'alaikum", Putra memberi salam,.
Sejenak tidak ada yang keluar, sampai alhirnya Aini, menghampirinya.
"Kak Putra sudah sembali?, kebetulan sedah ditunggu oleh Kakek", kabari Aini.
Putra bergegas menemui Kek Ilham, ia menyalaminya, ia merasa kaget melihat raut muka Kek Ilham yang terlihat sedih.
"Ada apa Kek?, apa yang terjadi saat saya masih di Kota?",
"Alhamdulillah, Nak Putra sudah kembali, rasanya senang, Kakek merasa ada teman",
"Begini Nak, mereka bilang Proyeknya batal, ada perubahan rencana katanya, lalu mereka meminta uang mereka kembali",
"Tapi, ada kekurangan uang, sebagian uangnya di ambil oleh tiga anak Kakek, dan sudah habis, Kakek bingung harus menggantinya dengan cara apa?, mereka ingin uang mereka kembali semuanya",
"Jadi mereka membawa Arman, sebagai jaminan", ucap Kek Ilham.
"Apa?, Pak Arman dijadikan jaminan?, memangnya berapa rupiah kurangnya?", Putra menatap Kek Ilham.
"Banyak Nak, 60 juta", Kek Ilham menghela nafas.
"Dasar licik, harusnya mereka tidak usah membawa Pak Arman Kek, uang 60 juta itu bisa untuk mengganti kerugian Kakek akan tanaman yang di rusak oleh mereka", jelas Putra.
"Kakek tidak kepikiran ke sana Nak, Kakek panik, awalnya mereka ingin membawa Aini, tapi Arman menawarkan dirinya untuk dijadikan jaminan",
__ADS_1
"Aini?, kok mereka minta Aini, Kek?", heran Putra.
"Itu, anaknya Pak Dirman, yang namanya Aditya itu katanya menyukai Aini?", jelas Kek Ilham.
'Kurang ajar, seenaknya saja mereka' pikir Putra.ia melirik Aini yang menunduk sedih.
"Tenang saja Kek, saya akan membebaskan Pak Arman, segera", Ucap Putra.
"Tapi mereka menginginkan uangnya kembali Nak", ucap Kek Ilham.
"Soal uang itu gampang Kek, tapi yang jelas, mereka sudah bertindak semena-mena di sini, tanah Kakek mereka rusak , dan kini Pak Arman mereka bawa sebagai jaminan, itu sudah kriminal Kek, kita bisa menuntut balik mereka", ucap Putra.
"Apalagi, setelah saya telusuri , tidak ada rencana proyek apa pun di sini, mereka hanya mengancam Kakek saja supaya mau menjual tanahnya kepada mereka dengan harga murah", lanjut Putra.
"Lalu, sekarang bagaimana agar Arman kembali",
"Em..., kita harus datangi mereka Kek, kita harus membuat kesepakatam baru dengan mereka.
"Mereka telah merusak tanah Kakek, seharusnya walaupun Proyeknya batal, mereka harus memberi ganti rugi kepada Kakek atas rusaknya tanaman di tanah Kakek".
"Mereka keliru, kenapa Pak Arman harus dijadikan jaminan?, padahal tanah Kakek saja yang rusak tidak diganti", jelas Putra.
"Kalau begitu, kita harus secepatnya menemui mereka", usul Dani.
"Ya, secepatnya kita ke sana", Putra mengiyakan usulan Dani
"Saya mau ikut", ucap Aini.
"Tapi, Ayah ditahan gara-gara Aini, Aini harus ikut", rajuk Aini.
"Jangan Ain, bahaya!, tunggu saja di rumah", Kek Ilham melarang.
"Tapi Kek", Aini terus merajuk.
"Ya sudah, Aini boleh ikut, tapi ingat, diam di dalam mobil saja!, jangan ke msna-mana!", ucap Putra.
"Iya, di dalam mobil saja, janji", senyum Aini.
Sore hari Putra berangkat bersama teman-temannya menuju kediaman Pak Dirman. Mereka berniat mengadakan kesepakatan ulang.
Tujuan utamanya yaitu membebaskan Pak Arman dari sekapan mereka.
Tak begitu sulit menemukan rumah kediaman Pak Dirman, dia begitu terkenal di sana. Ternyata Pak Dirman adalah seorang makelar tanah kepercayaan para Cukong.
Rumahnya begitu besar , rumah lantai tiga itu sepertinya sangat ramai, banyak orang keluar masuk dari sana
Kedatangan Putra dan temannya disambut oleh keemat Bodyguard Pak Dirman.
"Saya mau bertemu Pak Dirman ", ucap Putra begitu bertemu Bondan .
"Sebentar, saya bicara dulu dengan Pak Dirman", ucap Bondan. Ia segera masuk mengabari Tuannya.
__ADS_1
"Apa kalian membawa uangnya?", Aditya menatap Putra.
"Ini ada di sini", Putra menunjuk koper yang dibawanya.
"Bagus, kalian boleh masuk",
Putra , Aini dan dua orang Mahasiswa lain memasuki Rumah Pak Dirman. Mereka duduk di ruangan yang terlihat begitu besar . Berbagai jamuan mereka hidangkan.
Aini langsung mencari keberadaan Bapanya, dia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru rumah.
Namun tidak ada bapaknya di sana.
"Mana uangnya?" Dirman kembali menanyakan.
"Mana Pak Armannya?", sahut Putra.
Pak Dirman terlihat tidak suka melihat keberanian Putra.
'Pemuda ini tidak ada takut-takutnya sama sekali', pikir Dirmanĺ.
Aditya sedari tadi terus memandangi Aini, ia makin terpesona olehnya.
"Bawa Arman ke sini", perintah Dirman kepada Bimo.
"Baik", Bimo segera menuju belakang dan tak lama ia kembali sambil membawa Arman.
"Ayah!?", tetiak Aini, ial langsung menghambur menuju ayahnya. Namun dengan sigap Aditya menarik tangan Aini. "Tunggu dulu, manis , mana uangnya?", seringai Aditya.
"Lepaskan!", teriak Putra, ia menghampiri Aini dan melerai pegangan Aditya ditangan Aini.
Aditya melirik Putra, tangannya mengepal. Ia merasa dijegal oleh Putra.
"Nasib ayahmu tergantung kamu", Ucap Aditya.
memandang lekat Aini.
"Aku.....?",
"Ya, kalau kamu nurut nggak perlu lama, saat ini juga ayahmu bebas", ucap Aditya.
"Hanya satu syaratnya", seringai Aditya.
"Kamu harus mau menikah dengan aku", lanjut Aditya.
"Iiihh", Aini bergidik.
Putra mendengar jelas ucapan Aditya, ia segera berdiri di dekat Aini dan memegang erat tangannya. "Jangam macam-macam!, dia milikku!", tegas Putra.
Aditya terbelalak mendengar ucapan Putra, ia tidak menyangka Putra berani menyalip dirinya di rumahnya sendiri.
"Punya apa kamu, berani sekali ", Aditya kian geram kepada Putra, apalagi melihat Aini yang diam saja saat Tangannya digenggam Putra.
__ADS_1
"Mana uangnya?"