
Niat awalnya ingin membicarakan masalah Risma, akhirnya Putra urungkan, ia takut kalau sampai berita ini diketahui orang lain, akan besar kemungkinannya bisa bocor ke sana ke sini, dan itu akan sangat beresiko .
"Aduh .., saya kok jadi nggak enak, masa Bapak yang menjamu saya", rengkuh Pak Mul, ia menerima gelas berisi teh hangat pembarian Putra.
"Kita santai saja Pak", senyum Putra.
"Kalau begini, saya jadi teringat waktu di Bogor, karena cuacanya dingin, kita sering berdiam di dalam ruangan sambil ngopi-ngopi, Apa Bapak pernah melihat ada orang lain di sana?", selidik Putra.
"Orang lain?", Pak Mul mentautkan alisnya.
"Iya..., orang lain yang mungkin Bapak lihat menemui saya atau Risma?", selidik Putra.
"Ah...., sepertinya tidak ada, Bapak tidak melihat siapa pun, selain kita bertiga", terangkan Pak Mul.
' Atau Risma sudah berbadan dua sebelum pergi ke Bogor', batin Putra bicara.
'Ah..., semua ini membuat kepalaku ingin pecah',
"Memangnya ada apa Pak?, sepertinya ada sesuatu yang terjadi saat kita ke Bogor?", Pak Mul menatap Putra.
"Ah...nggak", senyum Putra, mungkin obrolannya sudah terlalu menyelidik, sehingga Pak Mul jadi curiga.
__ADS_1
"Alhamdulillah semua berjalan sesuai jadwal", senyum Putra.
Mirna masih saja memikirkan Risma, ia ingin mencari tahu keberadaan Risma saat ini. Mirna takut, Risma akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya.
Takutnya Risma berbuat nekad,karena terakhir yang Mirna tahu, Risma itu dalam keadaan berbadan dua.
Setelah mencari ke sana ke mari namun tidak ada petunjuk Risma di mana. Mirna akhirnya mampir ke sebuah kedai, di sana ia memesan segelas jys buah untuk menghilangkan dahaganya.
Ia duduk sendiri sambil memainkan ponselnya, berusaha menghubungi teman-temanya Risma, siapa tahu dia di rumah salah satu temannya.
"Mirna?", sebuah suara memanggilnya. Mirna menoleh ke sumber suara, dan ternyata itu Aditya.
"Boleh duduk di sini?, kok malah diberondong pertanyaan, bukannya di suruh duduk dulu", senyum Adit. Ia langsung saja duduk di kursi kosong di samping Mirna.
"Oh...iya, lupa", senyum Mirna.
Aditya tampak memesan makanan , "Iya...aku lagi ada urusan di sini",
"Kamu masih kerja di Kantor Putra?", selidik Aditya.
"Iya..., kayaknya sih aku sudah betah di sana", senyum Mirna.
__ADS_1
"Ya jelas betah lah..., bosnya orang idaman kamu sih", senyum Aditya.
"Bukan itu Dit, aku sudah tidak mengidolakan Putra lagi, dia sudah bertemu jodohnya, sudah mau punya baby lagi, aku lagi menunggu jodohku juga", senyum Mirna.
"Ah... , hebat kamu, cepat sekali move on nya",
"Bukan cepat Dit, tapi memang harus ditanggalkan, aku tidak mau menyakiti hati orang, karena aku tahu bagaimana sakitnya di sakiti",
"Wah...wah...salut aku sama kamu Mir, makin matang saja", kekeh Aditya.
"Kok sendiri?, biasanya berdua kan?, mana temanmu itu?", seludiki Aditya.
"Oh...Risma?, justru itu..., aku lagi mencari dia, aku sendiri bingung, kok Risma tiba-tiba resign dari Kantor, tanpa pamit lagi, sekarang pun aku tidak tahu dia dimana?, Risma seperti hilang di telan bumi saja", Mirna menarik nafas panjang.
Aditya kaget mendengarnya dalam hatinya sudah bisa menduga, Risma begitu karena ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
"Oh...., kemana dia ?", gumam Aditya.
"Nah lho..., kok sepertinya kamu peduli juga sama Risma, hayo....", senyum Mirna.
"Iya , aku juga kaget saja mendengarnya, pasti ada sesuatu dengan dia", Aditya menyeruput pesanan minuman miliknya, ia berusaha menetralkan perasaannya biar Mirna tidak curiga.
__ADS_1