Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Rencana baru


__ADS_3

"Alhamdulillah semua berjalan lancar Pah, proyeknya pun sudah mulai berjalan, tinggal menunggu tinjauan dari Papah saja, siapa tahu mau ada perubahan", Putra nampak berjalan menuruni tangga sambil berbicara lewat telepon.


Sudah bisa dipastikan, ia sedang bicara dengan papahnya, Pak Handoko.


"Iya, baik, semua sehat Pah", Putra terus berjalan menuju ruang makan.


"Halo Pah, bagaimana?", Putra melihat ponselnya karena tiba-tiba terputus.


"Pasti dari Papah ya", senyum Bu Hellen. Ia menatap Putra yang kini duduk dihadapannya.


"Iya, tapi kok tiba-tiba terputus", Putra kembali mengcek ponselnya.


"Jaringannya jelek mungkin, Papah bilang ia akan sempatkan pulang saat syukuran empat bulanan Aini", kabari Putra.


"Iya, ke Mamah juga bilang begitu", senyum Bu Hellen.


"Aini mana", Putra melemparkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Ada, tadi dia ke taman belakang", senyum Bu Hellen.


"Kasihan dia, sering saya tinggal, sepertinya kesepian di rumah terus, kalau diajak ke kantor gimana Mah?", Putra menatap Bu Hellen.


"Saya itu berencana ingin membawa Aini ke Kantor untuk jadi sekretaris pribadi saya Mah", senyum Putra.


"Memangnya Aini bisa?", tatap Bu Hellen.


"Bisa , Mah, aku juga tidak menyangka, Aini bisa belajar secepat itu, sudah lama sih, sejak Putra mulai masuk kantor, Aini sudah mulai belajar, semua berkas yang ada di laptop sudah ia pahami", senyum Putra bangga.


"Waw, bagus itu, ini kejutan buat Mamah", Bu Hellen menatap Putra dengan senyuman merekah.


Tak lama Aini datang, ia tersenyum menghampiri Putra. Ia tampak makin cantik saja, apalagi perutnya sudah terlihat meruncing.


"Sini sayang", Bu Hellen melambaikan tangan ke arah Aini.


"Putra ingin membawamu ke Kantor, apa kamu mau?", tatap Bu Hellen.


Aini melirik suaminya yang sedang tersenyum menatapnya.


"Saya, ikut ke Kantor Mah?", Aini tampak kaget.


"Iya, tadi Putra ngobrol dengan Mamah, Putra ingin menjadikan kamu sekretarisnya, gimana?", Bu Hellen menatap Aini.

__ADS_1


"Mas..., apa benar?", Aini melirik Putra.


Putra mengangguk dengan tersenyum.


"Tapi sebentar lagi kan ini dung, Mas", Aini menunjuk ke arah perutnya.


"Nggak apa-apa sayang, kerjanya juga kan ringan, bahkan bisa sambil rebahan, jadi kamu tidak akan bosan di rumah terus", senyum Putra.


"Tenang saja sayang, bosnya kan suamimu", kekeh Bu Hellen.


"Terus, kapan mulai ke kantornya?", tatap Aini.


"Ya..., hari ini juga boleh, jadwal hari ini tidak terlalu padat, jadi kerjanya masih nyantai",


Aini terdiam sebentar, ia menimang-nimang. Memang benar ia sering merasa kesepian di rumah, apalagi setelah Ayah dan ibunya pulang ke Kampung.


"Iya...hari ini saja, tapi aku bingung Mas, pake baju apa?, bajuku kan begini semua", Aini nampak bingung.


"Sudah, sini ikut Mamah, sepertinya Mamah masih menyimpan baju-baju kantor saat hamil dulu", Bu Hellen menuntun Aini menuju kamarnya.


Di sana ia membuka koleksi baju kantor lamanya, dan ternyata masih ada yang cocok dengan Aini.


"Tuh..coba Mamah lihat, cocok , bagus, pas banget di badan kamu", Bu Hellen menatap Aini .


Putra yang sudah siap berangkat, terpaku melihat penampilan baru Aini. Bu Hellen pintar sekali mendandani Aini, ia menyulap Aini yang semula berpakaian gamis dan kerudung instannya, kini sudah berubah, Aini dengan pakaian muslim kantor lengkap denngan kerudungnya.


"A..i..ni...?, ini benar Aini kan Bu?, kok jadi beda bangeut, Mamah punya koleksi baju kerja muslim juga", tatap Putra.


"Iya dong, Mamah kan dulu sempat juga berkerudung, ikuti trend saja", senyum Bu Hellen.


"Kalau sekarang dipakai lagi, sepertinya bagus Mah, sekarang kan lagi trend lagi, para Publik figure juga banyak yang rame-rame kembali berhijab, gimana Mah?", senyum Putra.


"Emm....boleh juga, nanti Mamah pikir-pikir dulu:, cicit Bu Hellen.


"Sudah, sekarang kalian berangkat, sudah siang, nanti terjebak macet lagi",


"Iya Mah, kami berangkat dulu, Putra dan Aini bergantian mencium punggung tangan Bu Hellen, setelah itu mereka pergi dengan bergandengan tangan.


"Neng Aini mau ke mana Nyonya?", Bi Siti menghampiri .


"Mau ikut ke Kantor Bi, dia mau dijadikan sekretaris sama Putra", senyum Bu Hellen.

__ADS_1


"Alhamdulillah..., kalau Neng Aini jadi sekretarisnya, Den Putra akan tambah semangat kerjanya", senyum Bi Siti.


"Iya, Bi, semoga saja, saya jadi tambah senang, sudah ada yang akan meneruskan Perusahaan ", senyum Bu Hellen.


Ini adalah kejutan untuk semua staf di Kantor, Bos mudanya datang menggandeng istrinya yang sedang mengandung.


"Ini kesempatan, aku jadi punya banyak peluang untuk mempengaruhi dia, kalau suaminya sudah berbuat tidak senonoh waktu di Bogor.


Berbeda dengan Pak Hambali yang nampak senang dengan kehadiran Aini di Kantor, itu akan memberi atmosfir positif bagi Putra. Pak Hambali sangat tahu kalau Putra begitu mencintai istrinya.


Mereka memasuki Kantor dengan bergandengan tangan dan menebarkan senyuman kepada para staf .


"Memangnya bisa apa dia di sini?, paling cuma hoek hoek saja", cibir Risma.


"Ssttt...., tidak boleh begitu, dia itu istri Pak Bos, pasti tidak sembarangan", ingatkan Adis.


"Aku realistis saja, setahu aku dia itu hanya lulusan SMA kan?, mau jadi sekretaris di sini?, kita lihat saja, bagaimana jadinya Perusahaan ini", cicit Risma.


Adis hanya menggelengkan kepala, ia tidak habis fikir dengan sikap buruk Risma, apalagi Risma juga sudah bercerita soal peristiwa di Bogor, ia tetap menuduh Putra yang sudah tidur dengannya.


Untung saja Adis masih bisa menjaga mulut, ia tidak menyebarkan betita itu, karena merasa yakin, itu hanya bualan Risma saja.


Adis begitu menghormati Bos mudanya itu, karena ia merasa berutang budi kepada kedua orang tuanya Putra , yang telah menyekolahkannya dan mempekerjakannya di perusahaan miliknya.


Adis dulunya seorang yatim yang putus sekolah, namun berkat kebaikan Pak Handoko dan Bu Hellen, ia bisa seperti ini, bisa hidup dengan layak bersama ibunya.


'Aku harus melindungi Bu Aini dan Pak Putra dari rencana jahat Risma' , Adis bicara dalam hatinya, ia melirik Risma dengan ujung matanya.


Ada yang berubah dengann tubuhnya, ia terliat cubby. Entah Risma menyadarinya atau tidak.


Jam makan siang , para staf satu per satu mulai meninggalkan meja kerjanya, mereka ada yang menuju kantin, ada yang ke Mushola, ada juga yang memesan makanan lewat grabfood.


Begitu juga dengan Putra, ia membawa Aini ke cafe terdekat, ia ingin membawa istrinya itu jalan-jalan, setelah sekian lama hanya setia menantinya di rumah. Bahkan sekedar untuk belanja kebutuhan dapur saja, sudah di handle oleh Bi Surti.


"Ayo...kamu boleh pesan makanan yang kamu suka", Putra memberikan daftar menu kepada Aini.


"Aku tidak ngerti dengan menu-menu ini, Mas", Aini menyodorkan kembali daftar menu kepada suaminya.


"Ya sudah, biar Mas yang pesankan saja", Putra menuliskan beberapa menu untuk makan siang bersama Aini.


Tak lama pesanannya datang, "Nah yang ini bagus untuk kamu, salad buah, rasanya enak, pasti dede bayi juga suka", senyum Putra, ia mengelus perut Aini.

__ADS_1


"Ini, baso juga bagus untuk bundanya", senyum Aini, dengan cepat tangannya menarik mangkuk berisi baso dan menambahkan cabai sebelum mulai menyantapnya.


Putra hanya mengulum senyum memperhatikan istrinya makan, ia jadi kenyang dengan hanya melihat Aini makan.


__ADS_2