
"Aduh terima kasih Nak, jadi merepotkan, pake beliin Aini apa itu, telepon ya?", Arman tersenyum.
"Hand phone Pak, telepon selluler", jelas Aini.
"Iya, Pak. Biar lancar komunikasinya dengan Aini, jadi kalau mau apa-apa bisa janjian dulu, tidak seperti sekarang, Aini belum tahu saya mau ke sini, jadinya ya saya harus menunggu di sini", senyum Putra.
"Aini , coba buka attu, kan Bapak juga mau tahu, cara pake hand phone", pinta Arman.
"Sebentar Pak, Aini juga tidak ngerti, bagaimana ini, cara menghidupkannya?", Aini membolak-balikkan hand phone yang ada ditangannya.
Putra mengulum senyuman, melihat tingkah Aini."
"Bukan begitu, coba sini, bawa hand phone nya!", pinta Putra. Aini menurut, ia mendekat ke Putra, mereka duduk berdampingan dalam satu kursi. Aini memberikan Hand phone nya kepada Putra.
"Nih, begini, yang ini tombol untuk menghidupkannya, tuh kan, sini masuk ke pengaturan dulu, di sini bisa kita atur, buat gambar latar , wallpaper, dan nih biar aman kita pake apa buat pengamannya, mau pake pasword, atau ini saja biar mudah ya, pake gambar pola saja, nih seperti ini, ingat-ingat ya polanya", Putra menjelaskan cara mengoperasikan ponselnya kepada Aini.
Saat ia melirik ke arah Aini, degh, jantungnya langsung berdebar , Aini tepat ada disampingnya, dekat, dekat sekali, bahkan hidung Putra hampir menyentuh pipi Aini, Putra terpaku, ia terhipnotis oleh rasa yang mulai membuncah.
Aini yang menyadari hembusan hangat napas Putra yang menerpa pipinya, segera menarik diri dan bergeser menjauh, "Maaf", dengan wajah memerah Aini menunduk.
"Nggak apa-apa, sudah ngerti kan?, kalau bingung, langsung telepon saja jika memerlukan aku" , senyum Putra.
"Nih, sudah aku masukan nomer aku, tinggal telepon saja kalau ada sesuatu", senyum Putra. Ia merasa gemas melihat Aini yang malu-malu, dan mudah tersipu.
"Nih, semua sudah aku download, tinggal dipake saja", Putra memberikan ponselnya kepada Aini",
"Terima kasih",
"Maaf Nak Putra, bagaimana kelanjutan status tanah milik Kakek? , apa sudah beres?", tanyai Arman.
"Belum Pak, ternnyata, uangnya mereka tileup juga",
"Maksudnya di tileup bagaimana, Bapak kurang mengerti", Arman mengernyitkan dahi.
"Jadi, harga tanah Kakek Ilham itu hanya harga yang diberikan oleh Pak Dirman, padahal dari sananya lebih mahal, nah sisa uangnya mereka masukkan dalam rekening pribadi mereka", jadi mereka juga mempunyai keuntungan dari penjualan tanah Kakek Ilham",
"Dasar licik", geram Arman.
"Jadi, Papah juga bingung Pak, kalau mau dibatalkan, uang yang ada di Pak Dirman pun harus ikut dikembalikan , selain uang enam puluh juta yang diambil oleh anak Kakek", jelas Putra.
"Nah, masalahnya, kita tidak tahu, berapa harga tanah Kakek yang Pak Dirman berikan kepada pusat, jadi ya..untuk sementara, kita ikuti saja mau mereka", timpa Putra.
Arman manggut-manggut."Ya sudah, kalau begitu, kita makan saja dulu, mumpung masih panas", tawari Bu Hana. "Di sini saja makannya", ajak Bu Hana. Ia menggelar tikar di dapur, dan menata makanan diatasnya.
"Ayo, makan dulu ah, Aini sudah lapar", lirik Aini kepada Putra. Dan mereka pun berpindah ke dapur.
__ADS_1
"Maaf ya Nak, tempatnya seperti ini, dan menunya juga seadanya", Pak Arman melirik Putra.
"Aduh, ini sudah Alhamdulillah sekali Pak, tapi ada yang kurang, saya mau sambal yang waktu itu", Putra memperhatikan menu dihadapannya.
"Oh..., kalau itu Aini yang buat" , lirik Bu Hana.
"Sambel bawang?", tanya Aini.
"Iya", senyum Putra.
"Mau? Dibuatin sekarang?", tanya Aini.
"Kalau tidak merepotkan, ya...mau...", senyum Putra.
"Sebentar ya", Aini beranjak menuju meja kecil di samping kompor minyak, lalu ia membuat sambal pesanan Putra, setelah selesai, membawanya ke hadapan Putra.
"Ini sambalnya", Aini menaruhnya di depan Putra.
"Terima kasih,
Mereka mulai makan, walau menunya sederhana, tetapi ampuh membuat Putra menambah nasi berkali-kali.
"Alhamdulillah, nikmat sekali Pak", Putra menyeruput teh hangatnya.
"Ya karena bahannya cuma cabe dan bawang saja, ditambah garam dan gula sedikit, terus siram sama minyak panas, gampang kan?", senyum Aini.
"Iya, resep simple yang rasanya nampol", kekeh Putra.
Arman dan Hana pun ikut tertawa.
"Tok...tok...tok...", terdengar suara pintu di ketuk. Semua diam, "Lihat Pak, siapa?", pinta Bu Hana.
Pak Arman beranjak menuju pintu, ia mengintip melalui celah gorden, tampak Kek Ilham berdiri di depan pintu. Melihat ayahnya yang sedang berdiri , Arman segera membukakan pintu, "Pak, masuk Pak", Arman mendekati Kek Ilham.
"Ini, Bapak membawa pisang dan singkong, Aini belum tidur?", tanyai Pak Ilham.
"Belum, Aini ada didalam, Nak Putra juga ada Kek",kabari Arman.
"Siapa Pak?, ajak masuk saja, nggak baik ngobrol di luar", teriak Bu Hana.
"Sebentar , ini Bapak, Hana", balas Arman.
"Bapak?, ayo masuk!, iih kok malah di ajak ngobrol Pak",
Pak Arman masuk rumah diikuti Kek Ilham.
__ADS_1
Putra langsung menyalami Kakek Ilham.
"Sudah lama Nak?, kebetulan ini Kakek membawa pisang dan singkong", Kek Ilham menaruhnya di atas meja.
"Itu pisang yang kemarin Aini bawa dari sawah, Kek ?", Aini melirik Kakek Ilham.
"Iya, Ain, makanya begitu matang, Kakek bawa ke sini, karena ini pisang yang kemarin Aini bawa pulang", jelas Kek Ilham.
"Kapan-kapan kita ngeliwet di sawah Nak?", Ajak Kakek Ilham kepada Putra.
"Aduh, mau sekali Kek, terima kasih sebelumnya", senyum Putra.
Mereka terlibat obrolan yang seru.
*****
Di dalam kamar, tampak Mirna sedang menelepon temannnya, Aliya.
"Besok jangan lupa , kita berangkat sekolah agak pagian ya?, aku penasaran, si kelelawar Aini, berangkat sama siapa?, apa benar dengan Putra?, kalau benar?, kita orek, ada hubungan apa diantara mereka?, rasanya hati ini nggak rela kalau mereka ada apa-apa",
"Aduh...., aku tuh paling nggak bisa bangun pagi Mir", keluh Aliya.
"Ah...kamu, cuma besok saja kali, pasang alarm saja, biar nggak kesiangan!",
"Oke...., tapi tanggung sarapan kita ya?",
"Aduh...banyak nawar ni bocah, biasanya juga iya kan, tenang saja!, ikuti saja , soal sarapan mah itu gampang",
"Oke Mir, nanti aku ajak Sinta sekalian",
"Oke, siiip, sudah ya..., dadah", Mirna mematikan sambungan teleponnya.
Mirna menyimpan ponselnya di atas nakas, lalu ia mendekati cermin, ia pandangi pantulan gambar dirinya di cermin.
'Cantik, sempurna' , pikirnya. Ia tersenyum sendiri mengagumi kecantikannya. 'Tapi kenapa Putra sampai tidak tertarik pada dirinya?', pikirnya lagi.
'Hih..., dasar saja dia mah rabun, masa aku kalah sih sama Aini, gadis kampung, miskin lagi', pikirnya lagi.
'Besok , kamu pasti akan bisa aku taklukan Putra', pikir Aini dengan senyuman smirt nya.
*****
Aditya yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya, sedang berpikir, bagaimana caranya untuk bisa mendekati Aini kembali. "Kalau aku tidak bisa bersamamu, maka laki-laki lain pun tidak bisa ", gerutu Aditya.
Rasa cintanya kepada Aiini berubah menjadi benci dan dendam. Ia paling tidak suka keinginannya gagal, 'Apa aku samperin saja ke sekolahnya?', pikir Aditya.
__ADS_1