
Aini merasa lega melihat suaminya yang tertidur lelap, mungkin ia sudah tenang, tidak terganggu dengan rasa sakit di tubuhnya.
"Terima kasih ya Pak, ayo mampir dulu, kita ngopi dulu", ajak Putra kepada Pak sopir begitu sampai di depan rumahnya.
"Terima kasih Den, bukan menolak rejeki, tapi Bapak sudah sangat telat ini, tadi kan di jalan terjebak macet , ditambah ada kejadian tadi, Bapak harus cepat kembali, masih ada pekerjaan lain", rengguh Pak sopir.
"Iya..., maafkan kami ya Pak, gara-gara kejadian tadi, Bapak jadi terlambat", ucap Aini.
"Nggak apa-apa Neng , justru Bapak senang bisa mengantar Neng dan suami , Bapak jadi punya pengalaman seru, melihat istri yang kemayu, berubah menjadi super hero", senyum Pak sopir.
"Ah...Bapak, itu kan refleks saja", senyum Aini.
"Oh iya, kalau nanti ada rencana berlibur lagi, jangan lupa minta antar Bapak lagi, siapa tahu ada pengalaman seru lagi" Kekeh Pak sopir.
"Aduh...kok malah berharap yang buruk Pak", senyum Putra.
"Bercanda Den, ya sudah Bapak pamit, semoga Aden cepat sehat lagi, dan semoga cepat mendapat dede bayi", senyum Pak sopir sebelum melajukan mobilnya kembali.
"Aaminn...", serentak Aini dan Putra mengamini ucapan Pak sopir dengan saling pandang dan tersenyum.
Pak Munir, penjaga rumahnya membuka pintu gerbang, "Aden sudah pukang?, lho...kok kenapa luka-luka seperti itu?", tanyanya kaget.
"Nggak apa-apa Pak, Mamah dan Papah sudah berangkat?", Putra balik bertanya.
"Sudah dari tadi Den, sempat menunggu Aden juga tapi terlalu lama", jelas Pak Munir.
"Alhamdulillah..., setidaknya mereka tidak melihat kita pulang dalam keadaan seperti ini", gumam Putra, ia melirik Aini.
"Iya, kasihan juga kalau mereka sampai melihatmu pulang dalam keadaan terluka", Aini menimpali.
"Ya sudah, tolong ini bawa ke dalam ya Pak!", perintah Putra, ia menunjuk kepada tiga tas besar yang disampingnya
"Baik Den", rengkuh Pak Munir, ia membawa barang-barang Aini dan Putra ke dalam, ia berjalan di belakang majikannya.
"Kita langsung istirahat saja di kamar ya, biar Mas bisa tidur kembali, biar cepat pulih", senyum Aini, ia langsung memapah suaminya ke kamar.
Bi Surti tak kalah kagetnya begitu mendengar dari Pak Munir kalau Putra pulang dalam keadaan terluka.
Bi Surti cepat-cepat menyiapkan makanan siapa tahu majikannya itu mau lanngsung makan. Ia mondar -mandir di ruang tamu menunggu majikannya turun, Bi Marni tidak berani untuk naik ke atas.
"Mas istirahat dulu ya, aku mau menemui Bi Surtip dulu, mau dimasakin apa?", Aini menatap Putra yang kini sudah terlentang di atas tempat tidur.
"Aku mau kamu tetap di sini", Putra menarik tubuh Aini hingga Aini berada didekapannya, kepala Aini berada di atas dada kirinya.
"Sebaiknya istirahat dulu saja", Aini balik memeluk tubuh Putra. Hingga detakan jantung suaminya terdengar jelas ditelinganya.
"Aku mau begini terus sampai terlelap", Putra mengusap kepala Aini.
"Sungguh aku beruntung sekali bisa mendapatkan kamu, aku masih tidak percaya melihatmu seberani tadi",
"Aku juga malah kaya mimpi, kaya kesurupan gitu ya..., kok bisa jadi seberani tadi, kalau diingat-ingat , lucu juga ya", kekeh Aini.
"Sayangnya tidak sempat dividio , padahal itu adegan langka", kekeh Putra.
Kini mereka tertawa bersama. "Alhamdulillah..., masih mendapat pertolongan-Nya", ucap Aini.
"Mas jangan ceritakan hal tadi kepada orang tua kita ya, biar mereka tidak menjadi khawatir, semoga saja Aditya kapok, tidak mengganggu kita lagi, sebenarnya kadihan juga sih ..., Aditya seperti itu karena ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya, dia tidak merasakan kelembutan kasih sayang seorang ibu, makanya sikapnya keras kepala, Mas jangan dendam ya sama dia", Aini melirik suaminya.
"Ya...., pantesan diam terus..., sudah tidur lagi ", cicit Aini. Ia perlahan melerai pelukkannya, dan perlahan melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia duduk di sampingnya sambil menatap wajah teduh suaminya.
Kelebatan kejadian tadi kembali membayangi ingatannya, saat suaminya dipukuli dan dikeroyok teman-teman Aditya, 'Kasihan kamu Mas..., harus menderita gara-gara aku, Aku janji akan membuatmu bahagia semampu aku' , batin Aini bicara.
Perlahan Aini turun dari tempat tidur , ia meninggalkan suaminya yang tertidur . Aini menuju dapur , ia berniat untuk memasak, biar saat bangun nanti, suaminya bisa menikmati masakannya.
__ADS_1
"Aduh....Neng, katanya Aden terluka?, kenapa?", Bi Surti langsung menyerang Aini dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Nggak apa-apa Bi, luka kecil saja kok, tadi ada sedikit insiden di jalan", senyum Aini.
"I...siden itu apa Neng?", Bi Surti kebingungan.
"Insiden Bi, kecelakaan kecil, tidak apa-apa kok, sekarang lagi istirahat, tadi juga sudah diobati ", Aini menenangkan Bi Marni.
"Alhamdululillah kalau begitu, Bibi lega mendengarnya".
"Bi, kita masak saja yuk!", ajak Aini.
Aini berjalan menuju dapur diikuti Bi Surti
"Padahal biar Bibi saja Neng yang masak, Neng temani Aden tidur saja", Bi Surti melirik Aini.
"Nggak Bi, mulai sekarang, semua keperluan suami saya, biar saya saja yang menyiapkan", senyum Aini.
"Bibi kerjakan pekerjaan yang lain saja",
"Baik Neng",
"Aini nampak membuka lemari es, ia memilih beberapa bahan makanan yang akan dimasaknya. Lalu ia memasak.
Bi Surti terlihat ke belakang, ia membereskan jemuran.
Wangi masakan sudah tercium, Aini menatanya di atas meja makan. Ia kembali membereskan dapurnya.
Sambil menunnggu suaminya bangun, aini membersihkan diri. Kini ia sudah berganti baju dan melirik suaminya masih terlelap tidur.
Aini mengambil tas selempangnya , ia mencari ponsel yang sedari tadi ia tinggalkan . Aini mengabari orang tuanya, kalau kini ia sudah berada di rumah suaminya.
"Hah", Aini menarik nafas panjang, seperti mimpi rasanya ia bisa tinggal di rumah besar, dengan fasilitas komplit, semua ada, semua tersedia. Ia ambil dompetnya, ia ambil kartu yang kemarin suaminya berikan.
"Kartu ini katanya bisa untuk mengambil uang, ATM ini namanya. Tapi nggak ngerti juga cara pakainya, oh iya kemarin Putra sempat mengajak ke Bank untuk mengaktifkan mobile banking, apa lagi itu, bingung ah", Aini bicara sendiri sambil memandangi kartu sakti ditangannya.
"Bi...Bi..., baju-baju kotor yang di tas ini mana?", Aini tengok kanan kiri di ruangan mencuci.
"Sudah mau Bibi cuci Neng, ini ada di sini semua", tunjuk Bi Surti.
"Di sini", Aini mentautkan kedua alisnya.
"Iya..., ini mesin cuci Neng, buat mencuci baju",jelas Bi Surti.
"Terus bagaimana cara mencucinya, biasanya saya mencuci pakai tangan, di bilas saja", terang Aini.
"Di sini pakai ini Neng, lebih cepat, hemat tenaga, hemat waktu juga",
"Caranya bagaimana Bi, saya belum pernah mencuci dengan ini", senyum Aini.
"Sini, Bibi ajarin dulu caranya, pertama masukan pakaian kotornya, baru diberi air, tinggal pijit tombol ini, masukan deterjennya, nih ...airnya sampai batas ini, kalau sudah cukup, tutup, dan putar tombol ini, selesai", senyum Bi Surti.
"Tuh...kan mesinnya mencuci sendiri", Bi Surti. tersenyum. Dengan telaten ia mengajari Aini cara mencuci, ia tidak heran karena sudah mengetahui istri tuan mudanya itu berasal dari Desa, pasti belum terbiasa dengan alat-alat modern.
Aini manggut-manggut, mencerna semua petunjuk dari Bi Surti.
"Termasuk ini ya Bi, pokoknya semua yang menyangkut urusan suami saya, biar saya saja yang mengerjakan",kembali Aini memberitahu Bi Surti.
"Iya baik Neng",
"Sini, Bibi tunjukan tempat penjemurannya", Bi Surti mengenalkan semua ruangan yang ada di rumah, biar Nyonya mudanya itu tahu.
Aini mengikuti Bi Surti, ia tidak henti -hentinya mengagumi rumah suaminya itu, semua ruangan tertata rapi, ada ruang untuk menjemur dan setrika, ruangan khusus menyimpan sepatu-sepatu, ada ruangan nge-gym juga, di belakang ada taman dan kolam renang .
__ADS_1
"Wah...ini mah bisa betah tinggal di rumah Bi, semua tersedia", senyum Aini.
"Iya Neng, semoga Neng betah di sini",
"Sudah pasti betah Bi, sudah seperti di istana saja", kekeh Aini.
"Bunyi apa itu Bi?", Aini mencari sumber suara, di rumah terdengar suara dentingan yang entah dari mana datangnya.
"Oh...itu sepertinya tukang roti, biasa datang jam segini", Bi Marni bergegas menuju pintu samping yang langsung menuju dapur.
Benar saja, ada seorang tukang roti membawa beberapa roti tawar dan selainya.
"Nah ..., tiap jam segini tukang roti datangnya",
"Tiap hari Bi?",
"Dua hari sekali, ini sudah langganan", jelas Bi Surti.
"Terus...tadi yang berbunyi itu apa Bi?", Aini kembali bertanya.
"Oh..., yang tadi itu bel, jika berbunyi, pasti ada orang yang akan bertamu, yang ini nih", Bi Surti membawa Aini keluar dan menunjukkan letak bel rumahnya.
"Oh.., semua baru bagi saya Bi, maaf ya, saya banyak bertanya", senyum Aini.
"Kan namanya juga baru Neng, nggak apa-apa", senyum Bi Surti.
"Sudah asar, saya ke atas dulu, siapa tahu Mas sudah bangun", pamit Aini.
Ia kembali menuju kamarnya , di sana ia tidak melihat suaminya di atas tempat tidur, Aini mencari ke kamar mandi , tidak ada, lalu menengok ke luar kaca jendela, juga tidak ada. 'Kemana ...ya, tadi di luar juga tidak ada', pikir Aini, ia terpaku di samping tempat tidur.
Sampai ada sebuah pelukan dari belakang yang mengagetkannya.
"Dari mana saja", suara suaminya berbisik ditelinganya.
"Aini memejamkan matanya, merasakan hangat yang menjalar dari tubuh suaminya, ditambah wangi body wash yang keluar dari tubuh yang kini sedang memeluknya, membuatnya kembali ingin merasai sensasi di malam kemarin saat suaminya melakukan simulasi.
"Mas...shalat dulu, kita makan!, aku sudah memasak, tuh perutku sudah berdemo ingin di isi makanan", Aini mengacak rambut di kepala suaminya.
"Iya...", dengan malas Putra melerai pelukannya, ia kembali ke kamar mandi untuk berwudhu. Dan menunaikan shalat sendiri.
Aini kembali merasa bersalah, belum bisa memberikan hak suaminya.
"Ayo makan dulu, katanya sudah lapar", tangan Putra menyentuh pundak Aini yang sedang duduk di sofa.
Dengan tersenyum Aini menyongsong tangan suaminya dan menggandengnya menuju ruang makan."Bi, ayo ikut makan", ajak Putra kepada Bi Surti yang sedang menyapu di dapur.
"Aduh Aden..., tidak apa-apa?", Bi Surti menghampiri dan memperhatikan wajah majikannya yang masih nampak lebam-lebam.
"Nggak Bi, ini hanya luka kecil saja, ayo makan Bi",
"Sudah Aden, silahkan saja", tolak Bi Surti , ia melanjutkan pekerjaannya, ia tidak mau mengganggu kemesraan pasangan pengantin baru itu.
"Kalau setiap hari begini, sepertinya aku akan cepat sembuh", Putra melirik Aini.
"Sudah mengabari Mamah belum kalau kita sudah di rumah?", tanya Aini.
"Sudah..., tapi aku tidak beritahu soal insidennya, biar saja, toh akunya juga tidak apa-apa",
"Iya, nggak usah", senyum Aini.
"Terus, kapan hadiahnya bisa aku ambil?", Putra menatap Aini.
"Hadiah....apa?", Aini bingung.
__ADS_1
"Itu..., itu...., itu...", senyum Putra, ia menunjuk tubuh Aini dari atas sampai bawah.
"Sabar ya..., nanti kalau sudah suci, aku sendiri yang akan mendatangimu", senyum Aini, ia faham dengan apa yang dimaksud suaminya.