Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Ia Istriku


__ADS_3

Putra dan Pak Hambali berjalan beriringan menuju ke ruang meeting, diikuti Adis yang membawa semua berkas yang akan dibahas dalam meeting hari ini.


Saat memasuki ruangan, semua klient sudah terlebih dahulu ada di sana. Putra langsung duduk di kursi berdampingan dengan Pak Hambali.


Mereka saling bersalaman dan ternyata ada Pak Dirman juga di sana. Pak Dirman ikut menjadi investor di proyek ini.


"Selamat pagi, Bapak-Bapak, terima kasih sudah datang tepat waktu, kali ini rapat perdana kita membahas pembangunan sekolah untuk masyarakat terpencil, dan kali ini rapat tanpa kehadiran Pak Handoko, karena beliau masih di luar kota, tapi sudah ada perwakilannya, yaitu anaknya , perkenalkan ini Pak Putra", jelas Pak Hambali, ia memperkenalkan Putra.


Kali ini Putra sendiri yang memimpin meetingnya.


Pak Hambali merasa senang karena meeting hati ini berjalan lancar, semua klient setuju ddngan semua rencana yang diusulkan Putra, dan meeting akan dilanjutkan minggu depan untuk menentukan lokasi pembangunannya.


"Bapak puas dengan hasil meeting hari ini, senang sekali Pak Putra bisa meyakinkan semua invertor tadi, memang Pak Handoko beruntung mempunyai anak seperti anda",


"Terima kasih Pak, saya baru pemula, mohon bimbingannya", senyum Putra.


"Ya sudah..., sebentar lagi jam makan siang, Bapak keluar sebentar",


"Bukannya mau ikut makan siang di sini Pak?",


"Terima kasih, saya masih ada urusan sebentar", tolak Pak Hambali, ia segera keluar dari ruangannya meninggalkan Putra sendirian.


Di rumah, Aini sudah bersiap untuk mengantar makan siang ke Kantor tempat suaminya berada.


Di antar sopir ia menuju ke sana. Sepanjang jalan Aini berusaha untuk tidak tertidur, ia harus melawan kebiasaannya ini.


Tak lama, mobil berhenti di sebuah gedung . "Sudah sampai Non, ini tempatnya", beritahu Sopir.


Aini memandangi gedung di depannya, ia ragu untuk masuk ke sana, ini pertama kalinya ia ke sini, mana sendiri lagi.


"Non Aini tidak tidur kan", Pak sopir kembali bertanya karena Aini hanya diam saja, duduk ditempatnya.


"Oh iya Pak, terima kasih, Bapak langsung pulang saja, saya nanti pulang bersama suami",


"Oh...baik Non", rengguh Pak sopir. Ia langsung balik kanan meninggalkan Aini yang masih berdiri di halaman gedung itu.


'Bismilla', Aini melangkah memasuki gedung itu, rasa sejuk langsung menerpa tubuhnya, ia bingung, di mana suaminya berada, ia mencari seseorang untuk bertanya.


"Sepertinya di sana", gumamnya, ia menghampiri meja resepsionis. "Assalamu'alaikum, permisi kalau kantornya Pak Putra di mana?", tanyanya. Di sana ada seorang wanita cantik sedang duduk di depan laptopnya.


Wanita berdiri dan memandang Aini dengan penuh curiga, ia menghampirinya dan memandangi Aini dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Siapa Anda, rasanya saya baru melihat", wanita itu balik bertanya.


"Oh, saya mau bertemu Pak Putra, dimana kantornya?", Aini kembali bertanya.


"Ehh...malah ngotot, anda ini mencurigakan sekali, itu membawa apa?, jangan-jangan bom lagi", ia menunjuk kepada bungkusan yang di bawa Aini.


"Astaghfirullah, saya hanya bertanya dimana kantor Pak Putra, kok malah curiga begitu",


Bukannya menjawab dengan baik-baik, wanita itu malah memanggil satpam yang ada di pintu.


"Pak, ini kok dibiarkan masuk, kalau dia membawa bom gimana, lihat bawaannya", adu wanita itu.


"Ini katanya mau ke Pak Putra", bela Satpam.


"Iya, tapi masa Pak Putra mempunyai tamu seperti ini, klient darii mana?", wanita itu tetap nyolot.


Dan akhirnya terjadi kegaduhan di depan resepsionis, semua staf yang ada di sana mulai menghampiri mereka.


"Sudah saja Pak, usir saja dia, dari penampilannya saja sudah mencurigakan, dia itu seperti ....",


"Tunggu", sebuah suara mengagetkan mereka. Putra menghampiri kerumunan itu dan segera meraih tubuh Aini yang mulai ketakutan.


"Kenapa dengan kalian, kenapa ia tidak dibiarkan masuk dan tidak diperlakukan dengan baik?", Putra bicara dengan nada tinggi, terlihat kalau ia sedang marah.


"Astaghfirullah, kamu ini keterlaluan sekali, ini istri saya", tegas Putra. Ia memeluk Aini. Semua terpaku kaget, apalagi Risma.


"Mulai saat ini, jika ia datang, perlakukan dengan baik, kalau tidak, saya pecat kalian semua, paham!!", Putra menggandeng Aini menuju ruangannya. Meninggalkan semua stafnya yang masih berdiri terpaku ditempatnya.


"Kamu sih..., main tuduh sembarangan saja, Pak Putra kan jadi marah", Adis menyalahkan Risma atas keributan yang terjadi.


Semua kembali ke meja kerjanya masing-masing, hanya Risma yang berdiri, ia merasa tidak percaya, kalau wanita berbaju lebar itu istri bosnya, bos yang ia kagumi.


'Kok bisa, dia menyukai wanita seperti itu, wanita aneh', pikir Risma, ia berjalan lesu menuju mejanya kembali. "Pasti Pak Putra akan membenci aku setelah kejadian ini", gumamnya.


"Aduh...Ris, kok bisa-bisanya kamu mengusir istri Pak Putra sih", tegur Adis.


"Ya..., maaf..., aku kan tidak tahu..., kenapa juga Pak Putra memilih wanita berbaju lebar itu sebagai istrinya", Risma cemberut.


"Apa sudah tidak ada lagi wanita cantik di Kota ini, hingga dia memilih wanita seperti itu", keukeuh Risma.


Putra menggandeng Aini untuk duduk di sofa di samping meja kerjanya. "Duduklah, maaf atas keributan tadi, seharusnya tadi telepon aku begitu sampai di sini, jadi aku yang akan menjemputmu ke luar", Putra mengecup pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Sudah, tidak apa-apa, dia benar kok, dia sudah bekerja dengan baik, dia cuma mau berhati-hati saja", senyum Aini, ia meraih tangan Putra dan mengecupnya.


"Sudah kita makan saja, aku temani", senyum Aini. Ia meraih bawaannya dan meletakkan isinya satu per satu di atas meja.


"Jangan marahi pegawai tadi ya?", senyum Aini. Ia kembali meraih tangan suaminya.


"Iya..., sekarang makan dulu saja, kita nggak usah bahas lagi masalah tadi",


Aini menemani suaminya makan diselingi canda dan tawa.


"Besok, kalau mau ke sini, telepon aku dulu kalau sudah sampai di depan, biar aku jemput", senyum Putra.


"Nggak usah, besok mereka kan sudah tahu kalau aku ini istri kamu Mas, jadi mereka tidak akan mengusir aku lagi", senyum Aini.


"Oh iya, benar juga", kekeh Putra.


"Bagaimana meetingnya lancar?", tanya Aini ssmbari membereskan kembali bekal makan yang dibawanya.


"Alhamdulillah, lancar, semua itu karena kamu", senyum Putra.


"Ini apa Mas?" Aini melirik berkas di atas meja.


"Ya itu materi meeting tadi, kamu juga boleh mulai mempelajari berkas-berkas ini, siapa tahu nanti aku butuh sekretaris, kamu sudah bisa", Putra melirik Aini.


"Aku Mas, jadi sekretaris, ah ngayal kamu Mas", kekeh Aini.


"Coba saja dulu, di laptop rumah juga sudah ada berkasnya, kamu boleh pelajari jalau ada waktu, serius ini", senyum Putra.


"Iya,nanti aku coba pelajari", senyum Aini.


"Sekarang kita pulang bareung, kamu bisa menunggu di sini, atau di Mushola, terserah saja , mau jalan-jalan sekitar kantor juga boleh", senyum Putra.


"Iya, gampang, kamu fokus saja pada pekerjaanmu Mas", Aini nampak mengintip dari balik jendela, ia melihat pemandangan dari samping Kantor


Pak Hambali kembali memasuki kantornya, Putra masih fokus dengan laptopnya .


Pak Hambali melirik Aini dan sudah bisa menebak kalau itu istri Bos mudanya.


"Mas, aku mau...", Aini menggantung ucapannya, begitu melihat ada Pak Hambali di ruangan itu.


"Oh, maaf", Aini menghampirinya dan mengatupkan kedua lengannya di dada sebagai ganti jabatan tangannya.

__ADS_1


"Oh iya Pak, ini Aini, istri saya", perkenalkan Putra.


"Sudah Bapak duga, pasti ada sosok istri istimewa dibalik suami yang hebat", senyum Pak Handoko.


__ADS_2