Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Terjerat


__ADS_3

"Pah..., ada apa?", Bu Hellen memandang lekat suaminya. Pak Handoko tidak bisa bicara apa-apa. Melihat itu, Bu Hellen mengambil kertas yang hampir terjatuh dari genggamannya.


Bu Hellen membaca dengan teliti tulisan yang tertera di kertas putih yang kini ada ditangannya, ia pun mematung, merasa tidak percaya dengan isi yang baru selesai dibacanya.


"Putra, Aini, kalian harus bisa terima ini", suara Bu Hellen tercekat.


"Coba kalian lihat dan baca sendiri!", perintah Bu Hellen, ia menyerahkan kertas ditangannya kehadapan Putra dan Aini.


Aini melirik Putra, itu isyarat agar Putra menerimanya, karena ia sedang memberi minum susu kepada baby Kendra, tangannya tidak mungkin bisa menerimanya.


Putra menerima kertas itu, dan mulai membacanya.


Wajahnya seketika pucat, ia seolah melayang, begitu selesai membacanya.


Putra menatap Aini, ini sungguh di luar dugaan.


Melihat reaksi dari ketiganya, Aini sudah bisa menebak isi dari secarik kertas itu. Ia sudah siapkan mental baja sejak lama, ia sudah bisa menduga dirinya bakal dihadapkan dalam situasi seperti ini, jadi sudah sejak lama juga ia siap untuk menerimanya.


"Kenapa?, jadi hasilnya cocok?, terus kapan kalian akan diresmikan, kasihan baby Khansa, dia juga berhak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya", ucap Aini dengan tenang.

__ADS_1


Aini tidak terlihat kaget, ataupun terkejut, ia tetap tenang, bahkan cenderung elegant.


Semua menatap Aini dengan perasaan tidak percaya, Putra, Bu Hellen, Pak Handoko, bahkan Risma pun, merasa Freeze mendengar ucapan Aini tadi.


"Kok malah pada begong sih...?, ini sudah jelas kan?, hasilnya real?, jadi ya sudah kita jalankan sesuai perjanjian sebelumnya", tegas Aini.


Lagi-lagi ucapan Aini membuat mereka Freeze.


"Sayang..., ini tidak benar, pasti ada kesalahan , aku tidak pernah melakukan semua ini, sudah berapa kali aku jelaskan", Putra tampak frustasi.


"Ini real, mana mungkin Dokter salah, sudah..., aku tidak apa-apa, kamu jalankan saja janji kamu, itu yang terpenting", senyum Aini.


Senyuman itu jelas menusuk sanubari Putra. Ia tidak menyangka istrinya bisa tahan dalam situasi ini, dia tidak sedikit pun terlihat sedih dan terpukul dengan hasil test tersebut.


"Maafkan anak Mamih Aini, dia sudah berbuat salah, dia sudah gelap mata", Bu Hellen pun melonggarkan pelukannya, dan ia beralih kepada Baby Kendra. Beliau menggendongnya.


"Kamu cucu pertama Nenek, kamu tetap yang akan menjadi pewaris keluarga", Bu Hellen mendekap dan menciumi baby Kendra.


"Mih...., ini tidak benar", lirih Putra.

__ADS_1


"Sudah..., kamu anak Papih, kamu harus bertanggung jawab, apalagi nanti baby Khansa akan memerlukan seorang wali sampai dewasa, kamu harus secepatnya menikahi Risma", tegas Pak Handoko.


"Tapi Pih...",


"Sudah, tidak ada alasan lagi, nanti biarkan Papih yang urus-urus semuanya, kamu tenang saja", tegas Pak Handoko lagi


Risma tampak merasa di atas angin, namun ia kecewa dengan sikap Aini, sepertinya dia baik-baik saja.


"Pih..., Mih..., setelah semua ini selesai, Aini minta ijin untuk tinggal di rumah Bapak dan Ibu", tunduk Aini.


"Jangan sayang..., apa pun yang terjadi, tidak akan merubah posisi kamu dan baby Kendra di sini", jelaskan Bu Hellen.


"Tidak Mih..., semua ini tidak akan berjalan semestinya jika kami masih tinggal bersama", keukeuh Aini.


Pak Handoko dan Bu Hellen saling pandang, ucapan Aini ada benarnya. Jika Aini dan Risma tinggal berdekatan, mereka akan terlibat pertengkaran.


"Mamih terserang kamu saja, yang terpenting kamu senang, Mamih juga bisa merasakan jika ada diposisi kamu sekarang, nanti biar kami yang mengantar kamu, biar sekalian meminta maaf sama keluargamu di sana", Bu Hellen menatap Aini.


"Terima kasih Mih", senyum Aini. Lagi-lagi Aini bersikap tenang. Tidak ada raut kesedihan sedikit pun dari wajah Aini.

__ADS_1


'Sial..., kamu kok sepertinya baik-baik saja, ini bukan keinginanku', pikir Risma.


Tapi ia tetap membuat Aini merasa tersisih, apalagi setelah ia sah menjadi istri mudanya Putra.


__ADS_2