
Aditya datang sendiri, perasaan Aini tidak pernah mengundangnya, 'mungkin Kak Putra yang mengundangnya', pikir Aini.
Aditya menyalami Putra dan Aini. "Selamat ya cantik, semoga bahagia" , ucap Aditya begitu berada di hadapan Aini. Ia melirik Putra dengan menyeringai.
"Degh", jantung Aini berdebar, ia takut Putra merasa tersinggung. Namun di luar dugaan, Putra tersenyum, "Terima kasih Dit, semoga cepat menyusul", ucap Putra sembari me jabat erat tangan Aditya.
"Alhamdulillah", gumam Aini. Ia merasa lega tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Putra bersikap biasa walau tahu Aditya yang telah menculik Aini waktu itu.
Acara semakin meriah dengan penampilan kesenian jaipongan, banyak dari para tamu yang menikmatinya, mereka ikut menari .
Terlihat Kakek Ilham pun ikut menari, menang ia menyukai kesenian jaipongan. Aini merasa bahagia seluruh keluarga besarnya ikut larut dalam kebahagiaan.
Namun ada kekhawatiran dalam hatinya dengan hadirnya Aditya di sana. Sedari tadi Aditya terus memandanginya dari kursi tamu. Walau sesekali ia terlihat ikut menari ke atas panggung, dan menyawer para penarinya.
Apalagi Bu Hellen nampak tidak suka dengan kehadiran Aditya. Sesekali ia melihatnya dengan pandangan penuh tanya dan curiga.
"Senyum dong, jadi hilang cantiknya kok cemberut begitu", bisik Putra, saat diliriknya Aini sedang cemberut.
Aini tersenyum, ia tidak ingin membuat Putra curiga. Ia malah sengaja menggandengkan tangannya di lengan Putra, dan lebih mendekatkan posisi duduknya.
Putra pun tidak mau kalah, sesekali ia mengusap keringat yang ada di kening Aini, dan mengecupnya.
"Iiihh..., malu, dilihat orang", Aini tersipu.
"Biarin saja, kita sudah halal ini, tidak akan ada yang melarang", senyum Putra.
'Sialan..., sengaja manas-manasin, lihat saja bertahan sampai berapa lama kalian' , gerutu Aditya dalam hatinya.
Ia merasa gerah melihat perilaku Putra. Seolah tidak mau kalah, Aditya terlihat naik ke atas panggung, ia ikut menari di sana sambil memegang segepok uang, uang itu ia sawer-sawerkan di atas panggung.
Tidak sedikit dari para tetamu yang ikut mengambil uang yang terjatuh ke bawah.
"Sombong sekali anak itu, siapa dia?", Bu Hellen menghampiri Putra.
"Biarin saja Mah, asal jangan berbuat kericuhan saja, dia itu anaknya orang yang dulu mau membeli tanahnya Kakek Aini", jelas Putra.
"Oh..., arogan sekali, orang seperti itu kok di undang", gerutu Bu Hellen.
Aini dan Putra saling pandang, Aini tidak merasa mengundang Aditya, begitu pun Putra.
"Sudahlah..., nanti Papah ke sana bila berbuat onar, usir saja", ucap Pak Handoko.
Mirna pun melihat tingkah Aditya yang mulai keterlaluan. Ia mendekati kursi Aditya begitu ia turun dari atas panggung.
"Halo Dit, ternyata kamu datang juga, apa kabar", senyum Mirna ia duduk di samping Aditya.
Aditya menatap Mirna, "Lah...kok kamu juga ada di sini?",
__ADS_1
"Ya...iya lah, aku di undang, Papah dan Mamahku juga ada", senyum Mirna.
"Jadi..., kamu sudah benar-benar mengaku kalah?", cibir Aditya.
"Aku mencoba bersikap dewasa saja, ngapain terus ngurusin hidup orang, kita kan sudah punya jalan masing-masing, dan mungkin di sana akan ada jodoh terbaikku, yang melebihi Putra", senyum Mirna.
"Buang-buang waktu dan tenaga saja, kalau harus terus mengejar sesuatu yang sudah digariskan bukan untuk kita, mending menjalani takdir kita sendiri, siapa tahu lebih indah dari yang kita kejar, betul nggak...", senyum Mirna.
Aditya terdiam, ucapan Mirna telak menampar durinya.
"Kamu kesambet apa, kok bicaramu sudah kaya seorang motifator handal saja", senyum Aditya. Baru kali ini dia melihat Mirna bersikap tenang.
Padahal sebelumnya dia begitu ngebet inginmemisahkan Putra dari Aini.
"Ya..., manusia itu kan harus makin baik, harus ada perubahan yang positif tiap kali bertambah usia, biar tidak rugi", senyum Mirna.
"Wuuiihh...., salut deh..., terima kasih suhu", canda Aditya.
"Kapan kamu mau menyusul?",
"Menyusul apa?", Mirna melirik Aditya.
"Ya...kaya mereka tuh, duduk dipelaminan", Aditya menunjuk dengan dagunya ke arah Putra dan Aini.
"Oh...itu...", cicit Mirna.
Aditya diam-diam mencuri pandang ke arah Mirna. Hatinya mulai berdesir saat melihat tawa riang dan senyum manisnya.
Tanda apa itu?, semoga saja terjadi cerita indah diantara Aditya dan Mirna.
"Bagaimana rasanya ya, duduk dipelaminan bersama orang yan kita cintai",terawang Aditya.
Mirna menatap sendu ke arah Putra dan Aini yang nampak bahagia, mereka tak lepas menebarkan senyuman kepada setiap tamu yang datang.
'Hah...., seharusnya aku yang berbahagia di sana bersamamu, tapi takdir berkata lain, kamu bukan untukku', batin Mirna bicara.
"Hai...., kok malah melongo?, sudah tidak sabar ya ingin segera duduk di sana", Aditya menepuk lengan Mirna.
"Iya, nanti juga aku akan seperti mereka, bahagia dengan jodoh yang sudah ditakdirkan untukku", senyum Mirna.
"Aku salut sama kamu Mir, dengan mudah kamu bisa menerima keadaan ini, padahal aku tahu, kamu itu bucin sekali sama Putra",
"Iya mau gimana lagi, haruskah aku berbuat sesuatu dengan jalan yang tidak baik?, ah ....tidak, itu malah akan membuat rendah harga diriku di mata orang-orang, mending fokus saja di jalan yang sudah ditetapkan untukku",
"Aku melihat keluargaku, mereka lebih berharga dari egoku, yakin saya jika berbuat baik dan tidak membuat orang lain susah, maka jalan hidup kita akan dipermudah", jelas Mirna.
"Oke....oke...., sekali lagi aku salut padamu", Aditya memandang sepasang pengantin yang sedang berbahagia, 'bisakah aku membiarkan kalian hidup bahagia?, bisakah aku melupakan rasa sakit hatiku ini, haruskah aku merelakan mu Aini', batin Aditya berkata.
__ADS_1
"Oh iya, kita minta di foto bersama mereka yuk?", ajak Mirna.
"Kita?, aku dan kamu berfoto dengan mereka?"
"Iya..., buat kenang-kenangan saja, ini moment lanngka, apalagi sebentar lagi aku mau pergi ke luar negeri kan", senyum Mirna.
Tanpa mmenunggu persetujuan Aditya, Mirna berjalan lebih dulu menuju pelaminan.
"Boleh ya aku berfoto dengan kalian?", pinta Mirna begitu sampai di depan Aini dan Putra.
"Oh...boleh banget, sini", senyum Aini dengan tersenyum bahagia.
"Sebentar", Mirna menoleh ke arah Aditya yang masih duduk ditempatnya semula.
"Sini", Mirna melambaikan tangannya ke arah Aditya.
"Cepetan ", ajak Mirna.
"Aduh...., sebentar ya", Mirna menuju tempat duduk Aditya dan menarik tangannya untuk ikut ke atas pelaminan.
"Sini", Mirna mengambil posisi di samping Putra, dan Aditya di samping Aini.
"Pak , tolong fotoin kita yah", Pinta Mirna kepada fotografer yang ada di sana.
"Pake ponsel ini saja", Mirna memberikan ponselnya kepada fotografer itu.
Sang fotografer menuntun gaya untuk mereka, lalu memberi aba-aba, dan mengambil foto mereka beberapa kali.
"Satu lagi Pak", Mirna mengubah posisinya, sekarang ia berdiri di samping Aini, dan Aditya di samping Putra.
"Sudah Pak", aba-aba Mirna.
Sekali lagi sang fotografer mengambil foto mereka.
"Sudah, terima ya Pak", ucap Mirna kepada fotografer yang telah membantunya.
"Terima kasih ya , semoga kalian bahagia", senyum Mirna.
"Iya, sama-sama", senyum Aini.
Mirna kembali ke tempat duduknya mengikuti Aditya yang sudah lebih lebih dulu ke sana.
"Ih...ngapain sih pake minta di foto segala", gerutu Aditya.
"Buat kenang- kenangan dong, dia itu pria idaman aku yang tidak bisa dimiliki", senyum Mirna.
"Hah..., hal menyedihkan buat kenang-kenangan", cibir Aditya.
__ADS_1
"Ya..., buat penyemangat saja, biar aku bisa mendapatkan pria lain yang lebih baik dari dia", senyum Mirna.