Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Rezekinya Aini


__ADS_3

Lucunya, pria penguntit Putra dan Aini juga ada yang mengikuti. Kalau dilihat dari atas, Putra dan Aini diikuti oleh seorang pria muda, dan pria muda itu juga diikuti oleh dua orang pria berbadan tegap dan berkaos hitam. Salah seorang dari Dua pria terakhir nampak sedang berbicara lewat ponsel


"Baik, Pak Bos, ini juga sedang diawasi, dia ada dalam pantauan kami, siap!, nanti akan selalu kami laporkan", Pria berkaos hitam itu menutup ponselnya. Mereka kembali fokus mengawasi pria penguntit Putra dan Aini.


Pria itu berpura-pura memilih barang yang ada di toko tempat Putra dan Aini berada.


"Sudah nih, Mamah dapat ini", Bu Hellen menghampiri Putra dan Aini sambil menenteng tas dan sepatu .


"Wow...., jadi ini yang belanja itu siapa, Mamah ?", senyum Putra.


"Ya nggak apa-apa, sekalian kan, mengantar Aini belanja, Mamah pun bisa belanja", senyum Bu Hellen


"Aini sudah dapat?, mana tas dan sepatunya?", Bu Hellen melihat belanjaan Aini.


"Ah... ini..., ini Kak Putra yang pilihkan Mah", Aini menunjuk belanjaannya.


"Oh... Ya bagus, memang nanti juga suami yang harus membelikan barang-barang untuk istrinya", senyum Bu Hellen.


"Tapi itu kebanyakan Mah, mahal-mahal lagi, sayang uangnya",


"Nggak apa-apa, anggap ini nafkah pertama dari Putra, nanti setelah menikah , belum tentu bisa membelikan barang-barang seperti ini, nanti keburu hadir anak-anak kalian", senyum Bu Hellen.


"Mah, kita cari stand yang khusus menjual baju muslimah, biar enak belanjanya", usul Putra .


"Oh..., ada di sebelah sana yang dekat supermarket, Mamah pernah melihat di sana, Putra, ambil troly buat ini", suruh Bu Hellen.


Dengan segera Putra membawa troly untuk membawa barang-barang belanjaannya, mereka lalu menuju stand toko muslimah.


Benar saja di toko, itu dijual berbagai pakaian muslim dan perlengkapannya.


Aini jadi lebih nyaman belanja di sana, semua pelayannya berpakaian muslim dan barangnya komplit.


"Mamah tunggu di sana, capek, kalian saja berdua yang pilih barangnya", Bu Hellen menuju tempat duduk di pojokan toko, ia asik memainkan ponselnya.


"Buat apa itu", tanya Putra saat Aini memilih beberapa manset.


"Ini untuk dipakai di pergelangan tangan, biar saat melakukan aktifitas, tetap tertutup", jelas Aini.


Nanti kalau sudah menikah, di rumah nggak usah pakai baju tertutup seperti ini ya?", senyum Putra.


"Ya, asal di jamin di rumah hanya ada kita berdua, kalau ada orang lain, ya tetap aku akan berpenampilan seperti ini",

__ADS_1


"Kalau begitu, kita harus tinggal berdua", lirik Putra.


"Ya, iya..., memang begitu seharusnya", senyum Aini.


"Yang ini bagus, coba lihat!", Putra mengambil satu pakaian muslimah berwarna lavender lengkap dengan hijabnya.


"Aku suka gaun ini, cocok juga sepertinya", Putra kembali mengambilkan Aini pakaian muslim.


"Iya..., semuanya juga bagus, bikin lapar mata ini mah, ingin ini, ingin itu", senyum Aini.


"Aku kan sudah bilang, kamu tinggal pilih saja, ada yang suka, langsung ambil",


"Sudah cukup ah..., ini juga kebanyakan", senyum Aini.


"Sudah dapat semua?", Bu Hellen kembali menghampiri Aini. "Sudah Mah, ini kebanyakan, sudah cukup",


"Kalau begitu, kita ke toko Perhiasan saja ", ajak Bu Hellen. Ia berjalan menuju toko perhiasan emas, diikuti Aini dan Putra.


Troly belanjaannya sudah mulai penuh.


"Nah itu..., kita kesana saja, pilihkan dua cincin buat cincin pernikahan kalian , buat Mas Kawinnya juga sekalian", pinta Bu Hellen.


Putra langsung memesan dua buah cincin untuknya dan untuk Aini .


Aini juga bebas memilih modelnya sendiri, mulai dari kalung , gelang, dan anting. Aini kembali di buat bingung.


Kembali Putra yang memilihkannya. Putra memilihkan satu set perhiaasan dengan harga yang fantastis kalau menurut Aini.


Entah sudah berapa rupiah yang sudah dihabiskan Bu Hellen untuk membeli semuanya itu. Aini sampai merasa tidak enak hati, karena sudah menghabiskan banyak uangnya Bu Hellen.


"Kita istirahat dulu, sambil makan ya?", ajak Bu Hellen . Mereka menuju food court, di sana juga Aini kembali di buat berdecak, ada berbagai makanan dan minuman yang di jual di sana.


Namanya juga di Mall, makanan saja harganya sama , mahal. Segelas teh manis dingin saja harganya lima ribu rupiah.


"Ayo kalian mau makan apa?", Bu Hellen memandang Putra dan Aini.


"Makanan sunda saja, saya belum terbiasa dengan makanan-makanan seperti ini", rengkuh Aini


"Ya sudah, kita ke sana saja Mah, itu ada rumah makan khas sunda", Putra menunjuk ke sebelah kiri.


"Iya..., Mamah juga sudah kangen, sudah lama tidak makan di sana, ayo kita ke sana!", Bu Hellen kini meraih tangan Aini, ia menuntun Aini hingga ke depan pintu masuk rumah makan khas sunda yang ada di sana.

__ADS_1


"Wah...ngantri begini, pasti makanannya enak", seru Aini.


"Iya, di sini memang selalu penuh, banyak menu khasnya, yang hanya bisa ditemui di sini, jadi banyak di buru oleh pecinta kuliner jadul", senyum Bu Hellen.


Benar saja, ketika masuk, hidung pengunjung langsung dimanja oleh aroma sedap berbagai masakan.


Ada banyak deretan masakan khas di sana, ada tumis kadedemes, tumis picung, karedok, lotek, sayur jantung pisang, sayur lompong.


Bahkan ada aneka lalapan khas sunda , seperti lobak, ketewel (buah nangka yang masih kecil),daun sintrong, pucuk tangkil, daun jonghe, daun mareme, dan banyak lagi, Aini saja yang berasal dari desa, tidak mengenali semuanya.


Belum lagi ada kue khas sundanya juga, ada bandros, kue cucur, nagasari, colenak, surabi dengan aneka toping, katimus, dan banyak lagi.


"Wah..., ini mah makin bingung saja", kekeh Aini.


"Ambil saja yang kamu suka", senyum Putra.


"Kalau mau semuanya gimana?, aku mau coba kue-kue itu", bisik Aini.


"Boleh, ambil saja", senyum Putra.


Dan Aini mulai mengambil satu-satu kue yang ada di sana. Alhasil, ada sepiring besar kue yang Aini bawa.


"Wah...., sepertinya itu enak", seru Putra, ia mengambil satu kue dari piring Aini",


"Iihh..., nggak boleh, ini aku ngambilnya satu-satu", rengek Aini.


"Kalau mau, ambil saja sendiri", Aini menepis tangan Putra yang nyelonong di atas piring kue-kuenya.


Bu Hellen tersenyum melihat tingkah Putra dan Aini, yang seperti anak kecil. 'Memang mereka masih kecil ya', pikir Bu Hellen, ia mengulum senyum.


Putra pun menyentil lembut hidung bangir Aini, sambil berlalu dari hadapan Aini, ia pun segera memilih kue-kue yang ada di sana.


Tingkah Putra itu kembali membuat Aini tersipu. Putra sering refleks melakukan hal-hal yang di luar dugaan seperti tadi.


"Sudah, makan dulu!, setelah ini kita akan pilih-pilih furniture untuk di kamar kalian", pinta Bu Hellen.


"Wah...., masih belanja lagi Mah, Aini jadi makin tidak enak, ini saja sudah banyak", Aini memandang Bu Hellen.


"Sudah, turuti saja Mamah, mumpung lagi baik hati", sambar Putra yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Aini, ia duduk disamping Aini dan mulai menikmati makanannya.


"Ini semua bentuk kasih sayang Mamah dan Papah untuk kalian, Alhamdulillah ada rezekinya, ini rezeki Aini", senyum Bu Hellen.

__ADS_1


__ADS_2