
Putra menyadari kalau ada yang mengikutinya, sekeluarnya dari toko pakaian muslim tadi, tapi dia tidak banyak bicara, takut Aini dan mamahnya takut.
'Siapa orang itu, ngapain dari tadi ngikutin terus' , pikir Putra. Ia menoleh dengan sudut matanya, terlihat pria itu memakai hoodie dan nampak memakai masker.
"Sudah selesai?", Bu Hellen melirik ke arah Aini dan Putra.
"Ada apa?, sepertinya kamu sedang mencari sesuatu", Bu Hellen menanyai Putra.
"Ah..., nggak apa-apa, itu tadi seperti melihat teman kuliah aku Mah", alasan Putra. Ia tidak memberi tahu hal yang sebenarnya.
"Ya, sudah, kita pulang saja, besok ke sini lagi, Mamah sudah cape, kalau perut sudah penuh, bawaannya ngantuk", kekeh Bu Hellen. Ia tertawa sambil menahan menguap.
"Tapi Mah, kita shalat dulu, sebentar lagi Maghrib",Aini melirik Bu Hellen.
"Boleh , ini Mamah juga sudah gerah begini, pingin cuci muka, lihat nih muka Mamah sudah glowing berminyak begini", kekeh Bu Hellen.
"Iya, kaki aku juga sudah pegal nih", keluh Putra.
Mereka menitipkan barang belanjaannya dulu, kemudian beranjak mencari Mushola. Mereka berkeliling mencari Mushola.
"Mah, di mana Musholanya, kan Mamah sudah sering ke sini", Putra melirih Mamahnya.
"Nggak tahu juga sih, kzn Mamah jarang shalat di sini", cicit Bu Hellen.
"Kak, ikuti petunjuk itu saja, tuh Mushola ke arah kanan ", tunjuk Aini.
"Oh...iya, itu ada petunjuknya di atas, kok baru kelihatan ya", kekeh Putra.
"Alhamdulillah, itu Musholanya", Aini menggandeng tangan Bu Hellen menuju tempat wudhu wanita.
"Mamah nggak bawa mukena", tolak Bu Hellen.
"Di sana sudah ada mukena Mah, atau pakai punya Aini saja, Aini masih bisa shalat dengan pakaian ini", senyum Aini.
Bu Hellen menurut , ia mengambil wudhu bersama Aini. Ia shalat memakai mukena Aini, sedangkan Aini shalat dengan pakaian yang dipakenya.
Dalam Do'anya, Aini mengucap rassþsyukurnya telah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Putra dan keluarganya.
"Memangnya bisa ya, shalat tanpa mukena?", tanya Bu Hellen begitu melihat Aini selesai berdo'a.
"Bisa Mah, ini juga sudah sesuai, kain penutup shalat itu hanya boleh memperlihatkan wajah dan dua telapak tangan saja, ini juga kan?", Aini memperlihatkan penampilannya.
"Iya juga", Bu Hellen melihat penampilan Aini. Gamis longgar, kerudung panjang, berkaos kaki, dengan polesan make up tipis, menambah anggun penampilan Aini",
__ADS_1
Putra kembali melihat sekelilinģ, ia mencari keberadaan pria berhoodie tadi. "Kemana dia", gumam Putra.
"Mencari siapa , ada teman kamu lagi?", tanyai Bu Hellen saat melihat Putra mengedarkan pandangannya ke semua arah.
"Nggak ada Bu, tadi seperti ada suara memanggil Putra", alasan Putra.
"Mungkin ada orang yang sama namanya, ini kan di tempat umum",
"Iya..., mungkin begitu Mah, Aini mana?", Putra melihat sekeliling begitu tidak melihat keberadaan Aini di sisi Mamahnya.
"Oh...tadi ada dibelakang Mamah", Bu Hellen menengok.
Putra segera bergerak cepat, mencari keberadaan Aini, ia panggil-panggil nama Aini. Namun Aini tidak ada.
"Ya Allah, Aini...., kemana sih", Putra mulai panik.
"Mah, kenapa tadi tidak dipegang tangan Aini nya", tatap Putra.
"Tadi Aini bareng Mamah kok, tapi entah kemana, kirain Mamah Aini ngikutin dari belakang",
"Kemana itu anak, apa perlu kita lapor ke bagian informasi?", usul Putra.
"Ya, kita laporkan saja ke bagian informasi, makin cepat makin baik, mumpung hari belum gelap. "
Bu Hellen dan Putra hendak meninggalkan Mushola, mereka bermaksud mencari bagian informasi.
"Tunggu!, aku jangan ditinggal, aku masih di sini!",
Kompak Bu Hellen dan Putra menoleh ke sumber suara.
"Tunggu!", Aini setengah berlari menghampiri Putra dan Bu Hellen.
"Alhamdulillah, Aini, kirain kamu...", Putra menggantung ucapannya.
"Maksudnya hilang gitu?, kaya anak kecil saja, kalau ditinggalin juga gampang , aku tinggal cari Pak Polisi saja, terus minta diantarkan ke rumah" , cemberut Aini.
"Alhamdulillah, Mamah sudah panik, perasaan Mamah kamu tadi ada dibelakang , kok tiba-tiba menghilang",
"Maaf Mah, tadi Aini kembali ke toilet, ada yang tertinggal" , senyum Aini.
"Aku sudah panik , hampir saja jantung ini berhenti berdetak", senyum Putra.
"Ah, nggak usah berlebihan begitu, aku minta maaf sudah membuat khawatir",
__ADS_1
"Ya sudah, kita pulang sekarang aja, keburu malam", ajak Bu Hellen.
Putra kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh area sekitar Mushola, tetapi Pria berhoodie itu tidak dilihatnya lagi. Hati Putra sedikit lega. Ia bergegas mengikuti Aini dan Bu Hellen menuju parkiran.
"Sial, sepertinya dia sudah mengetahui keberadaanku di sini, dia pasti curiga, ini akan menyulitkanku untuk mendekati Aini", gerutu pria berhoodie yang bersembunyi di balik munnekin.
Pria berhoodie itu meninggalkan Mall lebih dulu, dia tidak lagi mengikuti Aini .
"Aman Pak Boss, dia sudah pergi, tidak terjadi apa-apa", lapor salah seorang pria yang mengikuti pria berhoodie tadi.
Setelah menutup teleponnya , pria itupun meninggalkan Mall.
"Drt...drt...drt..ponsel Mirna berdering, ia yang sedang berada di balkon bergegas mengambil ponselnya.
"Aditya?, mau apa telepon jam segini", gumam Mirna, ia membawa ponselnya kembali ke balkon.
"Iya, ada apa Dit ?, tumben loe nelepon, pasti ada maunya",
"He...he...he..., tahu aja, kapan loe kelulusan?",
"Ngapain tanya-tanya?",
"Loe pelit amat sih, tinggal bilang saja kapan, lagi pula kalau kelulusan biasanya suka ada acara ke luar kan, Sekolah Loe mau ada acara ke mana?",
"Emh..., Gue lagi males, ada acara emang, tapi kayaknya Gue nggak akan ikut",
"Kenapa, pasti seru lagi, sekalian kita kerjain Aini",
"Hah..., Loe masih terobsesi sama dia?", nggak ah Gue nggak mau ikutan, Gue takut",
"Kok Loe jadi lebay gitu, sudah ngaku kalah nih, sudah menyerah sama Aini, jadi Loe mau merelakkan Putra gitu?",
"Sudah ah,omongan Loe makin ngelantur saja, Gue nggak mau ngerusak masa depan Gue dengan berbuat sesuatu yang melanggar hukum, Gue nggak mau cita-cita Gue hancur gara-gara hal sepele",
"Sudah....sudah..., bikin tambah pusing kepala Gue saja dengerin ceramah Loe" ,
"Toot....toot....tooot....", terdengar suara sambungan telepon di putus.
"Idih ...., dasar orang aneh", cibir Mirna.
"Aditya lagi merencanakan apa buat Aini", gumam Mirna.
"Kalau terjadi hal buruk kepada Aini, itu bisa dipastikan ulahnya Aditya, terus aku mesti apa?, ah biarin saja, kenapa mesti pusing-pusing mikirin dia, kalau dia celaka kan aku yang diuntungkan, kesempatan buat deketin kembali Putra terbuka lebar", gumam Mirna.
__ADS_1
"Atau aku kasih tahu Putra saja, biar sekalian cari simpati dari dia", senyum Mirna.
Mirna mencoba menghubungi Putra, namun setelah berkali-kali di hubungi, tetap tidak ada respon, jelas saja, Putra kan lagi mengendarai mobil dalam perjalanan pulang dari Mall, menuju rumahnya.