
Pagi-pagi Kakek Ilham sudah berkunjung ke rumah Arman. "Kek , sini kita sarapan bareng?", ajak Bu Hana . Kebetulan mereka sedang sarapan.
"Sudah, Kakek sudah sarapan, mana Aini, kok tidak ikut sarapan?", Kakek Ilham menanyakan Aini.
"Aini sudah makan tadi subuh Kek, katanya hari ini mau puasa", senyum Bu Hana.
"Alhamdulillah , memang Aini itu anak yang sholeh, tidak heran kalau diberikan jodoh seperti Nak Putra", senyum Kakek Ilham.
"Man coba lihat di kebun yang hulu, sepertinya ada banyak pisang yang sudah tua, kamu ambil saja semuanya, terus adik-adikmu juga beri tahu, ini hajatan pertama cucu Kakek, mereka semua harus tahu", perintah Kek Ilham.
"Iya Kek", Arman mengangguk.
"Hana, bantu Nenek juga, katanya mau memanen jahe , kunyit, kencur ,dan sereh yang ada di sawah, pokoknya apa pun yang bisa di panen, petik saja, walau tidak bisa dihidangkan di acara pernikahan nanti, setidaknya bisa dimakan oleh orang-orang yang membantu nanti", jelas Kek Ilham.
"Baik Kek", serentak Hana dan Arman.
Mulai hari itu mereka mulai bersiap untuk acara pernikahan Aini.
Dengan cepat kabar pernikahan Aini pun tersebar, banyak para tetangga yang merasa senang, namun tidak sedikit pula yang merasa iri dengan keberuntungan Aini, bisa mendapatkan jodoh dari Kota, orang kaya lagi.
Teman-teman sebaya Aini yang tidak melanjutkan sekolah, mereka juga dinikahkan muda orang tuanya.
Uniknya, jodohnya itu dekat-dekat, masih satu Kampung, hanya berbeda Rt saja, bahkan ada juga yang menikah dengan tetangga, hanya berjarak tiga rumah saja.
Makanya tidak aneh kalau saat lebaran Idul Fitri tiba, tidak ada istilah mudik. Karena orang tua dan mertuanya juga masih satu Kampung, cukup berjalan kaki saja jika hendak berkunjung.
Masuk akal juga sih, mereka jarang bepergian ke mana-mana, jadi hanya sering bertemu dengan tetangganya saja.
__ADS_1
Letak Desa mereka yang jauh dari pusat Kota, menyebabkan jarangnya orang luar berkunjung ke Desanya, sehingga para remaja di Desa Mandalajati jarang bertemu dengan orang Kota.
Lain halnya dengan Aini, ia masih bisa bersekolah sampai SMA, jadi wawasannya lebih luas, temanya pun lebih banyak yang berasal dari Kota, karena hanya Aini saja yang disekolahkan ke Kota oleh kedua orang tuanya.
Padahal di rumah, Aini jarang sekali bergaul dengan temannya, ia lebih suka berkutat dengan membantu ibu dan neneknya di rumah.
Ini tidak lepas dari rencana pembangunan Sekolah Calon Perwira yang akan didirikan di atas tanah Kakek Ilham.
Dari peristiwa itulah awal mula Aini bisa bertemu dengan Putra.
Dan qodarullah, kini Aini dan Putra sudah berada di gerbang pernikahan, hanya tinggal menghitung hari saja.
Pernikahan Aini dan Putra akan menjadi pernikahan termewah di kampungnya.
Sudah tersiar kabar kalau pernikahannya pun akan dilaksanakan tiga hari tiga malam.
Adik-adik Arman yang sudah diberi tahu pun mulai berdatangan, mereka ikut membantu mempesiapkan hajatan kakaknya.
Makanan itu seolah wajib ada di setiap acara hajatan orang sunda, sudah biasa kalau mau datang ke undangan hajatan, yang dicari itu ya ...opaknya.
Cara membuatnya juga cukup unik, menggunakan alat-alat yang khas , yang hanya ada di daerah sunda.
Opak biasanyacterbuat dari beras ketan yang dimasak hingga matang, setelah matang, lalu ditumbuk di dalam dulang ( benda seperti ember yang terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya, bentuknya seperti lesung kecil) menggunakan alu (benda seperti tongkat dari kayu, dibuat tumpul salah satu sisinya.
Setelah lama di tumbuh, beras ketan akan menjadi alot, biasa disebut bageunyel, nah nanti bageunyel ini dipilin-pilin dengan plastik, lalu dipotong kecil, dan dibulatkan.
Bulatan kecil ini yang nantinya di tekan dengan alat dari kayu juga, sehingga menjadi pipih, itulah opak.
__ADS_1
Di tata dalam jodang(ayakan besar) yang sudah dilumuri minyak goreng, lalu dijemur sampai kering, dan baru di goreng atau di bakar.
Bukan hanya opak, kue khas yang selalu ada di acara hajatan yaitu rengginang, ulen, kue cucur, dan bugis.
Seperti sore itu, satu per satu anak dan menantu Kakek Ilham mulai berdatangan, mereka ikut senang dengan rencana pernikahan Aini.
Ini adalah hajatan pernikahan pertama di keluarga Kakek Ilham. Tidak heran jika dipersiapkan dengan mewah, apalagi calon suaminya Aini pun berasal dari keluarga berada.
Rencananya acara pernikahan Aini akan di gelar di rumah Kakek Ilham yang memiliki halaman luas. Rumah Kek Ilham pun mulai dibenahi,di cat, barang-barang besar sudah mulai dibereskan dan dipindahkan ke rumah Arman.
Semua tetangga ikut membantu, beragam kue kering pun sudah di buat untuk para tamu undangan yang datang. Kebiasaan di daerah Kampung itu suka mengghadiri acara hajatan lebih awal, mereka bahkan sudah ada yang berkunjung seminggu sebelum hari H.
Mereka biasa memberi dalam bentuk uang atau pun barang. Ada yang memberi beras, ditumpangi opak, atau mskanan lainnya. Dan biasanya yang punya acara hajatan akan menyiapkan bingkisan untuk para tamu tersebut.
Awalnya bingkisan itu dalam bentuk makanan matang, idangan namanya. Isinya nasi, lauknya daging ayam, tahu dan tempe goreng, tumis kentang, capcay, ikan mas dan kerupuk. Semua makanan itu dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang disebut besek (terbuat dari bambu yang diraut tipis dan di anyam menyerupai mangkok.
Sekarang kebiasaan itu sudah jarang dilakukan, idangan besek sudah diganti dengan idangan dari bahan mentah.
Isinya beragam, disesuaikan dengan kemampuan si yang punya hajat, semakin bagus dan semakin mahal isinya, itu mencerminkan taraf hidup yang punya hajatan.
Nasi di ganti dengan mie rebus atau mie goreng, lauk lauknya diganti dengan sarden atau telur , ditambah minuman botol, kue, dan ciki-ciki.
Entah siapa yang memulai, tapi idangan mentah pun kini sudah banyak di ganti dengan kue.
Hajatan kini diigunakan sebagai tolak ukur keadaan ekonomi , jika hajatannya mewah , idangannya bagus, apalagi kalau dalam hajatan itu ada hiburannya, maka sudah dapat dipastikan kalau si yang punya hajat orang kaya.
Itulah standar sosial yang manual.
__ADS_1
Kabar pernikahan Aini dan Putra pun ternyata sudah sampai ke telinga Aditya. Hatinya panas, ia masih saja keukeuh merasa sakit hati, 'Oke, lihat saja walau sudah berhasil menikah pun, aku tidak akan membiarkan kehidupan pernikahan kalian bahagia', geram Aditya.
Ia kembali memikirkan cara untuk mengusik kehidupan pernikahan Aini dan Aditya nanti, ia tidak akan tinggal diam, ia tidak rela melihat Aini dan Putra bahagia.