Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 10


__ADS_3

Juni menangis tersedu mendengar seluruh cerita yang tidak diungkapkan oleh kedua orang tuanya itu.


Pantas saja Nawang tidak menemuinya, ternyata kedua orang tuanya melarang Nawang untuk datang.


Karena alasan yang diberikan oleh orang tuanya, Juni mengetahui bahwa Sagara tengah sibuk mempersiapkan pernikahan. Sehingga jika Nawang muncul sendiri tanpa kehadiran Sagara, sudah pasti Juni akan merasa curiga. Begitulah, kenapa orangtuanya melarang Nawang datang untuk menjenguk Juni.


"Lalu... Bagaimana dengan Nawang, ma?!" Tanya Juni.


"Dia syock berat!" Sahut mamanya "Setelah dia tahu kamu juga sedang dirawat, dia menangis terus. Dia sempat datang jenguk kamu pas kamu tidak sadar!"


Mendengar penuturan mamanya, Juni merasa semakin sedih. Ia tidak tahu hal ini telah menimpa saudara kembar dan sahabatnya.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hati kedua orangtuanya, jika saat itu Juni tidak bisa diselamatkan.


Sagara koma dan dia dalam keadaan seperti itu!! Pasti kedua orang tuanya tidak sanggup bertahan.


Juni kembali merasakan ledakan syukur di dalam dirinya. Ia tak henti-hentinya berterimakasih pada Yang Maha Kuasa! Mungkin inilah alasan kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya hari itu.


Juni benar-benar merasa bodoh karena sempat meremehkan hidupnya hanya karena Eric membuangnya.


Sementara itu, disaat Juni mulai mensyukuri kehidupannya ini. Eric yang telah mengkhianati Juni juga merasa bersyukur.


Bertahun-tahun sudah, ia menjalin kasih dengan Juni hingga akhirnya menikah. Ia tidak sadar bahwa debaran di hatinya untuk Juni telah menghilang. Ia hanya terbiasa dengan kehadiran Juni, dan menganggap semua itu sebagai cinta. Hingga ia lupa bagaimana cinta yang sesungguhnya.


Sejak pertama kali bertemu dengan Dina, Eric telah merasakan sebuah getaran aneh. Wajah Dina yang mempesona, senyumnya yang manis dengan lesung pipi yang cantik. Sungguh membuat Eric tertarik.


Sesuatu yang segar yang jauh berbeda dari istrinya. Eric merasa penasaran untuk pertama kalinya lagi dengan lawan jenis.


Seperti saat ia bertemu Juni bertahun-tahun silam, Eric merasa tubuhnya seolah disengat aliran listrik saat berdekatan dengan Dina.


Entah siapa yang memulai duluan diantara mereka, Eric dan Dina pun terlibat ke dalam sebuah hubungan terlarang.


Saat Eric melakukannya pertama kali dengan Dina, ia masih ingat dengan jelas sensasi menyenangkan itu. Seolah pertama kalinya ia menyentuh wanita, perasan puas itu datang menerpanya. Namun setelah permainan berakhir, ia jatuh ke dalam rasa bersalah yang besar.


Saat itu dengan hati yang besar, Dina menyebut bahwa itu adalah kesalahan.


"A-anggap saja ini sebuah kesalahan!" Ujar Dina sembari meraih pakaiannya yang berserakan.

__ADS_1


Eric yang masih linglung, dengan tergopoh merapikan pakaiannya. Ia tidak sadar telah melakukan hal seperti itu di dalam ruang kerjanya. Ia merutuki kebodohannya hari itu.


"Maaf aku.. aku benar-benar minta maaf!" Ujar Dina. Ia kemudian pergi dan tidak memberi kabar selama berhari-hari lamanya. Bahkan melewati jadwal pemeriksaannya waktu itu.


Eric tahu Dina tidak pernah berniat jahat dan merusak hubungan diantara dirinya dan Juni.


Eric juga saat itu merasa ragu. Ia juga memiliki keluarga kecil yang harus ia lindungi. Apalagi buah hatinya yang cantik baru saja lahir ke bumi. Namun semakin lama, kerinduan muncul di hati Eric.


Dina yang biasanya menghiasai hari-hari Eric dengan pesan singkatnya, juga menghubungi Eric setiap kali ia senggang sangat ia rindukan. Apalagi kejadian hari itu terus menghantuinya saat ia berada di ruang kerjanya.


Eric tidak tahan dan menghubungi Dina duluan. Seolah Dina juga merasakan hal yang sama, segera setelah Eric menghubunginya, Dina datang menemui Eric dan melakukan kesalahan kedua.


Setelah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, Eric menyadari bahwa tidak ada kesempatan untuk kembali. Ia sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada Dina.


Dina tidak serta merta mengakuinya, bahkan Dina sering mendorong Eric pergi menjauh darinya. Mengingat Juni baru saja melahirkan.


Namun cinta diantara mereka sangatlah kuat, sehingga meski berkali-kali mencoba untuk saling melepaskan. Mereka akhirnya kembali bersama.


Eric menyadari bahwa dia telah salah menghianati istrinya, namun cinta diantara mereka tidaklah salah. Tidak ada cinta yang salah!!


Eric berniat untuk memulai kehidupan baru dengan Dina segera setelah bercerai dengan Juni. Eric berencana melayangkan gugatan cerai segera.


****


"130422"


Sebuah pesan singkat yang hanya bertuliskan angka, tanpa keterangan apapun di dalamnya. Dikirim oleh nomor yang sama yang dihubungi olehnya saat ingin menemui Cleve Eddison.


Nawang mengernyit tidak memahami maksudnya. Ia ingin bertanya, namun kenyataan yang menghantamnya kemarin lusa masih membuatnya syock luar biasa.


Susah payah ia mengembalikan semangat di dalam dirinya untuk menghadiri launching produk baru, ia tidak ingin mengacaukan hatinya hari ini.


"Sukses semua mbak!!" Seru Rani senang. Ia memeluk erat tubuh ramping Nawang dengan ceria.


Melebihi dari apa yang diperkirakan, launching produk baru kali ini sukses besar. Bertepatan dengan peluncuran produk baru di beberapa outlet, flash sale 'the last' yang diselenggarakan di beberapa e-commerce juga sukses besar. Rani yakin bahwa Sunshine akan mempertahankan mereka.


"Sunshine tidak akan berkutik sekarang!!" Seru Rani senang.

__ADS_1


Namun bertentangan dengan Rani yang merasakan kegembiraan, Nawang tidak bisa merasakannya sama sekali.


Berusaha melupakan sebuah masalah tidak membuat masalah itu menjadi hilang. Masalah itu tetap ada selama tidak diselesaikan. Dan itulah yang terjadi pada Nawang saat ini.


Mengesampingkan fakta dari hubungan Sagara dan Lalita tidak menjadikan hal itu tidak ada!! Nawang memahaminya dengan benar, tapi entah kenapa ia takut untuk mengakuinya.


Semakin dipikirkan, semakin membuat Nawang pusing. Nawang kembali tercenung setiap kali hal ini menghinggapi benaknya.


Melihat Nawang terdiam, Rani tidak bisa hanya memperhatikan saja. Sudah sejak lama ia menahan diri namun sekarang ini sudah sangat keterlaluan.


Memang benar mereka adalah atasan dan bawahan, tapi Rani sudah menganggap Nawang sebagai sahabat.


Apapun masalah yang dihadapi olehnya, Rani selalu menceritakannya pada Nawang. Ia berharap Nawang juga melakukan hal yang sama, tapi setelah ditunggu sekian lama Nawang masih tetap tidak bergeming jua.


"Mbak..." Panggil Rani.


"Hmn?!" Nawang yang awalnya termenung, beralih menatap Rani. "Ada apa Ran?!"


"Mbak, kalau ada masalah cerita aja. Jangan dipendam sendiri!" Ujar Rani. "Apa mbak nggak percaya sama aku?!"


Nawang mengernyit kaget, "Bukan begitu..." Sahut Nawang."Mbak cuma agak capek aja!" Imbuh Nawang memberi alasan.


Bukannya tidak percaya, Nawang memang bukan tipe orang yang suka mengumbar masalahnya pada orang lain. Ia lebih suka mendengarkan ketimbang di dengarkan.


"Mbak bohong!" Sembur Rani. "Aku tahu, ini pasti ada hubungannya sama Presdir Sagara kan?!"


Nawang terhenyak. Ia kaget karena tebakan Rani benar. Meskipun tidak seluruhnya benar.


"Apa ada masalah?!" Tanya Rani lagi.


"Mbak cuma khawatir dengan kondisinya!" Sahut Nawang sekenanya. Ia tidak ingin mengungkapkan mengenai Sagara dan Lalita pada siapapun.


Untuk saat ini bahkan pada kedua orang tua Sagara, Nawang tidak menyebutkan kebenaran tentang kehadiran Lalita di mobil Sagara.


Ia akan menyimpannya sampai ia mengetahui kebenarannya!!


"Mbak jangan khawatir, Presdir orang yang baik! Pasti Presdir akan segera siuman!" Hibur Rani.

__ADS_1


Nawang mengangguk pelan, ia menyunggingkan senyum tipis untuk merespon kata-kata penghibur dari Rani.


****


__ADS_2