Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 46


__ADS_3

Malas pulang ke rumah, Juni menuju ke tempat agen properti yang dikenalnya. Berniat melihat-lihat apartemen yang nyaman untuk ditinggalinya bersama Zoe dan Indah, Juni memeriksa beberapa apartemen yang menarik perhatiannya.


Namun jantungnya seolah terhenti saat melihat sosok yang sangat dikenalnya, tengah masuk ke dalam sebuah apartemen bersama dengan seorang perempuan.


"Abraham?!" gumam Juni. Ia mengucek-ngucek matanya. Berpikir bahwa ia telah salah lihat. Tapi tidak!! Postur tubuh, wajah dan bahkan penampilannya.


Tidak salah lagi! Itu Abraham!


Masih berusaha untuk berpikiran positif, Juni mengasumsikan bahwa mungkin saja, wanita itu adalah saudara sepupu atau kenalan dari Abraham.


Namun bukankah saudara sepupu dan keluarga Abraham tinggal di luar kota?!


'Ah tidak... mungkin dia baru saja pindah!' batin Juni kembali berpikiran positif.


"Bagaimana menurut anda?!" tanya seorang wanita, agen properti. "Unit 101 dan 105?! Apakah ada yang menarik minat anda?!"


Alih-alih menjawab, Juni malah balik bertanya.


"Apa ada orang yang baru-baru ini pindah kesini?!" tanya Juni.


"Saya rasa.. tidak ada!" jawabnya, "Unit di apartemen ini sejak awal sudah terisi penuh!! Ini pertama kalinya setelah beberapa tahun, ada pemilik yang menyewakan unitnya!"


"Oh..." sahut Juni singkat. "Apa anda mengenal pemilik unit 107 disana?!"


Wanita itu menggeleng, "Maaf, saya tidak mengenalnya!"


Juni merasa semakin cemas. Ia gemetar oleh rasa takut jika Odelia akan mengalami hal yang sama dengannya.


'Tidak! Tidak!' batin Juni menolak.


Ia ingin mengungkapkan apa yang dilihatnya pada Odelia. Namun ia perlu memastikannya terlebih dahulu. Siapa tahu ia hanya salah sangka.


"Saya rasa saya akan menyewa unit 105!" ujar Juni kemudian.


*****


"Apa seorang wanita masih bisa mencintai pria yang menyakitinya?!" celetuk Cleve tiba-tiba di sela-sela sesi makan malamnya dengan sang kakek.


Thomas yang sedang berusaha menelan sayur lodehnya hampir tersedak, mendengar cucunya mengangkat topik tentang 'wanita'.


"Apa yang kau bicarakan?!" tanya Thomas, "Kenapa dengan wanita?! Wanita yang mana?!"

__ADS_1


Cleve menggeleng, "Lupakan saja kek, aku hanya asal bicara!"


Cleve tak bisa melupakan ekspresi Nawang setelah mendapatkan undangan dari Lalita. Bahkan saat Nawang mengerjakan tugas-tugasnya, sepanjang hari gadis itu hanya menunjukkan wajah yang suram.


Ditambah, Nawang tak menjawab dengan jelas pertanyaan Cleve. Terkait apa Nawang masih mencintai Sagara atau tidak.


"Terkadang bisa begitu!" sahut Thomas tanpa di duga, "Karakter tiap perempuan itu berbeda-beda. Tapi jika itu adalah gadis yang baik dan polos, mereka cenderung memaafkan kesalahan pria yang dicintainya!!"


"Tidak peduli sebesar apapun kesalahannya, mereka akan dengan buta menutup mata!" sambung Thomas.


"Tapi.. mereka sudah berpisah!" Tanya Cleve, "Jika dia masih mencintainya, kenapa dia setuju untuk berpisah?!"


'Berpisah?!' Thomas berusaha menebak-nebak. Wanita mana yang dibicarakan cucunya. Apa mungkin mantan istrinya?!


"Mungkin ada kondisi khusus yang mengharuskan perempuan itu berpisah dengan pria yang ia cintai!!" Thomas mengemukakan pendapatnya, "Wanita yang polos dan berhati baik, cenderung mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang lain!"


Cleve tercenung. 'Kondisi khusus?! kebahagiaan orang lain?!'


Sebelumnya, Nawang terus menerus merasa ragu untuk mengakhiri pertunangannya dengan Sagara. Namun itu berubah saat Lalita diketahui hamil. Dengan tegas, gadis itu memutuskan hubungannya dengan Sagara.


'Apa karena Lalita hamil?!' batin Cleve. Saat menyadari hal itu, Cleve merasa hatinya sakit. Seolah ada yang meremasnya dengan kuat, dadanya berdenyut nyeri setiap kali ia bernafas.


Namun berbeda dari apa yang dipikirkan Cleve, Nawang merasa terganggu bukan karena ia masih mencintai Sagara. Tapi karena ia tak ingin bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya disana.


Bagaimana pun di tempat itu, akan ada banyak orang yang dikenalnya. Mulai dari kolega, karyawan 'the last' hingga saudara dan teman-teman Sagara. Hampir semua diketahui oleh Nawang.


Bagaimana bisa ia menghadapi orang-orang itu nanti?!


Jika mengenai perasaan cinta, cinta Nawang pada Sagara telah sirna saat mengetahui pria itu berselingkuh darinya. Yang kini tersisa dari Nawang untuk Sagara, hanyalah sakit hati dan kekecewaan. Tak lebih dan tak kurang.


"Apa kau akan menghadirinya?!" tanya Karina.


"Entahlah, ma!" sahut Nawang ambigu, "Aku bingung..."


Ia merasa akan menjadi tontonan jika datang kesana. Dirinya pasti akan menarik perhatian orang-orang!


Pasti menyenangkan melihat seorang mantan tunangan, memberi selamat pada mantan tunangannya dan selingkuhannya yang menikah.


Sungguh!! Memikirkannya saja sudah membuat Nawang tergidik. Apalagi harus menjalaninya.


Namun, ia juga memikirkan Agung dan Ria yang sudah lama tak ditemuinya.

__ADS_1


Meski hubungannya dengan Sagara tak berakhir baik, tapi hubungannya dengan Agung dan Ria kan tidak!! Bahkan sampai sekarang, Nawang juga masih menganggap kedua orang itu sebagai orangtunya.


"Bagaimana dengan CEO Cleve?! Apa dia juga diundang?!" tanya Karina kemudian.


Nawang mengangguk, "Iya, Lalita yang langsung datang menemuinya!"


"Bagaimana dengannya?! Apa dia akan hadir atau tidak?!"


"Entahlah, dia tidak mengatakannya!" sahut Nawang. Saat itu ketimbang membicarakan tentang kehadirannya, pria itu malah bertanya tentang Nawang yang masih mencintai Sagara atau tidak?!


Sebelumnya Nawang tak memikirkannya. Tapi sekarang, ia mulai merasa itu janggal.


'Kenapa CEO Cleve peduli, aku masih mencintai Sagara atau tidak?!' batin Nawang penasaran.


****


"Sayang, apa kamu tahu, Nawang sekarang menjadi sekretaris suamiku!" ujar Lalita. Ia terlalu emosi hingga lupa bahwa ia dan Cleve tak lagi menjadi sepasang suami istri.


Sagara yang mendengarnya juga tak menyadarinya, saking kagetnya ia mendengar berita bahwa Nawang menjadi sekretaris Cleve.


"Apa?! Nawang menjadi sekretaris Cleve?!" sentak Sagara, "Itu tidak mungkin! Jangan konyol kamu!"


Sagara belum mendengar beritanya dari Nawang.Tempo hari saat ia ingin menemui Nawang untuk meminta penjelasan, Nawang malah menghindarinya. Dan ia belum sempat menemui Nawang setelahnya.


Ia pikir itu hanyalah provokasi kosong Cleve untuk menggertaknya.


"Benar, sayang!" sahut Lalita, "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Dia mengekori suamiku seperti rubah, yang siap menyerahkan tubuhnya kapan saja!"


"Bicara apa kau?!" Sergah Sagara, ia murka saat Nawang dihina seperti itu.


"Apa kau pikir Nawang wanita seperti itu?! Dia bukan wanita murahan seperti yang kau pikirkan!!" bela Sagara, "Bahkan denganku, pria yang dia cintai. Dia tidak pernah membiarkan aku menyentuhnya!! Dia menjaga kesuciannya! Itu prinsipnya!"


"Lalu apa yang menurutmu dia lakukan, di dalam ruangan suamiku?!" teriak Lalita, " Kenapa dia mendekati Cleve saat kita ketahuan selingkuh?! Dia pasti berniat balas dendam padaku dengan menggoda suamiku!!"


"Diam!! Dia bukan lagi suami mu!!!" geram Sagara, "Lagipula untuk apa Nawang menggoda suamimu?! Dia hanya seonggok kayu yang kaku!! Nawang tidak mungkin menggoda pria seperti itu! Mungkin saja Cleve yang berusaha menggoda Nawangku!"


"Cleve?! Menggoda Nawang?!" Lalita terkekeh, "Kau pikir Nawang akan membuat Cleve tertarik?!"


"Jangan bodoh kamu!!" ujar Lalita, "Cleve bukan pria yang seperti itu!! Dia bahkan tak pernah melirikku saat aku menggodanya! Dia tidak mungkin tertarik dengan wanita seperti itu"


"Tidak mungkin..." Lalita menolak intuisinya.

__ADS_1


__ADS_2