
Awalnya, setelah Cleve meminta pada Nawang untuk diobati. Nawang menawarkan diri untuk mengobati jari tangan Cleve. Namun Cleve menolak dan berkata akan melakukannya nanti malam, sebelum pulang.
Tak terbersit sedikitpun di benak Nawang, bahwa pengobatan yang dimaksud oleh Cleve adalah 'pengobatan lainnya'.
Setelah agenda Cleve selesai, biasanya Cleve akan mendengarkan laporan dari Nawang mengenai jadwalnya esok hari.
Tapi saat ia hendak melaporkan jadwal yang akan dijalani Cleve, Cleve tiba-tiba bangkit dari duduknya. Tanpa bicara, pria itu bergegas mengunci pintu ruangannya. Kemudian mematikan seluruh pencahayaan yang ada.
Hanya dengan pantulan temaram sinar rembulan dari balik jendela, Nawang bisa melihat sosok Cleve yang mendekatinya.
Tanpa mengatakan apapun, Cleve langsung mendekapnya dengan erat.
Nawang kaget bukan kepalang. Ia membatu sesaat, sampai tersadar akibat rasa geli di lehernya.
Hembusan nafas Cleve yang menerpa lehernya, membuat Nawang tergidik oleh perasaan aneh. Seolah disengat oleh sesuatu, Nawang meringis menahan perasaan yang mengalir di dadanya dengan cepat.
Wajahnya seketika memanas. Ia merasa seluruh tubuhnya terbakar saat Cleve mempererat dekapannya.
"Tuan, apa yang anda lakukan?!" tanya Nawang. Ia bahkan tidak sanggup meronta, takut Cleve akan mengamuk seperti kemarin.
Ia yakin Cleve memiliki alasan tersendiri untuk setiap tindakannya. Namun alasan apa yang mendasari tindakannya kali ini?! Nawang benar-benar bingung.
"Tuan..?!" lirih Nawang, menunggu jawaban dari Cleve.
Namun Cleve tak kunjung menjawabnya. Cleve hanya diam sembari memeluk Nawang di dalam kegelapan.
Cleve mencoba untuk menguji dirinya. Benarkah ia menyukai Nawang?! Ataukah itu hanya perkiraannya semata?! Cleve ingin tahu kenapa ia senang saat memeluk Nawang tapi merasa jijik dengan sentuhan Nawang. Cleve ingin memastikan hatinya.
Seharian Cleve bingung, apa yang harus dia lakukan untuk memastikan perasaannya itu. Ia kemudian memutuskan untuk memeluk Nawang lagi. Ia ingin merasakan perasaannya saat itu ketika memeluk Nawang.
Namun memeluk Nawang langsung pasti akan membuat Cleve merasa canggung. Sehingga ia memilih untuk mematikan lampu agar Nawang tak memperhatikan ekspresinya.
Saat ia mendekap Nawang, jantungnya berdebar dengan kuat. Aroma manis yang muncul dari tubuh Nawang, membuat Cleve merasa kehausan. Meski ia terus menghirupnya lebih dalam dan dalam, dahaganya tak pernah terpuaskan. Ia selalu menginginkannya lebih dan lebih lagi.
Seolah waktu melambat, setiap gerakan yang dilakukan oleh Nawang merangsang nalurinya. Ia merasa seluruh tubuhnya panas seperti terbakar. Dan sesuatu bergejolak di bawah perutnya. Cleve tak mengetahui apa yang terjadi, namun bagian di bawah pusarnya tiba-tiba mengeras. Membuat Cleve tersentak oleh dorongan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Seraya menahan sesuatu yang bergelora di dalam tubuhnya, Cleve pun berkata "Kamu bilang kamu akan mengobatiku?!Ayo lakukan!!"
Nawang terkesiap, "Apa maksud anda tuan?! Apa yang anda ingin saya lakukan?!"
Berusaha mengendalikan akal sehatnya, Cleve mengucapkan apa yang ada di pikirannya, "Aku suka menyentuhmu, tapi kenapa aku tidak suka saat disentuh olehmu?! Aku bingung!"
Mendengar ucapan Cleve, Nawang linglung. Alih-alih mengerti, Nawang makin tidak memahami situasi.
__ADS_1
"Coba kau sentuh aku!!" titah Cleve kemudian.
'Sentuh?! Apa yang harus aku sentuh?!' batin Nawang bertanya-tanya.
Ia berpikir keras, berusaha memahami titah yang diberikan oleh Cleve untuknya. Ia kemudian sampai pada kesimpulan bahwa pengobatan yang mungkin dimaksud oleh Cleve, adalah pengobatan mentalnya. Mungkin Cleve ingin menghilangkan traumanya dengan bantuan Nawang.
Nawang ingat Cleve pernah berkata, bahwa ia adalah wanita yang membuat Cleve nyaman. Mungkin karena itu, Cleve meminta Nawang untuk mengobatinya.
"Saya mengerti tuan..." ujar Nawang kemudian. "Tolong pejamkan mata anda!"
"Ya?!" Cleve kaget.
"Pejamkan mata anda!" pinta Nawang lagi. Nawang akan malu jika Cleve memperhatikan nya. Sekarang saja, Nawang tidak yakin semerah apa wajahnya itu.
"Apa yang mau kau lakukan?!" tanya Cleve bingung.
"Pejamkan saja, tuan!" Pinta Nawang lagi, "Percayalah pada saya!! Bukankah anda yang meminta untuk diobati?!"
Perlahan Cleve memejamkan matanya. Memasrahkan dirinya pada Nawang. Jantungnya seketika berdegup kencang. Cleve gemetar memikirkan apa yang dilakukan oleh Nawang padanya.
"Tenanglah tuan ..." bisik Nawang, "Ingatlah bahwa saya menyentuh anda untuk mengobati anda, bukan untuk menyakiti anda!"
Saat Cleve merasa lebih santai, Nawang kemudian menyentuh Cleve dengan lembut.
Cleve tersentak sesaat, ketika tangan Nawang menyentuhnya. Saat kulit mereka bergesekan, sensasi asing menyengatnya. Setiap jengkal yang disentuh oleh Nawang terasa panas seperti terbakar. Namun daripada terasa menjijikkan, sentuhan itu membuat Cleve merasa senang.
****
Tangan Raka gemetar saat memeriksa laporan yang ia terima mengenai kondisi Odelia. Meskipun masih bisa menjalani terapi untuk meningkatkan kualitas hidupnya, namun terapi juga memiliki efek samping yang bisa menghilangkan nyawa Odelia kapan saja.
Terutama, Odelia memiliki kondisi tubuh yang sangat lemah. Terapi yang akan dilakukannya mungkin akan membuat Odelia menjadi semakin lemah dan rentan akan infeksi. Yang bisa menyebabkan kematian.
Meski Odelia memilih untuk tidak menjalani perawatan, namun Raka sangat berharap Odelia bisa survive dan berjuang untuk hidupnya. Walaupun kesembuhan bukanlah hasilnya, namun bertahan lebih lama dan melihat orang-orang yang dicintai, bukankah sangat berharga?!
"Kenapa kau gemetar?!" tanya Abraham yang telah menunggu kata-kata dari Raka.
Seraya menghela nafas panjang, Raka mengungkapkan fakta-fakta yang ia dapat. Ia merasa menyesal setiap kali melihat rasa sakit di mata sahabatnya itu.
"Jadi... ada dua kemungkinan jika dia melakukan terapi?!" tanya Abraham.
"Iya!" sahut Raka. Kemungkinan yang pertama dapat membuat Odelia merasa lebih baik dan kemungkinan kedua, adalah sebaliknya.
Mendengar jawaban Raka, Abraham hanya diam. Menatap kosong pada sahabatnya itu dengan mata yang redup.
__ADS_1
Sementara itu, Odelia yang seolah tahu akan takdir yang telah menantinya. Hanya mengungkapkan harapan-harapannya di masa depan, jika ia pergi nanti.
Ia mengatakannya di depan Juni yang sedang mengunjunginya.
"Apa Brandon rewel?!" tanya Odelia dengan suara serak.
"Tidak.. dia anteng, bermain dengan Zoe!" sahut Juni seraya menahan air matanya yang siap menetes kapan saja.
"Terimakasih, kamu sudah mau menjaganya!!" ungkap Odelia kemudian.
Sejak Odelia dinyatakan menderita kanker, Brandon dititipkan pada Juni. Itu adalah pilihan yang dilakukan oleh Abraham, karena Bik Karti tak bisa melakukannya.
Bik Karti fokus menjaga Odelia di rumah sakit. Bersama dengan Abraham, mereka bergantian menjaga dan merawat Odelia.
"Itu tidak masalah!" sahut Juni, "Waktu itu kan kamu juga sering menjaga Zoe!"
Saat Juni dirawat di rumah sakit karena menelan obat nyamuk, Odelia sering datang mengunjungi Zoe. Dan membantu Indah menjaga putri semata wayang Juni itu.
"Itu sedikit berbeda..." ucap Odelia, "Aku hanya bermain sebentar dengannya!"
"Bagiku sama saja!" ucap Juni. Ia menatap sahabatnya itu dengan sendu. Menyembunyikan pahit yang menyelimuti hatinya sejak tadi.
"Aku sedikit khawatir!" celetuk Odelia tiba-tiba.
"Kamu khawatir tentang apa?!"
"Jika aku pergi, siapa yang akan menjaga Brandon nanti?!" ucap Odelia kemudian, "Dia masih kecil, dia butuh ibu untuk menjaganya!"
Dheg!!
Jantung Juni seakan berhenti berdetak. Ia kaget mendengar ucapan Odelia itu.
"Apa yang kau bilang?!" seolah tak mengerti apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu, Juni kembali bertanya. "Pergi kemana?!"
Namun Odelia tidak menjawab, sebagai responnya, ia hanya tersenyum dengan bibirnya yang pucat.
"Jangan konyol!!" sergah Juni dengan bibir yang gemetar, senyum Odelia bagai sembilu yang menyakiti hati Juni. Ia bangkit dari duduknya.
Dengan emosi yang tertahan, Juni pun berkata, "Kau tak akan pergi kemana-mana!"
Mengabaikan ucapan Juni, Odelia berkata dengan suara yang serak, "Maukah kau menjaga Brandon dan suamiku, jika aku pergi?!"
"Tidak!!!!" sentak Juni, "Urus saja mereka sendiri!!! Aku tidak mau! Aku tidak mau!!"
__ADS_1
"Kenapa kau menyuruhku, jika kau bisa melakukannya sendiri?!" Juni terisak, "Sembuhlah dan rawat anak serta suamimu dengan tanganmu sendiri!!"