
"Jangan pulang" pesan yang dikirim oleh ibunya saat Nawang hendak pulang ke rumahnya, setelah bertemu dengan teman-temannya.
Nawang mengernyit, tak memahami kenapa ibunya mengusirnya.
Namun kemudian sebuah pesan gambar membuat Nawang memahaminya. Dimana foto Sagara muncul dengan berlatar rumahnya.
'Ah, manusia ini!!" geram Nawang. Seketika ia merasa sakit kepala.
Bukannya Nawang takut untuk bertemu Sagara, hanya saja ia muak berbicara dengannya. Seperti bicara dengan seonggok batu, Sagara tidak pernah mengerti apapun yang dikatakan oleh Nawang atau orang sekitarnya. Ia tetap berpegang pada apa yang ia yakini benar.
Sebelumnya, Sagara memang orang yang keras kepala namun tak seperti ini. Ada kalanya, ia akan mengikuti perkataan orang sekitarnya. Tapi ini...?!
'Apa Sagara berubah karena luka di kepalanya?!' batin Nawang.
Nawang menghela nafas kesal. Ia tak peduli lagi sekarang!! Apapun itu, yang terpenting ia harus menghindari Sagara dulu. Nawang tak ingin membuat keributan yang tak perlu.
Nawang bingung hendak kemana. Di jam segini, ia tidak tahu tempat apa yang bisa ia tuju.
Meskipun belum cukup larut, namun Nawang tak memiliki ide di kepalanya. Tempat apa yang bisa ia kunjungi sekarang?! Tak mungkin pergi ke cafe saat ia sudah sangat kenyang sekarang. Ia juga bukan orang yang suka makan angin di mall.
'Haruskah aku berkeliling dengan mobil?!' batin Nawang. Tapi ia sedang sangat lelah. Takutnya jika terus berkendara, ia malah akan membuat musibah.
Jika ini terjadi dahulu, Nawang tak akan berpikir panjang. Ia pasti akan mengunjungi rumah teman-temannya. Tapi sekarang, hampir semua teman-temannya sudah menikah.
Nawang tak mungkin mengganggu mereka yang tengah menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Tiba-tiba Nawang teringat gedung terbengkalai itu.
Setiap kali merasa tak nyaman, Nawang akan mengingat tempat itu.
'Kesana saja!' batin Nawang tanpa ragu-ragu.
Ia kemudian berlari menuju mobilnya, dan dengan perlahan melaju ke arah bangunan terbengkalai itu.
Meskipun belum terlalu larut, jalan menuju tempat itu sepi. Untungnya masih ada lampu-lampu jalanan yang aktif. Jika tidak, tempat itu akan sangat mengerikan.
Dengan pelan, Nawang menghentikan mobilnya. Namun ia dikejutkan dengan kenampakan mobil mewah di depan bangunan tersebut.
Porsche hitam dengan plat nomor yang sangat familiar.
'CEO Cleve?!' batin Nawang.
Benar saja!! Saat Nawang naik ke atas, ia bertemu dengan Cleve yang tersenyum menyambutnya.
__ADS_1
"Anda bilang tidak boleh datang kesini karena berbahaya!" celetuk Nawang, "Lalu kenapa anda disini sendirian?!"
"Karena saya tahu anda akan datang kesini!" sahut Cleve, "Lagipula saya tidak sendirian!"
Cleve mengarahkan pandangannya ke arah Yoshi yang berada tidak jauh darinya. Namun karena gelap, Nawang hampir tidak menyadari keberadaannya.
Nawang mendengus, sepertinya ia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan pria ini. Sehingga ia menyerah dan tidak lagi berkata-kata.
"Saya bertemu dengan Presdir Sagara tadi!" ujar Cleve, "Dia datang ke rumah anda!"
"Bagaimana anda tahu?!" tanya Nawang, "Apa anda juga datang ke rumah saya?!"
Cleve mengangguk, "Saya datang untuk meminta anda menanda tangani surat kontrak kerja yang baru!! Saya sudah memperbaharuinya seperti yang anda inginkan!"
Nawang menolak kontrak kerja sebelumnya, ia merasa gaji yang sebesar itu terlalu berlebihan untuknya. Sehingga Cleve terpaksa memperbaharuinya.
"Anda tidak perlu melakukannya, tuan!" sahut Nawang. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin Cleve datang kerumahnya hanya untuk sebuah tanda tangan, "Saya akan datang pagi ini ke kantor untuk melakukannya!"
"Tidak.. jangan lakukan besok!" ujar Cleve, "Ayo lakukan sekarang!"
"Huh?!" Nawang kaget. "Apa yang anda maksud?!"
"Tanda tangan kontrak!" jelas Cleve, "Ayo lakukan sekarang, sebelum anda berubah pikiran lagi!"
"Sekarang, tuan?!" Nawang bingung. Tak menyangka akan 'dipaksa' tanda tangan kontrak di malam hari.
Nawang benar-benar bingung! Ia tidak paham dengan cara kerja seorang Cleve Eddison yang menurutnya cukup aneh.
Namun bukan hanya Nawang yang merasakannya. Yoshi pun merasa atasannya itu aneh.
Tidak seperti biasanya, majikannya itu bersikap tidak seperti dirinya. Mulai dari memperbaharui kontrak secara tergesa-gesa, membawakan kontrak langsung ke rumah bawahannya bahkan menyiapkan tempat khusus di dalam ruangannya untuk sekretaris barunya.
Sebelumnya, Cleve bahkan menyekat ruangannya agar tak melihat sekretaris yang berada di luar ruangannya.
Yoshi secara samar-samar memahami apa ini.
Meski sulit untuk dipercaya tapi..
'Tidak mungkin, apa tuan....?!' Yoshi ingin menyangkal isi kepalanya sendiri. Namun dengan kecerdasannya yang diatas rata-rata itu, ia tahu bahwa intuisinya selalu benar.
****
'S*Al!!' Sagara mengumpat di dalam hati. Ia sudah menunggu Nawang berjam-jam, tapi Nawang tak kunjung datang. Ia juga sudah bertanya pada Juni, kemana kiranya Nawang pergi?! Namun saudaranya itu malah mengamuk dan memarahinya.
__ADS_1
'S*Al!!' umpatnya lagi.
Sagara sangat marah setelah mendengar ucapan provokatif Cleve. Sepertinya, kepalanya siap meledak karena marah.
'Sekretaris Cleve?! Nawang menjadi sekretaris Cleve?! Tidak mungkin!!'
Sagara mengetahuinya dengan pasti, obsesi Nawang sejak awal adalah menjadi bagian dari Cleve, bukanlah 'the last' itu sendiri.
Namun setelah bertahun-tahun ada di bawah 'the last', bagaimana bisa ia langsung beralih pada 'Cleve'?! Seolah-olah waktu yang ia habiskan selama bertahun-tahun di bawah 'the last' bukanlah apa-apa!!
Entah kenapa, melebihi ia mendengar Nawang mengakhiri pertunangan mereka. Sekarang Sagara merasa lebih murka!! Ia merasa dikhianati!!
Ia ingin mendengar penjelasannya langsung dari Nawang!!
"Kapan kira-kira Nawang pulang, ma?!" tanya Sagara pada Karina. Meskipun hubungan mereka tak sebaik sebelumnya, Sagara tak merubah caranya memanggil Karina. Seperti Karina yang telah menganggap Sagara sebagai menantunya, Sagara sendiri juga telah menganggap Karina sebagai mertuanya.
Karina menghela nafas pelan, "Entahlah.."
Karina tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan pada Sagara, meski ia marah pada anak itu. Tapi ia merasa iba tanpa terkendali padanya. Seperti seorang ibu yang tak bisa membenci anaknya, begitulah Karina pada Sagara.
Tak ingin melihat kedua anak itu berdebat, Karina meminta putrinya untuk menghindar.
"Ini sudah larut malam, apa tak apa-apa Nawang belum ada kabar, ma?!" tanya Sagara lagi.
"Mungkin dia menginap di rumah teman!" sahut Karina berdusta. Ia tahu putrinya pergi dengan Cleve. Entah kenapa Karina tidak cemas jika Nawang pergi bersama dengan Cleve.
Sagara tercenung, siapa 'teman' yang dimaksud Karina?!
Mungkinkah Odelia?! Atau yang lainnya?!
'Atau mungkin Juni?! Mungkinkah Nawang ada dirumahku sekarang?!' batin Sagara.
Berpikir Nawang ada dirumahnya, Sagara akhirnya pamit pulang.
Dengan hati riang ia berlari pulang, berpikir Nawang akan menyambutnya di rumahnya. Namun ternyata bukan Nawang yang ada disana. Tapi Lalita!!
"Kenapa kau disini?!" tanya Sagara ketus. Pernikahan masih sebulan lagi, Lalita tak seharusnya tinggal dirumahnya sekarang. Tapi melihat piyama Juni yang ia kenakan, berarti gadis itu berniat untuk menginap.
"Sayang, akhirnya kamu pulang!" sambut Lalita. "Pergi kemana saja kamu?! Papa dan mama sangat cemas!"
Sagara mendecih kesal. 'Papa dan mama!!?'
Setiap kali berhadapan dengan Lalita, Sagara selalu dibayang-bayangi oleh Nawang. Jika kecelakaan itu tak terjadi, jika perselingkuhan mereka tak diketahui. Maka Nawang lah yang akan ada di depannya, mengenakan piyama dan menyambutnya. Juga memanggil kedua orangtuanya dengan sebutan mama dan papa.
__ADS_1
Entah kenapa Sagara merasa amat kesal!!
"Pulanglah!!!!" bentak Sagara kemudian.