
Nawang bergegas, berlari melewati kerumunan orang yang lalu lalang di rumah sakit. Nawang menerobos lorong demi lorong dan menuju ke ruang UGD.
Setelah menerima panggilan dari Bik Karti, Nawang langsung meminta izin pada Cleve untuk meninggalkan tugasnya sejenak.
Karena kebetulan sudah sore dan memang sebentar lagi waktunya pulang, Cleve mengizinkan Nawang untuk pergi.
Ia hanya mendengar dari Bik Karti jika Odelia tiba-tiba tak sadarkan diri. Bik Karti juga berkata, telah berusaha memanggil Abraham namun tak diresponnya, ia juga berusaha memanggil Juni. Namun nihil, Juni juga tak merespon panggilannya.
"Bagaimana keadaan Odelia Bik?!" tanya Nawang kemudian.
"Saya tidak tahu non!" sahut Bik Karti, "Nyonya lagi diperiksa!"
"Akhir-akhir ini nyonya memang kurang sehat, non!" imbuh bik Karti, "Tapi nyonya terus tahan-tahan, soalnya tuan lagi sibuk!"
"Tidak apa Bik... bibik sudah melakukan tindakan yang tepat! Siapa yang membantu bibik membawa Odelia ke rumah sakit?!" tanya Nawang kemudian.
"Saya minta bantuan tetangga non!"Lirih bik Karti. "Nyonya benar-benar tak bergerak, saya takut sekali non!"
"Tenang saja bik, Odelia pasti baik-baik saja!" Nawang berusaha menenangkan Bik Karti. Padahal hatinya sendiri sangat cemas. Odelia memang sering sakit-sakitan. Meski terlihat seperti gadis yang kuat, namun Odelia adalah gadis dengan fisik yang lemah.
Odelia sengaja bersikap seperti orang yang tangguh untuk menutupi kelemahan fisiknya itu.
Dengan nafas yang tersengal-sengal dan jantung yang berderu kencang, Nawang berdoa dalam diam untuk kesembuhan Odelia.
'Semoga tidak ada hal yang serius!! Semoga tidak terjadi apa-apa!" gumam Nawang pelan, memohon pada Tuhan agar semuanya baik-baik saja.
Namun seolah-olah Tuhan juga menghianatinya, doa Nawang sama sekali tidak didengar.
Sementara itu, di sisi lain. Juni juga sedang menuju ke rumah sakit, untuk menemui saudaranya yang tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi, ma?!" tanya Juni langsung saat melihat ibunya.
"Pulang-pulang dia sudah ambruk di depan pintu!" sahut Ria apa adanya.
Juni menghela nafas panjang.
'Sebenarnya apa yang terjadi?!' batin Juni.
Ia benar-benar frustasi!! Akhir-akhir ini cobaan datang silih berganti. Seolah-olah keluarga mereka diserang oleh anak panah bertubi-tubi, selalu saja ada hal yang terjadi setiap hari.
"Tidak ada masalah serius yang terjadi dengan pasien. Pasien hanya mengalami syock!" ujar sang dokter menjelaskan kondisi Sagara. "Mungkin pasien menyaksikan hal-hal yang membuatnya sangat terpukul!!"
Mendengar penuturan sang dokter, Juni dan ibunya langsung bernafas lega. Ia merasa senang karena ternyata tidak terjadi hal yang serius dengan Sagara.
__ADS_1
Namun kemudian Juni merasa penasaran, apa yang saksikan oleh Sagara hingga ia mengalami syock berat dan membuatnya pingsan?!
****
Setelah kepergian Nawang, Cleve tercenung menatap tangannya yang telah diobati dengan baik.
Cleve tidak menyangka Nawang tetap bertahan padahal Cleve memberontak sangat keras dan menyakitinya. Cleve benar-benar merasa bersalah, karena dirinya telah menyakiti Nawang.
Cleve mengira, jika bersama dengan Nawang ia tak akan berhadapan dengan traumanya. Mengingat ia tak merasa jijik saat berada di samping Nawang atau saat menyentuh Nawang. Berbeda dengan saat bersama wanita lainnya.
Namun ternyata ketika Nawang menyentuhnya, rasa jijik yang teramat sangat yang selalu ia rasakan kembali mendatanginya.
Seolah masa lalunya terulang tepat di depannya. Ia merasa sangat menderita begitu Nawang menyentuh jarinya.
Ia tergidik oleh sensasi ketakutan yang luar biasa, begitu Nawang menggenggam tangannya.
"Kenapa?!" Cleve marah pada dirinya. Kenapa ia malah ketakutan saat Nawang menyentuhnya?! Padahal ia begitu menyukai saat merengkuh Nawang waktu itu.
Namun saat ia memikirkan hal itu, Cleve tersentak oleh fakta yang tak ia sadari sebelumnya.
Cleve tercenung. Menggali ke dalam dirinya. 'Apa tadi aku bilang?! Aku suka menyentuh Nawang?! Aku menyukai Nawang?!'
Bagaimana mungkin?! Seseorang seperti dirinya, yang selama puluhan tahun terkungkung oleh trauma terhadap wanita, bisa menyukai seorang wanita?! Benarkah?!
'Sejak kapan?!' batinnya.
****
"Minum dulu, mas!" ujar Zeline meletakkan teh hangat di atas meja. Senyum tersungging di bibir gadis itu.
Hampir setiap hari, setiap Abraham datang, gadis itu selalu menggunakan pakaian terbuka. Seolah berusaha untuk menggoda Abraham.
Namun Abraham tidak pernah menggubrisnya.
Setelah apa yang telah dilakukan Zeline padanya, Abraham tak pernah sekalipun membuka hatinya kembali untuk Zeline. Meski beberapa kali Zeline menemuinya lagi. Penghianatan yang dilakukan gadis itu padanya, telah menghilangkan seluruh cinta yang pernah ia punya.
Kini, hati Abraham hanya untuk Odelia, istrinya.
"Bagaimana keadaan mas Nicky, mas?! Apa ada masalah lagi dengannya?!" tanya Zeline. Sembari dengan sengaja menaikkan salah satu kakinya, mempertontonkan bagian bawah tubuhnya.
Abraham mendengus kesal, "Tolong jangan pernah merubah posisi selang oksigennya!"
Sejak sebulan yang lalu, Nicky, suami Zeline, mengalami gangguan setelah melakukan operasi pasca dinyatakan mengalami kanker paru-paru.
__ADS_1
Namun kondisinya tak kunjung membaik. karena sel kanker telah menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Pasrah dengan penyakitnya, ia memilih untuk lebih dekat dengan keluarganya.
Nicky menolak menghabiskan waktu di rumah sakit, pria itu memilih di rawat di apartemennya oleh istrinya sendiri.
Namun sebagai gantinya, Abraham yang menjadi dokter yang bertanggung jawab atas Nicky harus bolak-balik, pergi dari rumah sakit menuju ke apartemen Zeline hanya untuk menangani pria itu.
Jika saja, pria itu bukanlah keponakan direktur rumah sakit, maka Abraham akan menolaknya dengan keras.
Namun Abraham tidak berdaya, karena ini menyangkut keluarga sang direktur. Jika ia melakukan kesalahan, sudah pasti karier yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun akan hancur.
S*alnya istri Nicky adalah Zeline, mantan tunangannya yang dulu pernah menyelingkuhinya.
Seakan berusaha mengganggunya, Zeline selalu menghubunginya tak peduli dimana dan kapan. Entah itu pagi-pagi buta atau tengah malam. Dengan alasan suaminya mengalami masalah, Zeline terus saja menyuruh Abraham untuk datang ke apartemennya.
Abraham lelah, ia bahkan tak memiliki waktu lagi untuk anak dan istrinya. Sebenarnya ia ingin marah, tapi ia tidak bisa melakukannya mengingat itu adalah pekerjaannya.
"Saya rasa saya sudah tidak memiliki kepentingan lagi disini!" ujar Abraham, ia bangkit dari duduknya. Mengambil tas tangannya dan hendak pergi keluar.
"Anda bisa menghubungi saya lagi jika terjadi masalah!" sambung Abraham formal.
Namun Zeline bangkit dan menghalangi langkah Abraham.
"Makan dulu disini, mas! Aku udah masak buat kamu!" ujar Zeline, ia berdiri tepat di depan pintu keluar.
"Saya masih ada tugas yang menunggu di rumah sakit!" elak Abraham.
"Aku udah tanya sama om, katanya kamu boleh disini dulu menemani mas Nicky. Jaga-jaga, siapa tahu nanti terjadi sesuatu lagi sama mas Nicky!"
"CK!!" kesal, Abraham kembali duduk. Ia menghempaskan tubuhnya dengan marah.
Ia terus mengumpat dalam hatinya, ia berdoa semoga saja ada yang menghubunginya. Lebih bagus lagi jika itu adalah hal gawat yang harus ditanganinya di rumah sakit.
Abraham kemudian merogoh ponselnya, hendak membunuh waktu dengan menatap layar benda pipih itu. Namun ia terhenyak saat melihat banyaknya panggilan yang dilakukan oleh Bik Karti dan Nawang, sahabat istrinya.
Seketika, firasat buruk menghampirinya. Belum sempat ia menghubungi salah satu nomor itu, panggilan dari Nawang masuk.
"Halo?!" ucap Abraham.
"Abraham, tolong datang ke rumah sakit XX! Terjadi sesuatu pada Odelia!" dengan tangis tertahan Nawang memberi kabar yang membuat Abraham tersentak.
Seketika Abraham menyesali apa yang ia harapkan di dalam hatinya tadi.
***
__ADS_1