
"Saya ingin menikah dengan anak anda!!" ujar Cleve lugas, segera setelah wajah Karina muncul dari balik pintu.
Karina yang hendak marah karena putrinya pulang begitu larut, tercengang dengan ucapan Cleve yang tanpa basa-basi itu.
Setelah di perjalanan pulang hanya diam tanpa mengungkapkan sepatah katapun. Sekalinya bicara, Cleve langsung melamar Nawang. Nawang kaget bukan kepalang. Apalagi Karina, ia terpaku mematung tanpa bisa berkata-kata.
"A...a.. itu.. itu .."ujar Karina gagap.
"Mas.." bisik Nawang sembari menarik lengan baju Cleve di sebelahnya.
Bahkan mereka belum mengungkap hubungan asmara mereka di depan Karina, tapi Cleve sudah meloncat ke fase yang lebih serius. Bagaimana bisa ini terjadi?! Pasti ibunya begitu terkejut.
"Silahkan masuk dulu..." ujar Karina, setelah mendapatkan ketenangannya kembali.
Cleve berjalan masuk, tak lupa ia menyunggingkan senyum manisnya yang penuh dengan percaya diri pada Nawang.
Nawang yang masih linglung, hanya bisa melongo tak percaya. Ia memasuki rumahnya dengan pikiran kosong!
"Tunggu sebentar..." ujar Karina. Wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh ke dapur, mengambil apa saja yang ia temukan. Dan dengan cepat membuat teh dan mengambil camilan.
Ia terbiasa melakukan hal itu setiap kali ada tamu yang datang. Tak peduli pagi, siang, sore atau larut malam sekalipun. Jika ada tamu, wajib hukumnya seperti itu.
Tapi kali ini, Karina tak bisa fokus menyediakannya. Karena kata-kata Cleve benar-benar mengguncangnya.
Dia ada dalam dilema, antara kenyataan atau hanya ilusi semata.
Segera setelah ia selesai menyiapkan teh, ia kembali ke ruang tengah dengan tergesa.
Masih dengan senyum yang menggantung di bibirnya, Cleve kembali berkata.
"Saya tahu ini mungkin mendadak untuk anda, tapi saya tidak bisa menunggu!" ujar Cleve, "Besok pagi, saya akan datang dengan kakek saya untuk meminang Nawang!"
Seolah dihantam dua kali oleh sesuatu yang keras, Karina merasa amat pening. Ia seakan ada dalam keadaan setengah sadar.
"Tunggu sebentar.. tunggu!!" pinta Karina, "Maksud anda, anda ingin melamar Nawang?!"
Cleve mengangguk, "Benar!"
"Nawang Anjani?!" Karina menunjuk putrinya yang duduk di depannya, di sebelah Cleve. "Anak saya?!"
"Benar!" Cleve kembali mengangguk.
__ADS_1
"Tidak.. tidak.. bagaimana bisa?!" Karina tidak percaya.
Seorang Cleve Eddison?! Pria yang memiliki kasta yang jauh berbeda dengan dirinya. Bagiamana bisa, pria itu berniat menikahi anaknya?! Apa yang sebenarnya terjadi?!
"Anda mungkin sangat kaget! Saya memahami itu!" tutur Cleve sopan, "Tapi saya serius, saya ingin menikahi Nawang. Saya jatuh cinta padanya!"
Mendengar kata-kata Cleve, Karina bukannya percaya. Ia malah semakin bingung dan sanksi pada Cleve.
Cleve?! Jatuh cinta?! Pada putriku?! Putriku?!
Seolah dunia berputar dengan cepat, Karina merasa pusing tujuh keliling.
Sejenak, Karina menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Berusaha menenangkan dirinya.
Setelah dirasa lebih tenang, Karina kembali menghadapi Cleve. Mencercanya dengan beragam pertanyaan.
"Tunggu.. saya minta maaf jika tindakan saya dirasa kurang sopan!" Karina membuka kata, "Tapi saya benar-benar tidak habis pikir! Anda baru saja bercerai, bagaimana anda bisa jatuh cinta begitu cepat?!"
"Itu..." Cleve hendak menjawab, tapi Karina sudah memotongnya duluan.
"Tolong jangan ungkapkan alasan klise!" ujar Karina, "Seperti alasan bahwa anda jatuh cinta pada Nawang karena mengalami hal yang sama! Atau anda jatuh cinta karena Nawang telah menghibur anda di saat terpuruk anda!"
"Tolong... jangan katakan itu! Saya pasti semakin tak mempercayainya!" imbuh Karina.
Karina terbelalak, semakin tak paham. "Apa yang anda maksudkan?!"
Cleve kemudian mengungkapkan masa lalunya, kemampuannya dan juga traumanya terhadap wanita. Cleve hampir mengungkapkan seluruhnya, kalau saja Nawang tak mencengkeram tangan kekasihnya itu. Dan mencegat Cleve untuk mengungkapkan kejadian di kantor malam itu.
"Jadi.. anda hanya merasa nyaman dengan Nawang?!" tanya Karina.
"Benar!" sahut Cleve. Ia kini yakin Karina memahami maksudnya.
"Anda bilang anda sebelumnya trauma terhadap wanita?!"
"Benar!" kembali, Cleve mengangguk.
Karina menyeringai, "Anda jangan bercanda!"
Berbeda dari bayangan Cleve, Karina tak memahaminya sama sekali. "Anda mengungkap mengalami trauma pada wanita, dan hanya bisa nyaman dengan putri saya?!"
"Lalu bagaimana anda bisa menjalani bahtera rumah tangga selama bertahun-tahun?!" imbuh Karina.
__ADS_1
"Saya dan Lalita, kami hanya menikah secara kontrak!" ujar Cleve, "Hubungan kami hanya diatas kertas, ia membutuhkan seorang pria sebagai suami. Dan saya membutuhkan seorang wanita yang bisa disebut sebagai istri di depan umum!"
Karina ternganga, ia hanya pernah mendengar hal semacam itu dalam sinetron. Ia tak pernah tahu bahwa hal itu ada di dunia nyata.
Bukan hanya Karina, Nawang pun kaget. Jadi selama ini hubungan Lalita dan Cleve seperti itu?! Nawang merasa seolah ditipu.
****
Panas!! Tubuh Abraham seolah terbakar, ia merasa gerah dan jantungnya berdebar dengan cepat. Ia mencium aroma manis yang memabukkan dan membuat pandangannya penuh dengan kabut.
Abraham tak bisa merasakan hal lain selain rasa haus yang luar biasa.
Saat ia melihat Zeline di depannya, ia tak lagi merasakan kebencian. Alih-alih marah, Abraham malah merasa Zeline begitu cantik dan mempesona. Akal sehatnya sudah tidak bekerja, meski hatinya terus meronta. Abraham hanya bisa mengikuti nalurinya.
Zeline yang melihat perubahan pada Abraham menyeringai senang. Rencananya berhasil. Obat itu bereaksi dengan baik.
Tak menyia-nyiakan waktu, Zeline segera melompat ke arah Abraham. Kemudian memeluk pria itu dengan mesra.
Abraham yang sudah tak sadar dengan dirinya, segera menc**m Zeline dengan ganas.
Zeline yang sudah mendambakan Abraham sejak lama, tak menolak! Ia menerima bahkan membalas setiap kali pria itu mel***atnya. Meluncur ke bawah, Abraham mengukir tanda-tanda merah di setiap jengkal yang bisa ia temui.
Seolah bernostalgia dengan masa lalu, Zeline merasa Abraham kembali mencintainya seperti dulu. Ia yakin, jika mereka kembali bersama. Perlahan-lahan, Abraham akan kembali mencintainya. Yang mereka butuhkan hanyalah sedikit waktu.
Zeline yakin, ini adalah kesempatan baginya untuk merebut Abraham kembali. Bahkan takdir pun telah membantunya!!
"Benar!!" gumam Zeline, "Kau dan aku memang ditakdirkan bersama, mas..."
Menatap mata Abraham yang berkabut, Jantung Zeline berdebar kencang. Ia sudah tidak sabar memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi.
Namun yang ia bayangkan seketika sirna saat seorang wanita, gadis mirib hantu dengan gaun abu-abu masuk ke dalam apartemen dan menatap garang.
"Abraham!!!!!" pekik Juni. Ia menerjang ke arah Abraham dan menghempaskan Abraham dari dekapan Zeline.
"Hey!!!!!" pekik Zeline, "Siapa kamu?!!"
Mengabaikan kata-kata Zeline, Juni menghampiri Abraham yang terlihat tidak normal.
"Abraham!! Abraham!!" pekik Juni, ia mengguncang tubuh Abraham.
Namun Abraham malah memeluknya dengan erat, menggigitnya deng kuat.
__ADS_1
Juni meringis kesakitan. Namun itu membuatnya sadar bahwa Abraham mungkin tengah berada di bawah pengaruh obat.
"Dasar J*l*Ng B*ngs**!!!" sergah Juni.