
"Jadi aku kanker usus! Stadium berapa?!" tanya Odelia tenang seolah dia sudah mengetahuinya. Ia menatap suaminya sendu. Samar-samar ia tahu, melihat suaminya yang begitu terpuruk.
"Begitu ya..." sahut Odelia tanpa mendengar jawaban suaminya.
Saat mendengar ucapan istrinya, Abraham seolah jatuh ke dalam jurang yang terjal. Hatinya sakit luar biasa.
"Mama pasti sembuh!!" ucap Abraham dengan suara yang gemetar. Senyum getir tersungging di bibirnya.
"Cih .." Odelia mendecih, senyumnya canggung terlontar untuk suaminya. "Mentang-mentang mama bukan dokter, jadi papa pikir mama tidak tahu?!"
"Dulu dan sekarang berbeda, ma!" sahut Abraham, "Raka saja bilang, dia akan melakukan yang terbaik buat mama!"
"Pftt.." Odelia menahan senyum, "Papa kan tahu... kenapa pura-pura tidak tahu!?"
Mendengar ucapan istrinya, Abraham tidak bisa menahan air matanya. Kenyataan yang mati-matian ia sangkal, diungkap oleh istrinya di depannya.
Kanker usus stadium 4 tidak akan bisa sembuh!!
Raka menyatakan akan melakukan yang terbaik, hanya untuk meningkatkan kualitas hidup Odelia. Maksudnya bukanlah kesembuhan.
"Ha..." Abraham menahan tangisnya.
"Terkadang kejujuran yang menyakitkan itu lebih baik, pa..." ujar Odelia kemudian.
Odelia sudah mencurigai bahwa dirinya menderita penyakit yang sama dengan ayahnya sejak beberapa hari lalu. Namun ia berusaha menepisnya.
Ayah Odelia meninggal akibat menderita kanker usus.
Sama seperti Odelia, kanker yang menyebar di tubuh ayahnya diketahui setelah masuk stadium akhir.
Kanker usus memiliki ciri-ciri yang umum dan cenderung disepelekan oleh banyak orang. Begitu pula oleh Ayah Odelia.
Saat ayahnya divonis menderita kanker usus, keluarga Odelia telah pasrah. Namun sang dokter mati-matian memberikan mereka semangat untuk berjuang!!
Pengobatan demi pengobatan dilakuan oleh ayah Odelia, hanya untuk bisa bertahan hidup lebih lama. Namun pada akhirnya ayahnya menyerah. Rasa sakit yang dideritanya telah menggerogoti keinginannya untuk hidup melebihi kanker itu sendiri.
"Ternyata ini yang dirasakan ayah!!"gumam Odelia. Memahami apa yang dirasakan oleh ayahnya.
Memang harapan untuk tetap hidup adalah hal yang manis, yang dirasakan oleh pasien dan keluarganya. Ketika mereka telah terpuruk oleh keputus asaan.
Namun saat harapan itu akhirnya sirna. Rasa sakit yang lebih besar jauh lebih menyiksa. Odelia tahu benar rasanya! Ia tidak ingin orang-orang disekitarnya tenggelam dalam harapan yang sia-sia.
"Pa.. mama tidak perlu diobati ya!" ujar Odelia kemudian, "Mama hanya mau melewati sisa hidup mama dengan tenang!"
****
"Siapa sekretaris barunya Cleve?!" tanya Thomas, setelah berhasil 'menculik' Yoshi saat Yoshi sedang mengawasi persiapan produk baru di pabrik.
"Dia adalah mantan marketing manager 'the last', Nawang Anjani, tuan!" tegas Yoshi.
__ADS_1
"Maksudmu.. mantan tunangan dari selingkuhannya Lalita?!" tanya Thomas lagi, menegaskan fakta yang telah ia ketahui.
"Benar, tuan!" sahut Yoshi singkat.
"Menarik... " gumam Thomas dengan senyum tersungging di bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa perselingkuhan Lalita membawa berkah untuk cucunya.
Sebelumnya, Thomas berusaha keras untuk mencari wanita yang bisa menarik perhatian cucunya. Namun ia tak kunjung berhasil, sehingga meminta Cleve untuk mengikuti perjodohan.
Namun ternyata, saat ia tak melakukan apa-apa, Cleve menemukan sendiri gadis yang ia cintai.
"Bagaimana menurutmu, hubungan Cleve dengan gadis itu?!" tanya Thomas. Berusaha menelisik hubungan keduanya melalui Yoshi yang jenius.
"Tuan Cleve kemungkinan besar telah jatuh cinta padanya, tapi saya rasa, dia tidak memiliki perasaan yang sama seperti tuan Cleve!" sahut Yoshi terang-terangan.
"Kenapa?! Kenapa wanita itu tidak menyukai cucuku?!" Thomas tidak senang saat mendengar bahwa perempuan itu tak menyukai cucunya.
Bagi Thomas, cucunya itu luar biasa. Ia adalah pria yang tidak akan pernah ditolak oleh wanita manapun di muka bumi.
"Saya rasa karena penghianatan yang diterimanya sebelumnya, Dia masih menutup hatinya, tuan!" sahut Yoshi.
Thomas terdiam. Merenungkan ucapan Yoshi.
'Benar juga!' batin Thomas. Ia mengangguk-angguk paham. Pasti hati gadis itu masih hancur karena penghianatan yang dilakukan tunangannya. Bukan karena Cleve yang tak menarik perhatiannya.
"Apa dia menjalankan tugasnya dengan baik sebagai sekretaris Cleve?!" tanya Thomas lagi.
"Iya tuan!" sahut Yoshi singkat. "Dia bekerja dengan baik! Dia cekatan dan cepat beradaptasi!"
Meski ia ingin membantu cucunya, Thomas tak mau lagi mencampuri kisah cinta cucunya itu. Sebelumnya, ia hanya selalu membuat Cleve menderita. Membawa Cleve pada wanita-wanita yang menyakitinya. Kali ini Thomas ingin percaya, bahwa Cleve akan menemukan kebahagiaannya dengan tangannya sendiri.
Namun Cleve sendiri, tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan perasaannya itu. Dia sendiri masih bingung, apakah ia benar-benar menyukai Nawang atau tidak. Sehingga ia memutuskan untuk menguji dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan temanmu itu?!" tanya Cleve basa-basi. Ia sedang sarapan dengan Nawang di kantin.
"Ah... mnn.." Nawang yang sebelumnya melamun, tak bisa bereaksi dengan cepat untuk menjawab pertanyaan Cleve.
"Apa terjadi sesuatu?!" tanya Cleve tidak sabar. Ia tahu, jika Nawang ragu-ragu berarti ada sesuatu yang terjadi.
"Ti-tidak tuan, tidak terjadi apa-apa!" ujar Nawang lesu. Ia tidak ingin mengungkapkan kondisi Odelia pada Cleve.
Ia merasa penyakit Odelia, bukan sesuatu yang harus ia ungkapkan di depan atasannya.
Sejak mengetahui keadaan Odelia, Nawang tidak pernah merasa baik.
Meski dokter mengungkap akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan Odelia, namun ekspresi sang dokter yang canggung selalu mengganggu Nawang.
'Kenapa dokter Raka seperti itu?! Apa dia tidak yakin bisa menyembuhkan Odelia?!' batin Nawang. Ia tergidik saat memikirkan kemungkinan, bahwa Odelia tidak akan sembuh.
Nawang kemudian menepis pikirannya kuat-kuat!
__ADS_1
'Tidak! Tidak! Odelia pasti sembuh!' Nawang mendikte dirinya sendiri. 'Dokter Raka kan sudah bilang begitu!!'
"Ada apa?! Kamu memikirkan apa lagi sekarang?!" tanya Cleve, ia menyadari bahwa setiap kali Nawang memikirkan sesuatu dengan serius, ia akan mengerutkan keningnya tanpa sadar.
"Tidak, tuan..." sahut Nawang singkat.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak!!" ujar Cleve kemudian.
"Baik, tuan!" Nawang kembali menyahut dengan singkat. Hingga membuat Cleve merasa jengkel juga.
"Apa kamu marah dengan kejadian kemarin?!" tanya Cleve kemudian. Cleve merasa tidak nyaman dengan tingkah Nawang yang agak berbeda. "Kenapa kamu menjawab setiap omongan saya dengan singkat?!"
Nawang kaget mendengar pernyataan Cleve, "Tidak tuan, kenapa saya harus marah?!"
Nawang merasa sedih dengan keadaan Odelia, sehingga hanya merespon dengan singkat.
"Saya menyakiti kamu, pasti kamu kesal, kan?!" ujar Cleve kemudian.
Nawang menggeleng, "Tuan menyakiti saya kan bukan dengan kehendak tuan sendiri!!"
"Saya yang seharusnya meminta maaf, karena saya bertindak gegabah dan membuat anda menderita!" imbuh Nawang.
Cleve terhenyak mendengar jawaban Nawang, ia kemudian tersenyum. "Benarkah?! Kamu ingin minta maaf?!"
Nawang mengangguk, ia tahu ia salah. Jika bukan karena dirinya yang dengan sembarangan menyentuh Cleve, pasti Cleve tak akan berperilaku seperti itu dan berakhir dengan menyakitinya.
Melihat Cleve yang begitu menderita hari itu, Nawang tak bisa membayangkan semengerikan apa masa lalu yang telah Cleve hadapi.
Nawang juga akhirnya mengerti, kenapa Cleve tidak bisa menyentuh istrinya. Mungkin karena traumanya ini, Cleve tak bisa memberi nafkah batin pada istrinya. Dan berakhir dengan diselingkuhi oleh istrinya.
'Tuan Cleve benar-benar malang!' batin Nawang.
"Benar tuan! Saya akan melakukan apa saja untuk bisa menebus kesalahan saya itu!" sahut Nawang kemudian.
"Kalau begitu, maukah kamu membantu saya?!" tanya Cleve kemudian.
"Membantu apa, tuan?!" tanya Nawang.
"Obati aku!" ujar Cleve singkat.
Nawang mengangguk. Ia pikir Cleve memintanya untuk mengobati tangannya yang terluka kemarin. Tapi ternyata tidak!
"Tuan, apa yang anda lakukan?!" tanya Nawang. Ia sungguh kaget, tidak menyangka bahwa Cleve akan melakukan hal ini dengannya.
Segera setelah pintu ruangan Cleve tertutup. Pria itu melakukan hal aneh yang membuat panas menyeruak di seluruh wajah Nawang. Untung saja ruangan itu gelap, sehingga Cleve tak bisa melihat wajahnya yang semerah tomat.
"Tuan..." lirih Nawang. Ia merasa geli dengan nafas Cleve yang berhembus di lehernya.
"Kamu bilang kamu akan mengobatiku?!" ujar Cleve, "Ayo lakukan!!"
__ADS_1
****