
Seorang gadis kecil yang cantik, tanpa sengaja menjatuhkan boneka mainannya. Hendak mengembalikan mainan tersebut, Theo bergegas memungut dan mengejar anak itu.
Namun anak itu tiba-tiba menghilang!! Hingga membuat Theo yang berusaha mencarinya, kebingungan.
Memutuskan untuk menyerah, Theo hendak kembali pada Nawang dan yang lainnya. Namun saat Theo berbalik, ia tak lagi bisa melihat sosok Nawang yang tadi ada di belakangnya.
Theo yang ketakutan, menangis dan berlari ke sembarang arah. Hingga ia menabrak seorang wanita paruh baya berambut pirang.
"Maaf!" lirihnya dengan wajah yang merah dan air mata yang mengalir di pipinya.
Wanita itu terpaku, tersentak saat melihat penampilan Theo.
Dengan dahi yang mengkerut, wanita itu menatap rambut hitam pekat Theo. Pandangannya kemudian terjatuh pada wajah Theo.
"Saya minta maaf, saya tidak sengaja!" ujar Theo sembari menangis.
Alih-alih merespon ucapan Theo, wanita itu menyentuh pipi Theo. Menekan ibu jarinya di sebelah mata Theo, wanita itu seolah tengah memeriksa mata Theo. Menatap lekat-lekat ke arah manik abu Theo, seringai terbit di bibir pucatnya yang kering.
"Cleve!" ujar Wanita itu serak.
Meski Theo tak memahami apa yang terjadi, namun Theo merasakan rasa takut yang luar biasa saat melihat senyum wanita tua di depannya. Tanpa sadar, Theo mundur ke belakang hingga terperosok dan jatuh.
Saat wanita itu hendak meraihnya, suara teriakan Nawang menghentikannya.
"Theo!!!" sentak Nawang.
Spontan Theo menoleh ke arah Nawang, wanita itu pun refleks mengikuti arah pandang Theo.
Melihat Theo di depannya, Nawang langsung berlari menghampirinya.
Jantung Nawang mencelos saat mengetahui Theo hilang dari sisinya. Ia kemudian bergegas mencari Theo dengan seluruh kekuatannya.
"Kamu tidak apa? Apa ada yang terluka?!" tanya Nawang khawatir. Ia mendekap tubuh anak itu erat-erat. Hatinya berderu dengan kencang, ia takut terjadi sesuatu pada Theo.
Theo menggeleng pelan, namun air matanya tak berhenti tumpah.
"Kamu pasti terkejut!" ucap Nawang, "Maafkan aku telah lalai menjagamu!"
Nawang menyeka lembut air mata anak itu, ia kemudian menepuk punggung Theo dengan pelan. Berusaha menenangkan Theo yang gemetar ketakutan.
Sembari menggendong Theo, Nawang kembali pada Cleve dan Jacob yang juga sedang mencari Theo.
Nawang tak menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasi dan membuntutinya.
__ADS_1
****
Entah kenapa, Thomas merasa sangat cemas sejak semalam. Ia tak bisa tidur dan merasa merinding di sekujur tubuhnya.
Ia pikir ia hanya meriang.
Namun ada yang berbeda dari biasanya. Seolah ada sebongkah es yang bertengger di punggungnya. Ia merasa kedinginan meski cuaca begitu panas.
Thomas merasa jantungnya berdebar dengan cepat dan ia merasa sesak di bagian dada. Hingga membuat Thomas benar-benar tak nyaman. Ia terus saja terbayang cucunya dan cucu menantunya yang ada di seberang lautan.
"Coba hubungi Cleve!" titah Thomas pada Illyas.
Mengikuti perintah tuannya, Illyas mengambil gawai yang ada di atas meja dan menggulirkan tangannya mencari kontak dengan nama 'cucuku tersayang', Illyas kemudian melakukan panggilan.
Sekali
Dua kali
Tiga kali
Panggilan yang dilakukan oleh Illyas tidak diterima. Melihatnya, sesak menjalar di hati Thomas. Entah kenapa ia merasa semakin cemas.
"Coba hubungi cucu menantuku!" titahnya lagi. Berusaha menghalau pikiran-pikiran negatif yang menyerang benaknya.
Mendengar perintah tuannya, Illyas kembali menggulirkan tangannya menghubungi orang dengan kontak 'cucu menantuku tercinta'.
"Nihil, tuan!" lapor Illyas kemudian.
Thomas menghela nafas berat. Ia merasa semakin khawatir.
Ini adalah kali pertama Cleve kembali ke Jerman setelah kejadian itu. Awalnya Thomas merasa ragu untuk mengizinkannya, namun Cleve terus meyakinkan Thomas bahwa Cleve bisa mengatasi segalanya sekarang.
Mengingat Cleve sudah bisa jatuh cinta pada wanita, Thomas berpikir cucunya itu akan baik-baik saja.Terlebih ada Nawang yang bisa diandalkan disisinya.
'Ia tak mungkin kesulitan lagi seperti sebelumnya!' batin Thomas yakin.
'Iya, tidak akan terjadi apa-apa!' Thomas mendikte dirinya.
Berusaha mengalihkan rasa gelisah nya Thomas menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Ia pergi ke beberapa gerai 'Cleve' untuk melakukan pemeriksaan, guna menghilangkan kekhawatiran yang menumpuk di hatinya.
Di sisi lain, Karina yang juga merasakan kegundahan yang serupa seperti Thomas. Tidak mampu mengalihkan pikirannya dari anaknya.
Entah kenapa semalam ia memimpikan mendiang suaminya. Namun bukan mimpi indah yang ia dapatkan. Ia bermimpi, mendiang suaminya itu datang dan berusaha merebut Nawang darinya.
__ADS_1
"Mimpi itu bunga tidur! Mimpi itu bunga tidur!" ucap Karina berusaha meyakinkan diri.
"Apa sih buk?!" decak karyawannya bingung, melihat tingkah aneh bosnya itu.
"Saya kemarin mimpi buruk, San!" sahut Karina. "Mimpi yang amat sangat buruk!"
Susan, karyawan Karina itu pun mengernyit. "Mimpi buruk seperti apa Buk?!"
"Saya bermimpi, anak saya dijemput oleh mendiang ayahnya!" ucap Karina lirih.
Susan membelalak kaget. Namun kemudian ia tersenyum canggung, "Mungkin itu hanya bunga tidur Buk! Jangan terlalu dipikirkan, berdoa saja Buk pada Tuhan. Semoga anak ibu dan semua orang yang ibu kasihi dalam keadaan sehat!"
Karina mengangguk mendengar perkataan Susan.
Karina lalu berdoa di dalam hatinya, Semoga anaknya, menantunya dan semua orang yang ia kasihi dijauhi dari marabahaya.
****
Awalnya tak terjadi apapun!! Setelah kejadian Theo yang hampir menghilang di pasar, hari-hari mereka kembali berjalan dengan damai seperti sebelumnya.
Sekembalinya mereka dari pasar, mereka bertolak ke perkebunan. Memanen anggur dengan penuh sukacita hingga sore menjelang.
Namun saat matahari mulai tenggelam, barulah mereka menyadari ada yang tidak beres. Theo yang sebelumnya bermain tidak jauh dari tempat mereka memetik anggur, menghilang tak tahu kemana rimbanya.
"Dimana Theo?!" tanya Hans yang menyadari Theo tak ada di dekatnya.
"Mungkin dia pergi bermain seperti sebelumnya?!" Jacob melontar dugaannya. Sebelumnya, anak itu bermain petak umpet sampai-sampai Jacob dan Hans panik mencarinya.
"Tidak!! Aku rasa tidak!" seru Hans. Theo sudah kapok melakukan hal itu, setelah dimarahi habis-habisan oleh Hans.
"Biarkan saja! Nanti juga dia kembali sendiri!" sahut Jacob.
Berpikir bahwa Theo hanya sedang pergi bermain, Hans kembali pada pekerjaannya. Namun hingga langit berubah gelap, Theo belum kembali juga.
"Kita harus kembali pulang!" teriak Hans. "Dimana Theo?!"
"Ayo kita cari!!" seru Cleve.
Jacob, Hans dan Cleve pun mencari keberadaan Theo. Mereka berpikir Theo hanya sedang bermain petak umpet, jadi mereka mencarinya hanya di beberapa tempat yang dekat dengan lokasi mereka sebelumnya. Hingga Jacob menemukan sepatu yang digunakan oleh Theo bernoda dengan darah.
"Theo!!" panik menyerang mereka bertiga. Mereka yakin ada yang tidak beres terjadi pada Theo.
"Hubungi pihak kepolisian!" ungkap Hans kemudian.
__ADS_1
"Ayo berpencar!!" ucap Cleve, "Kita cari dia dulu!!"
Sementara itu, Theo sendiri tengah tak sadarkan diri dalam gendongan seorang wanita paruh baya berambut pirang.