
Melihat kartu undangan di atas meja, Sagara menghela nafas berat. Rasa sakit hati menyeruak di dadanya.
Nama Nawang Anjani yang seharusnya bersanding dengan namanya, kini bersanding dengan pria yang merupakan mantan suami dari istrinya.
Meski ia merasa marah, ia tahu hal ini tak akan mengubah apapun!!! Ia kini sadar, semua ini terjadi karena salahnya. Mungkin inilah yang disebut sebagai karma.
"Nawang!!" lirihnya pilu.
Sagara terus menyesal setiap kali memikirkan kesalahan yang telah ia perbuat. Seandainya saja ia tak melakukan hal itu, pasti sekarang ia akan hidup bahagia dengan Nawang.
Semua kenangan manisnya dengan Nawang terngiang kembali di dalam benaknya.
Jauh sebelum menjadi pasangan kekasih, mereka adalah sahabat. Namun sekarang, semua hubungan yang telah terjalin selama bertahun-tahun rusak seketika.
"Sayang!!" panggil Lalita kemudian. Ia menepuk pundak Sagara yang lunglai. "Jadi itu bukan cuma rumor?! Mereka benar-benar akan menikah?!"
Lalita memang sudah mendengar berita mengenai pernikahan Cleve dan Nawang. Namun ia pikir itu hanya sebuah rumor belaka.
Cleve yang sangat menjaga image-nya, tak mungkin membiarkan skandal besar menerpa perusahaannya. Sejak kapan pria itu berubah!?
Terngiang kembali di benak Lalita perlakuan Cleve pada Nawang di restaurant tempo hari. Sepertinya, itu bukan hanya settingan semata. Pria dingin yang tak punya hati itu ternyata bisa jatuh cinta juga.
Seketika perih menyeruak di dada Lalita mengingat wanita yang dicintai oleh Cleve, bukanlah dirinya.
'Ternyata pemeran utama dalam ceritamu adalah Nawang, bukan aku...' batin Lalita.
Sejenak ia mengingat novel yang ia baca , novel yang membawanya ke dalam pernikahan kontrak bersama dengan Cleve.
Berbeda dengan cerita yang ada di dalamnya, Cleve tak jatuh cinta padanya. Sebaliknya, Cleve jatuh cinta pada wanita lain yang berhubungan dengan selingkuhannya.
'Apa itu masuk akal?!' batin Lalita. 'Jika hidupnya ini sebuah novel, maka tidak akan ada yang menyukai cerita ini!!'
"Kenapa kehidupanku berakhir seperti ini?!" lirih Lalita sendu. Ia menangis di sebelah suaminya. Meratapi takdir yang mempermainkannya.
Sementara itu, Juni yang telah menerima undangan dari sahabatnya itu, ikut merasa bahagia. Seperti kata Odelia, Nawang memang hanya berjodoh dengan seorang pemimpin perusahaan.
Kekasih Nawang sebelumnya juga pewaris dari perusahaan tekstil. Dan setelahnya adalah Sagara. Kemudian calon suaminya sekarang adalah Cleve.
Nawang mungkin memang ditakdirkan menjadi istri dari seorang CEO.
"Itu tak disangka-sangka!" gumam Abraham, yang juga mendapatkan undangan yang sama.
Setelah mengetahui kehamilan Juni, Abraham tak lagi memberi Juni perhatian secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Setiap hari, sebelum ia berangkat kerja atau setelah ia pulang. Pria itu akan datang untuk menemui Juni. Berbicara Dengan bayi di dalam kandungan Juni dan memaksa Juni untuk makan.
Meski awalnya merasa canggung, namun karena alasan pertumbuhan sang jabang bayi, Juni tak menolak perhatian-perhatian Abraham. Ia juga memutuskan untuk berusaha menerima Abraham demi bayi dalam kandungannya.
"Tak ada yang bisa menebak takdir kan?!" sahut Juni sendu. Ia mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
"Iya, kamu benar!" Abraham setuju dengan ucapan Juni. Sama seperti mereka, yang awalnya hanya saling mengenal. Siapa yang mengira mereka akan terikat ke dalam hubungan yang rumit seperti ini!?
"Bukannya kamu akan pergi bekerja?!" tanya Juni tiba-tiba, saat ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Abraham tersenyum, "Sebentar lagi, aku masih belum melihat kamu makan buahnya!"
Mengambil buah yang telah dikupas oleh Abraham di atas nakas, Juni memakannya dengan perlahan.
Abraham tersenyum puas saat melihatnya. Meski tak ada cinta diantara mereka, perhatian Abraham tulus apa adanya.
Untuk ibu dari anaknya, ia tak akan pernah membeda-bedakannya. Entah ia mencintai orang itu atau tidak. Yang ada di dalam benaknya, hanya ingin membuat wanita yang telah mengandung darah dagingnya, bahagia.
Juni memahami sifat Abraham yang seperti itu. Pria yang bertanggung jawab dan lurus.
"Sudah kan?!" ucap Juni kemudian, "Sekarang pergilah! Nanti terlambat!"
Abraham tersenyum tipis. Mengusap perut Juni dengan lembut, Abraham berbisik.
"Aku pergi ya!" Abraham pun pamit. Ia menyampirkan tas kerjanya di bahu kirinya, kemudian berjalan menuju ke luar ruangan.
Lebih seperti sepasang saudara, hubungan diantara mereka jauh dari kata cinta dan mesra. Tapi hal ini membuat Juni merasa lebih nyaman.
Sebuah hubungan yang terjalin tak melulu soal cinta dan kasih sayang! Ada komitmen dan juga tanggung jawab.
Abraham yang telah keluar, menuju ke arah dapur untuk menemui Indah. Ia kemudian berpesan pada Indah.
"Tolong jaga Juni, jangan sampai dia tidak makan lagi seperti kemarin!" ucap Abraham, "Juga jangan sampai lupa minum obat dari dokter, itu untuk menguatkan kandungannya!"
"Dan lagi...mungkin Juni akan mulai merasa mual dan pusing di pagi hari. Tolong siapkan sesuatu yang asam seperti mangga muda!" oceh Abraham panjang lebar.
Indah yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk mengerti.
Saat ia mengetahui kehamilan Juni, Indah merasa sangat terkejut!! Ia tahu bagaimana keadaan majikannya saat itu. Bagaimana bisa majikannya hamil?!
Namun Abraham menjelaskan pada Indah yang sejujurnya, mengenai kejadian yang menimpa Juni dan dirinya. Juga mengenai permintaan terakhir Odelia.
Abraham juga mengakui kesalahannya dan meminta Indah untuk membantunya
__ADS_1
Awalnya, Indah merasa kesal. Ia sedih karena majikannya terus dirundung oleh penderitaan. Memikirkan rasa sakit yang dirasakan Juni saat insiden itu terjadi, Indah merasa sedih.
Indah juga dirundung oleh perasaan bersalah. Bagaimana bisa, ia tak menyadari apa yang terjadi pada majikannya, padahal ia tertidur di kamar sebelahnya.
Namun kemudian, Abraham meyakinkan Indah. Bahwa Abraham akan membuat Juni bahagia mulai sekarang.
Awalnya, Indah merasa sanksi. Namun melihat perhatian yang Abraham berikan pada Juni, entah kenapa Indah merasa yakin bahwa Abraham bisa melakukannya.
Indah tak pernah melihat Juni diperlakukan sebaik itu oleh Eric sebelumnya. Diam-diam di dalam hatinya ia berdoa, agar majikannya itu bisa bersatu dengan Abraham. Dan bahagia.
****
Memeluk Nawang yang duduk di atas pangkuannya, Cleve meletakkan dokumen-dokumen yang menumpuk itu di atas meja.
Sebelum ia menikah dan menghabiskan sebulan lamanya untuk bulan madu, Yoshi telah menyiapkan tugas yang banyak untuk dikerjakan oleh Cleve.
Merasa pening karena pikirannya terbagi, Cleve tak bisa berkonsentrasi dengan baik.
Cleve hanya ingin bermesraan dengan kekasihnya saat ini dan malas untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Cleve membenci pekerjaannya.
Saat hari pernikahannya semakin dekat, bukannya merasa lebih lega. Cleve malah merasa semakin gelisah. Gejolak di dadanya yang berusaha ia tahan bukannya menjadi lebih tenang, malah tambah membuncah. Ia semakin tak kuasa menahan dirinya.
"Sayang, cium aku..." lirih Cleve.
"Kenapa lagi mas?!" tanya Nawang.
"Tiba-tiba aku ingin dicium!" pinta Cleve. Ia memeluk pinggang Nawang lebih erat, dan menghirup tubuh Nawang dalam-dalam. Ia menyukai aroma kekasihnya itu.
Berdiri dan membalik posisinya, Nawang mengecup pelan Cleve.
Namun ia tak tahan, dan malah melu mat bibir Nawang dengan ganas. Memaksa Nawang kembali duduk, Cleve menelusup kan daging tak bertulang ke dalam celah bibir kekasihnya. Dia mengabsen seluruh gigi bersih gadis itu. Tangannya yang nakal, semakin berani dan menyelinap di balik kemeja Nawang!
Nawang tersentak, merasakan tangan besar Cleve yang bersentuhan dengan kulitnya.
"Tunggu, tinggal beberapa hari lagi mas!" ujar Nawang kemudian. Ia bangkit dari pangkuan Cleve.
"Aku frustasi!" bisik Cleve, meraih tubuh kekasihnya yang menjauh. Dan mendekapnya dengan erat. "Aku malah semakin menginginkanmu, semakin dekat pernikahan kita! Bagaimana ini?!"
"Sabarlah!" bisik Nawang. Ia berusaha terlihat tenang, padahal ia juga merasakan hal yang sama.
Entah kenapa semakin lama, ia merasa semakin kecanduan bersentuhan dengan Cleve. Namun ia terus menahan keinginannya yang menyeruak tak karuan.
__ADS_1
"Cium aku lagi!!" pinta Cleve kemudian.