
"Itu dia?!" Juni terbelalak kaget. "Untuk apa dia disini?! Apa dia datang setiap hari?!"
Odelia mengangguk lemah, "Iya selalu datang setiap hari, tepatnya setiap malam!!"
Setelah kedatangan wanita itu tempo hari, setiap malam seseorang mengirim pesan ancaman pada Odelia.
[Aku mengawasimu! Jadilah istri yang berbakti]
Meskipun orang itu tak menyebutkan siapa dirinya. Namun mengingat kata-katanya yang serupa dengan Zeline, Odelia langsung menyadari bahwa orang yang mengancamnya adalah Zeline.
Bersamaan dengan itu, setiap malam selalu saja ada yang mengawasi Odelia dari balik pintu. Ia menyadarinya pertama kali, saat ia tak bisa tidur karena merasa perutnya sangat sakit.
Abraham yang saat itu tertidur, tak menyadari kehadiran orang aneh itu. Namun Odelia yang terjaga, menyadarinya dengan baik.
Saat larut seperti itu, jarang sekali ada orang yang berkunjung. Suasana begitu sepi, karena orang-orang sudah tertidur. Apalagi di kawasan kamar VIP, yang tidak terlalu banyak penghuninya itu.
Saat ada seseorang yang lewat, tentu Odelia bisa mendengar langkahnya meski sekecil apapun. Langkah orang itu terhenti tepat di depan kamar Odelia. Tadinya Odelia berpikir, itu adalah salah satu dari sahabatnya. Namun itu terlalu aneh karena terjadi setiap hari.
Odelia kemudian menyadari bahwa orang itu mengawasinya. Karena setiap kali ancaman itu muncul, orang itu pun datang.
Meskipun Odelia ketakutan, namun ia merasa sedikit lega setiap kali Abraham ada di sampingnya.
Ia semakin yakin saat kemarin malam, nomor itu mengirim pesan yang lain dari biasanya.
[ Mau ku bantu?! Aku juga telah membantu suamiku!!]
Odelia memperlihatkannya pada Juni. Setiap pesan teror yang dikirimkan orang itu padanya.
"Apa maksudnya ini?!" Juni kaget. Tangannya yang menggenggam gawai milik Odelia, gemetar. "Istri berbakti?! Membantumu seperti suaminya?!"
"Suaminya juga mengalami kanker!" ujar Odelia.
Odelia kemudian menceritakan semuanya pada Juni. Bagaimana suaminya dipaksa untuk mengawasi setiap perkembangan suami Zeline. Betapa tertekannya Abraham karena hal tersebut. Dan bagaimana Zeline tiba-tiba datang ke kamarnya hingga ancaman-ancaman yang wanita itu katakan padanya.
"Apa dia g*la?!" Juni tak henti-hentinya mengumpat selama mendengar cerita dari Odelia.
"Dia ingin aku mati, seperti suaminya!" ujar Odelia, ia menunduk menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul. "Dia ingin memiliki suamiku!!"
Mendengar pernyataan Odelia, amarah di hati Juni berkobar. Bisa-bisanya pelakor datang, di saat sahabatnya itu tengah menderita karena penyakitnya!! Sungguh, nasib begitu kejam!!
Sekarang Juni menyadari bahwa ia telah salah paham. Kemungkinan besar wanita yang ia liat sebelumnya, bersama Abraham di apartemen itu adalah Zeline.
__ADS_1
'Berarti Abraham tidak selingkuh!' batin Juni. Ia merasa bersalah karena telah mencurigai Abraham tanpa alasan. Namun ia merasa lega, berarti Abraham setia pada sahabatnya.
"Makanya.. aku ingin saat aku pergi. Kau menjaga suamiku dan anakku untukku!" ujar Odelia. Suaranya yang serak bergetar.
"Aku tidak mau, dia yang mengambil alih tugasku! Dia tidak akan bisa menjadi istri dan juga ibu yang baik untuk mereka berdua...."
Juni merasa perih. Meski begitu ia tak marah pada sahabatnya itu seperti sebelumnya. Juni sudah memahami isi hati sahabatnya itu.
"Sebelum itu, kau harus mengatakan yang sebenarnya pada suamimu!" ucap Juni, "Ini sudah bukan tindakan iseng lagi, ini perbuatan kriminal!"
Odelia menggeleng pelan, "Bagaimana kalau tenyata dia tidak terbukti bersalah?!"
"Zeline bukanlah orang yang bodoh!" imbuh Odelia, ia memahaminya setelah melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu padanya.
"Aku menduga, dia juga melakukan sesuatu pada suaminya!" duga Odelia.
"Apa maksudmu?!" Juni terbelalak. "Jangan bilang..."
"Dia bilang.. dia akan membantuku seperti suaminya! Sedangkan dia ingin aku mati..." ucap Odelia, "Itu seperti menyiratkan bahwa..."
"Dia membunuh suaminya?!" Juni membekap mulutnya. Tak percaya dengan apa yang ia lontarkan sendiri.
Benar! Zeline telah membunuh Nicky!! Namun bagaimana pun cara dokter melakukan autopsi, mereka tak akan menemukan apapun di tubuh Nicky.
Karena Zeline tak menggunakan racun atau pun obat-obatan untuk memicu kematian suaminya.
Melainkan, amarah! Ia membunuh suaminya dengan amarah. Zeline memicu kemarahan suaminya yang memang memiliki penyakit jantung.
Sebelum divonis mengalami kanker paru-paru, suaminya sudah memiliki riwayat penyakit jantung. Zeline memanfaatkan hal itu untuk membunuh suaminya.
Meski Nicky dan Zeline menikah karena sebuah perjodohan, Nicky mencintai Zeline sepenuh hatinya.
Walaupun bergelimang harta, Nicky sulit mencari pasangan. Karena ia selalu minder dengan penampilannya. Ia tidak berani menunjukkan dirinya pada para perempuan.
Seiring bertambahnya usia, Nicky semakin pasrah dan menyerah untuk mendapatkan istri. Namun saat ia dipaksa, untuk melakukan perjodohan oleh ibunya suatu kali. Ia memberanikan diri untuk melakukannya.
Ia tidak menyangka, gadis cantik yang memiliki selisih umur jauh di bawahnya menerima perjodohan itu dan mau menikah dengannya.
Nicky yang begitu menghargai istrinya, selalu mencintai istrinya dengan tulus. Percaya padanya, hingga tak pernah bertanya apapun mengenai aktifitas pribadi sang istri.
Tapi Zeline yang terpaksa menikahi pria itu karena suruhan orang tuanya, dan keputusasaannya karena pernikahan Abraham. Tak pernah merasa bahagia. Ia berselingkuh dengan banyak pria sebagai pelampiasan.
__ADS_1
Walaupun ia tak menyukai suaminya, ia tetap bertahan menjadi istri yang baik. Karena kehidupan mewah yang bisa suaminya berikan.
Namun saat Zeline telah menyerah padanya, dan ingin fokus pada Abraham. Ia menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada Nicky.
Ia mengungkap semua persel*ngk*hannya dengan pria lain. Bahkan memperlihatkan sendiri pada suaminya yang terbaring sakit, bagaimana ia b*rg*m*l panas dengan berondong muda.
Sakit hati, kecewa dan marah! Pria itu tak bisa menahan gejolak yang menekan dadanya. Dengan mengenaskan Nicky meninggal setelah mendapatkan serangan jantung mendadak.
****
"Apakah kamu masih marah, sayang?!" tanya Cleve. Ia menyadari Nawang marah padanya karena mengungkapkan hubungan mereka terang-terangan.
Tidak hanya pada teman-teman Nawang, bahkan di depan koleganya yang ia temui di pesta. Terang-terangan Cleve mengatakan bahwa Nawang adalah kekasihnya dan akan menjadi istrinya.
Bukannya marah, Nawang tepatnya merasa malu. Ia belum siap untuk mengungkapkan hubungannya ke publik. Tapi Cleve tak menunggu dan langsung mengungkapkannya begitu saja, padahal Nawang sama sekali belum siap!!
"Saya tidak marah!" ujar Nawang. Meski ia mengaku tak marah, tapi ia membuang muka dari Cleve. "Saya hanya malu.."
Cleve mengulum senyum. Melihat tingkah Nawang yang lucu.
"Kenapa?! Apa kamu malu memiliki kekasih tua sepertiku?!" celetuk Cleve tiba-tiba.
Nawang terbelalak, ia kaget! Kenapa Cleve bisa berpikir begitu?!
Memang benar mereka memiliki selisih umur hampir dua belas tahunan. Tapi Cleve terlihat jauh lebih muda dari umur aslinya, bahkan ia sangat tampan.
"Aku seperti pria tua yang mengemis cinta anak muda!" ujar Cleve. Mengeluh pada dirinya sendiri.
Jika dibandingkan, saat Cleve memasuki masa remajanya. Nawang masihlah seorang bocah. Dan saat Cleve sudah dewasa, Nawang baru saja akan memasuki masa remajanya. Mereka berada pada dua generasi yang berbeda.
"Memang kenapa?! Bukannya istri mas juga seumuran dengan saya?!" gerutu Nawang. Kenapa sekarang Cleve mempermasalahkan tentang umur, padahal Cleve juga menikahi wanita yang seumur dengannya!!
"Hmn..." Cleve berpikir. 'Benar juga!'
Sebelumnya ia tak pernah berpikir terkait perbedaan umurnya dengan Lalita. Ia tak begitu peduli, tapi pada Nawang berbeda. Ia ingin menjadi seseorang yang pantas berada di sisi Nawang.
Namun Nawang tak memahami perasaan Cleve, ia pikir Cleve mempermasalahkanya karena hal lainnya.
Nawang memberenggut. Rasanya ia kesal. Ia merasa dibanding-bandingkan!! Padahal sebenarnya, ia sendiri yang melakukannya. Cleve tak pernah menyebutkan apa-apa.
"Tiba-tiba aku ingin m*nc*ummu!" bisik Cleve di dekat telinga Nawang. Tangannya yang besar, menelusup ke balik jemari Nawang, "Ikut aku!"
__ADS_1