
Meskipun Abraham berbisik, Eric masih bisa mendengarnya! Ia sangat murka melihat sikap lembut Abraham pada Juni. Seolah-olah ia melihat hak miliknya hendak direbut orang lain!!!
Juni mengangguk mengerti! Ia tahu kenapa Abraham mengatakan hal itu padanya. Pasti Abraham khawatir pada dirinya yang telah mendengar kata-kata menyakitkan dari Eric.
Setelah menenangkan Juni, Abraham beralih pada Eric.
"Ayo ikut aku!!" sentak Abraham kemudian.
Pergi ke sebuah lorong yang sepi dari lalu lalang, Abraham mengajak Eric untuk bicara.
"Apa yang kau inginkan?!" tanya Abraham tanpa basa-basi.
"Apa yang aku inginkan?!" Mendelik, Eric bertanya, "Apa lagi menurutmu?!"
"Terus terang aku tidak mengerti, kenapa kau bertingkah seperti seorang suami yang melihat istrinya sedang berselingkuh?!" serang Abraham kemudian.
"Kau hanya mantan suami Juni sekarang!" sambung Abraham.
Tertohok, Eric kaget. Ia baru menyadari statusnya lagi. Ia hanya mantan suami Juni. Namun tak mau kalah, Eric kemudian berkilah.
"Meskipun begitu, apa perbuatan kalian bisa dibenarkan?!" bentak Eric. "Kau bahkan menghamili Juni!"
"Padahal kau sudah memiliki istri!!"
"Dengar...aku tak ingin berdebat!" ujar Abraham, "Aku juga tak mau kau salah paham, aku dan Juni tidak mengkhianati Istriku. Istriku sudah meninggal!"
Eric kaget, "Apa?!"
Ia berusaha mengingat wajah istri Abraham. Meski mereka sering berlibur bersama, Eric tidak begitu dekat dengan teman-teman istrinya.
"Bagaimana bisa tiba-tiba meninggal?!" sentaknya bingung.
"Hhh..." Abraham menghela nafas berat, ia tidak ingin menceritakan apapun saat ini. Namun ia tak memiliki pilihan, Abraham tak ingin Eric kembali menyakiti Juni dengan kata-katanya. Sehingga ia menjelaskan segalanya.
Mengenai penyakit dan kematian Odelia. Juga mengenai keinginan terakhirnya. Tapi Abraham tak menyebutkan tentang insiden itu pada Eric.
Abraham tak mau menambah tanggapan-tanggapan aneh dari Eric. Sehingga ia hanya menyebut, kebersamaannya dengan Juni adalah keinginan istrinya.
"Jelas kan?!!" ucap Abraham setelah mengungkapkan ceritanya.
"Heh!!" Eric mencibir "Aku tidak menanyakan tentang kematian istrimu! Aku bertanya sejak kapan kau berhubungan dengan Juni?!"
"Sudah ku bilang, aku dan Juni tak memiliki hubungan seperti yang kau bayangkan!!" Abraham frustasi, "Kami bersama karena Odelia yang menginginkannya!"
"Kau pikir aku bodoh?!" cibir Eric, "Hanya karena istrimu menginginkannya lalu kau menghamili Juni, begitu?!"
__ADS_1
"Aku yakin kalian memang sudah bermain di belakang Odelia sebelumnya kan?!" sambung Eric.
Eric sanksi mendengar pengakuan Abraham mengenai keinginan terakhir istrinya. Mana ada istri yang menyerahkan suaminya pada sahabatnya di saat-saat terakhirnya?! Pasti mereka berdua memang berselingkuh!!
Mendengar tuduhan tak berdasar Eric terhadap dirinya dan Juni, Abraham naik pitam. Namun ia berusaha menahannya.
Sembari mengepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak, Abraham pun berkata "Terserah apapun yang kau katakan! Yang terpenting sekarang, jangan pernah kau ganggu Juni lagi!"
Alih-alih menjawab, Eric malah tertawa sumbang. Ia kemudian berkata dengan gusar, "Selama ini aku merasa bersalah, aku berpikir aku ini terlalu rendah! Tak disangka, Juni yang aku pikir murni tak lebih dari seonggok sampah!"
Meledak, Abraham tanpa berkata-kata langsung meninju wajah Eric dengan keras.
Saking kuatnya pukulan yang menghantamnya, Eric limbung dan terjatuh.
Abraham tak bisa lagi menahan amarahnya saat ibu dari anaknya di lecehkan.
"Berani-beraninya kau menyebut wanita yang akan menjadi ibu dari anakku adalah sampah!!!" ujar Abraham geram. Ia menghimpit tubuh Eric yang tersungkur dengan tubuhnya. Sembari menjambak rambut Eric, Abraham berkata.
"Jangan samakan Juni dengan dirimu!!!" bentak Abraham, "Dia hanyalah seorang korban! Akulah yang bersalah!"
"Jangan pernah kau berani melecehkannya lagi!!" sambung Abraham. "Jika sekali lagi kau menyakitinya, aku akan membuatmu menderita selamanya!"
****
Nawang yang beberapa hari belakangan ini selalu mengunjungi Juni. Kali ini kembali mengunjungi sahabatnya itu.
Setelah menghubungi Juni, Nawang segera bergegas menuju ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi?!" tanya Nawang, segera setelah melihat sahabatnya itu.
"Kenapa kamu bisa dirawat di rumah sakit?! Apa kamu terluka?! Apa terjadi sesuatu?!" oceh Nawang cemas.
Juni tersenyum melihat ekspresi khawatir Nawang terhadapnya, "Tidak.. aku baik-baik saja!"
"Kalau kamu baik-baik saja, kenapa kamu harus diinfus segala?!" Nawang tidak percaya. Ia yakin sesuatu terjadi pada sahabatnya. Setelah kematian Odelia, Nawang selalu merasa was-was jika mendengar seseorang dirawat di rumah sakit.
"A-aku.. aku hamil" aku Juni jujur.
Nawang tersentak kaget! Ia langsung teringat pengakuan Abraham, 'Apa ini terkait dengan kejadian itu?!'
"Kau tidak terkejut?!" tanya Juni bingung.
"Aku terkejut, tapi bukankah kita harus bersyukur?!" Nawang menelan rasa kagetnya, dan berkata "Ada bayi kecil di tubuhmu!!"
Berusaha memberikan getaran positif untuk sahabatnya itu, Nawang tak mengungkit-ungkit hal lainnya mengenai insiden itu.
__ADS_1
"Berapa Minggu usianya?!" tanya Nawang kemudian.
"Katanya dua Minggu!" ujar Juni. Ia tersenyum sembari mengelus perutnya.
Melihat Juni menghargai kehamilannya, Nawang merasa sangat senang. Setidaknya kekhawatirannya menghilang. Ia pikir, Juni akan depresi lagi.
"Apa dia sudah bisa bergerak-gerak?! Menendang atau semacam itu?!" tanya Nawang penasaran. Ia tak pernah hamil, tapi ia selalu suka setiap kali melihat sahabat-sahabatnya hamil.
"Belum bisa Nawang!!" Juni terkekeh, "Harus tunggu beberapa bulan lagi!"
Nawang pun tersenyum, ia mengelus perut Juni dengan lembut.
"Cepatlah lahir, Tante ingin lihat wajah kamu!" seru Nawang ceria.
Kedua wanita itu bercengkerama dengan gembira. Tak menyadari kehadiran Abraham yang mengintip dari luar.
Melihat Juni menyayangi janin yang dikandungnya, Abraham merasa lega. Ia bertekad akan menunggu Juni sampai membuka pintu hati untuknya.
****
Hari demi hari berlalu, waktu terlewat dengan begitu cepat. Tiba-tiba saja hari pernikahan Cleve dan Nawang sudah di depan mata.
Fitting baju pengantin telah dilaksanakan, bahkan kartu undangan sudah siap untuk di sebar.
Secara resmi Cleve sudah mengumumkan ke media mengenai pernikahannya. Semua orang gempar, bahkan berita mengenai Cleve selalu wara wiri di saluran televisi.
Belum lama ini Cleve mengumumkan perceraiannya, bahkan baru beberapa bulan berlalu setelah pernikahan kedua yang dilakukan oleh mantan istrinya. Dan tiba-tiba saja Cleve sekarang kembali mengejutkan publik dengan mengungkap rencana pernikahannya.
Orang-orang bahkan semakin bersemangat mengetahui bahwa calon istri Cleve adalah mantan tunangan dari Presdir 'the last'. Yang merupakan suami dari Lalita Larasati saat ini.
Hubungan antara Cleve, Nawang, Sagara dan Lalita menjadi perbincangan panas yang menarik perhatian berbagai kalangan.
Beragam spekulasi mulai bermunculan, segala jenis teori konspirasi bahkan dugaan-dugaan aneh tak berdasar, turut menyerang akun media sosial 'Cleve' dan 'the last' sebagai imbasnya.
Beberapa stasiun televisi berlomba-lomba berusaha mengundang Cleve dan Nawang untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi. Namun Cleve bergeming. Ia tetap santai menanggapi orang-orang. Bahkan terkesan cuek.
"Mas.. ada undangan dari Sahan tv!" ujar Nawang melaporkan.
"Biakan saja sayang.." sahut Cleve acuh tak acuh. Ia tak suka menjadi bintang tamu di sebuah acara televisi.
Cukup sekali waktu itu!!
Cleve menyetujui wawancara saat itu karena Sahan yang memintanya. Saat itu, staf mengungkap pertanyaan yang akan disampaikan hanyalah seputar bisnisnya. Namun mereka menyerempet akan masa lalunya yang mengerikan.
Ia benci saat kehidupan pribadinya di kulik.
__ADS_1
Ia tak mau Nawang mengalami hal yang sama seperti dirinya.