Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 87


__ADS_3

"Ah! Mas!" sentak Nawang.


Cleve sudah di luar kendali. Pikirannya gelap dan tak mampu lagi berpikir jernih.


Meski sabun di tubuh Nawang belum bersih semua, Cleve terus menci um dan menghi sap setiap jengkal yang bisa dijangkaunya. Dari leher hingga ke bahu dan punggungnya.


Rasa pahit sabun sirna, akibat rasa dahaganya akan tu buh Nawang yang kuat.


Melepas tangannya dari Bu kit kembar yang besar itu, Cleve menggantinya dengan mulutnya sendiri.


Bak bayi besar yang kelaparan, ia menghi sapnya dan menji Latnya dengan kuat. Hingga Nawang meronta-ronta kegelian.


Tangannya yang telah bebas, kini meluncur ke bawah. Melewati pe rut rata Nawang, ia menuju ke bag ian di antara kakinya.


"Ah!!!" Nawang kaget. Saat Cleve menggeseknya.


"Mas!!" menahan tangan Cleve yang tebal dan besar, Nawang meringis "Mas...saya takut!"


Nawang ketakutan. Ia dengar itu sangat menyakitkan jika untuk pertama kalinya.


"Sayang, aku berjanji akan melakukannya dengan lembut, dan perlahan!" ucap Cleve, "Kamu tidak akan merasa sakit!"


Menatap Nawang dengan lembut, Cleve berusaha meyakinkan istrinya.


Nawang mengangguk pelan, berusaha mempercayai perkataan Cleve.


"Kalau begitu, ayo kita pindah!" ucap Cleve. "Di tempat tidur akan lebih nyaman!"


Membersihkan tu buh Nawang dari sisa sabun, Cleve kemudian menggendong istrinya menuju ke ranjang.


Cleve benar-benar memperlakukan Nawang bak ratu. Kaki Nawang tak menyentuh lantai sekalipun.


Saat tu buh istrinya menyentuh kasur, Cleve langsung bergerak naik ke atasnya.


Dike cupnya pelan bibir Nawang kemudian dilanjutkan dengan Lum atan-lum Atan pelan. Namun secara bertahap semakin ganas.


Turun ke bawah, Cleve menyebarkan karya seni di tiap jengkal yang bisa ia lihat. Selama prosesnya, tak henti-hentinya Nawang mende sis dan mende sah bak ular. Rasa takut yang dirasakan Nawang sirna seketika.


"Cantiknya" gumam Cleve melihat hasil jerih payahnya.


Nawang tertegun, wajahnya memerah saat Cleve menatapnya dengan terpana. Jantungnya menderu.


"Sekarang hidangan utama!" ujar Cleve, menggenggam lembut kedua lutut istrinya.


Dengan perlahan, pria itu memisahkan lutut Nawang yang tertaut. Membuatnya bisa melihat dengan jelas, pemandangan yang sangat menakjubkan.


Disapa oleh buah peach besar yang matang, putih bersih dengan semu merah muda yang sehat. Cleve tersentak oleh dorongan yang membuat perut bag ian bawahnya semakin menge ras.


Berniat mencicipinya, Cleve menelusup. Menju lurkan lid ahnya berusaha merasakan manisnya.


"Ah! Mas!!" Nawang berteriak saat ben da a sing yang terasa li cin dan panas menero bosnya.


Ketagihan dengan sensasi yang ia rasakan, Cleve menjadi semakin berani dan menghi sapnya.

__ADS_1


Nawang merasa aneh, tubuhnya seperti tersetrum setiap kali Cleve melakukannya. Ia gemetar oleh sensasi aneh yang tiba-tiba datang menyerangnya. Merasa kegelian, mele sak sesuatu yang asing keluar dari tu buhnya.


Saat itulah Cleve tersenyum, ia bersiap untuk gilirannya selanjutnya. Menggenggam kebanggaannya, ia menan capkannya dan berusaha menerobos dengan pelan.


****


Membelai lembut punca kepala istrinya, Cleve tak bisa tidur dan malah memandangi wajah Nawang yang tengah terlelap.


Semalam bagaikan sebuah mimpi!! Ia tidak menyangka bahwa hal itu terasa sangat luar biasa.


"Pantas saja orang-orang menyukainya!" gumam Cleve.


Cleve yang trauma terhadap perempuan. Sebelumnya tak memahami kenapa orang-orang melakukan hal 'menjijikkan' seperti itu!!?


Setelah mengalami masa lalu yang kelam. Tak sekalipun Cleve merasakan ketertarikan pada perempuan. Sehingga Cleve tak memiliki keinginan bahkan untuk meno nton sesuatu semacam itu.


Namun saat ia akan menikah dengan Nawang, Cleve harus mengetahui dasar-dasarnya. Ia bahkan belajar untuk melakukannya secara privat melalui seorang pakar yang berpengalaman. Dan menonton ratusan film yang memberinya pengetahuan.


Awalnya Cleve hanya menontonnya secara lalu, menghapal gerakannya dan tak mengerti esensi kenik matannya.


Namun saat ia melihat Nawang dan merasakannya sendiri, barulah ia paham!!


Cleve tersenyum-senyum sendiri memikirkan apa yang telah ia lakukan. Ekspresi Nawang yang mengge liat di ba wahnya, menggantung di benaknya.


Setelah berjam-jam menggempur dengan buas. Cleve yang puas, membiarkan istrinya tertidur dengan pulas.


Ia yang tak ingin istrinya terganggu dengan ranjang yang basah, kemudian mengendong Nawang yang terlelap ke kamar sebelah.


Namun bukannya tertidur, Cleve malah terlena untuk menatap istrinya yang cantik semalaman.


****


Bangun pagi-pagi sekali, Nawang yang berbaring di ranjang asing yang tak ia ketahui, tersentak kaget.


Namun melihat properti dengan logo hotel yang ia kenal, ia kembali mengingat bahwa ia telah menikah.


Bayangan tentang malam panas yang ia habiskan dengan Cleve langsung merasuk ke otaknya. Dan membuatnya merona.


Barulah kemudian, ia tersadar bahwa ada sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.


Menatap ke sampingnya, ia melihat wajah tampan Cleve yang tertidur lelap.


Gaun malam yang pria itu kenakan longgar, memperlihatkan dada bidangnya yang padat.


Nawang seketika terpana. Padahal semalam ia telah melihat semuanya. Tapi tetap saja ia merasa malu sekarang. Jantungnya berdebar-debar menyadari bahwa pria yang ada di depannya adalah suaminya.


'Mas, apa aku bermimpi?!' Nawang mencubit pipinya.


Seolah ia sedang berhalusinasi.


Melihat wajah Cleve yang tampan di bawah terpaan sinar mentari pagi yang indah, Nawang tiba-tiba linglung.


Seolah-olah baru kemarin, Nawang melihatnya sebagai seorang CEO dari 'Cleve', perusahaan impiannya yang sangat tinggi dan sulit untuk digapai.

__ADS_1


Namun sekarang, pria itu! Yang ia pikir tak akan pernah ia temui bahkan di dalam mimpinya sekalipun, tengah berbaring terlelap di sisinya. Sembari memeluknya dengan lembut.


'Apa aku bermimpi?!' batin Nawang lagi.


"Sayang..?!" suara bariton serak, menginterupsi lamunan Nawang.


Kelopak mata Cleve yang terpejam, bergerak-gerak perlahan. Sangat indah bak karya seni.


"Sudah bangun?!" tanya Cleve kemudian. Ia baru terlelap setelah pagi menjelang.


"Hmn" sahut Nawang. Hatinya meronta-ronta. Rasa bahagia membuncah di dadanya.


"Mau sarapan?!" tanya Cleve kemudian.


Nawang menggeleng.


"Lalu?! Kamu mau apa?!" tanya Cleve kemudian. Menatap istrinya dengan mesra.


"Mau kamu..." bisik Nawang lembut.


Mendengar provokasi dari Nawang, Cleve tersentak. Dan tanpa aba-aba langsung menerjang Nawang dengan kuat.


Tak menolak, Nawang menerima Cleve dengan hati yang berdebar.


****


Setelah sepakat akan menikah, Abraham yang tak ingin menunda-nunda waktu, berniat untuk menemui Agung dan Ria.


Mengungkapkan maksud hatinya, Abraham bertamu ke rumah keluarga Adyatama.


"Eh?! Abraham?!" sapa Ria. Ia terkejut dengan kedatangan Abraham. Anak itu memang sering datang bersama dengan Odelia. "Ya ampun! Ada apa?!"


"Ini Tante.." suara Abraham tiba-tiba tercekat. Ia tidak tahu harus mulai darimana. Mungkin ini akan sulit diterima oleh Ria maupun Agung.


Bagaimana pun Abraham yang mereka kenal adalah suami dari teman putri mereka.


"Abraham, tante mohon maaf! Kemarin Tante tidak bisa ikut mengantar kepergian Odelia!" ujar Ria menyesal, "Kebetulan saat itu tante juga kehilangan cucu Tante! Tante turut berduka dengan apa yang terjadi pada Odelia!" ucap Ria kemudian.


Saat itu ia tak bisa datang ke pemakaman Odelia, karena dirumahnya juga tengah kisruh dengan keguguran menantunya.


Abraham mengangguk canggung, ia mengerti akan hal itu.


Mengumpulkan keberaniannya, Abraham kemudian berkata, "Tante, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting!"


"Apa om ada dirumah?!" tanya Abraham kemudian.


Kebetulan Agung sedang tidak pergi ke kantor, ia sudah digantikan kembali oleh Sagara.


Mendengar ucapan Abraham, firasat aneh menyelimuti Ria. Namun Ria menepisnya.


"Ada! Memang ada apa?! Kamu mau bilang apa?!" tanya Ria.


"Tolong panggilkan om dulu Tante!" pinta Abraham sopan.

__ADS_1


__ADS_2