Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 47


__ADS_3

Hanya dengan berdiri di depan gedung 'Cleve' saja, Sagara sudah merasakan perbedaan antara dirinya dan Cleve.


Setiap saat, ia menjadikan 'Cleve' sebagai acuan untuknya. Ia bersumpah akan melampau 'Cleve' suatu saat nanti. Dan menjadikan 'the last' sebagai yang pertama dalam industri kosmetik.


Namun sekarang, disini! Perasaan yang ia miliki, beberapa tahun lalu telah sirna. Berganti menjadi amarah yang meluap-luap.


Sagara sangat marah setelah Lalita menghina Nawang dan terus membela Cleve di depannya. Ia ingin membuktikan pada Lalita, bahwa Nawang bukan seperti yang wanita itu katakan.


Sehingga saat hari berganti, ia bergegas menuju ke kantor Cleve. Namun yang ia temukan malah membuatnya sakit hati.


Dalam hidupnya, tak pernah sekalipun ia melihat baju kantor Nawang itu kusut, atau lipstik Nawang yang berantakan. Apalagi rambut Nawang yang acak-acakan. Namun kali ini, hari ini saat Nawang keluar dari ruangan Cleve. Ia melihat hal itu. Hal yang tak pernah ia lihat bahkan dalam mimpinya!!


Sagara terpaku. Ia tercenung melihat penampilan Nawang yang berantakan!


"Tidak... Tidak mungkin!!" gumam Sagara syock. "Tidak, ini tidak mungkin!! Ini pasti mimpi!!"


Sagara lemas seketika. Bayangan-bayangan aneh terkait kejadian yang mungkin terjadi, di dalam ruangan Cleve itu menghantuinya.


"Nawang tidak mungkin... ini mimpi!!" gumam Sagara lagi.


Dengan sisa tenaga yang tersisa, Sagara berbalik dan berlari menjauhi sosok Nawang yang mematung menatapnya.


Bukan hanya Sagara, Nawang juga kaget melihat kehadiran Sagara disana.


Sam dan Gema belum datang. Ini masih terlalu pagi untuk mereka berada di pos mereka. Biasanya mereka akan melakukan briefing sebelum bertugas. Jadi tentu saja, Sagara bisa masuk dengan leluasa. Untungnya, pria itu tidak masuk ke dalam ruangan Cleve. Karena kalau tidak, mungkin ia akan salah paham.


Nawang tidak menyadari bahwa penampilannya telah memantik kesalah pahaman itu sendiri. Nawang malah merasa lega, karena Sagara tidak melihat apa yang terjadi padanya tadi.


Sebenarnya itu sangat jauh berbeda dari apa yang Sagara bayangkan.


Hari ini, Cleve sudah stand by di ruangannya jauh lebih pagi dari biasanya. Meski tak terlalu kentara, pria itu sedang berada dalam mood yang buruk. Terlihat dari kerutan tipis di antara dua alisnya.


Namun Nawang tidak bertanya, ia takut bersikap lancang terhadap atasannya. Ia kemudian melanjutkan tugasnya untuk membersihkan meja atasannya dan menyiapkan secangkir kopi.


Awalnya tidak ada hal aneh yang terjadi. Sampai jari Cleve tergores oleh ujung kertas yang tajam. Darah menyembur, menetes dengan deras. Nawang yang melihatnya langsung terkejut. Dan tanpa sadar menyentuh tangan Cleve.


Cleve, meskipun ia merasa nyaman ada di dekat Nawang tapi ia masih belum bisa mengatasi traumanya sepenuhnya. Sehingga saat disentuh oleh Nawang, Cleve tergidik ngeri seperti sebelumnya.

__ADS_1


Seolah ribuan serangga merayap di tubuhnya, Cleve meronta dan memberontak. Nawang yang kaget tak bisa mengelak. Ia sempat tersungkur saat Cleve mendorongnya.


Namun Nawang tak kehilangan kontrol. Ia tak marah saat diperlakukan seperti itu. Ia tahu Cleve melakukannya secara tidak sadar.


"Tuan, tenanglah tuan!" ujar Nawang, "Ini saya, Nawang!"


"Jangan...." lirih Cleve, "Jangan sentuh aku!!!"


"Tuan ..maaf tuan!! Saya tidak melakukannya dengan sengaja!" ucap Nawang, "Saya hanya ingin mengobati anda! Jari anda terluka!"


"Saya menyentuh anda untuk mengobati anda!" imbuh Nawang lagi.


Dengan sabar, Nawang membujuk Cleve. Perlahan-lahan Cleve kembali pada ketenangannya. Dan sadar!!


Saat itulah, Nawang keluar. Ia ingin membereskan penampilannya yang agak berantakan.


Ia tidak menyangka, saat keluar dari ruangan Cleve, ia akan bertemu dengan Sagara dan membuat kesalah pahaman.


****


Meski belum pindah ke dalam unit apartemen itu, secara teknis Juni adalah pemilik unit 105 sekarang. Ia sudah mengintai selama kurang lebih dua jam. Namun tak ada Abraham yang terlihat masuk atau keluar dari apartemen 107. Bahkan tak ada yang masuk atau keluar dari sana.


Sebenarnya Juni merasa lega. Alangkah baiknya jika dia memang benar-benar salah lihat!!


'Baguslah!' batin Juni. Disaat seperti ini, ia berharap matanya memang rabun. Sehingga memang dipastikan bahwa ia salah mengira orang.


Sebenarnya, Juni masih ingin mengintai keadaan di unit sebelahnya. Namun ia harus pulang karena tak bisa meninggalkan Zoe lama-lama. Pasti anak itu akan merindukannya karena telah terbiasa minum ASI.


Benar saja, saat Juni hendak mengambil tasnya. Sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya.


"Hallo, ma!" sapa Juni.


"Kamu dimana?!" tanya Ria dari ujung sambungan. "Ada sedikit masalah, cepat pulang!"


"Zoe rewel banget ya ma?!" tanya Juni, mengira bahwa anaknya rewel.


"Bukan!" sahut Ria panik, "Saudaramu dilarikan ke rumah sakit!"

__ADS_1


Mendengar perkataan Ria, Juni menjadi panik.


'Apa lagi sekarang?!' batinnya.


Ia bergegas untuk pulang. Ia tak memperhatikan sesosok pria yang juga bergegas menuju apartemen 107 dengan tergesa.


Saat pria itu akan masuk, seorang wanita cantik menyambutnya dengan senyum. Pria itu adalah Abraham, yang sejak tadi berusaha ia awasi.


Sementara itu, Odelia sendiri tengah merasa pusing. Kepala nya pening luar biasa. Perutnya juga mendadak sakit.


Akhir-akhir ini kondisi tubuhnya tidak baik. Namun ia bersikeras tidak memberitahu suaminya. Karena belakangan ini, ia tahu suaminya sibuk.


Abraham berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam. Sejak sebulan ini selalu saja begitu.


"Nyonya, saya telepon tuan ya?!" tanya Bik Karti. Ia cemas dengan keadaan majikannya. Sejak tadi terlihat sangat pucat dan semakin lemah.


"Tidak usah bik!" sahut Odelia dengan suara serak. "Nanti juga saya sembuh! Mungkin saya cuma meriang!"


"Tidak nyonya!" Bik Karti yakin majikannya itu tidak hanya meriang, "Ayo ke dokter, nyonya! Kalau nyonya tidak mau manggil tuan, kita panggil teman-teman nyonya saja!"


Odelia menggeleng, "Mereka sibuk bik! Tidak usah ganggu mereka dengan keadaan saya!"


"Tapi nyonya..." hati bik Karti pilu. Ia sangat menyayangi nyonya-nya itu, hatinya perih saat melihat Odelia sakit.


Ia telah menjadi bagian dari keluarga Abraham sejak lama. Bahkan sebelum Abraham lahir, bik Karti sudah berkerja disana. Sehingga ia telah menganggap Abraham sebagai anaknya sendiri.


Setelah kematian nyonya besar dan tuan besar, tuannya itu hidup sendirian dalam kesepian. Meski bergelimang harta, dia hidup tanpa kehangatan sebuah keluarga. Bahkan wanita yang hendak ia persunting sebagai istri, malah menghianatinya.


Tuannya sempat terpuruk sangat lama hingga akhirnya bertemu dengan Odelia.


Kehadiran Odelia dalam rumah itu bagai pelita bagi kehidupan tuannya yang hampa. Sehingga Bik Karti sangat mencintai nyonya-nya itu, selayaknya anaknya sendiri.


"Tolong nyonya!" lirih bik Karti. Air matanya luruh seketika. "Ayo ke dokter nyonya!"


Entah kenapa, bik Karti akhir-akhir ini mendadak sendu. Terus bermimpi mengenai tuan besar dan nyonya besar yang telah meninggal. Firasatnya amat sangat buruk. Sehingga ia terus berdoa dengan khusyuk setiap malam untuk kebahagiaan dan kesehatan majikannya.


"Tolong ambilkan saya obat bik, sama air!" pinta Odelia kemudian.

__ADS_1


Bik Karti dengan sigap menyiapkan obat. Ia kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Namun saat ia kembali, Odelia telah tergeletak tak sadarkan diri.


__ADS_2