Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 66


__ADS_3

"Apa gadis itu ada bersama denganmu?!" tanya Thomas ketika melihat cucunya menghampirinya.


"Bagaimana kakek bisa tahu?!" tanya Cleve.


"Kakek melihat tas tangannya di sofa!" sahut Thomas apa adanya. "Apa kakek bisa bertemu dengannya?!!"


"Ah, itu..." Cleve berkata, "Tapi dia tak bisa menemui kakek hari ini!"


"Kenapa?!" Thomas terbelalak. Kenapa tak boleh menemui gadis itu?!


"Dia belum siap menemui kakek!" sahut Cleve cepat.


"Kenapa belum siap?!" Thomas memicing memperhatikan cucunya yang mencurigakan. "Bukannya kau mengundangnya untuk bisa diperkenalkan kepadaku?!"


"Ah.. itu..." Cleve gagap. Ia tak tahu harus berkata apa. Memang benar dia akan mengundangnya untuk menemui sang kakek, tapi bukan hari ini.


Hari ini ia mengajak Nawang mengunjungi rumahnya, karena tak ingin berpisah dengan Nawang. Meskipun sebentar, ia ingin bersama dengan Nawang lebih lama.


Tapi tadi ia kehilangan akal. Hampir saja ia melakukan hal br*ngs*k yang mungkin akan membuat Nawang membencinya.


Untung saja kakeknya datang, kalau tidak. Mungkin...


Meski merasa senang karena kakeknya telah menyelamatkan Cleve dari perbuatan tercela. Namun memikirkan hal yang terlewat, Cleve merasa kesal juga.


'Jika seandainya kakek tidak datang, aku dan Nawang pasti....' batin Cleve membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Cleve tersentak dengan apa yang ia pikirkan di benaknya, wajahnya seketika memanas seolah terbakar.


Thomas yang memperhatikan gelagat aneh cucunya itu jadi curiga.


"Apa yang kau lakukan pada gadis itu?!" tanya Thomas, "Kau tidak macam-macam dengannya kan?!"


Cleve terkesiap. Kakeknya itu memang cenayang. Bisa mengetahui apapun dengan pasti!!


Melihat reaksi tak biasa Cleve, Thomas tahu tebakannya benar.


"Anak kurang ajar!!" keluh Thomas. "Bagaimana bisa kau berubah jadi seperti ini karena seorang perempuan?!"


"CK..CK..CK.." Thomas mendecakkan lidahnya.


Ia memperlihatkan raut wajah geram pada cucunya, padahal berbalik dengan itu, hatinya sangat senang.


Thomas selalu merasa cemas saat melihat cucunya yang tak memiliki h*sr*t s*k*ual. Ia takut cucunya itu ternyata mengalami kelainan.


Ia selalu merasa kalut!! Namun hanya karena satu gadis, Cleve berubah dari sebongkah kayu yang kaku menjadi pria perkasa yang penuh dengan h*sr*t.


Yah.. Walaupun Thomas merasa senang, muncul rasa jengkel juga di hatinya. Bisa-bisanya Cleve melakukan hal semacam itu, di ruang kerja yang telah diwariskan turun temurun oleh leluhurnya!!

__ADS_1


"Sungguh terlalu!!" gumam Thomas geleng-geleng.


"Maafkan aku kakek!" ucap Cleve menyesal, "Aku tidak sengaja, aku hanya.. dia.. itu.."


Cleve gelagapan. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Thomas yang tadinya hanya mau menggoda cucunya itupun terpana.


Tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya, akan melihat cucunya bersikap gugup seperti ini. Biasanya, Cleve bagaikan robot tanpa ekspresi.


"Sudahlah! Kakek ke kamar saja kalau begitu!" ungkap Thomas kemudian. "Capek tadi kejebak macet!"


****


Abraham yang terbangun, kaget dengan kehadiran Juni di sebelah istrinya. Ia semakin terkejut saat melihat penampilan Juni yang awut-awutan, jauh dari kesannya yang biasa. Berpenampilan rapi dan anggun.


"Ada apa ini?!" tanya Abraham, ia bangkit dari sofa dan mendekat ke ranjang istrinya.


"Pa?! Sudah bangun?!" kaget, Odelia menyapa suaminya.


"Ada apa?! Tadi papa dengar sekilas kalian ngomong tentang tindakan kriminal?!" tanya Abraham, samar-samar di dalam tidurnya Abraham mendengar kata-kata tindakan kriminal dan juga membunuh suami?! Namun ia masih bingung, apakah itu mimpi atau bukan!?


"Ah .. Ti-tidak pa..!!" Odelia hendak berdalih, namun Juni mencengkeram tangannya.


Membelalakkan matanya, Juni memberi sinyal pada Odelia untuk mengungkapkan kebenarannya.


Namun Odelia menggeleng, ia tak mau membebani suaminya lagi. Penyakitnya ini saja sudah membuat suaminya sangat tertekan, ia tak mau menambah rasa sakit suaminya.


"Ada apa sih ini?!" Abraham yang melihat tingkah aneh kedua sahabat itu merasa bingung. Ia tahu ada yang tidak beres.


Odelia kemudian menyerahkan gawainya. Ia memperlihatkan pesan-pesan ancaman itu pada suaminya.


Dengan cepat, Abraham meneliti pesan-pesan itu. Ia langsung memahami bahwa ada seseorang yang berusaha meneror istrinya.


Seketika ia merasa geram.


"Siapa pelakunya?! Apa mama mengenalnya?!" tanya Abraham dengan amarah yang berkobar.


"Zeline..." gumam Odelia hampir tak terdengar.


Mendengar istrinya menyebut nama Zeline, Abraham kaget luar biasa. Ia tak menyangka seseorang dari masa lalunya membawa derita bagi orang tercintanya.


"Zeline!!"Abraham gemetar oleh amarahnya yang membuncah.


"Itu belum seberapa!" ungkap Juni, "Dia bahkan mengawasi Odelia setiap malam di depan pintu!"


Mendengar kata-kata Juni, Abraham meledak. Ia kemudian bergegas menemui Zeline.


Sementara itu, Zeline tengah bersiap untuk menjebak Abraham. Bagaimanapun caranya, ia berniat untuk menjerat Abraham. Dan mengambil video yang bagus saat mereka berdua tengah berh*b*Ng*n in*t*. Ia akan mengirimkan video itu langsung pada Odelia.

__ADS_1


"Betapa terkejutnya wanita itu jika ia melihat aku dan suaminya bersenang-senang!" gumam Zeline.


Ia sedang asyik menyiapkan obat-obatan yang akan digunakan dalam rencananya. Hingga bel pintu apartemennya berbunyi, dan menginterupsinya.


Mengira bahwa itu kurir, ia membuka pintunya tanpa curiga. Zeline segera terkejut saat melihat sosok tampan Abraham berdiri di depannya.


Hatinya melonjak senang! Ia pikir Abraham juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Kesepian dan membutuhkan kasih sayang saat menjalani kehidupan menyedihkan, merawat pasangan yang penyakitan.


"Mas..." Des*hnya mesra.


Namun lamunannya seketika buyar, saat Abraham mencengkeram bahunya dengan kuat.


Merasa sakit, Zeline meringis. "Sakit mas..."


"Apa yang kau inginkan?!" bentak Abraham, "Kenapa kau meneror istriku?! Apa maumu?!"


Zeline tersentak kaget. Ia tak menyangka Odelia akan mengungkapkan tindakannya pada Abraham. Ia pikir, wanita itu tak akan pernah mengadukannya. Mengingat sikap Odelia yang sok naif itu.


"Apa maksudmu, mas?! Meneror istrimu?!" pura-pura tidak tahu, Zeline memasang wajah bingung, "Aku?! untuk apa aku melakukannya?! Aku baru saja kehilangan suamiku karena penyakit yang sama!!"


"Bagaimana kau tahu?!" Sentak Abraham, cengkeramannya semakin kuat. Ia merasa amat geram, "Bagaimana kau tahu istriku, kena kanker sama seperti suamimu?!"


"I-itu.. dokter Dirga!!" gugup Zeline menjawab, "Dokter Dirga yang mengatakannya, mas!!"


Tak percaya dengan ucapan Zeline, Abraham menahan leher Zeline dengan tangannya.


"Mas..khh..." tak bisa bernafas, Zeline tersedak saat berbicara.


"Katakan dengan jujur!!! Kenapa kau meneror istriku?!!" teriak Abraham lagi.


"khh ..khh .." Wajah Zeline memerah, matanya mulai bergerak naik. Zeline sekarat, ia kehabisan oksigen.


Namun bukannya menghentikan perbuatannya, Abraham yang kalap malah menekan leher Zeline lebih keras.


Abraham sangat marah, hatinya hancur berkeping-keping mengingat pesan-pesan yang dikirim Zeline pada istrinya. Zeline menyuruh Odelia untuk mati!!!


Orang yang ia inginkan untuk hidup melebihi dirinya, malah disuruh untuk mati.


"J*l*Ng B*ad*p!!!!!" umpat Abraham.


Meski setengah sadar, Zeline tersentak mendengar makian yang dilontarkan Abraham. Ini adalah kali pertamanya mendengar Abraham mengumpat.


Namun tiba-tiba saja Abraham yang tadinya bernafs* ingin membunuh Zeline, melepaskan begitu saja cengkeramannya.


Abraham tiba-tiba teringat istrinya, pasti Odelia akan sangat sedih jika melihat Abraham seperti ini. Seketika ia merasa terguncang. Ia tak mau melihat istrinya sedih.


"kkhh...Uhukk... uhuk...!!" Zeline yang akhirnya bisa kembali bernafas, tersedak. Ia terbatuk-batuk dengan hebat. Wajahnya merah padam. Rasanya benar-benar menyakitkan.Ia nyaris mati tadi!!

__ADS_1


Saat itulah Zeline menyadari dalam kantung dasternya ada obat yang akan ia gunakan untuk membius Abraham. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Zeline melempar obat itu pada Abraham yang tengah terguncang.


__ADS_2