
Nawang terkesiap, ia kaget saat mendengar kata-kata Cleve. Setelah 'memanggil' kakeknya ke kamar, Cleve berkata bahwa kakeknya tidak ada. Dan kemungkinan besar pergi ke luar kota.
"Kakeknya mas pergi ke luar kota?!" Nawang mengernyit, "Mas tidak tahu?!"
"Itu.. kakek memang kadang-kadang suka pergi tanpa bilang-bilang!" dalih Cleve. Ia berbohong pada Nawang. Ia tak mau, Nawang menyadari niatnya.
'Maaf kakek!' batin Cleve. Ia merasa bersalah karena menggunakan nama kakeknya sebagai tameng.
"Apa benar?! Kenapa mas tidak mencoba menghubunginya, untuk memastikan keadaannya!?" ujar Nawang.
Larut malam begini, seorang pria tua tiba-tiba menghilang dari rumah, tanpa pemberitahuan. Jika itu adalah kakeknya sendiri, Nawang akan panik luar biasa. Tapi Cleve dengan entengnya berkata, 'mungkin' kakeknya pergi ke luar kota.
"Ah?!" Cleve kaget, tak menyangka bahwa Nawang memintanya untuk menghubungi sang kakek, "Ini sudah larut, kakek pasti sudah tidur! Aku yakin kakek baik-baik saja, lagipula ada Illyas yang selalu bersamanya!"
"Illyas?!" Nawang mengernyit, "Siapa Illyas?!"
"Dia ajudan kakek!" jawab Cleve singkat.
Nawang mengangguk mengerti. Jika memang ada orang yang selalu bersamanya, ceritanya menjadi berbeda.
"Apa kamu mau berkeliling?!" Cleve menawarkan. Ia ingin menahan Nawang lebih lama di sisinya.
Nawang tersentak, ia pikir Cleve akan mengantarkannya pulang. Karena kakeknya tidak ada!! Tapi Cleve malah mengajaknya berkeliling?!
Sebenarnya Nawang ingin menolak, karena ini sudah terlalu larut. Namun Cleve terlihat sangat bersemangat. Nawang tidak tega untuk menolak permintaannya.
'Baiklah, hanya sebentar!' batin Nawang.
Nawang pun mengangguk mengiyakan. Ia juga sudah mengabari ibunya, akan pulang telat malam ini.
"Ayo, aku ajak kamu berkeliling!" ujar Cleve. Ia menarik lembut tangan Nawang, kemudian menuntunnya dengan perlahan menuju ke setiap ruangan yang ada di rumahnya.
Rumah Cleve sangat luas. Lebih pantas disebut sebagai mansion daripada rumah. Terkesan klasik dan mewah, rumah itu penuh dengan barang-barang antik yang mahal.
"Ini ruang kerjaku!" ujar Cleve. Ia membuka pintu cokelat besar yang kokoh, dengan sebuah kunci besar berwarna emas.
Saat pintu terbuka, terpampang ruang kerja yang luas, terkesan kuno namun sangat mewah. Seolah itu adalah ruang kerja bangsawan di zaman Romawi kuno, getaran aristokrat mengalir begitu Nawang berjalan memasukinya.
"Ini ruang kerja yang diwariskan secara turun temurun!" ujar Cleve, "Aku tidak terlalu menyukainya!"
Nawang memahami maksud Cleve, Cleve adalah orang yang menyukai sesuatu yang minimalis dan simple. Hal-hal seperti ini bukanlah seleranya.
"Apa mas jarang menggunakan ruangan ini?!" tanya Nawang kemudian.
Beberapa barang disana terlihat sudah lama tak tersentuh.
__ADS_1
Meski bersih dan tersusun rapi. Namun kesan bahwa benda-benda itu tak pernah digunakan, dalam jangka waktu yang lama, terlihat sangat jelas!
Bukannya jarang, Cleve bisa dibilang tak pernah menggunakannya.
Sejak lajang, ia lebih suka lembur di kantor ketimbang membawa pekerjaannya ke rumah. Karena ia merasa itu lebih praktis.
Setelah menikah, alasan Cleve untuk lebih suka bekerja di kantor pun bertambah. Itu karena Lalita yang selalu mengganggunya.
Apalagi untuk melanjutkan pekerjaannya, untuk pulang saja ia jarang. Cleve bahkan membeli sebuah apartemen dan lebih banyak menghabiskan waktu disana.
Dan sekarang, ia lebih tak ingin melakukannya karena Nawang hanya bisa ia temui di kantornya.
Jika ia lembur, mau tak mau Nawang juga akan menemaninya. Sehingga ruangan itu tak pernah tersentuh sedikitpun.
"Iya .. aku lebih suka bekerja di kantor!" sahut Cleve kemudian.
"Kenapa?!! Bukannya lebih nyaman bekerja di rumah?!" celetuk Nawang kemudian.
"Itu tergantung!" bisik Cleve.
"Tergantung?! Tergantung apa?!" polos Nawang bertanya.
"Tergantung kamu!" ucap Cleve. Ia menatap Nawang dalam.
"Apa kamu mau tinggal disini?!" tanya Cleve, "Jika kamu tinggal disini, aku akan lebih suka menggunakan ruangan ini daripada ruanganku di kantor!"
"Apa maksud mas?!" Nawang bertanya-tanya meski samar-samar memahami maksud dari ucapan Cleve itu.
Lugas Cleve menjawab, "Menikahlah denganku!"
****
Thomas awalnya tidak ingin pulang, ia berniat menginap di hotel saja. Mengingat waktu di perjalanan yang lumayan lama. Ia tak mau berada di jalanan hingga larut malam.
Tapi acara pernikahan tersebut ternyata dibatalkan, gara-gara mempelai wanita yang kabur dengan pria lain. Sehingga Thomas memutuskan untuk pulang saja.
Ia tak berpikir bahwa jalanan begitu macet dan ia berakhir sampai tengah malam begini.
Thomas merasa sangat lelah dan berniat untuk segera tidur, ketika sampai rumah. Namun ia terkejut saat menemukan sebuah tas tangan wanita di sofa ruang tengah.
'Apa Cleve membawa tamu?!' pikir Thomas. 'Apa wanita yang disukainya itu?!'
Thomas mencari-cari sosok Cleve dan wanita itu. Ia berniat untuk berkenalan dengan gadis yang telah membuat Cleve jatuh cinta. Jika ada kesempatan, ia sebenarnya ingin langsung menikahkan keduanya. Tapi saat Thomas mencarinya, mereka berdua tak ada di mana-mana.
'Apa mungkin di lantai atas?!' pikir Thomas. Ia menduga cucunya tengah mengajak gadis itu berkeliling rumah.
__ADS_1
Sehingga Thomas naik menuju ke lantai, menemui calon cucu menantunya.
****
Saat Cleve melihat biB*r baS*h Nawang yang terbuka, Cleve tak bisa menahan dorongannya untuk meny*Nt*hnya. Ia melakukan apa yang dia inginkan tanpa bertanya pada Nawang.
Namun bukannya menolak, Nawang malah menerima dan membalasnya.
Bak gayung yang bersambut, Cleve semakin berani dan mengambil inisiatif untuk mel*m*tnya.
Tubuhnya seolah tersetrum saat tangan Nawang mer*m*s tengkuknya. Ia merasa kebas, oleh sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Cleve pun secara tak sadar melakukan hal yang sama pada salah satu g*mp*lan keny*l yang m*n*kan tubuhnya.
Seakan ingin membalas apa yang Nawang lakukan, Cleve melakukannya tanpa pikir panjang.
Saat ia melihat Nawang meringis men*kmaT*nya, bara di hatinya memercik dan berkobar. Kepalanya seolah tak berfungsi, ia hanya ingin mengikuti naL*rinya sebagai laki-laki.
DisenT*knya gaun yang menutupi g*mp*Lan itu. Awalnya Nawang menahan tangan Cleve untuk melakukannya.
Namun saat Nawang melihat mata Cleve yang berkabut, Nawang seolah terhipnotis untuk membiarkannya
Cleve yang mengerti bahwa Nawang telah mengizinkannya, tak lagi menunggu. Ia menghempaskan dengan satu kali tarikan tangannya, kain yang menutupi bagian itu.
Cleve segera terpana saat dua saudara k*mbar menyapanya dengan rona mer*h muda yang cantik. Cleve hendak m*nci*Mnya saat suara kakeknya menginterupsi aksi mereka.
"Cleve!!" dari bawah terdengar suara Thomas yang berjalan mendekat.
Cleve yang kaget segera melepas dekapannya, begitu juga dengan Nawang yang langsung memperbaiki posisi gaunnya.
"Sayang... aku akan menemui kakek dulu!" ucap Cleve panik. "Kamu bisa menunggu disini dulu, memperbaiki penampilanmu!"
Cleve mengeC*p kening Nawang sekilas, sebelum akhirnya berbalik dan mengunci pintu.
Terdengar dari luar, suara dua pria yang sedang berbicara. Namun Nawang tak jelas mendengarnya karena ia masih linglung.
Ia merutuki dirinya yang terlena oleh senT*Han Cleve terhadapnya.
'Apa yang kupikirkan tadi?!' batinnya mengomel pada dirinya sendiri.
"Uhh..." gumamnya malu. Wajahnya seolah terbakar saat mengingat tindakan tak sen*N*h yang ia lakukan tadi dengan Cleve.
Untung saja kakek Cleve datang, kalau tidak.. ia pasti sudah melanggar prinsipnya sendiri!!
'Cleve berbahaya!! Sungguh berbahaya!!' batin Nawang kemudian.
__ADS_1