
"Jadi apa ini, ma?! Kenapa mama menjambak rambut istri mendiang dokter Toriq?!" Tanya Abraham, suami Odelia segera setelah pulang dari rumah sakit.
"Siapa yang bilang?!" Tanya Odelia.
"Direktur, tadi!" Sahut Abraham.
Abraham adalah seorang dokter bedah kardiotoraks. Ia bekerja di rumah sakit dimana suami Ani menjabat sebagai direkturnya.
Perkumpulan itu awalnya hanyalah perkumpulan dari istri-istri dokter dalam rumah sakit itu saja. Namun seperti Odelia yang mengajak serta Juni ke dalamnya, ibu-ibu lainnya juga melakukan hal yang sama. Sehingga perkumpulan itu dipenuhi dengan istri dari para dokter dari berbagai bidang dan rumah sakit.
"Dia yang menghancurkan pernikahan Juni!" Sahut Odelia geram.
Abraham kaget, "Apa?!"
"Dia yang menghancurkan pernikahan Juni, Dia selingkuh dengan Eric!" Ucap Odelia. Setiap kali ia mengungkapkan fakta itu dari mulutnya, amarah di hati Odelia membuncah. Ia mencengkeram kuat-kuat ayunan Brandon, anaknya yang berumur dua tahun.
Mendengar hal itu, Abraham tersentak kaget.
"Bagaimana mungkin?! Bukankah dokter Eric sangat mencintai istrinya?!" Tanya Abraham.
Meski ia tidak begitu mengenal Eric, Abraham sempat beberapa kali berlibur bersama dengan pasangan Juni dan Eric serta Sagara dan Nawang. Mereka adalah pasangan harmonis seperti dirinya dan Odelia.
"Apa mungkin ini hanya kesalah pahaman?!" Tanya Abraham. Ia tahu bahwa Juni dirawat di rumah sakit setelah melakukan percobaan bunuh diri. Ia mengetahuinya dari istrinya.
Namun tidak sekalipun ia pikir, bahwa alasannya adalah perselingkuhan Eric dengan istri Toriq.
Abraham dan Toriq adalah sepasang sahabat sebelumnya. Mereka saling mengenal satu sama lain sejak masih SMA. Meski mereka sempat berpisah karena Toriq pindah ke luar kota, keduanya kembali dipertemukan lewat perkumpulan yang dihadiri oleh istri mereka.
Abraham sangat sedih saat tahu Toriq meninggal secara mendadak dan juga sempat merasa prihatin pada istrinya. Tapi bagaimana mungkin istri Toriq berselingkuh, padahal Toriq belum lama ini berpulang?!
"Mungkin saja mereka hanya berteman?" Abraham kembali mengungkapkan kemungkinan.
"Apa yang papa bilang?! Mana ada teman yang b*eR*c*in*Ta?!" Geram Odelia, "Bagaimana sakitnya hati Juni melihat suaminya melakukan hal B*Reng*s*Ek itu dengan temannya sendiri?! Apa papa bisa membayangkannya?!"
Abraham terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud istrinya. Abraham sendiri pernah mengalaminya. Saat tunangannya berselingkuh dengan temannya. Dengan mata kepalanya sendiri, Abraham memergoki tunangannya itu b*Er*ci*NT*a. Di dalam rumah yang disiapkan Abraham sebagai rumah pernikahan. Di dalam kamar yang akan menjadi kamar pengantin mereka, di atas kasur itu, di tempat seharusnya mereka menghabiskan malam pertama. Wanita yang ia cintai b*rg*m*l panas dengan sahabatnya sendiri.
Saat itu ia merasa sakit hati yang teramat sangat. Perjuangannya selama ini untuk memantaskan diri demi gadis yang ia cintai, sirna begitu saja. Ia merasa hidupnya sia-sia waktu itu.
Namun untungnya ia bertemu Odelia yang membuatnya kembali merasakan cinta.
"Maaf, papa tidak tahu kalau ternyata seperti itu!" Ujar Abraham. Ia kemudian merangkul istrinya yang gemetar karena marah. Ia tahu istrinya sangat emosional jika menyangkut sahabatnya.
"Tenanglah ma! Dia pasti akan kembali bangkit!" Ucap Abraham menenangkan istrinya, "Dia wanita yang kuat!"
"Wanita yang kuat apa!!? Dia bahkan hampir kehilangan nyawanya. Untung saja Indah mengetahuinya lebih cepat, jika tidak... Hiks.." Odelia terisak.
Abraham memeluk istrinya lebih kuat, dia mengelus pelan rambut Odelia dan mengalunkan ucapan-ucapan penghiburan.
__ADS_1
"Badai pasti berlalu ma! Bukankah itu yang selalu mama katakan?!" Ujar Abraham kemudian.
"Entahlah..." Sahut Odelia, "Sekarang Juni belum tahu, tapi bagaimana jika dia tahu bahwa saudara kembarnya mengalami koma. Apa dia bisa bertahan?!"
"Apa?!" Abraham lagi-lagi dibuat terkejut. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Sagara.
Di waktu yang sama saat Odelia mengadu pada suaminya, Dina juga tengah mengadu pada kekasihnya. Ia menceritakan segala ketidak adilan yang telah menimpanya.
*( Kekasih atau selingkuhan enaknya ya?!)
"Apa?! Bagaimana bisa Odelia melakukan hal itu padamu?!" Eric kaget mendengar Odelia telah menjambak rambut kekasihnya itu.
"Kakiku juga terluka.." ujar Dina lirih. Ia memperlihatkan kakinya yang terluka.
"Kenapa kamu kesana sayang?!" Tanya Eric. "Kan kamu tahu kalau Odelia ada disana juga?!"
Dina menangis, "Aku hanya ingin minta maaf. Aku benar-benar merasa bersalah karena hubungan kita, seseorang hampir kehilangan nyawanya. Aku benar-benar tidak tenang! Aku ingin mengaku salah!"
Mendengar ucapan kekasihnya itu, hati Eric melembut. Betapa baiknya hati Dina. Bagaimana bisa orang-orang itu malah bersikap kasar, pada seseorang yang berniat baik?!
Lagipula itu bukan salah Dina. Kenapa malah Dina yang harus disalahkan?!
Juni bunuh diri karena keputusannya sendiri. Dia yang bermental lemah dan membuat keputusan semaunya sendiri. Tapi kenapa malah Dina yang berhati lapang dan lembut ini yang harus menanggung akibatnya?!
Eric merasa sedih mendengarkan cerita kekasihnya itu.
"Tidak sayang.. apa yang dikatakan Odelia benar! Aku yang bersalah disini!" Dina menangis tersedu.
"Jangan dengarkan dia sayang! Odelia memang orang yang seperti itu! Dia wanita kasar yang tidak tahu apa-apa! Ia hanya melakukannya karena terlalu terikat dengan Juni! Mungkin Juni menceritakan hal-hal yang tak baik tentangmu. Sehingga ia salah paham padamu!" Sahut Eric, "Jangan pikirkan itu!"
Dina mengangguk perlahan, air matanya masih menetes dengan deras. Ia mendapatkan simpati Eric dengan mengungkapkan setengah fakta dan menyembunyikan fakta lainnya. Ia tidak mengungkapkan fitnah yang ia sebar, sehingga Odelia menjadi sangat murka.
"Lalu bagaimana sekarang, sayang?!" Lirih Dina, "Semua orang mengecamku sebagai j*l*Ng!! Bagaimana aku hidup?!"
Mendengar ucapan Dina, hati Eric terasa diiris sembilu. Ia mengecup pelan kening Dina. Kemudian mengusap dengan lembut air mata Dina yang tumpah.
"Kita akan menikah sayang!" Ujar Eric, "Setelah ini kamu akan menjadi istriku. Tidak akan ada yang berani mengecammu!"
Sembari mengusap lembut rambut Dina, Eric melayangkan sebuah c*u*an hangat pada Dina. Perlahan tapi pasti, kec*pan hangat berubah menjadi panas. Saling m*l*mat dan m*ngh*sap. Dan berakhir dengan gelora h*sr*t yang membara.
****
Lalita terkejut saat melihat, sosok yang ia tunggu berganti dengan sosok lain yang tidak ingin dia temui.
Sebelumnya, ia sangat khawatir karena tidak bisa mengetahui keadaan Sagara. Mengingat keadaan Sagara yang terakhir kali dilihatnya sangat parah. Lalita takut, terjadi sesuatu pada pria itu.
Ia tidak bisa menghubungi pria itu dan pesannya ke nomor rahasia mereka, tidak di balas.
__ADS_1
Namun untungnya, kemarin malam Sagara membalas dan berkata ingin menemuinya di sebuah cafe. Lalita merasa senang karena mengetahui bahwa Sagara baik-baik saja.
Tapi ternyata pria yang seharusnya muncul berganti menjadi tunangannya, seorang wanita yang juga dilihat Lalita, menangis di ruangan suaminya beberapa waktu lalu.
"Apa anda terkejut!?" Ucap Nawang, "Sagara tidak bisa datang! Dia dirawat di rumah sakit sekarang!"
"Apa?! Bagaimana keadaannya?!" Lalita terlihat kaget.
"Dia koma!" Sahut Nawang singkat.
Mendengar Sagara mengalami koma, Lalita langsung terhenyak. Ia syock berat.
Melihat reaksi Lalita di depannya, Nawang merasa hatinya campur aduk. Rasanya kacau balau, ia bahkan tidak tahu perasaan apa saja yang ia rasakan saat ini.
Ia sudah mengantisipasi hal ini sebelumnya, tapi saat ia menghadapinya langsung. Rasanya ternyata jauh lebih buruk.
"Apa ada hal yang ingin anda jelaskan pada saya?!" Tanya Nawang kemudian. Ia ingin mengakhiri ini segera. Ia datang hanya untuk mendengarkan penjelasan Lalita, mengenai hubungannya dengan Sagara.
"Bisakah anda mempertemukan saya dengan Sagara?!" Alih-alih merespon ucapan Nawang, ia malah mengungkapkan hal lain. "Saya benar-benar mencemaskan keadaannya!"
Batas kesabaran Nawang yang memang sudah ia tahan-tahan akhirnya sirna juga. Ia merasa sangat marah sekarang.
Ia meletakkan smartphone hitam itu di depan Lalita.
"Apa anda tidak ingin menjelaskan hal ini pada saya!?" Tanya Nawang lagi, "Jika anda terus mengelak seperti ini, saya rasa saya tidak bisa mentolerirnya lagi. Saya tidak bisa menjamin hal nekat apa yang mungkin akan saya lakukan nanti!"
Mendengar ucapan Nawang, Lalita sedikit tersentak. Ia tidak menyangka wanita yang disebut-sebut oleh Sagara sebagai gadis polos, bisa mengancamnya seperti ini.
"Seperti yang anda lihat! Anda sudah mengetahuinya! Hubungan kami seperti isi smartphone itu!" Ujar Lalita kemudian.
Ia tahu dia tidak bisa mengelak. Fakta bahwa gadis itu ada di ruangan Cleve saja sudah menunjukkan bahwa mereka berdua mengetahui segalanya sekarang.
Bagi Lalita, tidak masalah jika Nawang mengetahuinya. Tidak ada untung atau ruginya. Yang terpenting baginya adalah Cleve. Sehingga ia tidak repot-repot membuat alasan di depan Nawang.
"Kami bertemu setahun lalu dan memutuskan untuk menjalin hubungan!" Ujar Lalita apa adanya. "Tapi hubungan kami bukan hubungan dengan cinta yang serius semacam itu. Saya sudah menikah dan saya mencintai suami saya, kami hanya berencana untuk saling 'menggunakan' saat diperlukan. Kami hanya bersama karena saling 'membutuhkan'!"
"Anda tenang saja, Sagara itu mencintai anda. Dia tidak pernah berniat memutuskan hubungan diantara kalian!!" Imbuh Lalita, "Jelas kan?!"
Mendengar penjelasan Lalita, bukannya membuat Nawang merasa lega atau puas. Ia malah merasa semakin marah.
"Bagaimana bisa anda melakukan hal semacam ini, saat anda bilang anda memiliki pasangan yang anda cintai?! Bagaimana bisa?!" Nawang tidak bisa memahami jalan pikiran Lalita dan Sagara.
Lalita bilang ia memiliki suami yang ia cintai, Lalita bilang Sagara mencintainya. Tapi kenapa mereka menghianati orang yang mereka cintai hanya untuk memenuhi 'kebutuhan' mereka?! Apa hal semacam ini wajar?! Nawang tidak bisa memahami ini!!!
"Cinta dan kebutuhan itu berbeda!" Sahut Lalita, "Suami saya tidak bisa memenuhi 'kebutuhan' saya dan anda juga tidak bisa memenuhi 'kebutuhan' tunangan anda. Kami hanya mencari solusi untuk masalah kami, dan kebetulan kami cocok!"
"Sebetulnya, menurut saya anda harus berterima kasih pada saya. Karena jika Sagara bersama dengan wanita lain, mungkin Sagara akan berakhir menikahi wanita itu dan bukan anda!"
__ADS_1