
"Mau tambah lagi?!" tanya Nawang, ia tengah menyuapi Sagara makanan.
Sagara mengangguk senang. Senyum merekah di bibirnya. Seperti seorang anak kecil yang disuapi oleh ibunya, Sagara membuka mulut dengan polosnya.
Dengan telaten dan sabar, Nawang menyuapi Sagara makanan.
Sejak ia dan mamanya memutuskan untuk bersikap 'tak terjadi apa-apa' pada Sagara dan keluarganya, Nawang dan ibunya tak pernah mengabaikan Sagara.
Meski itu sulit bagi Nawang, selama proses penyembuhan Sagara berlangsung, Nawang berjanji akan terus mendampingi Sagara.
Bagi Nawang, ini adalah pengabdian terakhir untuk tunangannya.
Ketika saatnya tiba, mungkin saja Nawang tak bisa lagi bertemu dengan Sagara dan keluarganya seperti ini.
"Terima kasih!" ucap Sagara setelah menghabiskan jatah makanannya hari ini.
Setelah menjalani perawatan selama lebih dari seminggu, Sagara sudah jauh lebih baik. Ia perlahan-lahan kembali pulih seperti sedia kala. Sagara sudah tak terbata-bata lagi ketika berbicara, bahkan gerakan tubuhnya juga lebih luwes.
Seperti kata dokter Harun, merupakan sebuah keajaiban bahwa Sagara bisa pulih secepat ini!
"Saya rasa kamu pulih dengan cepat bukan hanya karena berkat dari Tuhan, tapi juga berkat cinta!" goda Dokter Harun, saat mengunjungi Sagara untuk memeriksa kondisinya.
Sagara terkekeh. "Dokter bisa saja!"
"Sungguh, nak Nawang ini penyabar sekali! Setiap hari menemani dan merawat kamu!!" ujar Dokter Harun, "Coba saja kalau dia tidak bertunangan dengan kamu, sudah saya jodohkan dia sama keponakan saya!!"
"Dokter berlebihan! Saya hanya melakukan apa yang saya bisa!" sahut Nawang menanggapi kelakar dokter Harun.
"Itu tidak berlebihan!" balas dokter Harun.
"Beruntung sekali kamu, bakal nikah sama Nawang yang cantik dan baik hati ini!!" imbuh dokter Harun sembari menepuk pundak Sagara.
Dokter Harun tidak membual, ia memang suka melihat Nawang. Jarang sekali, ia melihat seorang gadis muda yang rela merawat kekasihnya dengan sangat perhatian.
Dokter Harun merasa, Nawang yang penyabar pasti bisa meluluhkan hati keponakannya yang dingin.
'Sayang sekali!!' batin Dokter Harun.
Menelan kekecewaannya di dalam hati, Dokter Harun berkata dengan tulus "Semoga nanti tidak ada halangan lagi dalam pernikahan kalian ya!"
__ADS_1
Ia mendengar kisah mengenai pernikahan Sagara dan Nawang yang tertunda, karena kondisi koma Sagara. Ia sedih memikirkan gadis sebaik Nawang, mengalami masalah seberat ini.
Terlebih, melihat pengabdian Nawang pada Sagara, dokter Harun benar-benar tersentuh dan berharap yang terbaik untuk Nawang.
"Terima kasih, dok!" ujar Sagara diiringi senyum. "Saya pastikan kali ini berjalan lancar!!"
"Jangan lupa undang saya juga, ya!!" Goda Dokter Harun, sembari berlalu meninggalkan ruangan Sagara.
Namun bertentangan dengan apa yang dipikirkan Sagara, Nawang tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan rencana pernikahannya.
Semakin lama ia menghabiskan waktu dengan Sagara. Semakin yakin dirinya untuk membatalkan pernikahan.
Sepanjang ia merawat Sagara di rumah sakit, selama itu hatinya terus merasakan sakit.
Setiap kali Sagara menunjukkan cintanya pada Nawang, perasaan kecewa, marah dan sedih menghinggapinya.
Nawang merasa tidak sanggup jika harus menjalani hidup dengan ditemani oleh perasaan itu. Ia tidak ingin berakhir dengan lebih membenci Sagara.
"Selama aku koma, apa ada yang aku lewatkan?!" celetuk Sagara tiba-tiba.
Nawang tercenung sesaat. Ia hampir menyebut nama Lalita pada Sagara, namun ia menahannya. Ia tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat.
"Apa kau ingat, sebelum kecelakaan itu..kita sedang menyiapkan peluncuran produk baru!" ujar Nawang.
****
"Kakek sudah menunggu, tapi kenapa kau hanya diam?!" ujar Thomas, "Apa kau tidak ingin menjelaskannya?!"
Setelah mengetahui kebenaran mengenai perselingkuhan Lalita, Thomas yang merasa marah dan kecewa ingin segera menemui Cleve untuk bertanya.
Ia juga ingin menemui cucu menantunya untuk mendengar penjelasannya. Namun Thomas menahan dirinya, mengingat Cleve telah melakukan banyak upaya untuk menyembunyikan kebusukan istrinya selama ini.
Thomas merasa cucunya pasti memiliki alasan yang jelas untuk melakukannya. Itu sebabnya ia menunggu, Cleve mengungkapkan fakta itu sendiri padanya.
Namun setelah menunggu sekian lama, Cleve tak kunjung muncul. Alhasil, Thomaslah yang akhirnya menemui Cleve.
Cleve mematung, menatap kakeknya dalam diam. Meski begitu, ia mengetahui maksud dari perkataan kakeknya itu.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kakek!" sahut Cleve. "Bukankah kakek sudah menyadari kebenarannya!? Itulah yang terjadi!!"
__ADS_1
Thomas mendengus, gejolak emosi mengobrak-abrik hatinya. Seolah-olah ada orang yang dengan ganasnya mengaduk-aduk perutnya, Thomas merasa sangat tidak nyaman. Ia membuang mukanya saat melihat ekspresi datar cucunya.
Cleve, cucu semata wayangnya, harta berharga dan satu-satunya alasan Thomas untuk hidup. Selama ini hanya mengalami derita, yang membuatnya tak bisa hidup dengan normal.
Alasan kenapa Thomas memaksa orang yang lebih ia cintai dari dirinya sendiri itu untuk menikah, hanyalah agar Cleve bisa hidup normal dan berbahagia.
Thomas sendiri sudah diambang batasnya, ia tidak tahu kapan malaikat maut akan menjemputnya. Setidaknya sebelum ia berpulang, ia ingin cucunya itu hidup bahagia dengan orang yang dicintainya. Sehingga saat ia pergi nanti, Cleve tidak akan kesepian.
Meski Thomas tahu Cleve memiliki kondisi khusus dengan wanita, namun Thomas yakin jika Cleve hidup bersama dengan istrinya yang baik dan pengertian, hati Cleve yang membeku itupun akan luluh.
Namun bukannya kebahagiaan yang di dapat oleh Cleve, pria itu malah mendapatkan penderitaan lagi.
"Bagiamana bisa kau menutupi perselingkuhan istrimu?!" Geram Thomas. "Kenapa kau menahan diri seperti itu?!"
Thomas pikir, Cleve mencintai istrinya. Sehingga mencoba untuk menutupi kesalahan istrinya. Thomas merasa sangat sedih, memikirkan cucunya yang harus menanggung rasa sakit hati.
Dikhianati saja sudah sangat menyiksa, namun Cleve bahkan menutupi borok istrinya dengan tangannya sendiri. Tak terbayang betapa sengsaranya Cleve saat ini.
"Kakek tidak usah cemas, aku tidak apa-apa! Aku baik-baik saja" sahut Cleve.
Jleb!!
Seolah ditusuk oleh pedang yang teramat tajam. Hati Thomas perih luar biasa.
Kata-kata Cleve itu meledakkan hati Thomas hingga hancur berkeping-keping. Air matanya meleleh. Ia berpikir, Cleve mengatakan hal itu agar dirinya tidak cemas.
Padahal sebenarnya, maksud Cleve adalah, ia baik-baik saja. Secara harfiah, benar-benar baik-baik saja. Toh dirinya tidak merasakan apa-apa, karena tidak mencintai Lalita.
Namun kebiasaan Cleve yang mengungkapkan kata-kata ambigu, membuat kakeknya salah paham.
"Tidak ada orang yang baik-baik saja saat dikhianati oleh orang yang dicintainya!" ujar Thomas, "Kenapa kau tidak mengungkapkannya pada kakek?!"
"Kakek benar-benar tidak mengetahui bahwa selama ini kau menderita!!" sambung Thomas. "Seharusnya kau katakan saat mengetahuinya!"
"Jika kakek tahu, bukankah kakek akan sedih?!" ujar Cleve kemudian, "Aku tak mau kakek sedih!!"
Semakin lama mendengar pengakuan Cleve, semakin sakit hati Thomas.
"Kenapa kau memikirkan perasaanku?!!" Ucap Thomas pilu, "Yang lebih menderita disini adalah dirimu!"
__ADS_1
"Bagiku kakeklah yang paling penting!" sahut Cleve kemudian.