Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 58


__ADS_3

Sekelebat, Abraham melihat bayangan seseorang berlari di ujung lorong. Namun saat ia menatap dengan lebih jelas, tak ada siapapun disana.


Berpikir bahwa ia hanya salah lihat, Abraham kemudian masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia disapa oleh kenampakan istrinya yang terduduk lesu.


"Mama?!" Abraham kaget karena istrinya masih terjaga, "Mama tidak tidur?!"


Odelia yang nampak tercenung kemudian menyunggingkan senyum saat Abraham bertanya padanya.


"Mama terbangun tadi!" sahut Odelia. Menelan kegalauan di hatinya, setelah kepergian Zeline yang mencurigakan.


Zeline mengancamnya. Saat Odelia berkata bahwa ia akan menemukan gadis yang tepat untuk suaminya, Zeline mengungkap akan merebut Abraham bagaimana pun caranya.


Entah kenapa, Odelia merasa ketakutan.


Wanita itu sangat berbeda dari yang dulu diingat Odelia.


Zeline terlihat agak aneh. Tak seperti waktu pertama kali Odelia melihatnya. Tatapan mata gadis itu terlihat sangat mengerikan. Bak iblis, Zeline seolah-olah mampu menghunus pisau menembus jantungnya, jika Odelia lengah sedikit saja.


'Ada apa dengannya?!' batin Odelia.


"Mama mau tiduran?!" ucapan Abraham, membuyarkan lamunan Odelia mengenai Zeline.


Odelia menggeleng, "Mama sudah bosen tidur. Mau duduk saja sebentar!"


"Apa ada yang membuat mama tidak nyaman?! Mama mau rubah posisi duduk tidak?!" ceroscos Abraham.


Melihat Abraham membeo seperti itu, Odelia merasa geli juga. Biasanya dirinya yang banyak bicara, tapi sekarang malah sebaliknya.


"Tidak.." sahutnya dengan senyum tersungging di bibirnya.


Abraham balas tersenyum, ia senang melihat senyuman istrinya itu.


"Papa kemana tadi?!" tanya Odelia kemudian.


"Oh.. tadi papa ke rumah Juni, Brandon badannya panas!" ucap Abraham kemudian.


"Brandon sakit?!" Odelia kaget, "Bagaimana keadaannya?!"


"Dia baik-baik saja sekarang! Syukurlah Juni peka, jadi dia tidak memberi sembarang obat untuk Brandon!" ucap Abraham.


Odelia lega. Ia berterima kasih di dalam hatinya untuk sahabatnya itu. Memang menitipkan Brandon dan Abraham pada Juni adalah pilihan yang tepat.


"Pa..." celetuk Odelia kemudian.


"Hmn?!"


"Bagiamana Juni menurut papa?!" Odelia bertanya, matanya menatap suaminya yang duduk di sebelahnya.


Dheg!!!


Abraham tersentak, rasa getir muncul di dalam hatinya. Ia tak menyangka bahwa Odelia akan menyerangnya seperti ini. Namun ia menekan perasaannya. Dan menjawab dengan tenang.


"Dia menjaga Brandon dengan baik!" sahut Abraham.

__ADS_1


"Bukan.. maksud mama,bagaimana Juni sebagai perempuan di mata papa?!"


Abraham mendengus pelan. Ia kemudian meraih tangan istrinya yang sudah semakin kurus. Seraya menatap manik gelap istrinya, ia berkata "Ma, jangan berpikir yang aneh-aneh! Fokus dengan kesehatan mama saja dulu!"


Odelia tersentak sesaat, ia tahu bahwa suaminya mengerti keinginannya. Satu sisi hatinya senang, berarti ia tak perlu mengatakan hal yang sulit itu lagi. Tapi satu sisi hatinya sedih, karena sepertinya Abraham belum mau mempertimbangkannya.


"Pa.. mama tahu papa lebih memahami mama daripada diri mama sendiri!" ucap Juni, "Jadi papa pasti mengerti dengan pilihan mama ini!! Bisakah papa mempertimbangkannya?!"


Abraham terdiam, ia tahu keputusan istrinya itu sudah bulat. Tanpa banyak bicara, ia mengangguk perlahan.


Melihat reaksi suaminya, Odelia menyunggingkan senyum puasdi bibirnya. Matanya berkaca-kaca penuh rasa haru.


****


Seminggu lagi adalah acara pernikahan Sagara dan Lalita, kedua keluarga telah bersiap. Persiapan rangkaian upacara sebelum pernikahan juga sudah rampung semua.


Namun kedua pengantin belum merampungkan persiapan mereka sendiri.


Terutama Lalita yang masih belum melakukan fitting baju pengantinnya. Berkali-kali sang desainer menghubunginya, takut Lalita meminta perbaikan di saat-saat mepet sebelum acara pernikahan. Namun Lalita terus mengabaikannya.


Entah kenapa sejak kembali dari kantor Cleve hari itu, hatinya kacau tidak karuan. Rasanya hampa seolah-olah ada yang hilang. Padahal saat bercerai dari Cleve saja, perasaan Lalita tak seburuk itu.


"Nak, bagaimana dengan baju pengantinmu?!" tanya Ria. Cemas dengan pernikahan yang sudah di depan mata, ia takut ada yang salah di hari H.


"Iya?!" Lalita yang melamun, tak mendengar perkataan Ria. Ia mendongak dan kembali bertanya, "Apa ma?!"


"Kamu sudah fitting baju pengantin belum?!" ulang Ria.


"Ah.. belum ma!" jawabnya jujur.


"Itu.. Sagara tidak mau mengantarku!" keluh Lalita lirih.


"Nanti mama yang akan memintanya mengantarmu, kamu siap-siap saja dulu!" titah Ria kemudian.


Ria langsung menemui putranya itu di kamarnya. Sejak pulang dari rumah sakit tempo hari, Sagara semakin sulit untuk diajak bekerja sama.


"Sagara.." panggil Ria.


"Kenapa ma?!" tanya Sagara.


"Antarkan Lalita ke butik buat fitting baju pengantin!!" suruh Ria.


"Hah?!" Alih-alih menyanggupi, Sagara malah kaget, "Biarlah dia pergi sendiri, ma!!"


"Kok begitu?!" Ria terkejut, "Dia kan calon istri kamu, masak fitting baju sendirian! Kasihan dia kan?!"


"Sagara malu kesana, ma!!" kekeuh, Sagara menolak "Mereka itu tahunya aku nikahnya sama Nawang! Masak sekarang ganti pasangan?!"


Ria mendengus, "Jangan begitu, Sagara!Tolong antarlah Lalita! Kasihan dia, pernikahan kalian seminggu lagi. Kamu mau pernikahan mu bermasalah?!"


"Biar saja, aku juga tidak mau menikah!" sahut Sagara acuh tak acuh.


"Sagara, jangan begini!!" habis kesabaran Ria dibuatnya, "Kalau kamu terus membantah seperti ini, berarti kamu memang tidak peduli pada perasaan mama ya?!"

__ADS_1


Mendengar ucapan mamanya, seolah petir menyambar di atas kepalanya, Sangat tersentak kaget.


"Ti-tidak ma!" sahutnya gagap.


Sagara memang paling mencintai ibunya, ia paling tidak bisa mendengar ibunya mengatakan hal-hal semacam itu.


Selama ini yang membuat Sagara akhirnya mau menikah dengan Lalita, juga adalah ibunya.


"Ya sudah! Kalau begitu, antarkan Lalita ke butik!!" pungkas Ria.


****


Setelah c*uman membara waktu itu, hubungan Cleve dan Nawang telah sampai pada tingkat yang lebih int*m. Meski tanpa penegasan satu sama lain, mereka telah menjadi sepasang kekasih.


"Apa kamu capek, sayang?!" tanya Cleve. Setelah berkeliling seharian untuk mengecek setiap outlet 'Cleve' terdekat.


Ia tahu, Nawang lelah. Terlihat dari wajah gadis itu yang lesu.


Cleve meraih tangan sekretarisnya itu. Dengan tangan kirinya, Cleve meremas jari jemari Nawang dengan pelan, padahal tangan kanannya tengah sibuk mengendalikan setir.


Seraya menatap Nawang dengan matanya yang sayu, Cleve berkata "Saat lelah pun kamu cantik!'


Nawang merasa sangat malu, setiap kali Cleve melontarkan pujian-pujian kecil semacam itu.


Nawang terkadang merasa ditipu!!Nawang masih ingat apa yang dikatakan oleh Cleve hari itu.


'Saya mencintai kamu dan saya ingin bersama dengan kamu! Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa, tolong ajari saya melakukannya!'


Nawang pikir, Cleve memang tak mengetahui apapun mengenai hubungan diantara perempuan dan laki-laki. Mengingat Cleve memiliki trauma terhadap perempuan. Pasti pria itu tak pernah menjalin hubungan normal sebelumnya.


Namun sikapnya akhir-akhit ini menunjukkan perbedaan.


Jauh dari kesan tak pernah memiliki kekasih, Cleve lebih terlihat seperti pria yang sangat mahir meluluhkan hati seorang wanita. Dia seperti playboy yang sering bermain dengan banyak perempuan.


Cleve bersikap sangat manis, seolah-olah Nawang adalah ratu untuknya. Bahkan Nawang terkadang berpikir, bahwa 'trauma' yang dikatakan Cleve hanyalah bualan semata.


"Sa-saya tidak capek, tuan!" sahut Nawang gagap.


Cleve mengernyit, "Tuan?! Bukankah sudah kubilang.. saat kita sedang berdua, kau harus menyebutku apa?!"


"Mas...." gumam Nawang kemudian. Jantungnya berdegup kencang saat senyum Cleve terbit di bibirnya. Pria itu terlihat puas hanya dengan sebuah panggilan.


Nawang yang seperti itu tak mengetahui seberapa keras usaha Cleve untuk membuat Nawang merasa nyaman.


Cleve menyadari kekurangannya! Traumanya terhadap perempuan telah membuatnya buta pada hubungan diantara sepasang manusia. Cleve takut, jika kekurangannya itu akan membuat Nawang bosan terhadap dirinya. Sehingga Cleve membaca beragam buku untuk bisa memahaminya. Ia juga bertanya banyak hal mengenai hubungan antara pria dan wanita pada kakeknya.


"Kalau kamu belum capek, ayo kita pergi ke butik!!" ujar Cleve kemudian.


"Hmn?!" Nawang terkesiap, "Untuk apa mas?!"


"Acara pernikahan Presdir 'The last' kan sudah dekat!" ujar Cleve, "Aku ingin menggunakan pakaian yang serupa denganmu!"


Nawang dan Cleve telah sepakat untuk hadir dalam pesta pernikahan Lalita dan Sagara. Awalnya Nawang menolak, namun Cleve beralasan bahwa mereka harus hadir untuk mengakhiri masa lalu mereka yang buruk.

__ADS_1


Tapi sebenarnya, Cleve hanya berniat menunjukkan kepada Sagara bahwa Nawang adalah miliknya sekarang.


"Bukankah pasangan biasanya menggunakan pakaian yang senada?!" celetuk Cleve kemudian.


__ADS_2